Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 1: Jensen


__ADS_3

Aku tetap mengikuti pelatihan itu sampai akhir walaupun enggan. Tapi aku merasa gerakanku sudah mulai membaik. Dan aku sudah mulai hapal gerakannya.


Pelatihan itu dilaksanakan sampai tengah hari. Saat siang menjelang sore, pelatihan dihentikan. Kami diberikan beberapa jam waktu untuk istirahat. Sebelum semua prajurit diperintahkan untuk berburu mencari makan malam.


Aku benar-benar kelelahan. Untuk seseorang yang jarang latihan berat, ini benar-benar neraka buatku.


logikanya pelatihan penyihir itu berbeda dengan pelatihan pendekar. Selama ini aku berlatih dengan fokus pada mana. Memikirkan mengumpulkan banyak mana dan berlatih mantra yang kuat. Sementara para pendekar harus melatih fisik mereka sebagai dasar. Mereka hanya menganggap mana sebagai pelengkap. Mereka menggunakan mana sebagai mantra pasif untuk memperkuat tubuh bukan aktif seperti para penyihir.


Denis adalah contoh yang langka. Dia bisa menggunakan mantra aktif saat menjadi pendekar pedang.


Yah, itu adalah pengaturan langsung dari novel!


Setiap protagonis pria harus jenius dan kuat, jadi mereka sudah dilahirkan dengan kondisi seperti itu. Berbeda dengan prajurit lain yang dianggap karakter tambahan. Mereka hanya memiliki tingkat kekuatan yang pas-pasan.


"Eva, kau mau kemana?" tanya Denis sambil memegang bahuku. Entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa Denis sering mengikuti ku. Aku tidak tahu ini hal yang baik atau hal yang buruk.


"Istirahat..." jawabku mengabaikan nya dan berjalan menjauh.


"Tunggu...."


Denis belum menyelesaikan perkataannya dan tiba-tiba instruktur memanggil nya.


"Yang mulia, jendral Lin memanggil mu"


Denis memandang Eva ragu-ragu sejenak. Kemudian pergi menghampiri instruktur.


***


Aku berjalan-jalan di sekitar. Ini jam istirahat, aku berencana untuk makan cemilan. Jadi aku sedang mencari tempat yang tepat untuk membuka ruang dimensi.


Saat itu aku melewati tempat yang cocok. Tanahnya lapang, dan ada sebuah pohon besar. Di bawah pohon ada kursi kecil. Tempat itu cocok untuk istirahat.


Aku maju menghampirinya. Dan tanpa sadar terdengar teriakan dari balik pohon.


Ha! ha! ha!


Teriakan seperti orang yang sedang berlatih.


Aku mengintip dan melihat dua orang bocah sedang mengayunkan pedang kayu mereka kesana kemari.


"Aku istirahat dulu Jensen" salah satu bocah tiba-tiba menghentikan gerakannya. Dia menepuk pundak teman disampingnya. "Ayo istirahat dulu"


Eh? Jensen?


Itu Bocah Jensen yang sedang kucari!


Yuhu, aku beruntung.


Bocah Jensen tak peduli, masih terus mengayunkan pedang. "Duluan saja Rino. Aku berlatih sebentar lagi" katanya.


Rino hanya menatap sahabatnya itu sambil menggelengkan kepalanya. "Aku duluan" katanya sambil melangkah pergi.


Setelah bocah Rino itu pergi, aku maju lagi untuk memperdekat jarakku.


"Siapa disana?" tanya Jensen tiba-tiba.

__ADS_1


Dia sangat waspada rupanya.


"Maaf..." kataku sambil menunjukkan diri.


"Siapa kau?" tanya Jensen curiga. Dia langsung menghentikan gerakannya.


"Haha..." aku tertawa canggung. "Aku tidak sengaja melihatmu berlatih" kataku.


Jensen mengeryitkan keningnya. Dia sedang berpikir. "Kau tidak asing..." gumam nya.


"Ah!!" dia berteriak tiba-tiba.


Dia langsung membungkukkan badannya untuk memberi hormat.


"Maafkan ketidaksopanan saya, nona" katanya. "Saya minta maaf karena memanggilmu dengan tidak hormat dan membentakmu. Anda bisa menghukum saya"


"Uaahhh...tidak perlu" kataku langsung dengan panik.


"Jangan bersikap seperti itu. Tidak apa-apa. Bersikap seperti biasa saja"


"Maaf saya tidak bisa nona" jawab Jensen langsung.


Yah, ini adalah aturan dalam masyarakat. Penduduk biasa harus bersikap hormat pada bangsawan. Itu hukum tidak tertulis, tetapi wajib.


Jensen, hanyalah seorang anak biasa dari ibukota. Orang tuanya bekerja sebagai pendagang biasa di pasar. Dia tidak punya nama belakang atau marga apapun karena dia hanya penduduk, sehingga tidak memiliki gelar bangsawan. Tapi di masa depan, dia akan memperoleh gelar bangsawannya sendiri karena kemampuannya yang hebat.


"Ini perintah" kataku langsung. "Aku memerintahkan mu untuk bersikap biasa padaku. Jangan bersikap hormat"


"Baik nona" jawabnya singkat. Dia mulai mengangkat wajahnya kembali. "Bagaimana aku memanggil nona?" tanyanya dengan bingung.


"Panggil saja aku Eva" jawabku langsung.


"Baiklah nona Eva"


"Eva saja" tekanku.


"Eva..." katanya ragu-ragu.


"Ehem!"


"Ngomong-ngomong kau sedang berlatih pedang tadi?" kataku berusaha membuka topik pembicaraan. "Gerakannya berbeda dengan yang kita pelajari tadi pagi?"


"Itu berbeda. Gerakan tadi pagi hanya untuk melatih stamina. Aku sedang berlatih untuk meningkatkan teknik pedangku" jawabnya sambil menganyunkan pedang kayunya. "Setiap teknik punya gerakan yang berbeda. Aku harus sering melatihnya agar bisa hapal diluar kesadaran."


"Lalu kenapa berlatih di tempat terpencil seperti ini?"


"Kenapa tidak berlatih di lapangan pelatihan saja?"


Jensen menggaruk kepalanya canggung. "Aku sering berlatih saat jam istirahat. Ini latihan diam-diam. Agak bermasalah kalau sampai instruktur tau hehe..."


"Oh, karena itu kau sangat waspada tadi" kataku mengerti sambil mengangguk kan kepala.


"Gerakanmu bagus. Walaupun aku tidak tahu apa-apa tentang teknik pedang. Aku tahu gerakanmu sangat hebat, itu cepat dan luwes. Kau pasti menjadi orang besar di masa depan.." kataku berusaha memuji.


"Itu bukan apa-apa..." jawab Jensen lirih dengan wajah memerah malu.

__ADS_1


"Aku belum bisa dianggap orang yang hebat" katanya lagi dengan malu.


"Ayolah, jangan rendah diri" kataku sambil memukul pundaknya.


"Kau hebat tau, percaya padaku! Kau berbakat! Kau pasti berhasil di masa depan!"


Percaya padaku oh Jensen, karena aku sudah membaca kisah hidupmu~~


"Terima...kasih Eva..." katanya lirih. Melihat wajahnya yang merah padam dan tingkahnya yang canggung, benar-benar membuatku ingin mencubitnya. Dia sangat imutt!! Saat ini Jensen masih bocah, otot-otot kekar itu masih belum tumbuh. Yang ada hanyalah pipi tembem nya karena lemak bayi yang masih ada. Aku benar-benar ingin mencubitnya.


"Lain kali maukah kau mengajariku kalau ada waktu?" tanyaku sambil mendekatkan wajahku ke arahnya.


Blush! Wajah Jensen semakin merah.


Aku sangat suka menggodanya ah~


"Tapi...aku tidak bisa mengajar..." katanya lirih berusaha menyembunyikan wajahnya.


"Tidak apa-apa. Ajari saja aku dasarnya oke?" kataku dengan nada membujuk.


"Hem" gumam nya sambil mengangguk pelan.


"Baiklah"


"Mau ikut makan denganku?" tanyaku sambil membuka ruang dimensi.


"Aku punya banyak makanan. Sebenarnya aku mencari tempat yang nyaman untuk makan. Dan aku menemukan tempat ini"


"Tidak usah" jawabnya langsung.


"Kami para prajurit sudah berjanji untuk mencari makan sendiri. Itu bagian dari pelatihan untuk membangun diri!" jawab Jensen tegas.


"Baiklah~"


"Kalian sebenarnya tidak harus menyiksa diri seperti itu. Yang penting hanya menjadi kuat kan"


"Percuma saja kuat, kalau hati dan mental tidak dibangun!" jawabnya tegas. "Tujuannya bukan hanya menjadi kuat, tapi juga melatih keinginan untuk menahan godaan. Setiap prajurit perlu modal dasar seperti itu"


Hem, Jensen ini benar-benar bermoral tinggi.


Pantas saja Denis sangat mempercayainya sebagai tangan kanan waktu itu.


Dia benar-benar orang yang jujur.


"Kau benar-benar hebat!" pujiku langsung dengan mata berbinar.


Blush! Pipi Jensen memerah lagi. Dia memalingkan wajahnya. "Aku akan berburu dulu"


"Selamat tinggal...Eva" katanya dan langsung melesat pergi menjauh.


"Eh? Jensen, tunggu dulu" Teriakku. Masih ada yang ingin kubicarakan dengannya. Aku ingin dia menjadi pengawal pribadiku.


Tapi sosok Jensen secara perlahan menjauh dan menghilang.


Aku menghela napas. "Ya sudahlah....aku akan bertanya padanya nanti"

__ADS_1


Aku mengambil cemilan dari ruang dimensi. "Yang penting sekarang aku harus mengisi perutku dulu~"


__ADS_2