
Cerita sebelumnya:
Rexus menunjukkan dirinya untuk membantu Eva membuka segel batu itu. Segel batu itu pun bereaksi. Tanah di bawah kaki mereka bergetar dan tiba-tiba air danau di sekeliling mereka menghilang, menunjukkan sebuah jurang yang menjorok ke bawah tanah.
***
Empat orang itu memperhatikan jurang yang terbentuk karena air danau yang menghilang.
"Ternyata danau ini sangat besar dan dalam" gumam Reina dengan ekspresi terkejut.
Ucapan Reina benar, Danau ini terlihat lebih besar saat airnya menghilang dan kelihatannya sangat dalam juga.
"Ayo kita masuk" kataku bersemangat. Aku benar-benar penasaran harta karun apa yang ada di dalam.
Jadi kami memutuskan menggunakan sihir terbang untuk turun ke bawah, tidak lupa kami meminta Robert membuat penerangan. Jujur saja bola api milik Robert lebih baik dari milikku. Walaupun bola apinya kecil, tapi memancar kan penerangan yang lebih baik.
Kami terus turun ke dasar danau. Aku tidak menyangka akan butuh waktu untuk turun ke dasar. Siapa sangka danau itu ternyata sangat dalam dan sedikit menakutkan. Karena semakin kami turun ke dalam, pandangan kami buram karena kabut yang tiba-tiba muncul. Kabut itu semakin menebal semakin kami turun ke bawah.
Setelah terbang selama satu jam akhirnya kami mencapai dasar danau. Saat kami mendarat kami hanya merasakan tanah, tapi tidak merasakan apa pun. Tidak ada apa-apa di dasar danau ini, hanya sebuah tanah basah dan dinding batu.
Mereka berlima mulai berkeliling dengan berkelompok. Robert berada di barisan depan. Di barisan kedua ada Eva dan Reina. Sementara di barisan terakhir adalah Sayn dan Robert. Para pria sengaja meletakkan para gadis itu di posisi tengah karena posisi ini paling aman.
"Tidak ada apa pun" celetuk Denis. Sebenarnya Denis ingin meninggalkan tempat ini saat tahu dia tidak melihat apa pun dan pergi melakukan misinya untuk mencari harta karun kerajaan. Lagipula waktu mereka sangat terbatas di tempat ini, dia tidak bisa membuang waktu. Tapi dia menahannya saat tahu Eva juga ada disini. Tempat ini terlihat sangat berbahaya. Dia harus melindungi gadis itu.
"Yang Mulia, aku akan melindungi mu" sambung Reina sambil mengganti posisi nya di belakang Denis dan mencengkram jubahnya dengan erat.
Denis mengernyitkan kening tidak senang. "Berhentilah membuat masalah" dia menarik lengan Reina, membuat nya berpindah ke posisi tengah lagi.
"Um...Yang Mulia, terima kasih sudah mencemaskanku..." kata Reina sambil tersipu malu.
__ADS_1
Aku ingin muntah. Aku menyaksikan semuanya dengan wajah masam.
Berhenti bersikap seperti pasangan jatuh cinta di depan mataku. Cih!
Tapi anehnya aku merasa lega. Saat itu, ketika melihat dua orang ini saling menunjukkan cinta mereka, hatiku akan terasa sakit. Seakan-akan ada jarum yanh menusuk jantungku. Aku yakin ini perasaan dari Eva yang asli karena dia sangat menyukai Denis. Tapi aku tidak merasakan hal seperti itu lagi. Bahkan aku tidak merasakan rasa apa pun, kecuali kekesalan.
Hmm...mungkin jiwa asli milik Eva benar-benar sudah tidak membekas lagi. Jadi aku sekarang memiliki tubuh dan perasaan milikku sendiri. Bukan lagi orang lain! Ini bagus!
Kami akhirnya terus menjelajahi dasar danau itu. Sampai kami menemukan sebuah pintu batu yang melekat di dinding.
Pintu itu mengingat kanku pada dongeng alibaba. Ini bukan lah pintu batu yang kuno dan indah. Tapi hanya sebuah batu raksasa yang menutupi lorong yang ada di goa.
"Mungkin kita bisa menghancurkan nya?" kataku sambil menunjuk pintu batu itu. "Kalau kita menggunakan sihir yang kuat, kita bisa menghancurkan batu besarnya!"
Tak!
Jari Robert langsung mendarat di keningku. Dia menjitakku lagi.
"Kita tidak bisa menghancurkan nya sembarangan. Kalau kita menggunakan kekuatan yang berlebihan, kita bisa menghancurkan dinding batu dan membuat lorongnya menjadi longsor" jelas Robert serius.
"Ah~ kau benar..." kataku menyesal. Aku lupa kalau ini hanya dinding batu biasa. Tidak istimewa sama sekali. itu akan langsung hancur kalau kita menyerang nya terlalu kuat. Kita harus hati-hati.
"Kita hanya bisa menggerakkan nya" sambung Robert lagi.
"Hmm...Tapi siapa yang cukup kuat untuk menggerakkan batu raksasa sebesar itu." aku menatap ketiga pria di depanku. Walaupun ini dunia fantasi, yang dipenuhi dengan kekuatan dan petualangan. Tetap saja kekuatan utama di dunia ini adalah sihir. Semua mahluk menggunakan sihir untuk mempertahankan hidup mereka. Tidak ada yang melatih fisik mereka hingga sekuat raksasa.
Robert penyihir, Sayn juga Penyihir.
Lalu tatapan ku mengarah pada Denis. Denis adalah pendekar sihir, apa dia bisa melakukannya?
__ADS_1
"Denis apa kau bisa melakukannya?" tanyaku langsung.
Ah! Aku menutup mulutku saat selesai bicara. Aku lupa memanggil nya "Yang Mulia".
Tapi kelihatannya Denis dan yang lainnya tidak memperhatikan kesalahan Eva karena mereka berada dalam situasi yang serius.
"aku akan mencobanya" jawab Denis sambil bergerak maju.
"aku akan membantu mu Yang Mulia" Reina dengan cepat menyusul Denis.
Denis tahu sihir cahaya Reina bisa meningkatkan kekuatan dan stamina. Jadi dia tidak akan menolaknya. Bahkan sangat bagus sekali kalau gadis itu membantunya.
Denis menggedarkan mananya ke seluruh tubuh. Aku bisa melihat cahaya yang mengelilingi tubuh nya. Reina membantunya di samping dengan sihir cahayanya.
Denis mendorong batu besar di depannya.
GREEEETTTT! Batu besar itu mengeluarkan suara keras dan semakin keras karena bergema. Lalu secara perlahan mulai bergeser karena tenaga Denis.
Denis berhasil mendorong batu itu. Dia hanya membuka celah kecil. Namun, celah itu sudah cukup untuk dimasuki oleh manusia. Tapi dia sudah kehabisan tenaga. Aku bahkan bisa melihat napasnya yang tidak beraturan. Refleks aku ingin membantunya. Tapi gadis itu, Reina, sudah maju lebih dulu. dia bergerak cepat menghampiri Denis, Sehingga aku beehenti dan menyerah.
"Yang Mulia! Kau tidak apa?" kata Reina cemas sambil berusaha menuangkan sihirnya. "Aku akan membantumu"
"Terima kasih..." gumam Denis dingin. Sebenarnya Denis sedikit sadar bahwa Eva mencemaskan nya. Jadi dia berpura-pura kelelahan berat agar gadis itu membantunya. Dia ingin mendapatkan simpati tunangannya. Tapi siapa yang mengira bahwa gadis lain yang akan maju lebih dulu. Denis merasa kesal saat ini, tapi dia berusaha membuat ekspresi datar di wajahnya.
"Lemah...." gumam Sayn dan Robert bersamaan.
Denis semakin kesal. Dia memberi tatapan mengancam pada dua pria benalu di depannya. Tapi tentu saja itu itu tidak mempengaruhi mereka. Sehingga tiga orang ini hanya menatap satu sama lain dengan tatapan dingin mereka dalam diam.
Sementara Eva memikirkan sesuatu saat dia melihat Denis dan Reina bersama.
__ADS_1
"Haruskah aku menyerah saja pada tokoh utama?" pikir Eva. Dia berpikir untuk melepaskan Denis dan bergantung pada tokoh utama lainnya. Niatnya untuk memeluk kaki Denis dan menjadi tunangan yang baik agar memperoleh dukungan putera mahkota itu memudar. Lagipula dia masih bisa memikirkan jalan untuk bertahan hidup walaupun dia tidak berhubungan baik dengan mereka.