
cerita sebelumnya:
Eva sadar bahwa dia lupa mengikuti ujian pertandingan. Dia mencoba memohonkan pada Ren untuk melepaskan nya. Akhirnya Ren menurutinya dan mereka pergi ke akademi.
Tapi nasi sudah menjadi bubur. Pertandingan ternyata sudah berakhir. Eva hampir menangis karena tahu dirinya tidak akan pernah naik kelas.
Tapi Ren membantu nya. Eva tidak menyangka hal ini akan terjadi. Tapi dia merasa lega.
Dengan keputusan kepala sekolah, Eva menempati peringkat sepuluh yang kosong dan tidak jadi didiskualifikasi. Hal ini membuat ricuh banyak orang dan mereka mulai bergosip untuk itu.
***
Melihat reaksi para murid, aku cukup yakin mereka tidak senang saat namaku muncul di papan peringkat. Aku tidak peduli bagaimana tanggapan mereka tentang hal itu. Yang penting aku naik kelas. Aku tidak bisa menetap di tingkat satu seumur hidup. Memikirkan nya saja membuatku merinding ngeri.
"Uwahhh, kau tidak didiskualifikasi? Ini bagus!" kata Lilac gembira.
"Um, aku membantu seorang guru, karena itu aku terlambat. Kepala sekolah memberikanku toleransi untuk yang terakhir kalinya"
"Ah~ jadi begitu. Aku mengira kau menggunakan bantuan ayahmu, tapi ternyata tidak" dia merasa sedikit bersalah.
Bahkan Lilac berpikir bahwa aku menggunakan kekuasaan ayahku. Mau bagaimana lagi. Imageku sudah seperti itu di kerajaan ini. Di tambah ayahku yang sangat keras kepala dan mengerikan di mata orang lain. Image keluarga kami memang tidak terlalu baik.
Aku tidak mau memikirkan hal tidak penting itu lebih jauh. Aku mengabaikan lamunanku dan ocehan semua orang, lalu aku mulai melihat papan peringkat.
Peringkat pertama ditempati Reina. Kedua adalah Putera Mahkota Kano yang bernama Gerd. Sementara Lilac menempati peringkat lima. Untuk anak yang lain, aku tidak terlalu peduli karena aku tidak mengenal mereka.
Tapi ada satu nama yang menarik perhatianku. Fena. Nama itu terdengar familiar. Dia adalah gadis yang menjalankan misi ke kerajaan Kano bersamaku. Si Sadako itu, yang menyembunyikan sihir gelap miliknya.
Aku pun berpikir sejenak. Apa ada banyak sekali penyihir gelap yang menyembunyikan jati dirinya? Mungkin ada banyak di kalangan bangsawan, tapi aku tidak mengetahuinya karena mereka tersembunyi.
"Lilac, apa kau melihat pertandingan murid yang mendapat kan posisi keempat? Apakah dia hebat?" aku bertanya.
"Oh? Aku tidak terlalu mengingatnya. Karena aku pergi ke toilet saat pertandingannya dimulai" kata Lilac bingung. "Tapi gadis itu cukup hebat. Aku dengar dari Vivian dia penyihir air yang hebat dan juga murid terpintar di kelas B. Dia juga menggunakan sihir tingkat tinggi dan em...kalau tidak salah kita juga pernah bertemu dengannya. Tapi aku lupa hehehe"
"Dia pernah bersama kita saat kita menjalankan misi ke kerajaan Kano" aku mencoba memancing ingatannya.
"Ah, kau benar! Gadis itu! Kau punya ingatan yang luar biasa Eva! Tapi kenapa kau bertanya tentang dirinya?"
"Aku hanya merasa dia sangat familiar karena kita pernah bertemu sebelumnya. Maksudku menjalankan misi dari kepala sekolah itu bersama-sama. Hanya itu saja"
Percakapan kami berhenti sampai disini karena kami harus duduk ke kursi kami masing-masing. Akademi menyediakan sepuluh kursi untuk peringkat sepuluh teratas. Lalu mereka dapat dengan mudah memilih senior yang mereka inginkan sebagai lawan. Sementara yang lain menonton sambil menunggu giliran mereka.
"Sampai jumpa nanti~" Lilac melambai kan tangannya.
__ADS_1
"Sampai jumpa"
Kursiku dan kursi Lilac terpisah cukup jauh. Ini karena perbedaan peringkat kami, jadi aku harus berpamitan dengannya sampai ujian ini selesai dilaksanakan.
Ujian tahap selanjutnya pun dimulai. Kami mulai memilih lawan kami. Peringkat pertama akan mulai lebih dulu. Jadi Reina akan bertarung lebih dulu.
Reina mengerjap dengan tatapan polos nya. Dia memasang ekspresi tidak nyaman saat dia ingin memilih lawan nya. Seolah-olah itu keputusan yang sangat berat.
Reina mempunyai ambisi tinggi. Dia tidak bisa melawan peringkat pertama karena itu milik Denis. Jadi dia ingin merebut posisi kedua. Tapi itu juga cukup sulit untuknya. Peringkat sepuluh teratas adalah senior tingkat akhir dan mereka semua adalah anggota Dewan. Hal yang mengejutkan lagi mereka semua wanita, kecuali Denis. Tentu saja mereka menempati posisi itu karena mereka kuat, tapi tujuan utama mereka adalah agar bisa lebih dekat dengan Denis dan menarik perhatiannya. Sayang, hal itu tidak terjadi.
Reina tahu bahwa para wanita dewan itu lebih kuat darinya. Dia juga tidak mau menjadi musuh mereka karena dia tahu bahwa dendam wanita lebih mengerikan dari pria karena wanita adalah mahkluk yang memakai perasaan mereka.
Jadi Reina memilih langkah aman. Dia memilih murid senior yang berada di posisi 11. Murid itu tidak bergabung dengan dewan. Dan dia juga seorang pria. Entah mengapa Reina merasa lebih percaya diri menghadapi seorang pria daripada wanita.
"Apakah kau sudah memutuskan?"
"Peringkat 11, Senior Chen..." jawab Reina ragu-ragu.
Saat Reina menyebutkan bahwa dia ingin merebut peringkat 11, mereka kaget. Pasalnya peringkat itu sangat tinggi. Mereka cukup kaget saat tahu bahwa Reina sangat percaya diri dengan kekuatan nya. Tapi mereka langsung memaklumi itu. Bagaimana pun Reina di mata mereka adalah seorang gadis suci yang disukai oleh dewa. Dia dapat melakukan hal yang mustahil kalau dia mau.
Kedua orang itu langsung maju ke arena. Ini pertama kalinya mereka melihat lebih dekat satu sama lainnya.
Reina memasang ekspresi menyedihkan. "Maafkan aku senior..." katanya dengan mata berkaca-kaca.
Tapi saat dia melihat Reina, sesuatu yang aneh terjadi padanya. Dia terpesona. Gadis itu menarik perhatiannya.
Dia tahu bahwa Reina adalah murid baru yang sangat populer. Semua orang membicarakannya. Dia adalah gadis yang rendah hati karena tidak membedakan derajat antara bangsawan dan rakyat jelata. Dia seorang juga penyihir cahaya yang diberkati oleh dewa. Dia juga sangat pintar di kelasnya. Dia adalah sosok yang sempurna.
Chen sedikit tertarik saat mendengar kisahnya. Tapi setelah dia melihat nya sendiri dengan mata kepalanya, dia langsung terpesona. Dia tidak bisa mengendalikan jantungnya yang terus berdebar karena jatuh cinta.
"Tidak apa-apa..." dia hanya menundukkan kepalanya dengan malu.
'Bagaimana aku bisa menyakitinya? Dia terlihat sangat rapuh' pikir Chen sedih. Dia tidak tega untuk mengeluarkan sihirnya dan melukai gadis itu.
"Mohon bimbingannya senior" kata Reina dengan nada manis.
Pertarungan mereka pun dimulai.
***
Ini pertama kalinya aku menonton pertarungan Reina setelah gadis itu mempelajari sihir untuk menyerang.
Jujur saja dia cukup hebat. Dia menggunakan sihir penyerangan dengan baik. Bahkan sihir cahaya yang biasanya digunakan untuk menyembuhkan itu bisa melukai seseorang. Walaupun kekuatan serangannya tidak terlalu besar.
__ADS_1
Tapi kalau membandingkan nya dengan yang lain, dia masih kalah jauh. Aku tidak bisa membandingkan nya dengan Robert, Sayn atau Denis. Mereka berada di level yang berbeda. Bahkan Lilac lebih hebat darinya. Mungkin kekuatan Reina bahkan tidak lebih baik dari Vivian. Aku bingung bagaimana gadis itu bisa menang saat melawan Putera Mahkota Gerd.
Pertarungan itu berlangsung cukup sengit di mata orang lain. Tapi tidak dimataku.
Kenapa lawan tidak pernah menyerang Reina dengan sihirnya?
Lawan Reina, pria yang tidak kuingat namanya itu terus menghindari serangan Reina. Dan tidak membalas serangannya walaupun dia kelelahan dan sedikit terluka.
Aku merasa sedikit aneh dengan hal ini. Apa pria itu mengalah dengan sengaja? Pertarungan ini sangat konyol dan membosankan.
Sampai akhirnya, lawan pria itu berteriak. "Aku menyerah, kau menang!"
Lalu semua orang di aula itu berteriak kagum. Sementara aku hanya bisa memasang ekspresi kasihan. Aku tidak percaya dengan yang kulihat ini. Level pertarungan ini terlalu rendah.
Tidak mungkin senior dengan peringkat tinggi memiliki kekuatan serendah itu bukan? Kalau dia mengikuti pertandingan sihir dan berhadapan dengan murid dari Organisasi Sihir, mungkin dia akan kalah dengan menyedihkan.
"Pertandingan apa ini? Bukankah ini kelihatannya seperti pertandingan anak-anak? Apa mereka sedang bermain?" gumamku sedikit tidak senang.
Kebetulan sekali pria di samping Eva, si peringkat sembilan, adalah teman akrab Reina dari Kelas B. Pria itu mendengar Eva menjelekkan wanita yang sudah dianggap nya sebagai putri.
"Cih! Kau mengatakan itu seolah-olah kau lebih hebat. Padahal kau tidak lebih dari semut" sindirnya dengan kejam. "Kalau bukan karena kekuasaan ayahmu kau tidak akan pernah berada di tempat ini. Sadari tempatmu yang sebenarnya kotoran!" ejeknya.
Aku membelalak tak percaya. Dengan tiba-tiba pria di samping ku berteriak sambil menyumpahiku.
Kapan aku bermusuhan dengan nya?
Aku bahkan tidak mengenalnya!
Aku ingin memberinya pelajaran! Aku sangat kesal sekarang. Aku ingin memukulnya dan menghancurkan wajahnya sampai orang tuanya tidak mengenalinya! Tapi aku tahu, aku tidak bisa melakukannya sekarang. Jadi aku menahannya.
"Kau yang kotoran! Lihat saja nanti. Aku benar-benar akan membuatmu jadi kotoran!" kataku tajam dengan wajah cemberut.
Pria itu menganggap perkataan Eva hanyalah angin belaka. "Kau ingin mengadu dan memanggil ayahmu? Sayangnya duke sama sekali tidak punya kekuasaan disini. Aku adalah murid yang berbakat. akademi tidak akan membiarkanku terluka oleh Duke" katanya percaya diri.
"Aku tidak butuh menggunakan ayahku untuk membuat mu jadi kotoran!" kataku benci. Astaga! Orang ini ternyata lebih menyebalkan.
Suasana hati Eva sudah tidak baik sejak kemarin dan orang tidak dikenal ini benar-benar menyulutnya dengan sempurna.
"Omong kosong~" balasnya dengan nada mengejek.
Aku hanya bisa menggertakan gigiku untuk menahan tanganku agar tidak memukulnya. Tahan! Kau harus menahannya!
Lihat saja. Setelah pertandingan ini selesai aku akan membuat nya jadi kotoran!
__ADS_1