
Cerita sebelumnya:
Eva dengan antusias menceritakan ide-ide miliknya yang berada di luar pemahaman manusia di dunia ini.
Eva memberitahu Ren konsep untuk membuat pesawat terbang, ponsel dan senapan dengan bahan bakar utama mana.
Sementara Ren mendengarkannya dengan antusias.
***
Aku menceritakan semua konsep sihir pada Ren dengan sangat antusias sampai aku lupa waktu.
Ren bahkan menyuruhku untuk menggambar konsepnya. Dia membantuku dari belakang kalau ada sesuatu yang aku tidak tahu. Guru tetaplah guru, dia tetap bertingkah seperti seorang guru walaupun berada di luar akademi. Dia mengarahkanku dengan baik. Bahkan aku terkejut, aku bisa menggambar konsep sampai sejauh ini.
Kami berdua tidak tidur sampai pagi menjelang. Bisa dibilang kami terlalu masuk ke dalam dunia kami sendiri.
Sampai akhirnya, aku menyadari bahwa ada sesuatu yang salah.
'Kenapa perasaanku tidak nyaman?'
'Apa aku melupakan sesuatu, tapi apa?'
Perasaanku terasa tidak nyaman. Tapi aku tetap melanjutkan kegiatan ku bersama Ren. Aku benar-benar bingung.
"Kau salah disini" perkataan Ren membuyarkan lamunanku.
Aku kembali fokus dengan kertas di depanku. "Eh? Kau benar" aku mulai memperbaiki peta konsep yang kubuat.
Terus seperti itu, sampai beberapa jam kemudian, aku sadar bahwa aku melakukan kesalahan yang fatal.
"Ahhh!" Eva berteriak tiba-tiba. Bahkan Ren mnegerjap terkejut walaupun ekspresi nya tetap datar.
"Ada apa dengan mu?"
"Guruuuuu!" aku berteriak panik sambil menarik lengan Ren. "Bawa aku kembali ke akadami. Aku lupa kalau hari ini aku ada pertandingan!" aku hampir menangis sekarang. Aku benar-benar lupa kalau ada pertandingan untuk sepuluh besar kandidat hari ini. Apa yang terjadi kalau aku tidak datang? Apakah aku akan didiskualifikasi sekarang?
Apalagi sekarang sudah tengah hari. Pertandingan itu sudah berlangsung! Apa yang harus kulakukan?
"Apakah itu penting?" Ren bertanya dengan wajah polos.
Urat-urat kekesalan muncul di kepalaku. Orang ini pasti sengaja melakukannya! Aku yakin itu!
__ADS_1
"Aku harus kembali" kataku tidak peduli sambil melangkah keluar ruangan.
Tapi belum sempat aku melangkah terlalu jauh, Ren menarik bajuku lagi. Dan SYUUU, dia membawa ku terbang melintasi langit.
"...."
Aku menatap Ren diam-diam. Sebenarnya dia bukab orang yang buruk. Mulutnya selalu berkata kasar. Tapi tindakannya tidak seperti itu. Tsundere?
"Terima kasih" aku mengucap kan terima kasih itu dengan tulus.
"..."
Ren tidak merespon dan tetap memasang wajah pokernya.
Beberapa menit kemudian, kami sampai di akademi. Seperti yang kuduga, ujian pertandingan sudah selesai.
Reina berhasil memenangkan pertandingan dan mendapatkan peringkat pertama. Lawannya adalah Putera Mahkota Kano. Tapi Putera Mahkota Kano mengalah dengan mengucapkan "Aku tidak bisa mengalahkan mu. Kau jauh lebih kuat sekarang" dengan senyum manisnya. Dan semua orang bersorak.
Aku melihat adegan di depan mataku dengan wajah masam. Suasana hatiku sama sekali tidak baik. Aku hampir menangis saat itu. Ujian benar-benar sudah berakhir!
"Apa yang harus kulakukan ...." aku meratap sedih. "Kalau aku didiskualifikasi...Bukankah berarti aku tidak naik kelas" aku cukup ngeri dengan kenyataan itu. Pasalnya kalau kau tetap mengulang di tingkat satu, berarti kau harus bersekolah lebih lama. Aku tidak mau! Benar-benar tidak mau!
"Ikut aku, kita akan menemui kepala sekolah" kata Ren tiba-tiba.
Aku tidak bertanya apapun tentang itu dan mengekor di belakang Ren. Aku melihat punggung besar Ren sambil berpikir 'Apa dia akan membantuku? Umu? Aku tidak tahu dia sebaik ini? Bukankah dia jahat?'
Aku masih tidak bisa menentukan dia orang baik atau jahat. Tapi sejak dia berani mengancam keselamatan ibuku, aku tidak akan menganggap nya orang baik. Bagaimana pun juga keselamatan keluargaku lebih utama daripada keselamatan ku sendiri. Aku memutuskan hal ini sejak adik kecilku lahir. Jadi aku tidak bisa fokus hanya menyelamatkan diriku sekarang. Aku juga perlu memastikan bahwa keluargaku baik-baik saja.
Kami tiba di ruangan kepala sekolah.
"Tunggu disini" Ren memerintahkanku untuk menunggu di balik pintu, tidak mengikutinya masuk ke dalam ruangan.
Aku hanya mengangguk patuh, kupikir mereka akan membicarakan hal rahasia dan tidak ingin diketahui oleh orang lain.
Aku pun menunggu dengan sabar di luar, sampai akhirnya Ren dan kepala sekolah keluar untuk menghampiri ku.
"Selamat siang kepala sekolah" aku menyapanya dengan sopan.
Kepala sekolah yang merupaka sesosok wanita setengah baya itu tersenyum. "Aku sudah mendengar cerita nya dari Wilson. Kau membantu penelitian nya hingga lupa waktu bukan?"
Aku melihat Ren dengan tatapan kesal. Sejak kapan aku membantu penelitian nya? Dia yang tiba-tiba menculikku lalu menangancam akan membunuh keluargaku!
__ADS_1
Apa dia tidak membiarkanku masuk dengan nya karena hal ini? Agar dia bisa dengan lancar berbohong! Benar-benar tidak tahu malu!
Tapi, walaupun aku kesal, aku tidak bisa melakukan apapun. Untuk keuntunganku sendiri, aku hanya bisa mengangguk pasrah.
"Baiklah, kami tidak akan mendiskualifikasi mu. Kebetulan sekali posisi terakhir kosong. Kau bisa menempati peringkat 10" kata Kepala Sekolah itu ramah. Sikapnya itu mengingat kanku pada Dean Crsytal. Mereka cukup mirip dari segi suara dan tindakan. Walaupun penampilan mereka sangat berbeda.
Aku merasa lega saat mendengar nya. Peringkat 10 bukanlah peringkat yang buruk. "Terima kasih kepala sekolah"
"Baik, kau bisa kembali ke aula pertandingan. Pertandingan kalian belum selesai sama sekali. Kalian masih harus masuk ke peringkat umum 100 besar bukan?"
Aku mengerti maksudnya. Ternyata ujian pertandingan belum mencapai tahap akhir. Tahap untuk menentang seratus peringkat umum itu belum dilaksanakan.
"Kalau begitu aku akan pergi duluan. Terima kasih kepala sekolah. Terima kasih guru Wilson"
Aku bergegas ke aula pertandingan. Saat aku sampai aku melihat Lilac melambai padaku.
"Apa yang kau lakukan? Kemana saja kau? Aku kira kau ketiduran. Tapi Vivian berkata kau sudah tidak ada di kamar saat dia bangun" Lilac memeluk leher Eva dengan berat. Pelukan itu cukup untuk mencekiknya.
"Aku ada sedikit urusan. Bisakah kau lepaskan aku? Aku terce...kik..."
"Oh, maaf" Lilac melepaskannya dengan cepat. "Jadi kau pergi kemana?"
Aku mengalihkan wajahku. Bingung untuk menjawabnya. "Um... seseorang meminta bantuan...jadi aku menolongnya?"
"Kenapa kau ragu-ragu begitu? Kau tidak bohong bukan?"
"Tidak! Tidak sama sekali!" kataku cepat sambil melambaikan tangan ku.
TING!
Bunyi yang cukup keras menarik perhatian semua orang.
Aku melihat ada papan besar di tengah lapangan pertandingan. Dan di papan itu ada sembilan nama. Lalu saat bunyi aneh itu terjadi, nama lainnya muncul di urutan ke sepuluh.
"Eva Van Court" itu adalah namaku.
Aku kira itu adalah papan peringkat dan secara otomatis aku menduduki peringkat sepuluh yang kosong.
Saat nama Eva muncul, semua penonton menjadi ricuh. Pasalnya mereka tahu bahwa Eva tidak mengikuti pertandingan. Walaupun dia masuk ke sepuluh besar pada awalnya, beberapa dari mereka berpikir ini tidak adil. Karena Eva sudah melanggar peraturan, seharusnya dia didiskualifikasi. Tapi ternyata tidak.
Semua orang menggosipkan bahwa ini semua adalah kehendak Duke. Duke ingin nama anaknya terkenal, karena itulah dia melakukan itu. dia bahkan merubah peraturan sekolah.
__ADS_1
Banyak dari mereka yang berpikir bahwa Duke dengan leluasa menyalahgunakan kekuasaan nya. Dan mereka sangat tidak senang tentang itu. Walaupun begitu mereka tidak bisa melakukan apapun sehingga mereka hanya bisa bergosip di antara mereka sendiri.