
Robert benar-benar tidak tahu sejak kapan dia akrab dengan Duke. Mereka hanya bertemu beberapa kali karena dia adalah guru sihir putrinya. Tapi mereka sering berbicara satu sama lain karena masalah itu.
Ada satu hal yang menyatukan mereka. Saat mereka berbicara, mereka akan saling memuji Eva. Sehingga mereka berdua benar-benar cocok. Tapi Robert tidak menyadari hal itu.
Duke pun sering menceritakan berbagai masalah dan keluhannya padanya. Membuat nya menjadi pelampiasan atas rasa frustasinya dan juga kekhawatiran nya, serta tangan kanannya.
Robert tidak tahu dia menjadi tangan kanan Duke. Hal itu hanya berjalan secara alami. Dan tanpa sadar dia melakukannya.
Suatu hari Duke menceritakan kecemasan nya tentang beberapa mata-mata yang mengawasi mansion mereka. Dan semuanya bertambah sejak dia kembali dari pertandingan sihir.
"Bisakah kau membantuku menyusunnya?" kata Duke sambil memberikan setumpuk dokumen padanya. Dia kehilangan ekspresi dinginnya. "ada terlalu banyak hal yang harus kuurus sehingga aku benar-benar tidak punya waktu untuk melakukan nya"
"Baiklah" Robert menyetujui nya tanpa perlawanan.
Dokumen yang diberikan oleh Duke adalah identitas sejumlah mata-mata yang sudah dia bunuh.
"Mereka berasal dari organisasi yang berbeda" gumam Robert.
"Ya, karena itulah aku bingung mana yang harus kuhancurkan lebih dulu" kata Duke kemudian sambil tersenyum masam. Ada terlalu banyak pembunuh dan mata-mata dari organisasi yang berbeda. Markas utama mereka tersebar di seluruh Dunia. Duke tidak mungkin melakukan perjalanan panjang untuk mencari mereka.
Robert menatap Duke diam-diam. Dia adalah tipe pria yang langsung bertindak sebelum berpikir. Dia bisa mengalahkan lawan yang kuat dengan mudah. Tapi tidak dengan lawan yang cerdik. Dia akan kalah karena dia tidak sabaran dan mudah terjebak.
"Aku akan menyelidiki nya" kata Robert kemudian.
"Hm?" Duke mengangkat alisnya tidak percaya. Dia hanya menyuruh Robert untuk mengurus dokumen yang berantakan itu. Bukan menyelidiki kasusnya lagi.
"Aku akan membantumu" Robert berkata dengan sungguh-sungguh.
"Kenapa?"
"Karena Eva akan terlibat di dalamnya. Aku tidak ingin dia berada dalam bahaya" jawab Robert kemudian.
Duke mengangguk setuju. itu adalah alasan yang sangat diterima.
__ADS_1
Robert pun mulai melakukan penyelidikan. Awalnya sangat sulit karena dia harus menyelidiki banyak organisasi. Dia bahkan meminta beberapa orang anggota dari Menara Sihir yang saat ini berpetualang untuk mengumpulkan informasi.
Tapi anehnya itu efektif. Dan dia mendapat kan beberapa fakta yang mengejutkan dan juga mengerikan. Saat melihat dokumen di tangannya, dia jadi ragu untuk memberikan nya pada Duke. Tapi dia tetap harus memberikan informasi itu pada nya untuk keselamatan mereka.
Robert pun mengetuk ruang kerja Duke. Mansion ini terasa kosong karena Duchess dan Evan masih belum kembali.
"Masuk" Duke menjawab.
Robert pun membuka pintu ruang kerja dan melihat Duke duduk di meja kerjanya dengan setumpuk dokumen.
"Apa kau menemukan sesuatu?" Duke menatap Robert penuh arti.
Setelah menghela napasnya, Robert menjawab "Ya".
Dia pun mulai menyerahkan hasil penyelidikannya pada Duke.
"Semua pembunuh dan mata-mata ini dikirim oleh banyak bangsawan" Robert memulai penjelasannya.
"Apa maksudnya? Siapa mereka?" Duke bertanya dengan nada dingin. Seperti bersiap membunuh seseorang.
Tubuh Duke menegang.
Robert mulai menjelaskan nama bangsawan yang terlibat. Hampir semua bangsawan dari faksi kerajaan terlibat dalam hal ini. "Marquis Zent adalah pemimpin nya" Robert mengakhiri penjelasan nya untuk para pelaku.
BAK!
Duke memukul meja sambil menggertakan giginya. "Bangsawan sialan itu...." dia berkata dengan wajah mengerikan. Tidak menyembunyikan kebencian nya sama sekali. Padahal dia sudah menyetujui pertunangan putrinya dengan putra mahkota untuk mencegah hal ini. Siapa yang mengira bahwa mereka melanggar janji itu dan tetap menargetkan keluarga nya?
"Raja sudah berjanji bahwa dia tidak akan menyentuh keluarga ku. Aku yakin para bangsawan ini bertindak di luar pengawasan raja." Duke memberikan pendapat nya. Dia tidak ingin mencurigai sang raja sejak mereka sangat dekat. Dan ratu adalah sepupu kecilnya. "Apalagi Marquis Zent adalah ular gemuk yang sangat menjijikan" sambungnya sambil mengernyit jijik.
Robert terdiam beberapa saat sebelum dia melanjutkan "Raja tahu"
Duke langsung tersentak.
__ADS_1
"Raja bahkan khawatir bahwa faksi Court akan memberontak. Jadi dia memerintahkan Marquis Zent untuk berjaga-jaga. Mungkin saja semua hal yang dilakukan para bangsawan itu adalah perintah raja" Robert memberikan spekulasinya nya.
Duke masih mematung.
"Aku juga mendapatkan informasi bahwa putra mahkota melakukan perjalan jauh untuk mengambil pusaka keluarga untuk menghadapi pemberontakan faksi Court"
BRAKKK!
Tanpa sadar Duke menuangkan seluruh kekuatan pada tangannya, membuat meja kerja di depannya hancur berantakan.
"Pemberontakan apa? Aku bahkan tidak tertarik dengan tahta busuk itu!" Duke berteriak. "Mereka benar-benar berbohong padaku. Mereka membuat putriku menjadi alat pertukaran dengan menjanjikan kedamaian. Tapi ternyata mereka sudah bersiap-siap untuk menyerangku. Siapa yang mengira bahwa Raja dan Putranya akan licik seperti ini? Padahal anak brengsek itu selalu mengejar putriku seakan dia menyayanginya. Tapi itu hanyalah kamuflase untuk melindungi topengnya. Mereka benar-benar brengsek!" Duke semakin membenci Raja dan Denis. Dia juga membenci semua bangsawan yang terlibat.
Dia ingin membalas. Tapi kalau dia melakukan nya, berita pemberontakan akan menyebar di seluruh kerajaan. Membuat seluruh keluarga nya dalam bahaya. Dia masih memiliki bayi dalam keluarga nya, jadi dia tidak bisa bertindak gegabah untuk menyerang.
"Ah! Evaku yang malang!" Duke merasa menyesal karena sudah membuat nya terlibat dalam konflik seperti ini. Kalau saja dia tidak menyetujui pertunangan itu. Dia melakukan nya karena itikad baik raja dan ratu. Ditambah mereka sudah menjadi teman dekat cukup lama. Diana juga berteman baik dengan ratu. Jadi Duke benar-benar mempercayai mereka.
Tanpa sadar mata Duke memerah karena dia menahan tangisnya. Duke ingin membatalkan pertunangan itu. Tapi dia tidak bisa. Kalau dia melakukan nya secara sepihak maka faksi kerajaan akan membuat mereka sebagai pihak yang memberontak.
"Aku ingin membatalkan pertunangan Eva secepat mungkin..." Duke bergumam.
Mata Robert berbinar cerah saat mendengar nya.
"Tapi itu akan sulit di situasi sekarang" kata Duke sedih. "Posisi keluarga kami sangat lemah sekarang. Kalau aku memutuskan pertunangan maka mereka akan menganggap kami bersiap untuk memberontak. Aku pun harus bersiap menerima serangan dari semua Bangsawan. Aku tidak takut untuk menghadapinya nya sendiri. Tapi aku punya bayi dan istri yang sangat rentan dengan pertarungan. Aku tidak ingin mereka berada dalam bahaya" Duke berkata dengan ekspresi putus asa.
Mata Robert meredup kembali.
Kalau pertunangan dibatalkan. Dia akan diserang semua pihak. Sementara dia harus menghadapi semuanya sendiri.
Untuk faksinya sendiri, Duke tidak mempercayai nya. Duke tidak mempercayai faksi Court. Baginya mereka seperti parasit. Selalu menggunakan namanya untuk setiap hal yang mereka lakukan. Dan rumor buruk terbentuk karena hal itu.
Kalau mereka benar-benar diserang dari segala arah, faksi Court tidak akan membantu mereka. Orang-orang licik itu hanya akan membuat dua pilihan. Berdiam diri atau beralih ke faksi kerajaan untuk kemuliaan yang lebih besar.
"Kami akan membantu" Robert membuka mulutnya. Dia menatap Duke dengan penuh tekad. "Menara Sihir akan membantu Duke Court. Eva adalah Cucu angkat dari Dean. Saat bahaya terjadi, bagaimana mungkin Dean tidak akan membantu. Jadi tenang saja" Kata Robert percaya diri. "Kalau hal paling buruk terjadi. Kami akan berada di sisimu."
__ADS_1
Mata Duke menyipit. "Terima kasih" katanya tulus. "Tapi aku tidak akan melakukan hal seperti itu. Aku tidak ingin dianggap pemberontak. Aku akan bertanya langsung pada Raja dan Ratu. Lagipula mereka adalah orang yang dekat denganku sejak kami masih kecil. Aku harus tahu isi pikiran mereka. Setelah mengetahui semua itu, aku akan memutuskan pergerakan selanjutnya" kata Duke tegas. "Apakah aku harus menyerang atau mundur..."
Robert mengangguk. "Beritahu kami kalau kau membutuhkan bantuan. Kami akan membantu"