Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 2: Rubah Tua yang Licik


__ADS_3

Cerita sebelumnya:


Charlotte tiba-tiba muncul sebagai musuh baru dengan keadaan dikendalikan. Dan pria bertopeng perak itu adalah Jen, murid Menara Sihir yang pernah di temui Eva beberapa kali. Jen yang memberikan undangan aneh itu pada Eva dan menjebaknya di tempat ini.


Jen mulai membujuk Eva untuk mengikutinya dengan mantra pembuka mana. Eva berpura-pura patuh. Saat jarak mereka semakin dekat, Eva menggunakan kesempatan itu untuk menyerang dan mengambil mantra itu.


Akhirnya, dia bisa menggunakan sihir kembali dan mulai menyerang balik. Dia mematahkan mantra sihir yang mengendalikan Charlotte. Karena pembatalan secara paksa, Jen mengalami efek samping yang mengerikan dan menjerit kesakitan. Eva sudah bersiap-siap untuk melenyapkannya. Tapi tiba-tiba Dean Caro muncul! Yah, dalang utamanya sudah muncul.


***


"Hentikan!" teriak Dean Caro.


Aku langsung membatalkan sihirku.


'Ah~ apa yang ingin dilakukan pak tua ini?' aku menatapnya dengan mata menyipit.


Ini sangat aneh...Dia datang sendirian? Itu tidak mungkin! api kalau dia ingin menangkap kami, dia pasti akan membawa para jubah hitam itu. Membawa para anak buahnya.


Entah kenapa perasaanku tidak nyaman. Aku yakin pak tua ini merencanakan sesuatu!


Dan benar sesuai dugaanku!


SYU SYU SYU


Tiba-tiba banyak orang muncul dengan teleportasi.


Eh? Guru? Kakek?


Aku melihat Dean Wason, Dean Cristal, dan Penatua lainnya mulai datang. Sepuluh penatua itu datang ke tempat ini


"Kau gadis kecil yang kejam" kata Dean Caro dengan sarkas sambil menunjukku. "Aku tahu orang ini bersalah, tapi kau tidak perlu membunuhnya. Dan aura pembunuhan yang besar di umur sekecil itu. Kau benar-benar kejam."


"..."


Apa maksudnya? Kenapa dia berkata seperti itu?


Saat Dean Caro mulai menargetkan perkataannya padaku, para penatua lainya langsung menatapku.


Sayn tiba-tiba muncul di belakangku. Dia langsung menepuk bahuku. "Tenanglah"


Aku masih linglung. "Apa yang terjadi?"


Sayn mendekatkan bibirnya di telingaku dan mulai berbisik. "Sihir gelapmu keluar kendali. Aura membunuhmu tidak bisa dikendalikan"


Ah! Aku membelalak kaget.


Pantas saja aku ingin melenyapkan Jen. Dan keinginan itu sangat besar. Ternyata aku dipengaruhi emosi sehingga sihir gelapku hilang kendali.


Ha~ sihir gelap ini benar-benar berbahaya. Semua unsur yang ada pada sihir ini benar-benar bersifat menghancurkan. Pantas saja para penggunanya disebut iblis.


Dean Caro mengalihkan pandangannya pada Jen. "Tangkap orang ini"


Tiba-tiba, para jubah putih muncul dari udara kosong dan mulai menangkap Jen.


"Aku benar-benar tidak tahu bahwa penyihir gelap bersembunyi di tempat ini. Bahkan merencanakan hal jahat seperti ini. Kalau aku mengetahuinya, aku tidak akan pernah membiarkannya" katanya dengan bijak.


Dia bertingkah seperti tidak tahu apa punĀ  dan menganggap dirinya berkonstribusi dalam menangkap kejahatan.


"Apa maksudmu pak tua? Kau yang merencanakan semua ini kan?" kataku geram. Ini semua adalah rencananya! Aku yakin itu! Tapi pak tua ini berpura-pura tidak tahu karena ingin menyelamatkan diri sendiri.


"Hahaha" Dean Caro tertawa. "Apa maksudmu gadis kecil? Aku sama sekali tidak tahu apa pun?"


Dia mulai menatap Jen dan mencekik lehernya. "Katakan siapa yang menyuruhmu?" tanya dengan dingin.


Saat dicekik, Jen mendapatkan transmisi telepati dalam kepalanya "Jalankan Rencana cadangan"


"Aku...aku..." Jen tergagap. Pandangan Jen beralih ke arah Charlotte.


"Gadis itu..."


Charlotte membelalak kaget. Bukan hanya Charlotte, kami juga melotot kaget.


"Apa maksudmu?" kata Charlotte dingin.


'Apa-apaan? Dia menuduhku melakukan semua ini? Aku bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya dia lakukan! Dan yang paling penting, aku tidak akan pernah bekerja sama dengan penyihir gelap. Walaupun aku mati' pikir Charotte benci.


"Itu tidak mungkin" Penatua keenam langsung menyanggahnya.


"Iya, tidak masuk akal. Charlotte adalah pengguna elemen cahaya. Tidak menguntungkan baginya untuk bekerja sama dengan penyihir gelap" timpal penatua kesembilan.


"Itu tidak masuk akal! Jangan biarkan pelaku kejahatan ini berbicara hal aneh. Kita harus mengurungnya dan menggunakan sihir untuk melihat pikirannya" sahut Dean Wason.

__ADS_1


Semua penatua langsung mengangguk setuju.


Dean Caro langsung berkeringat dingin.


Dia tidak bisa membiarkan para tua-tua ini membedah ingatan Jen. Atau mereka akan mengetahui semuanya.


'Atau aku bunuh saja bocah ini?' Dean Caro menatap Jen dingin.


Melihat tatapan membunuh Dean Caro, Jen langsung bergidik. Tidak ada yang berpihak padanya. Tapi dia harus bertahan hidup!


'Berpikir, ayo berpikirlah...'


Ah! Jen teringat sesuatu. Dia langsung mengeluarkan alat sihir. Alat sihir itu langsung mengeluarkan semacam proyeksi gambar. Gambar itu diambilnya saat kondisi Charlotte dikendalikan olehnya.


Pada gambar itu, ada dua orang yang duduk berhadapan seperti berdiskusi tentang sesuatu. Walaupun tidak ada suara, itu cukup untuk membuktikan bahwa kedua orang itu saling kenal.


"Lihat, aku punya buktinya" kata Jen sambil menunjukkan seringai jeleknya.


"Itu tidak mungkin!" Charlotte meraung. "Aku tidak mengenalnya! Aku bahkan jijik berhubungan dengan penyihir gelap. Bagaimana mungkin aku bekerja sama dengannya!"


Tapi, keraguan muncul di wajah para penatua.


Bisa saja mereka berdua memang bekerja sama? Kita tidak pernah tahu ada berapa tikus yang tersembunyi di rumah kita sendiri!


Apalagi kemunculan gadis ini di Menara Sihir cukup aneh.


"Kalian...kalian tidak percaya padaku..." Charlotte bergetar marah.


"Tangkap dia!" Dean Caro mengarahkan para jubah putih ke arah Charlotte. "Kita akan mengetahui semuanya setelah kita menginterogasi mereka"


"Tunggu!" aku langsung menghentikannya. "Kalian mungkin salah paham"


Aku berusaha menjelaskan, tapi Dean Caro langsung memotong pembicaraan.


"Diamlah! Kita akan menyelidiki hal ini dulu." Matanya menatapku dengan sinis.


"uh..."


"Eva" suara yang lembut dan akrab itu memanggil. Aku melihat sumbernya, itu kakek!


"Biarkan semuanya diselidiki lebih dulu. Baru semuanya akan diputuskan" kata Dean Wason sungguh-sungguh.


Aku melirik Charlotte dengan ragu-ragu. Mereka bertiga satu kelompok bukan? Kenapa mereka saling menyalahkan? Apakah ini hanya sandiwara saja?


Bagaimana bisa? Bagaimana bisa seseorang yang sudah dipercayainya mengkhianatinya seperti ini! Aku bahkan sudah menganggapnya sebagai guruku, tapi dia memperlakukanku seperti ini! Dia benar-benar menjebakku!


Charlotte ingin berteriak frustasi, tapi suaranya tidak keluar. Dia hanya memendam dan berteriak dalam hati.


Eva melihat raut wajah Charlotte yang menyeramkan 'Gadis ini terlalu pendendam' dia menggelengkan kepala kecewa.


Lagipula sepertinya Charlotte harus diberi pelajaran. Mengurungnya selama beberapa hari di penjara kelihatannya tidak buruk juga.


Lalu aku segera menatap Dean Wason. "Kakek~" kataku manja.


Dean Wason tersenyum "Kemarilah Eva" katanya lembut. Dia juga menatap Robert dan Sayn. "Kalian juga kembalilah."


Haa~ akhirnya semuanya berakhir. Aku benar-benar lega.


Aku berjalan santai menuju Dean Wason. Tapi sesuatu yang tidak terduga tiba-tiba terjadi! Dean Caro mengarahkan alat sihir aneh ke arahku. Alat itu mengeluarkan cahaya keperakan dan mengarah padaku.


"Apa yang kau lakukan?" teriak Dean Wason geram.


Dean Caro mengangkat kedua bahunya. "Ini bukan barang berbahaya. Aku mendeteksi sesuatu yang jahat pada gadis kecil ini" katanya santai.


"Apa maksudmu pak tua..."


Ah! Tubuhku tiba-tiba terasa panas. Mana di dalam tubuhku bergejolak tidak terkendali.


Apa yang terjadi? Apa yang dilemparkan pak tua itu?


Aku kira semua masalah sudah selesai, tapi ternyata ada masalah lainnya. Pak tua itu mulai menjebakku!


Jantungku tiba-tiba berdenyut kuat. Aku merasa ingin meledak!


"AH!" aku menjerit kesakitan sambil berlutut.


"Eva" Robert dan Sayn panik ingin mendekati Eva.


Tapi tiba-tiba SHUUUU! Cahaya yang menyilaukan keluar dari tubuh Eva.


PPPSHHH~ segumpal aura gelap mulai keluar dari tubuhnya dan mengelilinginya.

__ADS_1


"Lihat!" Dean Caro menjerit. "Ada penyihir gelap lainnya."


Mata semua penatua terkejut.


Sayn dan Robert panik.


"Mereka saling bekerja sama., para penyihir gelap ini. Kita harus menangkapnya" Dean Caro mulai mengkambing hitamkan lagi. "Aku benar-benar tidak tahu, bagaimana penyihir gelap ini sangat lihai menyamarkan mana mereka. untung saja aku tahu kalau dia mencurigakan" kata Dean Caro santai.


"Bangsawan?"


"Gadis itu seorang bangsawan"


"Tidak masalah kalau dia adalah bangsawan. Tapi dia mnyusup ke dalam Menara sihir. Apa yang direncanakannya?"


"Aku tidak menyangka gadis kecil bisa selicik ini"


"Penyihir gelap tetaplah penyihir gelap, mereka licik dan ganas"


Para penatua itu mulai saling berbisik.


"Tangkap dia!" Dean Caro mulai memberi perintah. Para jubah putih itu mulai menuju Eva untuk enangkapnya.


Tapi Sayn dan Robert menghalanginya, dan mulai menyerang para jubah putih itu.


"Apa yang kalian lakukan?" Dean Caro tidak senang.


"Bagaimana kalian bisa melindungi seorang penjahat? Apa kalian saling bekerja sama?" Dia mengernyitkan keningnya.


"Aku tidak menyangka putraku akan disihir oleh penyihir jahat ini" Dean Caro menatap Robert kecewa.


Robert mengertakan giginya. Dia berusaha menahan amarahnya sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.


Bagaimana aku bisa mempunyai orang tua seperti ini? Dia benar-benar jahat dan licik.


Sayn mengernyitkan keningnya, berpikir. 'Ini benar-benar rumit. Orang tua ini penuh dengan berbagai rencana rahasia. Pantas saja Dean Wason ingin membereskannya'


"Hentikan!" Dean Wason berteriak.


Para jubah putih itu langsung menghentikan gerakan mereka. Ternyata perintah ketua memang lebih efisien.


"Kita akan menyelidiki ini dulu. Aku yang akan membawanya" kata Dean Wason tegas sambil mengamati kerumunan.


'Apa yang dipikirkan orang tua ini sehingga dia benar-benar menjebak seorang gadis kecil'


"Tidak bisa ketua!" sanggah Dean Caro langsung. "Kau tidak bisa melindungi sesuatu yang jahat hanya karena kau pemimpin di sini. Kau juga harus meminta pendapat yang lain"


Perkataan Dean Caro mulai membuat para penatua yang lainnya tergerak.


"Benar sekali Dean"


"Kau memerlukan pendapat kami"


"Kami bukan hanya pajangan"


"Aku tidak setuju, gadis itu harus ditangkap"


"Aku juga!"


'Orang-orang bodoh ini!!!' Dean Wason menggeram dalam hati.


Para orang tua ini benar-benar mudah dihasut!!


Dean Caro tersenyum penuh kemenangan. "Para penatua sekalian. Akan ada kejutan lainnya. Kalian pasti akan terkejut" katanya penuh percaya diri.


PSSHHH! Aku merasakan manaku bocor keluar setelah mendengar perkataan Dean Caro. Dan mana dengan berbagai macam warna mulai merembes keluar dari tubuhku.


Semua orang yang menyaksikan hal ini benar-benar terkejut!


Hanya Robert yabg panik. Dan Dean Caro yang tersenyum licik.


"Tidak mungkin!" salah satu penatua berteriak histeris.


"Kenapa enam elemen sihir bisa ada pada gadis itu?!"


"Dia benar-benar memiliki enam elemen?!"


"Bagaimana bisaa? Ini benar-benar di luar akal sehat"


"Tentu saja bisa" Dean Caro menyanggah sambil tersenyum. "Gadis kecil ini adalah iblis" katanya dingin.


"...." Dean Wason terdiam. Dia memang kaget pada awalnya. Tapi dia berusaha mengatur emosinya. Dia menatap Dean Caro dengan mata menyipit.

__ADS_1


Sementara Robert menahan emosinya dengan mengepalkan tangannya erat-erat.


__ADS_2