
Cerita Sebelumnya:
Ren memberikan Eva beberapa nasehat tentang pandangan orang lain terhadapnya. Terutama dalam konteks "orang jahat di mata publik". Hal itu membuat Eva merasa lega dan menyadari sesuatu.
Ren juga menyadarkan Eva bahwa dia masih memiliki beberapa orang yang sangat berharga dan menyanyangi nya. Mereka adalah keluarga nya.
Setelah lama bercerita, Ren hanya meninggalkan Eva sebentar untuk membuat makan malam, tapi gadis itu sudah tertidur.
Ren pun mengantar Eva kembali ke kamarnya. Eva yang tertidur pulas bahkan tidak tahu bahwa dia sudah dipindahkan.
***
Aku terbangun. Saat aku membuka mataku, aku kembali ke kamarku.
Kapan aku kembali?
Aku bahkan tidak sadar bahwa Ren mengantarkan ku pulang. Dan aku juga tidak menyangka bahwa dia akan mengantarkanku pulang. Aku mengira dia akan membiarkan ku tertidur disana atau membangunkan ku. Ternyata Dia lumayan lembut.
Hari ini aku masih harus berangkat ke akademi. Jujur saja aku ingin mengambil libur tapi waktunya sangat terjepit. Ini adalah hari terakhir bersekolah. Besok dan selama sebulan ke depan, akademi akan libur. Karena mereka sibuk untuk penerimaan murid baru. Dan saat kelas dimulai kembali, aku akan menjadi murid tingkat dua. Yeay ~
Aku memikirkan aktivitas yang harus kulakukan untuk menghabiskan waktu libur. Mungkin aku akan melakukan hal random dan berjalan-jalan di sekitar. Seperti mengunjungi Menara Sihir dan tempat-tempat lainnya. Tapi sebelum itu, aku harus memikirkan bagaimana mengatasi hukuman hari ini karena kemarin aku benar-benar meninggalkan sekolah tanpa izin.
Tapi hal itu tidak terlalu penting. Dia akan menerima hukuman kalau memang kalau dia dihukum. Kalau tidak ada tindakan lebih lanjut, dia akan berpura-pura tidak tahu. Lagipula ada banyak murid di akademi. Mungkin saja mereka tidak ingat kalau hanya satu orang saja yang menghilang.
Sesampainya di akademi, aku langsung menuju ke perpustakaan. Aku bahkan tidak menuju ke kelas. Apalagi menuju aula pertandingan, untuk melihat ujian kelulusan para senior itu. Karena aku benar-benar tidak ingin bertemu dengan siapapun.
Saat aku tiba di perpustakaan, aku tidak melihat seorang murid pun di sana. Para murid sedang menonton pertandingan. Suasana yang benar-benar sepi. Hanya ada penjaga perpustakaan di pintu depan.
__ADS_1
Aku memilih untuk pergi ke lantai dua, karena ada sofa panjang di sana. Aku pergi ke tempat ini bukan untuk membaca buku. Aku sebenarnya ingin menghabiskan waktu untuk tidur sampai jam pelajaran berakhir. Tidak lupa aku memasang alarm agar tidak bangun terlambat. Itu cukup lucu kalau aku bangun saat hari mulai gelap dan sekolah sudah tutup.
Aku pun merebahkan diriku di atas sofa. Berguling sesekali untuk mencari posisi yang nyaman dan mulai menutup mataku. Saatnya untuk tidur. Walaupun aku baru saja bangun beberapa jam yang lalu ~
***
Lilac saat ini merasa tidak nyaman. Walaupun dia tidak melakukan hal yang salah, tapi perasaannya tidak tenang, seakan-akan dia sudah melakukan kesalahan.
Ini bukan keinginan nya sendiri untuk melihat temannya dengan tatapan seperti itu. Dia tidak membenci Eva. Tapi itu adalah tindakan refleks, saat dia melihat orang yang menangis dia akan membelanya. Bukan berarti Eva menindas Reina sampai gadis itu menangis.
Dia tidak mengerti dengan perasaannya sendiri sekarang. Haruskah dia meminta maaf? Tapi dia sama sekali tidak melakukan hal yang salah, jadi kenapa dia harus meminta maaf?
Jadi Lilac memutuskan bahwa dia akan bersikap biasa, seperti tidak terjadi apapun. Dan saat ini dia akan memulai pembicaraan dengan Eva. Walaupun kemarin tindakan Eva cukup mengejutkan baginya, hampir membunuh seorang senior di dalam arena. Dia tetap tidak membencinya. Mungkin hanya merasa sedikit tidak nyaman dan canggung saat bertemu dengannya.
Tapi saat dia menuju kelas, dia sama sekali tidak melihat Eva. Begitu pula di aula pertandingan. Dia juga tidak melihatnya. Dia berpikir kemana gadis itu pergi. Tapi dia tidak mendapatkan ide apapun.
"Apa kau melihat Eva?" Lilac bertanya sambil duduk di samping nya.
Vivian menggeleng. "Aku tidak melihatnya. Kemarin juga. Aku kira dia akan kembali ke asrama, tapi ternyata tidak. Dia mungkin menginap di rumahnya." Wajah Vivian berubah khawatir. "Aku cukup khawatir dengannya setelah kejadian kemarin...."
"Kau benar" Lilac berusaha memperbaiki ekspresi nya yang tidak nyaman. "Tapi dia juga tidak boleh melukai seseorang seperti itu, bahkan hampir membunuh nya..." katanya kemudian. Lilac bahkan tidak sadar bahwa dia berbicara seperti itu.
Vivian menatap nya. "Pikiranmu sama dengan yang lain. Tapi aku yakin dia punya alasan tertentu untuk melakukan nya" katanya sungguh-sungguh. "Lagipula Eva bukan tipe orang yang suka melukai orang lain"
"...."
Vivian terdiam. Lalu dia mengangguk pelan "Kau benar..." gumamnya.
__ADS_1
"Dia mungkin sedang bersembunyi sekarang karena masalah kemarin" sambung Vivian. "Padahal sebelum libur panjang, aku ingin bertemu dengan nya" kata Vivian sedih.
"..." Lilac tidak menjawab. Dia memandang dengan tatapan kosong ke arah tengah arena. Dia tidak memikirkan apapun saat ini.
***
Alarm pun berbunyi. Bunyinya cukup keras karena aku menggunakan sihir. Suara alarm juga sedikit aneh. Seperti suara teriakan yang cukup mengerikan. Aku membuat suara seperti itu agar aku benar-benar terbangun.
Aku tidur cukup lama hari ini. Tapi tubuhku malah semakin lemas. Rasa semangat benar-benar lenyap dan aku ingin kembali tidur lagi. Mungkin aku sudah bersikap seperti beruang yang akan hibernasi sekarang.
Mau tidak mau aku menggunakan sihir cahaya untuk memulihkan staminaku. Rasa mengantuk dan lemas ku menghilang dalam sekejap. Ini lebih baik daripada seharian dihantui oleh rasa mengantuk.
Sekarang jam pelajaran sudah berakhir. Tidak ada yang mencariku, jadi hukuman yang kupikirkan juga tidak akan terjadi.
Aku hampir melupakan sesuatu sebelum nya. Untung saja aku ingat sekarang. Sebelum libur panjang, aku harus kembali ke asrama untuk berpamitan pada Vivian.
Jujur saja aku cukup khawatir dengannya semenjak dia mendengar hal yang berbahaya itu. Apalagi dia tidak punya tempat pasti untuk tinggal dan berlindung. Aku ingin menawarkan nya tinggal di mansionku selama liburan. Setidaknya itu akan lebih aman. Mungkin.... Mengingat orang-orang yang tinggal di tempat ku sangat tidak biasa.
Aku tidak perlu mencari Vivian lagi. Saat aku sampai di kamar asrama, gadis itu ada disana sambil membaca buku seperti biasanya.
"Eva!" Vivian langsung meletakkan buku yang dipegangnya ke samping dan berdiri menghampiri Eva. "Apa kau baik-baik saja? Kau kemana saja seharian ini?" dia bertanya sambil mengerutkan keningnya.
"Um...aku hanya menghabiskan waktu ku di perpustakaan" jawabku canggung.
"Kau baik-baik saja kan?" dia bertanya lagi. "Lagipula kejadian kemarin terlalu berlebihan. Aku benar-benar khawatir" sambung nya dengan suara yang semakin mengecil.
Aku tersentak saat mendengar nya. Seperti kenangan buruk tiba-tiba kembali masuk ke dalam kepalamu, padahal kau sudah bersusah payah melupakannya. Tapi aku tetap berusaha menjawabnya sambil tersenyum kecil. "Aku tidak apa-apa. Lagipula itu bukan masalah yang penting"
__ADS_1