
Cerita sebelumnya:
Eva kembali ke Kano dan belajar seperti biasanya. Saat itu dia mendapat kan kabar dari Ricko bahwa bocah itu sedang berada dalam bahaya. Jadi Eva menghubungi Ren dan meminta tolong pada nya. Ren membantunya dengan cepat.
Lalu keesokan harinya utusan dari kerajaan Albion mulai tiba di kerajaan Kano. Rombongan mereka terlihat sangat mewah. Raja dan pangeran datang sendiri ke Kano tanpa utusan. Ini pertama kalinya Eva melihat mereka dan entah kenapa rasa familiar muncul saat dia melihat wajah Raja tua itu.
***
Raja Albion dan pangeran muda itu masuk ke dalam aula dengan di pandu oleh Putra Mahkota. Setelah itu, aku tidak bisa melihat keberadaan mereka lagi. Aku tidak terlalu tertarik dengan para utusan dari Kerajaan Albion itu. Sehingga Aku tidak berniat untuk mencari lebih jauh hubungan kerja sama yang mereka bicarakan. Rasa tertarikku karena penasaran hanya berhenti sampai disini saja.
Aku pun mengikuti siswa lainnya untuk kembali ke kelas karena masih adalah pelajaran setelah ini. Tapi para pangeran dan putri juga mengikuti pertemuan di aula istana. Sehingga suasana kelas terasa sangat sepi.
***
Raja Albion dan pangeran Erick masuk ke dalam aula istana, dituntun oleh Putra Mahkota yang tersenyum ramah pada mereka. Di sana beberapa orang bangsawan penting, para pangeran dan putri dan Raja Kano sudah menunggu mereka.
"Selamat datang" Raja Kano memberikan senyum terbaiknya.
"Maaf mengunjungimu di waktu sibuk seperti ini" kata Raja Albion.
"Tidak masalah." jawab Raja Kano. "Silahkan duduk" dia mempersilahkan Raja Albion duduk berhadapan dengannya.
Ada sebuah meja bundar kecil di tengah-tengah mereka dengan empat buah kursi mewah yang mengelilingi nya. Pangeran Erick duduk di salah satu kursi, begitu juga dengan putra mahkota. Sementara yang lainnya hanya mendengar kan pembicaraan mereka. Berdiri dengan sabar di tepi aula.
"Terima kasih sudah mengunjungi kerajaan kami" Raja Kano tersenyum ramah lagi. Dia melambaikan tangannya, memanggil para pelayan untuk menyiapkan perjamuan kecil di meja mereka. Para pelayan itu bergerak cepat, mengambil gerobak makanan yang berada tidak jauh dari situ dan mulai menyusunnya di atas meja.
"Aku harap kau menyukai nya cemilan dan tehnya" kata Raja Kano.
Raja Albion melirik teh bunga yang berbau harum di depannya. Tanpa kecurigaan apapun, dia mengambilnya dan meneguknya. "Ini enak" katanya dengan mata berbinar sambil mengangguk kecil.
__ADS_1
Kedua raja itu memiliki percakapan ringan seperti saling menyapa dan menanyakan kabar masing-masing. Sampai akhirnya, percakapan mereka sampai pada intinya.
Raja Albion ingin membentuk hubungan kerja sama. Raja Kano menyambut ide itu dengan sangat senang.
"Hubungan kerja sama seperti apa yang ingin kau lakukan?" tanya Raja Kano.
Raja Albion melirik Putranya, pangeran Erick. "Mungkin pernikahan?" Katanya dengan nada menggoda.
Pangeran Erick mendengar itu dan langsung tersentak. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi Raja Albion memotong nya. "Aku hanya bercanda" katanya sambil tertawa.
Pangeran Erick menghela napas. Walaupun dia masih merasa tidak nyaman setidaknya dia merasa lega karena ayahnya tidak menjualnya nuntuk menjadi alat politik.
Putri Kano cukup bersemangat saat dia mendengar tentang usulan pernikahan politik. Itu karena pangeran Erick sangat tampan. Dia akan setuju kalau perjodohan ini terjadi. Tapi ternyata Raja Albion hanya bercanda. Dia menjadi kecewa kembali setelah mendengar nya.
"Bagaimana dengan perdagangan dan juga bantuan militer?" Raja Albion mengusulkan. "Kita akan membuat lingkaran transportasi di pusat negara, sehingga kita bisa saling membantu kalau salah satu dari kita membutuhkan bantuan."
"..."
Raja Albion melanjutkan penjelasannya saat melihat Raja Kano tidak merespon. "Aku mendengar bahwa kau membentuk hubungan kerja sama dengan Kerajaan Well. Seperti Pertukaran pelajar agar muda-mudi itu bisa dekat satu sama lain. Aku akan sangat senang kalau pangeran Erick bisa ikut bergabung" katanya. "Dan juga aku mendengar bahwa hubungan kerajaan Kano dengan Kerajaan Well sangat tidak baik dari dulu. Kami siap membantu kerajaanmu kalau memang peperangan terjadi" Raja Albion berkata dengan sangat berani tanpa peduli perkataannya membuat Raja Kano merasa tidak nyaman.
"Aku tidak masalah dengan Pangeran Erick ikut bergabung dengan akademi kami. Tapi apa kau benar-benar yakin akan mengirimkan bantuan prajurit saat perang terjadi?" tanya Raja Kano sekali lagi.
"Ya" Raja Albion mengangguk.
Raja Kano tersenyum. Ini juga rencana yang bagus. Walaupun dia tidak berencana untuk berperang dalam waktu dekat, kemungkinan itu bisa saja terjadi karena para anaknya yang bodoh itu sangat tidak berguna.
Akhirnya kedua raja itu membicarakan masalah perdagangan. Raja Albion memiliki beberapa barang yang menurut Raja Kano sangat asing. Itu wajar karena Kerajaan Albion terletak sangat jauh dari daerah ini. Pulau mereka berbeda dan Kerajaan Albion terletak di dekat laut. Jadi sangat banyak barang-barang yang diperoleh dari laut, yang sangat asing di mata Raja Kano.
Setelah hubungan kerja sama mereka selesai. Raja Albion akan menginap untuk hari ini dan kembali besok. Sementara pangeran Erick akan tetap tinggal di kerajaan Kano untuk mengikuti kelas di kerajaan mereka.
__ADS_1
***
Kelas pun berakhir. Aku langsung menuju ke asrama karena aku ingin melakukan beberapa hal. Aku ingin menghubungi Vivian lagi. Lalu Ricko. Kemudian Denis. Ketiga orang ini adalah titik kunci masalah yang membuat pikiranku sangat berantakan akhir-akhir ini.
Kali ini bocah bau itu menerima sinyal telepatiku.
"Bagaimana keadaanmu?" tanyaku dengan nada sedikit ketus. Aku masih merasa kesal karena dia mengabaikan sinyal telepatiku sebelumnya.
"Aku baik-baik saja" Ricko menjawab dengan nada yang sangat lelah. "Maaf sebelumnya. Kami harus berpindah tempat, jadi aku benar-benar tidak sempat menjawab sinyal telepati mu" dia meminta maaf.
"Tidak masalah. Bagaimana dengan yang lain? Apa kalian benar-benar tidak apa-apa?" Rasa kesalku menghilang, berganti dengan rasa cemas.
"Kami semua pindah dan tinggal di tempat yang baru karena tempat lama benar-benar sudah tidak aman. Walaupun elf itu membantu kami mengusir mereka. Para penyihir itu bisa datang kapanpun untuk menyerang lagi. Semuanya sangat melelahkan" Ricko menjelaskan sambil beberapa kali menghela napasnya. "Tapi tenang saja. Mereka semua baik-baik saja. Ada beberapa orang yang terluka. Tapi mereka sembuh setelah perawatan."
"Itu bagus. Jadi kalian memutuskan untuk tinggal dimana sekarang?"
"Aku tidak tahu. Aku benar-benar masih tidak tahu daerah di dunia ini. Semuanya sangat asing. Kami menggunakan lingkaran transportasi dan pindah. Tapi itu tetap hutan yang lebat" Ricko menjelaskan.
Aku menyuruh Ricko untuk berhati-hati. Lagipula dunia ini memang tidak aman, penuh dengan pertarungan dan juga kematian. Setelah itu, aku mengakhiri nya. Ini sudah malam, bocah itu pasti kelelahan. Aku tidak ingin menganggu waktu istirahat nya.
Setelah itu aku menghubungi Vivian. Ternyata masih belum ada keputusan dari pihak kerajaan. Sehingga nasib toko kami benar-benar masih belum jelas. Aku hanya bisa menunggu sekarang.
Lalu sekarang yang paling menegangkan. Aku belum pernah menghubungi Denis dengan telepati. Apa aku pernah melakukan nya? Kalaupun iya, aku sama sekali tidak mengingat nya. Karena pria itu sedang tidak ada di ibukota, aku takut dia tidak mengabaikan sinyal telepati ku.
Tapi dugaanku salah. Dia menerimanya dengan cepat.
"...."
Tapi pria itu hanya diam setelah menerima sinyal. Sehingga membuat suasana terasa sangat canggung.
__ADS_1
"Yang mulia..." aku pun memulai pembicaraan.