
Cerita Sebelumnya:
Eva bangun lebih awal dan dia bergegas pergi ke asrama dengan kereta. Saat sampai di asrama, dia bertemu seorang gadis yang merupakan teman sekamarnya. Dan yang tak terduga gadis itu adalah kakak tiri Reina!
***
Vivian Zent adalah putri tertua dari Marquis Zent. Dia adalah karakter antagonis sepertiku! Tapi sesama karakter antagonis kami belum pernah bertemu satu kali pun dalam cerita. Pantas saja aku tidak mengenalinya saat pertama kali melihatnya. Kenapa? Kami berdua tokoh antagonis dan sekarang bahkan kedua tokoh antagonis itu menjadi teman sekamar! Ini bahkan di luar akal sehat!
Menurut ceritanya, Marquis Zent menikah dengan seorang nyonya bangsawan dan melahirkan seorang putri bernama Vivian Zent. Tapi Marquis ini juga mempunyai kekasih orang biasa di luar. Saat ibu Vivian meninggal, Marquis kembali mencari kekasihnya. Tapi ternyata kekasihnya juga meninggal saat melahirkan. Dia tidak tahu bahwa dia meninggalkan wanita itu dalam keadaan hamil. Sehingga dia dipenuhi dengan penyesalan dan kesedihan.
Marquis berusaha mencari anaknya. Dan takdir mempertemukan mereka karena kalung yang diberikannya kepada kekasihnya. Akhirnya Reina kecil bertemu ayahnya dan statusnya berubah menjadi putri Marquis.
Kalau tidak salah, Vivian juga tidak muncul terlalu banyak dalam novel. Dia hanya muncul di satu bab novel. Bab itu menceritakan ketidakharmonisan antara Vivian dan Reina. Vivian memiliki karakter dingin dan penyendiri. Sementara Reina memiliki karakter ramah dan ceria. Dan latar belakangnya sebagai orang biasa. Hal ini menyebabkan para pelayan dan staf rumah lebih menyukai Reina. Marquis juga tidak seimbang dengan kasih sayang, dan lebih cenderung ke Reina.
Dan juga, saat dimansion, Vivian lebih suka menekan dan menindas Reina. Untungnya para pelayan itu membantu Reina. Walaupun mereka tidak bisa membantah Vivian, mereka selalu menghibur Reina.
Saat itu ada pembicaraan pembagian kekuasaan warisan. Akhirnya, Vivian marah. Dia mengamuk karena dia adalah anak pertama dari nyonya yang sah. Bagaimana harta warisan diberikan kepada anak yang asal usulnya tidak jelas. Tapi kemarahan Viviab itu menjadi titik kemalangan untuk dirinya sendiri. Marquis mulai menjauhinya. Para pelayan mulai membicarakan hal yang jelek tentangnya kepada Marquis, sehingga marquis selalu membencinya.
Lalu ada suatu kejadian Reina jatuh pingsan karena pekerjaan berlebih yang diberikan Vivian. Akhirnya Vivian diusir dari rumah dan gelar bangsawannya di cabut. Dan begitulah akhir kisahnya di dalam novel.
Kisah Vivian ini masih lebih baik dariku. Sama saja dengan kisah Charlotte. Setidaknya mereka tidak mati hiks. Apa hanya aku tokoh utama yang berakhir dengan kematian yang tragis dan menyedihkan haa ~
"Kau tidak masuk?" aku bertanya padanya.
"Aku akan masuk" jawabnya sambil tersenyum.
Ah! Dia tidak sedingin yang kukira. Aku kira dia akan memperlakukanku dengan tidak sopan. Tapi ternyata dia cukup sopan dan ramah. Bahkan senyumnya juga cantik. Kesan pertamaku tentangnya tidak terlalu buruk.
Karena kami masing-masing memegang satu kunci, kami menggunakan kunci milik Vivian untuk membuka pintu kamar.
"Ah? Kau kelas berapa?" tanyaku untuk memulai pembicaraan.
"Kelas B" katanya sambil mengeluarkan perabotan dari ruang dimensi dan mengemasnya.
Aku melihat dia mengeluarkan banyak sekali boneka. Boneka ini benar-benar banyak. Kenapa dia membawa semuanya ke asrama? Kenapa tidak menyimpannya di rumah?
"Kau sangat menyukai boneka ya?"
Raut wajah Vivian berubah sedih. "Ini semua dari ayahku..." katanya lirih sambil mengenggam erat-erat boneka yang dipegangnya.
"Oh hahaha" aku tertawa canggung. "Ternyata ayahmu sangat sering memberikanmu boneka ya. Dia ayah yang baik"
Vivian hanya mengangguk, lalu meletakan boneka itu di sisi tempat tidur.
Suasana menjadi hening lagi. Aku merasa tidak nyaman. Vivian ini adalah gadis yang cukup pendiam. Suasana menjadi sunyi saat aku tidak memulai pembicaraan lagi.
Haa~ aku menghela napas. Mungkin masa asramaku tidak seindah yang ku kira? Aku mendapatkan teman sekamar yang sepasif ini...
"Eva...kau kelas berapa?" tiba-tiba Vivian membuka mulutnya dan bertanya padaku.
"Oh? Kelas A. Sayang sekali kita tidak sekelas ya" kataku kecewa.
"Kau sekelas dengannya..." katanya lirih.
"Dengan siapa?" aku pura-pura bertanya tidak tahu. Padahal aku tahu siapa yang dimaksud.
"Saudara perempuanku.."
"Kau punya saudara perempuan"
Dia mengangguk. "Dia hanya beberapa bulan lebih muda" katanya lirih. Lalu dia menatapku serius. "Mohon bantuan untuk menjaganya ya. Dia hanya seorang gadis kecil yang naif, tapi dia cukup berprestasi. Anak itu bernama Reina"
Aku merasa agak aneh disini. Bukankah Vivian membenci Reina? Tapi kenapa dia menyuruhku untuk berteman baik dengan Reina? Lagi pula aku tidak mungkin bisa dekat dengan Reina karena konflik "jatuh" sbeelumnya.
Mungkin aku masih bisa bersikap biasa saja saat di depannya, tapi aku tidak bisa pura-pura dekat untuk berteman dengannya.
Tapi aku hanya bisa mengangguk dengan canggung. Aku tidak mungkin menolak permintaan Vivian dan mengatakan "Aku memiliki konflik dengan gadis itu"
Setelah itu kami mengobrol cukup lama. Aku bertanya tentang dirinya. Apa hobinya dan makanan kesukaannya. Ternyata dia menyukai bunga dan dia hobi merawat kebun. Makanan kesukaannya adalah chesse cake dengan cream puff. Benar-benar tidak seperti penampilannya yang dewasa dan dingin. Dia menyukai hal-hal feminim dan lucu lalu makanan manis. Memang benar bahwa kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari penampilannya saja.
lalu kami juga menanyakan peminatan kami masing-masing di akademi. Dia memilih jurusan khusus sebagai pendekar pedang. Sangat cocok dengan penampilannya. Dia pemilik dua elemen, bumi dan angin. kedua elemen itu sangat membantunya untuk menjadi pendekar. Karena bumi dan angin adalah elemen khusus pertahanan.
__ADS_1
Aku juga memberitahunya bahwa aku memilih jurusan khusus sebagai peyihir. Di akademi ini, aku akan menyamar sebagai penyihir api dan air. Tentu saja elemen lainnya tidak akan pernah kuungkap kan.
Kami tidak sadar bahwa kami sudah berbicang cukup lama. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi kurang. Sebentar lagi kelas kami akan dimulai.
"Kukira kita bisa berteman" kataku menawarkan.
Vivian tersenyum "Tentu saja" katanya. "Kau teman pertama yang kutemui di akademi ini"
"Ahaha" aku hanya tertawa. Sebelum bertemu Vivian, aku sudah bertemu dengan si kembar api. Walaupun si kembar belum menyatakan pertemanannya karena statusnya masih ambigu. Jadi Vivian adalah orang yang pertama kali menyatakan keinginannya untuk berteman denganku. "Kau juga orang pertama" kataku mengakuinya.
Setelah itu, kami bergegas meninggalkan asrama dan menuju akademi. Kelas A dan Kelas B memiliki gedung yang berbeda. Jadi kami terpisah saat di tengah jalan. Aku menuju gedung utama. Di dalam gedung ini, semua fasilitas disatukan. Ada ruang kelas, ruang pelatihan, kantin, kamar mandi, perpustakaan, dsb. Setiap gedung memliki fasilitas masing-masing.
Akademi ini memiliki empat gedung yang disesuaikan dengan gradenya masing-masing. Yang terdepan adalah Gedung A dan urutan terakhir adalah Gedung D. Gedung asrama terletak di bagian paling belakang setelah Gedung D. Jadi perjalanan yang kutempuh dari asrama ke Gedung A itu cukup jauh.
Aku sampai di kelas A. Ini adalah kelas yang membuatku merasa nostalgia. Aku mengalmi sklus kematian berulang di dalam mimpi. Jadi aku melihat kelas ini sudah berkali-kali. Aku bahkan sudah hapal murid-murid di dalamnya. Siapa yang membenciku dan siapa yang memanfaatkanku, aku sudah tahu. Untuk pilihan siapa yang menyukaiku atau temanku, tentu saja tidak ada. Aku tidak pernah punya teman. Karena itulah, aku harus punya teman di kehidupan sekarang.
"Eva semangat!" aku menyemangati diriku.
SREK! Aku membuka pintu kelas. Keadaan kelas lumayan ramai karena sudah ada beberapa murid yang datang.
Hmm..bagaimana kesan mereka saat melihatku dulu ya. Aku ingat saat aku masuk ke kelas dengan membusungkan dadaku bangga karena aku tunangan putra mahkota. Dan mereka memberikan tatapan jijik padaku. Kali ini juga tidak berbeda jauh, saat aku masuk, mereka menatapku dengan jijik.
Aku bahkan bisa membaca isi hati mereka dari raut wajah mereka.
"Memanfaatkan jabatan"
"Tidak berguna"
"Kenapa dia tunangan putra mahkota? Dia tidak pantas bersanding dengan putra mahkota"
Begitulah raut wajah mereka berkata.
Aku masuk lalu mencari kursi kosong. Kali ini aku memilih posisi duduk yang berbeda dengan posisi dudukku di masal lalu.
Lalu kejadian yang sama terjadi lagi. Gadis itu, Reina, tiba-tiba menghampiriku. Di masa lalu, dia menghampiriku, memperkenalkan namanya dan mengajakku berteman. Tapi aku langsung memberi tatapan jijik padanya dan mendorongnya jatuh. Semenjak itu aku membangun citra paling buruk di kelas ini. Coba tebak apa yang ingin dikatakannya padaku kali ini.
"Nona..." Reina berkata lirih sambil menundukkan kepalanya. Dan hal ini menjadi pusat perhatian seluruh kelas. "Maafkan aku atas kejadian kemarin...aku benar-benar tidak sengaja..." katanya sedih.
"Tidak apa-apa" kataku, berusaha meluruskan kesalahpahaman. Tapi tatapan tajam tetap di arahkan padaku, seolah-olah aku gadis yang jahat.
"Berani-beraninya kau mendekati nona Eva kami dengan penampilanmu yang kotor itu" tiba-tiba suara menyindir muncul. Aku melihat tiga orang gadis bangsawan datang ke arah kami. Ketiga orang itu merupakan putri para bangsawan dengan penampilan yang nyentrik. Seragam yang berkilau dan berenda. lalu ada beberapa hiasan permata di baju dan lambang di lengan mereka. Mereka benar-benar seperti berlian berjalan.
Dan mereka adalah anak buahku di kehidupan sebelumnya. Tiga orang ini adalah orang yang selalu membantuku untuk menyiksa Reina. Mereka adalah gadis bangsawan yang sangat menyukai keindahan. Tapi orang-orang ini bukan temanku. Mereka hanya ingin mengangkat posisi mereka dengan mendekatiku. Aku ingat dengan jelas mereka meninggalkanku dan pura-pura tidak kenal denganku saat status bangsawanku dicabut.
"Benar! Menjauhlah!" kata gadis lainnya dengan suara cempreng. Gadis itu mendorong Reina menjauh. Untung saja gadis itu tidak tersungkur jatuh karena dia menahan berat badannya pada meja di belakangnya. Kalau dia terjatuh, aku yakin ada masalah yang lebih besar. Aku benar-benar akan dibenci karena pembulian.
Ketiga gadis bangsawan itu mendekatiku dengan bersemangat.
"Nona, saya adalah Emily"
"Saya Tia nona"
"Saya Lila"
"Nona kami menyambutmu" kata ketiga orang itu bersamaan sambil memberi hormat bangsawan.
"Saya Eva Van Court" kataku membalas salam mereka.
Wajah ketiga orang itu langsung berbinar.
"Nona, aku ingin mengajakmu berbelanja"
"Aku juga ingin mengajakmu berkunjung ke rumahku"
"Kita bisa minum teh bersama dan membicarakan putra mahkota"
"Nona kami ingin berteman denganmu"
"Aku duluan yang mengajak nona"
"Tidak, aku duluan"
__ADS_1
Mereka berceloteh tanpa henti di dekatku.
Mulutku berkedut. Gadis-gadis ini, aku ingin menendang mereka. Tapi tidak mungkin aku melakukannya di depan publik!
"Ahh...Eva, kenapa kau mengundang nyamuk-nyamuk berisik itu" aku mendengar suara mengejek. Dan aku melihat Lilac menghampiriku.
Eh? Dia pasti baru datang, karena aku tidak melihatnya sebelumnya. Si kembar terkenal dengan record keterlambatan mereka
"Dimana Louis?" aku bertanya pada Lilac dan mengabaikan ketiga gadis yang berada di dekatku.
"Ah, orang bodoh itu, aku meninggalkannya di rumah. Dia masih tidur"
"...."
Aku tak bisa berkata-kata. Bukankah berbeda dari cerita aslinya? Di masa lalu, si kembar tidak terlambat di hari pertama mereka. Louis benar-benar terlalu santai, haa~
"Lalu kenapa kalian mengerumuni Eva seperti itu?" kata Lilac dengan mata melotot. "Kalian terlalu menganggu pemandangan!"
Ah, Lilac! Bukankah kau terlalu kejam!
Ketiga gadis itu diam. Mereka melihat lambang keluarga yang ada di seragam Lilac dan tidak berani berbicara balik. Ketiga gadis itu hanya bisa menggertakan gigi menahan kekesalan mereka.
"Nona Eva....kami permisi" kata salah satu dari mereka dengan suara gemetar, lalu pergi menuju kursi mereka masing-masing.
Haa~ aku menghela napas lega.
"Kau berhutang budi padaku oke. Aku sudah membantumu menyingkirkan nyamuk-nyamuk itu" kata Lilac kemudian.
Aku tersenyum "Oke,oke"
"Lalu kenapa dengan gadis malang itu?" Lilac menunjuk Reina yang sedang menunduk sedih.
Ternyata dia masih ada disitu! Aku kira dia sudah pergi.
"Entahlah." kataku acuh tak acuh. Aku tak mau menghabiskan tenagaku untuk sesuatu yang tidak penting.
Melihat Eva mengabaikan pertanyaannya, Lilac merenggut "Kalian musuh? Kelihatannya hubungan kalian tidak baik? Aku penasaran. Bukankah gadis itu murid terbaik? Dilihat dari sikapnya yang lemah lembut, bagaimana dia memprovokasimu?" Lilac mulai bertanya bertubi-tubi dengan mata berbinar.
"Hmm...kau pikirkan saja sendiri oke. Aku tidak berkelahi atau pun membencinya. AKu hanya tidak mau terlibat dengannya" suaraku cukup keras saat aku mengucapkan kata ini. Reina dan seluruh isi kelas mulai berbisik-bisik. Mereka menatapku dengan tatapan menyalahkan.
Lilac mendekatkan mulutnya dan berbisik di telingaku "hei, hei, kau benar-benar kejam. Yang lainnya jadi membencimu gara-gara kau berbicara sekasar itu pada dewi mereka" katanya memperingatkan.
"Terserah" aku tidak peduli sambil mengangkat kedua bahuku.
Aku sudah menetapkannya. Aku tidak mau terlibat dengan tokoh utama wanita. Gadis naif ini, dia berbahaya. Aku tidak tahu mengapa. Apakah ini insting? Insting ini muncul sejak kejadian saat aku diculik bersamanya.
Pada pertemuan pertama kami, aku memang mengira dia gadis yang baik dan polos. Tapi dibalik gadis polos itu, ternyata dia juga bisa menyembunyikan tatapan berbisa. Aku sempat menatap matanya waktu itu, saat di perkemahan. Walaupun tatapan itu hanya sebentar sebelum berubah lagi menjadi tatapan menyedihkan. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan gadis ini. Tapi kalau dia bisa berubah-ubah seperti itu bukankah dia mengerikan?
Dia pasti tidak mengingatku kan, kalau kita pernah bertemu waktu itu. Mungkin karena aku memakai pakaian pelayan. Dia mungkin tidak mengira gadis pelayan yang ditemuinya waktu kecil adalah putri bangsawan..
SREKK! Pintu kelas terbuka. Lilac langsung bergegas ke kursinya. Begitulah murid-murid yang berserakan, mereka segera merapikan diri dan duduk di kursi masing-masing.
Ah~ kita kedatangan wali kelas. Di masa lalu wali kelas A adalah Robert. Karena sekarang Robert sudah menjadi guru lagi, ceritanya tidak akan berubah bukan?
Aku menanti-nantikan siapa yang masuk. Eh? Bukan Robert! Apa ini? Elf?
Aku benar-benar melihat elf gelap dengan mata merah dan rambut kuning!
Tapi, sosok elf itu tiba-tiba menghilang dan berganti menjadi seorang pemuda tampan berambut kuning.
" Eh? Apa aku salah lihat?" aku bergumam bingung sambil mengucek mataku. Aku memperhatikan guru itu dengan mata melonggo bercampur bingung. Apa aku berhalusinasi?
Guru itu menatap seluruh kelas. Lalu saat melihat kursiku, tatapan kami bertemu dan dia langsung memberiku tatapan dingin dan penuh permusuhan. Itu hanya terjadi sedetik, sebelum dia tersenyum dan mengalihkan tatapannya. "Selamat datang di akademi kerajaan" katanya dengan ramah.
EH??! Aku salah lihat lagi? Dia memberiku tatapan dingin bukan? Lalu aura permusuhan itu. Apa dia membenciku? Kenapa? Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya. Sama sekali belum pernah! Lalu kenapa tatapannya seperti itu.
Aku memperhatikan pemuda di depan kelas itu. Tatapannya menjadi ramah saat tatapan kami bertemu lagi. Dan dia tersenyum sambil melihat sekeliling.
Ah...aku pasti salah lihat bukan? Kelihatannya aku butuh istirahat dan hiburan karena selalu berhalusinasi sesuatu yang berbahaya....
LIKE, LIKE, LIKE Yo~
__ADS_1