Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 6 Kembali ke Akademi


__ADS_3

cerita sebelumnya:


Beberapa pengintai dikirim oleh Marquis Zent untuk memperoleh denah mansion milik Duke Court. Tapi rencana sang Marquis gagal. Eva dan ayahnya berhasil mendeteksi para pengintai dan memusnahkan mereka.


***


Setelah tahu bahwa para penyusup itu telah lenyap, Eva melanjutkan meditasinya. Rexus tertidur dengan nyenyak. Sementara Duke Court harus mengorbankan jam tidurnya untuk menghibur Evan yang menangis tengah malam.


Biasanya Diana yang akan menangani hal ini. Tapi Duke Court membuat kesalahan sehingga Diana menghukum nya. Ini pertama kalinya juga Diana bisa tidur dengan tenang.


Duke Court dan Diana sebenarnya sedikit kewalahan merawat Evan. Itu semua karena bayi pertama Eva, sangat lah tidak normal. Evan bertingkah seperti bayi pada umumnya. Sementara Eva bertindak lebih tenang saat dia masih bayi. Jadi pasangan ini terkena Culture Shock yang amat sangat membingungkan.


Hari esok tiba dalam sekejap mata. Aku ingin kembali ke akademi. Mengingat berapa lama aku membolos, aku sedikit merinding. Walaupun sudah meminta izin, tetap saja waktu bolosku sangat keterlaluan.


Aku meninggalkan Rexus di mansion, tidak membawanya ke akademi karena kulihat dia berteman baik dengan Fram.


Pagi-pagi sekali, sebelum kelas dimulai, aku sudah tiba di asramaku. Saat aku membuka pintu kamarku, aku melihat Vivian duduk di atas kasur sambil membaca buku, masih mengenakan piyamanya.


"Evaaa!" Vivian langsung bangkit dari kasur dan dengan cepat memeluk Eva.


"Aku merindukanmu! Kemana saja kau selama ini?" dia menatap sahabat nya itu dengan pipi cemberut.


"Aku ada sedikit urusan di luar" aku tertawa canggung sambil. Tidak mungkin aku memberitahunya bahwa aku mengikuti kompetisi sihir di Kota Sihir.


"Aku juga ingin berpamitan denganmu sebelumnya. Tapi kau tidak kembali ke asrama selama beberapa hari" aku membalasnya dengan wajah cemberut juga.


Vivian langsung menunduk sedih. "Ada urusan keluarga yang harus aku tangani" katanya dengan suara bergetar, hampir menangis.


"Apa yang terjadi?" aku bertanya sambil mengerutkan kening ku.


Vivian mulai terisak secara perlahan. "Ayah mengeluarkan ku dari keluarga Zent..." katanya lirih.

__ADS_1


"Marquis benar-benar tidak menganggap dirimu sebagai anaknya sekarang?" aku berkata dengan tak percaya.


Vivian mengangguk lemah. "Aku memang ingin keluar dari keluarga itu. Tapi aku tidak menyangka akan sesakit ini melihatnya mengusir ku. Bagaimana pun dia tetap orang tuaku"


"Jangan bersedih" aku menghiburnya sambil menepuk punggungnya.


"Aku tidak akan lagi. Ini akan menjadi yang terakhir" katanya tegar.


Aku terus menenangkan Vivian sampai gadis itu berhenti menangis. Saat dia mulai tenang aku menceritakan beberapa pengalaman lucu yang kualami untuk membuat nya tertawa. Dan ternyata itu efektif. Secara perlahan gadis itu mulai tersenyum.


"Ada yang ingin kuberikan padamu" kataku sambil mengeluarkan dua artefak dan senjata sihir dari ruang dimensiku.


Artefak yang aku berikan padanya adalah artefak cincin dan kalung kecil. Dan senjata sihir berbentuk pisau kecil.


Cincin itu bisa mengeluarkan perisai pelindung dan kalung itu memiliki mantra teleportasi darurat saat penggunanya berada dalam bahaya. Sangat berguna untuk digunakan di keadaan terdesak.


Sementara pisau kecil itu juga bukan item biasa. Itu adalah pisau dengan rune racun. Aku sengaja memberikan itu padanya karena aku tahu sihir serangan Vivian sangatlah lemah.


"Tidak apa-apa. Aku mendapat kan banyak sekali artefak seperti ini. Ini hadiah" kataku bersikeras.


Setelah mencoba membujuknya beberapa kali, akhirnya Vivian mau menerima hadiah yang kuberikan.


Vivian mencoba artefak baru dan senjata sihir baru miliknya. Dia sangat kagum saat mengetahui betapa hebatnya barang-barang itu. Lalu dia menatap Eva dengan mata penasaran. Bagaimana gadis sekecil itu bisa mendapatkan barang seperti ini? Walaupun dia seorang bangsawan, tetap saja barang-barang ini tidak mungkin didapatkan hanya dengan uang. walaupun dia penasaran, dia tidak bertanya apa pun. Dia memilih menyimpan pertanyaan itu dalam pikirannya.


Kamu berbincang-bincang sampai akhirnya kelas dimulai.


Masuk ke kelas terasa sangat asing bagiku. Padahal aku hanya pergi sebentar. Saat aku membuka pintu kelas, Lilac langsung berlari dengan semangat untuk menyambutku.


"Evaa! Kau kembali!" kata Lilac semangat.


"Halo"

__ADS_1


"Uh, kemana saja kau selama ini? Apa kau pergi berlibur?" tanyanya penasaran.


Pikiran Lilac benar-benar sederhana. Bagaimana mungkin kau berlibur dengan membolos dari kelasmu? Bukankah masih ada waktu libur sekolah, tidak perlu untuk membolos selama itu.


"Bukan. Aku ada urusan keluarga" jawabku.


"Kenapa alasan semua orang adalah urusan keluarga" katanya cemberut sambil melipat tangannya.


"Apa maksudmu?"


"Reina juga membolos selama dua minggu. Dan dia berkata bahwa dia ada urusan keluarga" kata Lilac sambil menunjuk Reina yang dikelilingi oleh kerumunan orang.


Ah~ pantas saja kelas terasa sunyi. Murid-murid itu mengelilingi Reina dengan antusias, menyambut nya masuk sekolah karena gadis itu menghilang dalam waktu yang cukup lama. Aku tidak memperhatikannya saat aku masuk tadi.


Tapi aku masih penasaran bagaimana Reina mendapatkan izin untuk membolos. apakah Raja membantunya? Aku kira begitu. Karena kewenangan Marquis Zent tidak cukup untuk memberi Reina izin tidak masuk selama dua minggu. Lagipula Marquis Zent dan Raja berteman baik, hal itu mudah sekali untuk diduga.


Kedatangan Reina ke kelas membuat dirinya menjadi pusat perhatian. Pasalnya gadis itu adalah murid teladan, tapi membolos selama dua minggu. Semua orang sangat penasaran dengan apa yang dilakukan nya sampai membolos selama itu. Jadi mereka mulai mengelilingi nya dan menanyainya berbagai pertanyaan.


Aku hanya melihat semua nya dari jauh. Di kursiku sendiri aku termenung sambil memgamati mereka dan berpikir. Saat aku tidak masuk, tidak ada yang memikirkan ku sama sekali. Mereka benar-benar tidak menganggap keberadaanku. Bahkan saat aku masuk kembali hanya Lilac yang menyambutku.


Haa~ aku menghela napas. "Beginikah rasanya jika kau diabaikan orang lain. Untung saja mereka juga bukan orang penting untukku, jadi aku tidak terlalu peduli sama sekali"


Aku pun mengikuti kelas dengan lancar. Saat kelas selesai, aku memberikan hadiah kepada Lilac. Sebuah senjata sihir berbentuk pedang dengan rune api. Pedang itu adalah pedang api yang dikhususkan untuk pengguna api.


Saat menerima pedang itu, mata Lilac bersinar kagum.


"Terima kasih!" dia berteriak senang sambil memeluk leher Eva. Menyebabkan Eva tercekik sesaat.


Aku tidak memberi artefak untuk Lilac. Bukannya aku tidak mau, tapi tidak ada artefak yang cocok untuk nya.


Lilac adalah pendekar pedang yang cukup berbakat. Mana dan kemampuan fisiknya seimbang. Dia hanya butuh fokus pada sihir apinya untuk meningkatkan kekuatan nya. Lagipula julukannya di masa depan adalah Dewi api. Jadi aku bermaksud untuk mempercepat pemberian julukan itu padanya.

__ADS_1


__ADS_2