
Cerita sebelumnya:
Ren berhasil menghipnotis kedua elf pembunuh itu agar menurut dan tidak memberontak. Lalu mereka pun mengikuti kedua elf itu menuju markas besar mereka.
Markas besar mereka berada di kerajaan yang jauh bernama Albonia. Untung saja Ren sudah meletakkan lingkaran transportasi di negara itu jadi mereka tidak menghabiskan waktu di perjalanan.
Mereka tiba di markas utama dan bertemu dengan pemimpin para elf pembunuh itu, Poupitas. Ren melawan Poupitas dan menyebabkan pria itu kalah dengan menyedihkan. Ren bahkan menghipnotis nya untuk membuat nya mengaku dan dia cukup kaget saat mendengar nama yang tidak permah diduganya keluar dari mulut penjahat itu.
***
Ren masih membeku setelah mendengar nama Lena dari mulut pembunuh itu. Poupitas memanfaatkan kesempatan ini untuk melarikan diri dari cengkraman nya. Untung saja Ren dengan cepat tersadar, jadi dia memperkuat cekikan nya dan membuat Poupitas kesulitan bernapas.
Ren tidak membuka mulutnya. Ini adalah pertanyaan terakhirnya untuk Poupitas sebelum dia akhirnya melenyapkan elf itu menjadi abu. Dua elf lainnya juga menyusul dengan cepat. Ren tidak memberi pengampunan apapun pada mereka walaupun dua elf itu berada dalam perintahnya. Hanya para wanita manusia itu yang berhasil melarikan diri dengan jeritan histeris, karena Ren tidak mempedulikan keberadaannya.
Setelah itu, Ren tiba-tiba menarikku untuk berteleportasi keluar dari bangunan itu. Kami berhasil mendarat di luar bangun. Lalu dalam sekejap, bangunan besar di depan kami mulai runtuh.
Aku mengerjap tak percaya. Kapan Ren menggunakan sihir untuk meruntuhkan bangunan itu? Aku tidak menyadari apapun sama sekali.
"Ren, apa kau baik-baik saja?" kataku gugup saat melihat wajahnya yang sangat tidak baik.
Ren melirikku "Ayo kembali" gumamnya datar tanpa menjawab pertanyaan ku sama sekali.
"Ren tidakkah kau berpikir masih ada anggota lainnya yang tersisa?" aku mencoba mengganti pertanyaan nya.
"Kalau begitu anggap saja mereka beruntung karena tidak ada disini sekarang" kata Ren dengan nada dingin dan menakutkan. Aku merinding sesaat saat mendengar nya.
Setelah itu dia memelukku. Kami dengan cepat berteleportasi kembali ke aula istana. Saat sampai ke istana elf kembali, aku sedikit gugup sebenarnya. Apa yang terjadi sekarang? Apa Ren akan menghampiri Lena dan mengamuk? Bukankah itu sangat menakutkan? Membayangkan nya saja membuatku sedikit takut.
"Ren..." aku membuka mulutku. Belum sempat aku mengatakan kalimat lainnya, Ren langsung menyanggah ku.
Dia tiba-tiba mengangkat tangannya. Aku berpikir dia ingin memukulku karena terlalu marah. Aku sudah bersiap dengan perisai pelindung ku, tapi dia malah mengusap kepalaku dan membuat ku kembali mematung.
"Aku akan kembali. Aku akan mengurusnya" katanya. Dia memberi isyarat agar aku tidak ikut campur urusannya dengan Reina sekarang.
"Baik" aku hanya bisa mengangguk patuh.
"Kembali ke kamarmu" kata Ren lagi. Tanpa izinku, dia mengirimku ke dalam kamar tiba-tiba dengan teleportasi. Aku bahkan tidak sadar bahwa tubuhku berpindah tempat dengan cepat. Dasar Ren! Dia selalu bersikap seenaknya! Bahkan dia suka menerbangkan dan memindahkan ku sembarangan.
Eva sudah dikirim kembali ke kamarnya. Sementara Ren masih berdiri di aula istana. Dia berjalan perlahan menuju kursi tahtanya dan duduk, lalu dia memberi perintah kepada Brian
"Panggil semua orang dan putri Lena" perintah nya.
Brian tidak mengerti perintah absurd seperti ini, jadi dia bertanya lagi. "Semua orang? Apakah semua orang yang ada di istana?"
Ren menatap nya dengan mata melotot. "Apakah aku perlu mengatakan nya dua kali?" katanya dengan nada menyeramkan.
Drian tersenyum canggung. "Baik yang mulia" katanya, dia berbalik dan berlari dengan cepat keluar aula.
Perlu waktu untuk mengumpulkan semua orang yang tinggal di istana. Mereka adalah para staff istana dan juga Lena. Para bangsawan elf tidak ada karena merek mempunyai rumah mereka masing-masing di ibukota. Tapi Fram dan Caca ikut bergabung karena penasaran.
__ADS_1
Ruangan itu dipenuhi dengan banyak orang. Karena ada banyak sekali staff istana dan juga pengawal, jadi cukup berdesakan.
Lena datang terakhir. Dia mengernyit jijik dengan suasana aula yang penuh dengan orang. Dia tidak menyukai nya seakan-akan hal itu merusak pemandangan.
Setelah semua orang berkumpul, Ren mulai menatap semua orang "Semua orang yang selama ini melayani putri Lena tetap tinggal. Sementara yang lainnya bisa pergi"
Lena menegang saat tahu kalau dia adalah fokus utamanya. Dia tidak mengerti apa yang terjadi. Tapi dia sangat bersemangat sekarang. Dia mengira Ren akan memilihkan beberapa pelayan baru untuknya dan mengganti pelayan lamanya. Tidak ada pikiran buruk dalam kepalanya sama sekali.
Beberapa staff yang tidak pernah berinteraksi dengan Lena, menyingkirkan diri mereka dengan cepat. Sehingga orang-orang di ruangan itu berkurang secara drastis.
"Kakak, kenapa kai memanggil ku kesini?" Lena bertanya dengan nada manja. Dia bersiap untuk menghampiri Ren.
Tapi Ren dengan cepat menghentikannya. "Tetap di tempatmu" suara datarnya bergema.
Kaki Lena berhenti di udara. Dia langsung melangkah mundur dengan enggan. Dia merasa tidak nyaman dengan tatapan dingin Ren.
"Lena, aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Apa kau akhir-akhir ini berhubungan dengan organisasi elf pembunuh?" tanya Ren dingin.
Lena tersentak. Dia menjawab dengan nada gugup. "Tidak..." katanya.
Ren mengernyitkan kening tidak senang. Dia menatap Lena lekat-lekat. Tapi kekuatannya tidak berpengaruh pada Lena sama sekali. Sama seperti saat mereka bertemu pertama kali. Dia ingin mengontrol ingatan gadis itu, tapi tidak terjadi apapun. Seakan-akan dia melihat udara kosong dimatanya. Dia tidak bisa melihat isi pikirannya. Karena itulah Ren merasa sangat tertarik padanya.
Ren tidak bisa memastikan apakah yang dikatakan Lena itu bohong atau tidak. Tapi yang jelas elf pembunuh itu tidak berbohong padanya.
"Jangan berbohong padaku!" Ren meninggikan suaranya.
Ren mengalihkan tatapannya dari Lena. Dengan kekuatan nya dia mulai mengontrol semua orang yang ada di ruangan itu. Ada total tiga puluh staff, terdiri dari pengawal dan pelayan.
"Ceritakan padaku, apa yang Lena perintahkan pada kalian" kata Ren
Beberapa orang mulai maju dan menceritakan kisah yang berbeda.
"Putri Lena menyuruh kami untuk memukuli seseorang yang membuat nya kesal atau orang-orang yang menyakiti matanya"
"Kami bahkan pernah memukuli pelayan dan juga rakyat biasa"
"Kami juga pernah memukuli anak bangsawan yang menghina putri"
Para pengawal itu mulai mengaku.
Wajah Lena berubah jelek. "Hentikan!" Dia berteriak frustasi. "Ren, jangan percaya mereka. Mereka berbohong!" teriaknya.
"Putri Lena menyuruh kami untuk memfitnah beberapa pelayan agar mereka diusir"
"Putri juga menyuruhku untuk menaruh racun di makanan seorang pelayan. Aku dengan berat hati melakukannya. Tapi ini adalah perintah putri dan target hanyalah pelayan. Jadi aku melakukannya."
"Putri juga menyuruhku untuk mengantar surat rahasia. Aku tidak tahu surat apa itu"
Para pelayan itu mengakuinya satu per satu.
__ADS_1
Lena melototi mereka semua. "Omong kosong! Kenapa kalian semua ingin menjatuhkanku?" katanya dengan nada sedih. Karena marah tidak membuahkan hasil sama sekali. Dia bersikap menyedihkan kali ini. Air matanya mulai mengalir. Ekspresi nya terlihat menyedihkan.
Tapi tiba-tiba suara sarkas bergema dengan keras. Suara itu berasal dari Caca. "Astaga! Aku tidak mengira bahwa kau akan sejahat itu! Ayah mengatakan elf gelap licik, tapi kaulah yang paling licik dari semua kaum mu!" katanya.
Fram yang berdiri di samping nya menggeleng lemah. Caca hanya akan membuat semuanya semakin runyam. Jadi dia ingin menghentikan nya. Tapi Caca menolaknya dengan keras dan terus berbicara.
"Aku tahu bahwa kau juga berhubungan dengan organisasi pembunuh manusia. Bukankah lau menyebabkan gadis manusia bernama Emily meninggal? Manusia itu sangat dekat dengan Ren..." katanya.
Perkataan nya membuat semua orang tersentak kaget. Ren bahkan membatalkan semua sihirnya secara otomatis dan menatap Caca dengan mata melotot.
"Apa maksudmu?" Tanya Ren. Dia ingat Emily mati di depannya karena bunuh diri. Ini tidak ada hubungannya dengan Lena sama sekali.
Caca menceritakan semuanya dengan bersemangat. Dari awal dia meletakkan penyadap di baju Lena karena ingin balas dendam alias dia ingin mengetahui aib Lena. Tapi dia malah mendengar sesuatu yang tak terduga, yaitu rencana Lena yang sangat licik. Lena memberitahu organisasi pembunuh itu keberadaan Emily. Lalu pembunuh itu menyekap Emily agar Ren muncul. Lalu beberapa hari kemudian dia mendengar kabar bahwa manusia bernama Emily bunuh diri.
Setelah menjelaskan semuanya dengan cepat, Caca menarik napasnya dalam-dalam. Karena dia terlalu antusias untuk menjelaskan, dia lupa untuk bernapas.
Tapi jujur saja dia cukup kagum dengan rencana Lena. Rencananya sangat licik dan mulus. Caca harus belajar darinya kalau dia ingin menjadi penjahat yang licik.
Ren mendengar semuanya dengan wajah datar. Tapi amarah di dadanya sudah menggebu, bahkan hampir meledak. Dia tidak tahu bahwa gadis kecil yang dia angkat sebagai adik akan beracun seperti ini. Kalau dia tidak ada, Emily dan yang lainnya mungkin masih bisa bertahan hidup.
Dia menatap Lena dengan tatapan membunuh. "Aku tidak ingin membunuh mu. Tapi beritahu aku kenapa kau melakukan semua ini? Maka aku akan membiarkanmu hidup"
Tubuh semua orang bergetar ketakutan saat Ren mengeluarkan suaranya. Tidak terkecuali Fram dan Caca. Caca bahkan menatap Ren serius. Pria ini sangat menakutkan seperti ayahnya, dia tidak akan berani mengejeknya lagi.
Bibir Lena bergetar. Dia ingin menyangkal lagi tapi suaranya tidak keluar karena dia terlalu takut. Ren selalu serius. Dia takut Ren benar-benar membunuh nya kalau dia tetap mengelak.
Jadi dia menatap Ren lekat-lekat dan berkata "Itu semua karena kau Ren!" dia berteriak.
Ren mengernyitkan keningnya bingung.
"Aku melakukan nya karena aku mencintaimu!" dia berteriak seperti orang gila. "Tapi kau selalu menolakku dan berhubungan dengan wanita-wanita bau itu! Aku tidak terima! Aku akan menyingkirkan wanita manapun yang dekat denganmu! Kalau aku tidak bisa mendapatkan mu maka mereka juga tidak bisa!" teriakannya memenuhi seluruh aula.
Semua orang terdiam. Fram menelan ludahnya dan dia mencuri pandang menatap Caca. Wanita akan jadi sangat menakutkan saat mereka jatuh cinta. Apa tunangannya juga akan menakutkan seperti itu?
Seakan-akan bisa membaca isi kepalanya, Caca menjawab. "Aku tidak akan membunuh mereka. Aku hanya akan membuat mereka pindah dari wilayah elf" dia menjawab sambil tersenyum manis. Fram semakin merinding.
Ren tersenyum. "Hanya karena semua itu?" gumamnya dengan wajah bersalah. Siapa yang mengira bahwa wanita akan jadi gila seperti ini hanya karena jatuh cinta? Ren sama sekali tidak pernah mendengar atau mengalaminya.
"Apa maksud mu? Ini semua karenamu! Kenapa kau membiarkan ku tinggal di istana kalau kau selalu menolakku!" Lena tetap berteriak seperti orang gila.
"Apa kau lupa kenapa aku mengangkat mu sebagai putri? Semua karena orang tuamu adalah teman baikku. Juga, aku sangat tertarik dengan matamu yang sepesial." Ren menjelaskan sambil memegang kepalanya yang sakit. "Aku tidak bisa mengampuni mu lagi karena kau sudah membuang banyak nyawa. Aku tidak akan membunuh mu seperti penjahat lainnya. Tapi aku akan mengusirmu dari istana" kata Ren.
Ren menatap Drian. "Pastikan dia keluar dari wilayahku. Dan pasang penanda pada tubuhnya agar dia tidak bisa menyelinap masuk. Jangan lupa kirim dia sejauh mungkin dark wilayah elf." titah Ren.
Drian mengangguk patuh. Dia langsung memerintahkan para prajurit untuk menarik Lena keluar dari aula.
Lena terus memberontak. Dia berteriak pada Ren sambil terus menangis dan memohon agar Ren mengampuni nya. Dan sesekali menyalahkan Ren karena lebih memilih wanita rendah itu daripada dirinya.
Tapi Ren tidak mempedulikan teriakannya. Ekspresi nya tetap datar sampai akhirnya Lena mulai menghilang dari pandangannya. Setelah itu dia memerintahkan semua orang kembali ke pekerjaan mereka masing-masing. Ren tidak bisa menyalahkan para prajurit dan para pelayan, karena mereka juga bertindak atas perintah yang diberikan. Dan itu adalah salahnya juga karena menyuruh mereka semua untuk mematuhi semua perintah Lena dan membuat masalah menjadi runyam seperti ini.
__ADS_1