
Cerita sebelumnya:
Eva akhirnya bisa menggunakan sihirnya. Ternyata dia hanya perlu menahan elemen gelap asing itu dengan elemen gelap dalam tubuhnya.
Dengan sihir cahaya dia menghancurkan penghalang. Dia juga membuat semua orang kaget karena sihir cahayanya.
Robert mengalahkan semua musuh tanpa ampun. Anggota terakhir Tim Sihir Kematian ternyata penyihir gelap dan dia menggunakan sihirnya untuk melarikan diri.
Pertarungan berakhir. Mereka melanjutkan perjalanan dan hampir tiba di tempat tujuan. Walaupun Jean dan Hans harus mengatasi rasa terkejut mereka yang luar biasa.
***
Keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan. Mereka sampai di titik tujuan menjelang siang hari.
Mereka harus lebih berhati-hati sekarang karena semua tim lawan berkumpul di tempat ini. Ini adalah tempat dimana mereka akan bertarung untuk memperebutkan kristal.
Tapi mereka sama sekali tidak melihat altar seperti yang dideskripsikan. Mereka hanya diberi petunjuk untuk mencari sebuah altar dengan empat bola kristal. Mereka hanya melihat sebuah bangunan berwarna putih yang berbentuk seperti kuil tertutup.
Mungkin altar itu berada di dalam bangunan?
Bangunan itu berwarna serba putih dan dikelilingi oleh sungai. Lalu yang lebih menakjubkan lagi, bangunan itu mengambang di udara sehingga perlu terbang untuk mencapainya.
Saat kami mengamati bangunan terbang itu, tiba-tiba segerombolan orang mulai muncul. Mereka semua memakai jubah serba putih.
Tim dari Jiwa Sihir!
Mata kami saling bertatapan sebentar. Walaupun kami tidak bergerak, masing-masing dari mereka sudah menunjukkan tatapan permusuhan.
Lalu tim selanjutnya muncul. Tim ini muncul dalam keadaan sunyi, tidak ribut seperti Tim Jiwa Sihir. Ya, ini tidak lain adalah Tim Bayangan.
Lalu tim terakhir muncul setelahnya. Tim ini sangat mencolok karena berbeda dari tim lainnya. Tim lainnya memakai jubah dengan warna yang sama dan juga lencana. Tapi tim ini terlihat seperti pengembara. Karena itulah mereka dinamakan "Komunitas Pengembara".
Ada yang memakai jubah, ada yang tidak. Pakaian mereka agak lusuh tapi estektik. Sebagian dari mereka adalah orang tua dengan rambut jenggot yang tidak dicukur. Um...mereka tidak tua. Mungkin hanya satu atau dua tahun lebih tua dari Robert. Tapi mereka sama sekali tidak pernah mengurus penampilan mereka.
Hanya ada dua orang yang menutupi diri mereka dengan jubah biasa berwarna coklat, masker dan juga topi.
"Yo teman-teman Hahaha!" salah seorang dari Komunitas Pengembara menyapa semua orang dengan suara keras sambil tertawa terbahak-bahak. Orang itu memiliki badan besar dan jangut hitam yang panjang. "Jangan tegang begitu oke. Kita hanya perlu bersenang-senang Hahaha"
__ADS_1
Tidak ada yang menjawab candaannya.
Setelah beberapa saat, tidak ada tim lainnya yang muncul.
"Mana tim yang lain?" kata ketua Tim Jiwa Sihir sambil mengernyitkan keningnya.
"Mereka sudah kalah" respon Robert. "Kami mengalahkan satu tim"
"Kami juga mengalahkan satu tim" sambung tim Bayangan.
Wajah ketua Tim Jiwa Sihir menjadi jelek. Mereka tidak bertarung dengan tim mana pun dan hanya bertemu dengan binatang sihir. Entah mereka dia merasa popularitas tim mereka kalah jauh dari dua tim lainnya. Dia tidak senang.
"Humph!" dia hanya mendengus.
"Kalau sudah tersisa empat tim, kita tidak perlu bertarung bukann hahahaha." ketua Komunitas Pengembara tertawa. "Ini benar-benar bagus. Kita hanya harus saling berbagi oke hahahaha"
Tim Jiwa Sihir mengabaikan perkataan Komunitas Pengembara, mereka mendengus dengan wajah dingin. Lalu menggunakan sihir terbang mereka menuju bangunan tujuan.
"Huuu..." ejek Komunitas Pengembara. "Mereka sangat dingin."
"Dasar anak manja. Aku yakin mereka tidak pernah berpetualang dan menjadi anak emas di tempat mereka."
"Dingin dan sombong" celoteh mereka.
Setelah itu tim Komunitas Pengembara menyusul untuk terbang.
Tim Bayangan ikut menyusul selanjutnya. Sang ketua tim Bayangan menatap kami dan menganggukan kepalanya sebelum beranjak pergi.
Ehh? Tim Bayangan ini benar-benar sopan rupanya.
Kami terbang paling terakhir.
Jarak terbang tidak jauh, tapi lumayan tinggi. Saat kami semakin mendekat, kami semakin sadar bahwa bangunan ini sangat besar.
Saat kami semua sudah tiba di halaman depan, tiba-tiba pintu besar yang ada di depan kami terbuka dengan sendirinya. Kami pun langsung melesat masuk. Tapi kami berjalan dengan santai. Alasannya mudah. Karena kami tidak punya alasan untuk berebut dan bertarung sekarang. Ada empat tim dan empat bola kristal. Jadi kami tidak perlu berebutan karena sudah pasti masuk ke babak dua.
Kami menyusuri lorong gelap dengan penampakan cahaya menyilaukan di ujungnya. Saat kami sampai di titik cahaya kami melihat sebuah altar tinggi dan besar. Altar ini dikelilingi dengan lilin-lilin kecil. Lalu di tengahnya ada empat bola kristal berwarna silver.
__ADS_1
Akhirnya pertandingan ini berakhir. Ternyata lebih mudah dari yang kupikirkan. Kita hanya perlu bersiap untuk menghadapi babak kedua nanti.
Yah, tapi harapan kami semua pupus...
Aku sudah yakin pertandingan ini tidak akan mudah. Benar-benar tidak akan mudah.
Tiba-tiba sebuah proyektor cahaya muncul. Seorang tetua Penyihir yang memberi kami arahan sebelumnya muncul melalui proyeksi.
"Selamat bagi kalian semua yang sudah sampai di tempat terakhir" dia berkata sambil bertepuk tangan. "Tapi perjalanan kalian belum selesai. Sekaranglah pertandingan yang sebenarnya akan dimulai." dia melanjutkan dengan nada serius. "Ada empat bola kristal. Di setiap bola kristal ada tertera nomor dari 1 sampai 4. Nomor ini akan menunjukkan posisi kalian saat memasuki domain sihir. Ini merupakan posisi prioritas kalian saat memasuki domain sihir."
Sudah kuduga. Jadi kita tidak bisa masuk bersamaan ke dalam domain sihir. Posisi pertama akan masuk lebih dulu, lalu disusul dengan posisi lainnya. Yang berarti semakin tinggi posisi maka keutungan yang di dapat juga semakin besar.
Tapi bukankah kakek berkata bahwa barang yang kita peroleh tergantung keberuntungan? Umm...mungkin itu merupakan faktor lainnya.
"Baiklah, kalian bisa mulai" setelah mengakhiri pidatonya, proyeksi itu dengan cepat menghilang.
Lalu empat bola kristal yang berada di altar tiba-tiba bercahaya dan nomor 1 sampai 4.
Semua orang terdiam sebentar mengamati fenomena itu. Sebelum akhirnya mereka sadar dan bergerak cepat menuju altar.
Kami juga langsung menuju altar untuk berebut bola kristal.
Tapi tiba-tiba segumpalan asap gelap muncul di tengah-tengah bola kristal. Secara perlahan asap gelap itu menghilang dan menampakkan sesosok manusia. Orang itu menggunakan jubah hitam dan terlihat sangat familiar.
Ah! Penyihir gelap dari Tim Sihir Kematian yang melarikan diri itu!!
Dia tiba-tiba muncul disini dengan cara seperti itu?
Penyihir gelap itu melemparkan alat sihir lagi. Lagi-lagi penghalang dari sihir gelap!
Setelah mengelilingi semua orang dengan penghalang itu, dia mengeluarkan kabut gelap dan lari dengan membawa semua kristal!!!
Apa-apaan orang ini?
Bukannya dia hanya harus membawa kristal nomor 1? Kenapa dia begitu serakah membawa semua kristal? Bukankah itu tidak berguna karena kita hanya membutuhkan satu kristal?
Hah~
__ADS_1
Sudah kuduga semua ini tidak akan mudah...