
Cerita sebelumnya:
Kasus racun itu pun selesai walaupun tidak sepenuhnya terselesaikan. Eva dan Diana melanjutkan makan malam mereka setelah kejadian itu.
Lalu Ren mengantar mereka ke laboratorium untuk menemui Emerta. Ini adalah pertama kalinya mereka melihat laboratorium di istana elf. Ternyata letak bangunan nya terpisah dari bangunan utama dan sangat terpencil. Mereka memasuki Laboratorium, kemudian menuju ruang penelitian.
Di dalam ruang penelitian ada tiga orang manusia. Salah satu dari mereka adalah Emerta. Emerta adalah wanita dewasa dengan rambut ungu dan pupil berwarna emas, membuat penampilan nya sangat mencolok.
Akhirnya reuni pun terjadi. Ren memutuskan untuk pergi karena dia tidak ingin menganggu pertemuan keluarga itu. Ini adalah pertama kalinya Eva dan Emerta bertemu. Dia adalah neneknya.
***
"Nenek, kau menangis?" aku menatapnya khawatir.
Emerta menepuk lembut rambut Eva. "Tidak, aku tidak akan menangis lagi setelah ini" jawab Emerta sambil menghapus air matanya.
Aku pun mulai melepaskan pelukan ku. Tapi tiba-tiba Emerta menundukkan tubuhnya, agar mataku sejajar dengan matanya.
"Kau sangat cantik" puji Emerta.
Wajahku langsung memerah malu.
"Seperti boneka." lanjut Emerta. "Tapi terlihat sangat rapuh. Seakan-akan kau membawa banyak sekali beban di pundakmu"
Aku tersentak. Wajah maluku menghilang dalam sekejap. Mata kami bertatapan dengan jarak yang sangat dekat.
Mata emas Emerta terasa sangat memikat. Mata emas itu menghisapku. Tanpa sadar, aku merasa seperti telanjang. Semua rahasiaku terbongkar dan aku tidak tahu mengapa aku merasa seperti itu. Tapi aku sangat tidak nyaman dengan perasaan itu.
Emerta tersenyum dan mengusap pipiku dengan kedua tangan nya. "Kenapa kau menatapku seperti itu Eva sayang? Aku tidak akan berbuat jahat padamu" nadanya melembut.
"Tidak..." aku menjawab canggung.
Emerta berdiri ke posisinya semula. "Aku yakin kau akan memberitahu ku suatu hari nanti. Aku tidak akan memaksamu" katanya kemudian.
Aku semakin tidak nyaman setelah mendengar nya. Apa Emerta mengetahui rahasiaku? Tapi apa itu? Aku sama sekali tidak tahu apa yang Emerta ketahui tentang ku. Tapi aku benar-benar tidak nyaman saat ada seseorang yang mengetahui rahasia pentingku secara diam-diam.
__ADS_1
Diana hanya menatap dua orang itu dengan wajah bingung. Dia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Tapi dia tidak tertarik untuk mencari tahu lebih jauh.
Emerta berbalik menatap Evan yang tertidur dalam pelukan Diana.
"Dia anak yang lucu. Saat besar dia akan seperti mu" katanya dengan penuh kasih sayang.
"Aku tidak menyangka bahwa aku masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan dua cucuku" katanya dengan ekspresi sedih.
"Ibu! Apa yang kau bicarakan!" Diana membentaknya dengan wajah cemberut. "Kau masih sangat muda dan sehat. Apa maksud perkataan mu itu" Diana sangat tidak suka mendengar nya. Seakan-akan Emerta akan pergi jauh dalam waktu dekat ini.
Diana benar. Emerta masih terlihat sangat muda. Kalau dia berdiri dengan Diana, orang lain mungkin mengira mereka adalah kakak dan adik. Mungkin karena dia seorang manusia buatan, dia tidak menua sama sekali. Kenapa dia berkata seolah-olah dia akan meninggal? Aku tidak mengerti.
"Kau benar. Aku akan hidup lama" kata Emerta. "Aku masih ingin melihat Eva dan Evan tumbuh besar"
Emerta pun menyuruh kami untuk duduk di sebuah kursi yang ada di sudut ruangan. Seakan-akan sudah disiapkan sebelumnya, ada tiga kursi dan sebuah meja bundar di sana. Bahkan ada tiga cangkir teh di atas meja juga.
"Ibu, apa Ren memberitahu mu tentang kedatangan kami?" Diana bertanya sambil menyesap tehnya.
Emerta mengangguk. "Dia hanya memberitahu semua orang di laboratorium bahwa ada tamu untukku. Tapi aku tidak pernah menduga bahwa itu kalian. Apalagi jarak yang ditempuh sangat jauh"
"Oh? Dia mengantar kalian dengan lingkaran sihir?" Emerta membuat wajah tertarik.
Diana mengangguk.
Diana dan Emerta terus berbicara. Sementara aku fokus dengan teh di depanku. Bukannya aku merasa curiga. Tapi teh ini sangat aneh. Saat aku meminumnya, aku merasa mana gelap dalam tubuhku bergejolak. Seakan-akan mereka terbangun secara tiba-tiba. Tapi sensasi itu hanya sesaat sebelum kembali mereda lagi. Aku yakin ini pasti bukan teh biasa. Aku sangat penasaran bagaimana Emerta membuat teh seperti ini. Aku rasanya jadi ingin meminta resep teh ini pada Emerta.
"Ibu, kenapa kau terus berada di tempat ini? Ren bilang kau meneliti sesuatu dengan serius. Apa itu?"
Emerta tersentak sebentar sebelum akhirnya dia membuka mulutnya. "Aku meneliti cara menjadi manusia seutuhnya..." dia menjawab sambil tersenyum sedih.
Ah! Aku sedikit terkejut saat mendengar nya. Itu sebabnya Emerta sudah bisa berekspresi sekarang, tidak seperti robot lagi. Apa karena penelitian nya? Penelitian apa yang dia lakukan untuk mengambil waktu bertahun-tahun seperti itu.
Diana memiringkan kepalanya, tidak mengerti. "Apa maksudnya?" Dia bertanya dengan ekspresi polos.
Diana tidak pernah tahu bahwa Emerta adalah manusia buatan. Dan Emerta mungkin tidak akan memberitahunya juga.
__ADS_1
"Aku hanya menyukai tempat ini. Seperti nya jati diriku memang berada di sini" Emerta menjawab. Dia memang tidak akan pernah memberitahu Diana tentang asal usulnya.
"Oh..." Diana mencoba mengerti. Tapi dia sama sekali tidak mengerti. Dia berpikir ibunya memang suka meneliti dan mendedikasikan hidupnya untuk itu.
"Lalu kenapa ibu tidak membalas suratku lagi?" Diana menatap Emerta dengan serius. Ada sedikit kesedihan yang tersirat di matanya.
"Aku sibuk..." jawab Emerta canggung.
Diana mendengus kesal. "Sesibuk apapun dirimu, bagaimana kau bisa mengabaikan aku ibu?" Diana protes. "Kau tahu, aku sangat mengkhawatirkanmu! Aku berpikir ada sesuatu yang terjadi padamu. Aku berpikir kau sudah meninggal kan istana elf. Aku pikir kau membuang ku..." nada bicaranya semakin mengecil dan terdengar menyedihkan.
"Aku tidak akan pernah melakukan hal itu" Emerta menjawab dengan wajah serius. Dia memegang tangan Diana untuk berusaha menenangkan nya.
"Maafkan aku, aku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu lagi..."
Emerta sebenarnya berbohong. Dia tidak bisa membalas surat dari Diana karena dia memang tidak bisa. Dia melakukan penelitian tentang ramuan yang dapat mengembalikan emosi manusianya. Tapi saat meminum ramuan itu, dia jatuh tertidur selama beberapa tahun. Di dalam tidurnya, dia terus bermimpi tentang masa lalunya. Emerta bahkan sempat berpikir bahwa dirinya tidak akan pernah bangun. Tapi takdir berkata lain. Dia bangun tak lama kemudian sebelum Diana berkunjung.
Jujur saja Emerta sangat senang dengan takdir itu. Emerta sangat berterima kasih kepada pak tua Jin yang sudah menjaga tubuhnya agar tetap sehat. Walaupun dia masih kesulitan untuk berkelahi atau bekerja terlalu berat karena otot tubuhnya terlalu lemah. Dia masih bisa berjalan dan beraktivitas dengan normal.
Emerta tidak ingin memberitahu semua hal ini kepada putri dan cucunya. Dia berusaha untuk tetap menyimpan nya sendiri karena tidak ingin mereka khawatir.
"Jangan meminta maaf. Ibu tidak bersalah. Aku sedikit emosi tadi. Maafkan aku" seru Diana. Pasangan ibu dan anak itu saling meminta maaf karena merasa diri mereka bersalah satu sama lain.
"Ibu, apa kau ingin kembali bersamaku? Ini akan lebih menyenangkan kalau ibu tinggal bersama kami. Lagipula ibu sudah melakukan penelitian itu dalam waktu yang cukup lama" Diana berusaha membujuk Emerta untuk tinggal bersama mereka. "Kita punya Eva dan Evan disini. Kita bisa menghabiskan waktu bersama tanpa harus terpisah jauh lagi" Diana menatap Emerta penuh harap, berharap kata "ya" keluar dari mulutnya.
Emerta tersenyum. Diana menantikan jawabannya saat melihat senyum itu. "Aku tidak bisa" kata Emerta kemudian, menghancurkan harapan Diana.
"Masih banyak hal yang harus kulakukan disini. Penelitian ku masih berlanjut"
Diana mengernyitkan keningnya dengan tatapan kecewa.
"Tapi jangan khawatir. Mulai sekarang aku akan mengunjungi kalian lebih sering."
Mata Diana langsung berbinar. "Eh? Benarkah?"
Emerta tersenyum sambil mengangguk kecil. "Ya. Aku akan sering mengunjungi kalian. Tidak perlu kemari terlalu sering karena tempat ini tidak aman. Lagipula aku ingin melihat perkembangan Evan" Dia kemudian menatap Eva yang sedari tadi hanya mendengarkan. "Aku terlambat melihat Eva karena dia sudah sebesar ini. Aku tidak ingin hal itu terjadi pada Evan."
__ADS_1