
"Master!" Aku berteriak senang sambil menatap punggung Robert. Kemudian, dengan gerakan cepat aku langsung memeluknya."
"Maaster aku takut ~" kataku dengan nada yang manja.
Robert mengusap rambutku "Tidak apa-apa. Ada aku disini. Aku akan melindungimu" katanya lembut.
Charlotte dan sosok berjubah langsung menghentikan serangan. Sosok berjubah itu terbang ke arah sisi Charlotte.
"Robert!" Charlotte berteriak. "Kau kembali. Aku sangat merindukanmu" katanya dengan nada yang lembut.
Robert mengernyitkan dahinya. "Kenapa kau menculik Eva? Kenapa kau melibatkan muridku?" tanya Robert dingin.
"Uhhh..." Charlotte gelisah.
"Aku tidak bermaksud untuk melibatkannya kalau kau tidak bertindak seperti ini." kata Charlotte membenarkan diri.
"Aku hanya tidak ingin melibatkan diri!"
"Kenapa? Kau adalah anaknya! Kau tidak boleh seperti itu. Selain mempunyai status sebagai ayahmu, dia juga mastermu. Kenapa kau bersikap seperti ini padanya!" sahut Charlotte bersikeras.
"Humph!" Robert mendengus. "Apa kau tahu kepribadian pak tua itu? Aku sudah tinggal bersamanya sejak kecil. Aku tahu sifatnya yang haus akan kekuasaan. Aku memang orang yang bodoh tapi bukan berarti aku mudah ditipu oleh kalian. "
Nada Robert perlahan menjadi dingin "Aku juga tahu kalau diriku dimanfaatkan atau tidak"
Raut wajah Charlotte berubah. Dia mulai menyunggingkan senyum sinis "Kau tidak akan bisa keluar sini. Bagaimana pun juga!"
"Apa yang kau rencanakan..."
Belum sempat Robert menyelesaikan perkataannya, Charlotte sudah mengambil seuatu berbentuk bola. Kemudian melemparkannya ke arah Robert. Robert memeluk Eva sambil menggunakan mantra pelindung. Bola itu mengenai pelindung dan BYARR! Sekumpulan cahaya terlepas dan membuat pemandangan menjadi buta sesaat.
Robert menyipitkan matanya, dan pandangannya pulih saat cahaya semakin berkurang. Sekumpulan cahaya itu mulai redup dan membentuk sebuah kubah setengah lingkaran yang mengelilingi Robert dan Eva.
__ADS_1
Aku mulai iseng mencoba untuk menyentuh kubah cahaya yang mengurung kami itu "ouch" aku tersentak sambil menarik tanganku kembali. Rasanya sedikit sakit, seperti terkena serangan listrik arus kecil.
"Kau tidak apa-apa Eva?" kata Robert cemas. "Jangan bergerak sembarangan dan menyentuh hal-hal aneh" sambungnya sambil mengambil jariku yang tersengat dan meniupnya.
Wajahku perlahan memerah. Belum pernah ada seorang pun yang peduli padaku seperti ini. Kecuali, Orang tuaku dan orang-orang di rumah duke. Apakah ini efek dari pendekatanku selama ini? Makanya Robert menjadi overprotektif padaku?
Hm, hm, ini tidak buruk. Setidaknya kalau terus seperti ini, masa depanku bisa terjamin. Aku harus bisa mencari orang kuat untuk mencari perlindungan tambahan.
"Aku tidak apa-apa. Tidak akan kuulangi lagi" jawabku pelan. "Masterr, jangan marah oke?"
"Aku tidak memarahimu. Aku hanya menasehatimu."
"Robert!" Charlotte berteriak tiba-tiba. "Apa kau dari tadi mendengar peringatanku? Aku tidak akan mengeluarkanmu dari tempat ini," katanya.
"Begitu pula gadis kecil itu" nadanya menjadi dingin.
"Kau boleh mengancamku. Tapi awas saja kalau kau menyentuh muridku." kata Robert lebih dingin.
"Hmp!" Charlotte mendengus. Dia mengeluarkan sebuah peluit "Aku tidak akan pernah membiarkanmu lari lagi!"
Wah, ini perangkat sihir yang aneh. Aku juga ingin satu, siapa tahu berguna untuk meminta bantuan disaat kritis.
Robert tiba-tiba bergerak cepat saat melihat Charlotte meniup peluitnya.
"Gawat..." dia bergumam kecil, tampak sedikit cemas.
"Sudah terlambat" sahut Charlotte sambil menyunggingkan senyum kemenangan.
Robert dengan cepat mengibaskan tangannya dan mengeluarkan sihir.
TRANGG! dalam sekejap kubah cahaya itu berjatuhan menjadi serpihan-sepihan kecil.
__ADS_1
Charlotte dan sosok berjubah menatap kaget.
"Bagaimana...mungkin..." kata Charlotte terbata-bata. Dia sudah meminta alat sihir yang kuat untuk digunakan sebagai penjara penyihir. Ini alat sihir grade premium! Tapi, alat sihir berkualitas itu tidak berguna dihadapan Robert. Dia merusaknya hanya dengan satu mantra.
"Dia memeng...berbahaya..."
"Tapi.." Charlotte mengubah ekspresi wajahnya lagi. Dia tenang kembali "Tetap sudah terlambat hehe"
'Robert agak cemas. Dia tahu ada yang tidak beres.
'Apakah Charlotte memanggil bawahannya tadi? Tapi apa itu berguna? Tikus-tikus kecil itu bukan lawanku!' pikir Robert. Dia langsung membawa Eva menuju pintu keluar.
Tiba-tiba, SWOSH! SWOSH! SWOSH!
sosok berjubah putih menghalangi jalannya!
Ada sekitar 10 orang sosok berjubah putih yang berkeluaran dalam sekejap.
"Hmph! Kau kira mereka bisa menghentikanku? Buang-buang sumber daya manusia saja" kata Robert sombong. Dia sudah mengangkat tangannya, bersiap untuk menggunakan mantra.
Tapi Charlotte tidak menanggapi apapun, dia hanya tersenyum manis.
"ROBERT" Teriakan yang keras dan dingin terdengar. teriakan itu bergema di kejauhan.
Robert menghentikan tangannya. DIa langsung mengamati sekelilingnya. Tapi dia tidak menemukan sumber suara.
Secara perlahan sesosok titik kecil hitam muncul dari atas langit-langit. Sosok itu muncul menggunakan gerbang sihir. Perlahan menampakkan sosok pria setengah baya, yang sudah memiliki beberapa keriput di sekitar matanya. Pria setengah baya itu mempunyai rambut putih panjang yang dikepang kebelakang. Dan jubah panjang berwarna hitam dengan rumbai-rumbai emas.
"Dean Caro!" Teriak Charlotte senang.
"Kau berani untuk melarikan diri lagi!!" Dean Caro mengeraskan suaranya. Suaranya yang keras bergema di seluruh ruangan itu dan menyebabkan tanah di bawahnya bergetar.
__ADS_1
Robert melihat Dean Caro, dan Dean Caro melihatnya. Mereka saling bertatapan sebentar. dan Dean Caro langsung menyunggingkan senyum dingin.
Tanpa sadar punggung Robert bergidik.