
Binatang sihir itu mengikuti di belakang kami. Kami berusaha berlari menuju keluar goa.
"Binatang sihir apa itu?" tanyaku sambil berusaha berpegangan kuat di leher Denis.
"Harimau Kegelapan" Jawab Denis murung. "Binatang itu mempunyai serangan jarak jauh. Kita tidak bisa bertarung di goa sempit seperti ini. Kita harus keluar dulu"
Eh? Apa hanya perasaanku atau harimau itu semakin mendekat?
"Binatang itu mendekat!" teriakku panik. "Kenapa kalian sangat lambat?"
Mereka bertiga langsung melihatku dengan jengkel.
"Kau bisa bicara begitu sementara kakimu sama sekali tidak digunakan" kata Adele sinis.
Oh? Aku baru ingat kalau aku digendong.
Aku menganggurk kepalaku malu "Hahaha....maafkan aku semuanya"
Aku mulai mengumpulkan mana "Aku akan melakukan buff" lalu menyebarkan manaku ke mereka bertiga
"Aku menggunakan elemen angin untuk mempercepat gerakan"
"Bagus Eva. Tubuhku jadi lebih ringan" respon Jensen.
"Hehehe" aku tersenyum senang "Ini masih belum apa-apa" kataku bangga.
Kalian lihat saja, dari tadi kalian meremehkanku bukan?
Aku mulai menggunakan sihir tanah, BRUK! tanah disekitar binatang itu terangkat, membentuk lubang-lubang besar.
Binatang itu sempat bingung sebentar, ROAR! Tapi kemudian mengaum keras. Tampaknya semakin marah.
Aku menggunakan sihir tanah lagi, membentuk sekat-sekat dinding batu di belakang kami. Binatang itu dengan mudah menghancurkannya. Tapi setidaknya tujuanku tercapai, aku hanya ingin memperlambat gerakan binatang itu.
"Kita sudah dekat" ucap Denis.
Aku melihat ke depan, kita sedikit lagi sampai diluar.
Saat kami sudah sampai di luar goa, kami langsung lari ke dalam hutan.
Binatang itu semakin mengaum keras dan mulai menyemburkan api gelap.
Mereka bertiga berusaha menghindar. Aku melihat Denis kesulitan bergerak saat membawaku.
__ADS_1
"Denis lepaskan aku" aku berkata. "Aku akan membantu"
"Tidak bisa" Denis bersikeras.
"Aku akan berada di barisan belakang oke" bujukku. Tugas penyihir dalam pertempuran memang di bagian belakang. Mereka bertugas memberikan support kepada para pendekar di garis depan.
"Kalau begini terus kita bisa dalam bahaya." kataku lagi.
Setelah berpikir sebentar. Denis pun melepasku. "Tetap di belakang" dia memperingati.
Aku menurut. Aku langsung mengambil baris belakang. Mereka bertiga mengambil baris depan.
Denis dan Jensen mulai menyerang dengan pedang mereka, sambil sesekali menghindari api gelap yang disemburkan binatang itu. Sementara Adele mendukung, dengan menembakkan panah sihir. Aku berusaha menembakkan bola-bola api dan membuat perisai air untuk mereka. Serta sesekali menggunakan sihir tanah.
"Kau...kau bisa menggunakan berapa elemen?" seru Adele kaget saat melihatku menyerang dengan banyak elemen yang berbeda.
"Eh? Tidak...itu..." aku berusaha mengelak. Ayah bodoh itu sudah memperingatiku untuk tidak menunjukkan sihirku pada orang lain. Dia takut ada rumor yang tersebar. Tapi sekarang dalam kondisi yang berbahaya oke. Aku tidak akan sempat memikirkan larangan itu, sementara hidupku di ujung tanduk. Lagipula semua yang ada disini masih anak-anak. Anak-anak umumnya tidak licik seperti orang dewasa. Jadi aku yakin rahasiaku aman.
"Itu tidak penting!" sanggah Denis langsung. "Fokus pada serangan"
Kami terus menyerang.
Tapi...
Binatang sihir itu sama sekali tidak terluka!
Serangan yang diberikan kami bereempat sama sekali tidak memiliki efek terhadap binatang itu. Tampaknya serangan itu hanya menggelitiknya, sehingga binatang itu semakin marah.
ROAR ! ROAR ! ROAR !
Binatang itu mengaum semakin keras. Aku sudah menggunakan sihir peredam suara, tapi auman itu tetap memekakan telinga.
"Jensenn, kembali ke perkemahan dan panggil Jendral!" kata Denis panik. Jensen mempunyai gerakan tercepat kedua setelah Denis, karena itu Denis menyarankannya.
"Cepat!" desaknya.
Jensen mengangguk dan dengan cepat berlari ke belakang.
Binatang sihir itu memperhatikan bahwa salah satu mangsanya akan lari. Dia langsung menyemburkan api kegelapan ke arah Jensen.
Aku langsung membuat dinding pertahanan dari tanah, tapi dinding itu langsung hancur seketika.
Tapi, untungnya serangan itu tidak mengenai Jensen, dan Jensen terus melanjutkan.
__ADS_1
"Apa yang harus kita lakukan? Serangan kita tidak ada yang mempan?" tanyaku putus asa. Apalagi saat aku melihat Denis dan Adele mulai kelelahan.
"Kita harus terus bertahan sampai bantuan datang. Kalau kita melarikan diri sekarang, kita tidak akan selamat" jawab Denis.
Denis benar. Kalau kita lari sekarang, dengan kecepatan binatang itu, ditambah kami yang sudah kelelahan, hanya masalah waktu sebelum tertangkap.
Jadi, kami semampunya bertarung dengan binatang itu. Denis terus menyerang dengan pedang nya. Adele terus menembakkan panah sihirnya serta menyerang dari depan dengan pedangnya. Aku terus melontarkan sihir-sihir serangan. Jujur saja aku belum tau banyak mantra sihir, karena itulah sihir yang kulepaskan itu terbatas. Terlebih lagi sihirku sama sekali tidak melukai binatang itu sedikit pun.
Sudah setengah jam berlalu...
Denis dan Adele benar-benar sudah kelelahan. Bahkan mereka berdiri dengan susah payah untuk menghindari serangan.
Aku juga sudah lelah mengumpulkan mana. Fisikku lebih rendah dari mereka, jadi tentu saja aku lelah.
Tiba-tiba binatang itu berhenti menyemburkan api gelap. Dia menatap kami bertiga dengan ganas dan mengepakkan sayapnya.
Binatang itu terbang ke atas kepala kami!
SYUU! Dia langsung bergerak cepat ke arah kami.
Kami tidak menduga ini, jadi kami belum membentuk penjagaan.
Binatang itu menargetkan orang paling depan, dan itu adalah Denis!
Aku refleks menggerakkan tubuhku melindungi Denis. Memeluk Denis dengan membelakanginya. Menggumpulkan mana sebisaku, membentuk perisai tanah dan air. Tapi perisai itu hancur dalam sekejap!
CRAPP!! Suara baju terkoyak terdengar.
Binatang itu mengarahkan cakarnya.
Aku merasakan sakit tajam di punggungku.
"EVAAA!!!"
Seketika aku merasa kesadaranku perlahan menghilang. Sebelum kehilangan kesadaran aku melihat sosok Denis yang mulai buram dari pandangan.
Kenapa aku melindunginya?
Bukankah lebih bagus kalau dia terkena serangan, agar aku tidak punya musuh di masa depan? Kenapa aku bergerak refleks seperti itu?
Aku berpikir...
Aku benar-benar bodoh! Bertindak sebelum berpikir!
__ADS_1
Saat pandanganku mulai gelap. Dan suara teriakan Denis memudar. Aku merasakan panas di seluruh tubuhku. Lalu aku merasakan seperti aku akan meledak dan DUAR! Cahaya yang hangat mengalir.
Lalu aku kehilangan kesadaran total!