
Cerita sebelumnya:
Rexus mengantarkan Eva menemui Damian. Ternyata naga tua itu sadar bahwa umur nya tidak akan lama lagi dan dia meminta Eva untuk menjaga pusaka naga miliknya. Eva tentu saja menolak. Tapi Damian menggunakan Rexus sebagai alasannya.
Eva bisa memberikan pusaka kepada Rexus saat anak itu tumbuh dewasa. Lalu perpisahan antata Eva dan Rexus pun terjadi. Rexus harus berlatih bersama Damian, sementara Eva akan kembali ke mansionnya. Tapi saat dia melakukan perjalanan pulang ke istana elf, sepuluh orang dengan jubah hitam mengepung nya di tengah hutan.
***
Aku mengamati sepuluh orang itu. Mereka terbang mengelilingi ku dengan bentuk seperti lingkaran.
Ada apa dengan para elf ini? Kenapa mereka selalu mengejarku dan ingin mencelakai ku?
Awalnya aku berpikir semua ini karena Lena. Tapi setelah berpikir lagi, bukankah ini cukup berlebihan? Aku bisa merasakan bahwa mereka bukan orang biasa. Apa Lena bisa memanggil orang kuat sebanyak ini? Kekuatan mereka mungkin setingkat guru yang ada di akademi. Walaupun bukan berarti aku tidak bisa mengalahkan mereka sama sekali.
Aku segera mengirimkan sinyal telepati ku pada Ren, untuk meminta pertolongan nya. Tapi, kenapa tidak bisa...?
"Berharap memanggil bantuan. Kau tidak akan pernah bisa melakukan hal itu" salah seorang dari mereka berbicara sambil tersenyum sinis. Mereka sudah menggunakan sihir aneh untuk memblokir sinyal telepatiku.
Bukan hanya menghalangi sihir telepati, mereka juga menghalangi sihir teleportasi. Tipikal dari para pembunuh, mereka tidak akan pernah membiarkan target mereka melarikan diri.
Jadi, aku tidak bisa lari kemanapun atau meminta pertolongan pada orang lain. Satu-satunya cara untuk menghadapi mereka adalah bertarung. Atau, kalau aku cukup beruntung, aku bisa berlari ke arah goa Damian dan meminta pertolongan naga itu. Bagaimana pun satu lawan sepuluh itu terlalu banyak.
Aku menggunakan artefak sihir yang dapat memperkuat tubuhku dan mempercepat gerakanku. Serta mengeluarkan senjata sihir belati yang selalu kugunakan.
Aku mencoba-coba keberuntungan ku untuk menggunakan kertas mantra teleportasi, tapi tetap tidak berfungsi. Mereka benar-benar sudah memblokir sihir apapun yang terkait dengan hal itu.
Tanpa basa-basi, aku memberikan sedikit mana cahaya pada belati ku dan maju ke arah mereka. Supaya lebih efisien, aku mengincar titik lemah seperti leher dan dada, yang bisa langsung membunuh musuh. Walaupun sebenarnya ada perasaan tidak nyaman saat membunuh mahluk hidup lain. Tapi mau bagaimana lagi, aku tetap harus bertahan hidup.
SRAT!
Aku berhasil memotong leher salah satu elf. Elf itu sedikit tersentak sebelum akhirnya kehilangan nyawanya dan jatuh ke bawah karena kehilangan sihir terbangnya.
"Pendekar sihir!" para elf itu berseru kaget. Mereka tidak menyangka bahwa mereka harus menghadapi pendekar sihir. Informasi mengatakan bahwa target mereka hanyalah seorang penyihir kecil manusia. Terlebih lagi dia juga pengguna mana cahaya. Itu terlalu banyak untuk mereka.
Pendekar sihir? Hanya karena aku menggunakan senjata sihir, mereka mengira aku adalah pendekar sihir. Apa mereka bodoh?
Aku mengincar target kedua. Tapi gagal, hanya berhasil menggores pipinya karena dia mengaktifkan pelindung dan dengan cepat menghindar. Karena aku sudah berhasil melumpuhkan satu, formasi lingkaran mereka mulai kacau sekarang. Jadi aku menggunakan kesempatan ini untuk melarikan diri ke arah tempat tinggal Damian.
Tapi para pembunuh tidak akan pernah membiarkan target mereka lari. Mereka juga tahu bahwa ada kediaman naga di depan dan mereka tidak berani menganggu sang naga dengan bunyi-bunyi pertarungan yang berlebihan. Mereka ingin membunuh target mereka dengan efisien.
Sembilan elf yang tersisa langsung menggunakan sihir aneh. Sebuah lingkaran sihir besar tiba-tiba muncul di bawah kakiku. Pertarungan sudah sangat sulit sejak aku melakukannya sambil terbang. Lingkaran sihir apalagi ini.
Saat lingkaran sihir itu terbentuk sempurna, aku tidak bisa menggerakkan tubuhku sama sekali. Lingkaran sihir ini mengunci gerakan ku!
Aku langsung menggunakan sihir tingkat tinggi untuk membuat badai. Keseimbangan mereka pun langsung goyah dan lingkaran sihir pun hancur. Aku yang terbebas mencuri kesempatan ini untuk menebas leher elf lainnya. SRAT! Akhirnya dua musuh sudah menghilang.
Aku sebenarnya ingin menggunakan sihir tingkat tinggi yang kupelajari. Tapi karena kami bertarung di udara, aku tidak bisa menggunakan Sihir elemen lainnya kecuali elemen angin. Dan sihir anginku juga sangat lemah.
__ADS_1
Para elf itu sedikit terkejut bahwa manusia di depan nya bisa menggunakan sihir tingkat tinggi. Dalam pikiran mereka, Eva terlihat sangat putus asa. Mereka mengira Eva sangat putus asa hingga menggunakan sihir dengan penggunaan mana yang banyak. Mereka berpikir manusia itu akan kelelahan dan akhirnya mati dengan menyedihkan.
Tapi dugaan mereka salah! Manusia itu menggunakan sihir tingkat tinggi lagi, yang membuat sihir terbang mereka terganggu. Badai kedua datang, tapi itu bukan akhirnya. Badai ketiga, keempat, kelima dan keenam.
Enam sihir tingkat tinggi berturut-turut di waktu yang bersamaan. Dan yang menggunakan sihir itu hanyalah manusia kecil, yang terbang di tengah-tengah badai seakan-akan dia adalah pusatnya.
Enam sihir angin tingkat tinggi itu langsung menghantam kelompok elf itu. Bahkan pepohonan di bawah juga terkena efek sihir. Batang-batang pohon yang lumayan besar itu patah dan terbawa angin badai. Menyisakan tanah lapang yang hanya meninggalkan setengah batang pohon.
Para elf itu bertindak cepat. Mereka langsung mengaktifkan formasi pelindung. Dengan kekuatan delapan orang, formasi pelindung yang terbentuk cukup kuat. Kalau tidak ada pelindung sihir, mereka akan tercabik-cabik oleh badai angin itu.
Mereka sama sekali tidak jatuh. Padahal aku sudah memanggil banyak sekali badai. Efektivitas sihirku benar-benar berkurang di udara. Aku sedikit kecewa.
Sebenarnya, aku memikirkan sihir yang lebih kuat lagi, yaitu sihir tingkat tinggi elemen api. Tapi kalau aku menggunakan sihir itu di hutan lebat seperti ini, pasti akan terjadi kebakaran yang hebat. Damian juga akan marah padaku karena sudah merusak halaman rumahnya. Itulah alasannya aku enggan untuk turun ke daratan dan tetap terbang di udara. Aku tidak ingin menghancurkan lingkungan yang ada di bawah.
Aku juga tidak bisa menggunakan elemen air karena kekuatan serangan sihir air tidak begitu bagus. Dan aku masih belum profesional untuk mengubah elemen air menjadi bongkahan es mematikan. Dan untuk sihir cahaya, aku tidak menguasai mantra apapun. Memalukan memang, aku hanya memanfaatkan mana cahayaku secara sembarangan selama ini.
"Cukup! Kami akan serius sekarang!" kata mereka dengan wajah menghitam karena kesal. Mereka terlalu meremehkan manusia ini karena dia masih terlalu muda. Tapi target mereka adalah manusia berbahaya. Di umur semuda itu dia bahkan bisa menggunakan sangat banyak sihir tingkat tinggi tanpa tanda-tanda kehabisan mana. Monster kecil apa yang mereka hadapi saat ini. Informasi yang diberikan pada mereka sudah salah sejak awal dan mereka harus kehilangan dua Sekutu. Misi yang mereka anggap mudah ternyata berbahaya.
Para elf itu mulai mengeluarkan mana gelap mereka. Mana gelap itu berbentuk kabut asap dan mengelilingi Eva. Sejak mereka tahu bahwa Eva adalah penyihir cahaya, mereka akan memanfaatkan kelemahan semua penyihir Cahaya. Penyihir cahaya sangat rentan dengan mana gelap. Saat mana gelap mengenai tubuh mereka, mereka akan melemah. Hal itu sama dengan penyihir gelap yang sangat rentan dengan sihir cahaya. Lagipula kedua elemen itu dari awal memang berlawanan.
Asap hitam aneh mulai mengerumuni ku. Aku langsung dengan cepat menahan napas ku karena mengira itu racun. Aku bahkan sudah mengeluarkan ramuan penawar racun dari ruang dimensi karena aku menghirup asapnya sedikit.
Tapi...
Kenapa aku tidak merasakan apapun? Apa ini benar-benar asap racun?
"...."
Aku mengerjapkan mataku bingung, menatap sekelompok elf yang menatapku dengan senyum penuh kemenangan.
"Apa yang sedang kalian lakukan?"tanya ku refleks.
Aku bisa mendengar salah satu dari mereka tertawa keras. "Sekarang kau benar-benar tamat manusia. Tidak ada penyihir cahaya yang bisa menahan asap hitam yang diakumulasikan dari delapan orang" katanya dengan senyum puas.
"Apa itu benar-benar asap racun?" aku bertanya lagi.
"Tentu saja!" mereka menjawab dengan yakin.
Aku tidak mengerti. Walaupun itu benar-benar asap racun, tapi itu tidak mempengaruhi ku sama sekali. Jadi aku memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerang mereka dengan cepat.
Target ketiga. SRAT! Aku memotong lehernya. Saat darah elf itu tersebar di belati milikku, aku merasa sedikit jijik. Bahkan ingin muntah. Ini benar-benar pertama kalinya aku membunuh dan aku harus menguatkannya mentalku untuk itu. Aku berusaha menahan rasa mual itu dengan mengigit bibirku.
Para elf itu tersentak. Penyihir cahaya manusia itu sudah menghirup asapnya, bukankah seharusnya dia melemah? Tapi kenapa gerakannya masih sama seperti sebelumnya?
Eva tidak memberikan kesempatan untuk para elf itu berpikir. Dia terus menyerang. SRAT! Elf keempat gugur. Elf kelima dan elf keenam.
Empat elf yang tersisa merasakan adanya keanehan. Mereka berhenti mengeluarkan mana hitam mereka dan langsung membuat sihir pelindung refleks.
__ADS_1
TRANG!
Belatiku bertabrakan dengan perisai sihir saat aku mengincar elf selanjutnya. Serangan itu gagal. Jadi aku mundur beberapa langkah.
Mereka saling bertatapan lagi. Empat orang elf dalam pelindung seperti kubus dan seorang gadis kecil yang memegang belatinya yang sudah dipenuhi dengan tetesan darah.
"Kenapa mana gelap itu tidak melukaimu sama sekali? Pelindung apa yang kau gunakan?" salah satu dari elf gelap itu bertanya. Pasalnya kalau benar-benar ada pelindung yang dapat melindungi penyihir Cahaya, situasinya akan buruk untuk kaum mereka. Pengguna mana cahaya akan semakin kuat sementara pengguna mana gelap akan semakin melemah. Hal itu sama sekali tidak boleh terjadi.
Setelah mendengar perkataannya, aku akhirnya mengerti! Mereka mengira aku adalah penyihir cahaya, jadi mereka menyerangku dengan mana gelap. Kalau dipikir-pikir lagi, tindakan mereka sangat bodoh. sejak mereka tidak tahu identitasku yang sebenarnya, mereka bertindak sangat random.
"Aku tidak menggunakan pelindung apapun" jawabku sambil tersenyum lucu.
Mereka mengernyitkan kening mereka tam percaya. "Karena kau tidak ingin memberitahu kami. Kami tidak akan membunuh mu dengan cepat. Kami akan menyiksamu secara perlahan sampai kau membuka mulutmu" kata salah satu dari mereka, kejam.
Aku sedikit kaget. Tatapan membunuh itu benar-benar menakutkan. Tatapan mereka yang sebelumnya sudah menakutkan, tapi tatapan mereka sekarang lebih menakutkan. Seakan-akan aku adalah musuh bebuyutan yang tidak mereka temui selama ratusan tahun.
Aku memang takut. Tapi aku berusaha tersenyum percaya diri. "Kalian ingin tahu kenapa mana gelap kalian tidak berpengaruh padaku bukan?"
Mereka masih menatapku dengan tatapan ganas.
Aku langsung mengeluarkan mana gelap dan mengarahkan nya pada ujung belatiku. Aku bisa melihat para elf itu tersentak dan menatapku dengan mulut menganga. Bahkan pelindung mereka melemah karena rasa kejut yang besar.
Aku memanfaatkan kesempatan ini untuk mematahkan pelindung nya. TRANG! Pelindung itu hancur seperti serpihan kaca.
Keempat elf itu semakin panik dan tidak bisa memanfaatkan kondisi mereka. Aku langsung menebas dua elf sekaligus karena letak mereka berdekatan. Sementara dua lainnya, aku tidak berhasil memotong leher mereka. Tapi aku berhasil memotong kedua tangan mereka.
Benar-benar aneh. Saat menggunakan belati ini, memotong tulang mahluk hidup benar-benar seperti memotong jelly. Sangat mudah tanpa perlu mengeluarkan banyak tenaga.
Semua elf itu mati, hanya menyisakan dua elf dengan lengan terpotong. Aku memanfaatkan kesempatan ini untuk menggunakan sihir telepati. Dan itu berhasil!
Ren, ada pembunuh yang menyerangku saat aku kembali dari goa Damian
Aku berkata langsung tanpa basa-basi apapun.
Dimana kau sekarang?
Ren membalas dengan cepat.
Aku pun memberikan Ren titik lokasiku dengan sihir. Hanya sedetik, pria itu muncul di hadapanku dengan wajah cemas. Sangat cepat! Ini perbedaan antara orang kuat dan orang biasa. Aku ingin menjadi sekuat itu di masa depan.
Ren tersentak kaget saat dia melihat penampilan Eva. Penampilan gadis itu sangat berantakan. Gaun yang dipakainya lusuh dan robek. Serta ada bercak darah pada baju dan wajahnya. Ren bahkan tidak bisa membedakan itu darahnya atau darah lawan.
"Kau tidak apa-apa?" Ren mengetahui bahwa masih ada dua orang pembunuh yang tersisa. Tapi dia mengabaikan nya dan lebih fokus pada kondisi Eva.
"Aku tidak apa-apa. Tidak terluka sedikitpun." Walaupun aku terluka, aku bisa sembuh dengan cepat saat mengedarkan sihir cahayaku. "Tapi dua pembunuh itu..." aku menunjuk dua elf gelap yang tersisa. "Aku tidak bisa membiarkan mereka melarikan diri!"
Dua elf itu dengan cepat mengeluarkan kertas mantra mereka untuk melarikan diri. Tapi terlambat. Ren mengangkat tangannya. kertas mantra mereka tidak berfungsi sama sekali seakan-akan Ren sudah membatalkan sihirnya. Lalu muncul tali gelap di sekujur tubuh dua elf itu, mengikat semua pergerakan mereka. Bahkan mereka tidak bisa menggunakan mana mereka dan berbicara.
__ADS_1
Ren menerbangkan kedua elf itu di hadapan Eva. "Bunuh atau tidak?" dia bertanya dengan ekspresi datar dan tatapan dingin.