Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 6 Diana dan Ren (2)


__ADS_3

Beberapa tahun berlalu. Diana sekarang sudah berumur 17 tahun. Gadis kecil itu sekarang tumbuh menjadi gadis yang cantik.


Diana dan ibunya, Emerta, terus mengembara ke banyak sekali kerajaan. Tapi tentu saja mereka belum mengelilingi seluruh dunia walaupun sudah mengembara selama bertahun-tahun. Karena mengelilingi dunia itu sangat mustahil. Terutama kalau kau menemukan laut yang sama sekali tidak diketahui ujungnya.


Hari ini, Diana dan ibunya tinggal di sebuah kerajaan kecil lainnya. Kerajaan ini bahkan lebih kecil dari kerajaan Garbiur. Tapi tentu saja ini bukan kota Kejahatan.


Tempat ini bernama Tiest. Tiest adalah sebuah kota kecil di tengah hutan elf. Kota ini dipimpin oleh seorang raja manusia, dan tidak berkoalisi dengan kerajaan apa pun. Karena itulah dia membentuk kerajaan sendiri dengan nama Kerajaan Tiest.


Kerajaan Tiest adalah tempat tinggal campuran bagi manusia dan elf. Bisa dibilang ini adalah kota perdagangan untuk ras manusia dan elf. Tidak ada yang memiliki rumah tetap di tempat ini kecuali para pedagang. Tapi tempat ini mempunyai banyak sekali penginapan karena harus menyambut tamu asing yang baru setiap harinya. Oleh karena itu, kerajaan Tiest sering disebut sebagai kota perdagangan di kerajaan lainnya.


Walaupun manusia dan elf dapat bercampur di tempat ini, bukan berarti keamanan di tempat ini sangat tinggi. Raja sama Sekali tidak peduli dengan keamanan para turis.


Jadi banyak juga penjahat yang berkeliaran di tempat ini. Terutama para penangkap elf. Mereka mengincar para elf yang datang ke tempat ini, lalu menjual mereka ke pedagang budak. Target mereka adalah anak-anak elf. Untuk elf dewasa adalah pengecualian karena kekuatan mereka tidak cukup mampu untuk menandingi elf dewasa. Tapi tidak banyak anak-anak elf di tempat ini juga. Jadi para penangkap elf itu cukup kesulitan karena hal itu.


Diana dan ibunya tinggal sebentar di kerajaan ini karena mereka ingin menghadiri pertemuan di hutan elf.


Ya, semua komunitas penyihir gelap mendapatkan panggilan dari raja para elf gelap. Semua orang tidak tahu kenapa pertemuan itu diadakan. Tapi mereka tetap memilih untuk datang. Mereka berpikir akan ada keuntungan dadakan karena yang memanggil mereka bukanlah orang sembarangan. Dia adalah raja dari elf gelap yang diagungkan sebagai orang terkuat.


Pertemuan itu akan diadakan besok. Diana dan ibunya sudah tinggal di kota ini selama seminggu untuk persiapan awal.


Akhirnya hari esok pun tiba. Diana dan ibunya berada di titik kumpul bersama dengan penyihir gelap lainnya.


Titik kumpul itu berada di hutan elf bagian selatan. Dalam sekejap titik kumpul sudah dipenuhi oleh puluhan penyihir gelap manusia.


Setelah semua orang berkumpul. Di bagian depan mereka muncul pintu masuk yang mengarahkan ke bagian hutan tempat tinggal para elf gelap. Ada sebuah petunjuk jalan berbentuk cahaya perak yang mengarahkan mereka.


Kerumunan penyihir itu pun mulai berjalan ke arah yang ditunjuk oleh cahaya itu. Ternyata para elf gelap itu menyembunyikan tempat tinggal mereka di hutan dengan formasi sihir. Kalau formasi sihir tidak dibuka. Tidak akan ada yang tahu hutan tempat tinggal mereka. Jadi para pengunjung baru hanya akan berputar-putar di hutan itu tanpa menemukan apapun.


Diana dan ibunya pun masuk ke dalam hutan elf. Mereka cukup kagum dengan pemandangan yang ada di depan mereka.


Awalnya, Diana mengira hutan elf gelap akan dipenuhi dengan aura gelap dan kesuraman. Tapi itu tidak benar.


Tempat tinggal mereka sama saja seperti hutan biasa. Penuh dengan pepohonan hijau dan langit yang biru. Mereka melihat banyak sekali rumah pohon yang dibangun di atas pepohonan. Rumah pohon itu adalah tempat tinggal para elf.


Saat rombongan itu sudah memasuki kawasan tempat tinggal elf. Mereka bisa melihat beberapa prajurit elf yang menunggu di depan gerbang.


"Selamat datang." Mereka menyapa. "Ikuti kami untuk ke tempat yang mulia"


Semua orang mengangguk. Ada sekitar lima puluhan penyihir manusia. Mereka masuk ke desa elf secara rombongan dan menarik perhatian semua elf gelap.


Para elf gelap melihat mengeluarkan kepala mereka dari jendela, mengintip rombongan manusia asing yang masuk ke dalam desa mereka.


Mereka diarahkan untuk menuju ke istana. Istana para elf terlihat lebih besar dari istana manusia. Hanya saja aura tempat itu penuh dengan kegelapan. Dan terlihat seperti reruntuhan kuno daripada sebuah istana yang mewah.


Diana melonggo saat masuk ke dalam istana elf karena ini pertama kalinya dia menginjakkan kaki di tempat sebesar ini.


Akhirnya mereka tiba di aula. Di tengah aula ada sebuah kursi singgasana yang sangat tinggi. Ini adalah singgasana untuk sang Raja.


Raja Elf itu menunggu mereka dengan malas di singgasana nya. Penampilan raja itu tampak seperti manusia pada umumnya. Hanya saja seluruh kulit nya berwarna gelap dan telinganya panjang seperti elf pada umumnya.


Dia memiliki wajah yang tampan. Bahkan dia populer di kalangan elf perempuan. Tapi dia selalu mengeluarkan aura dingin dan membunuh yang kuat, sehingga para wanita itu enggan mendekati nya dan hanya melihat nya dari jauh. Sayangnya dia tidak menyadari hal itu. Sehingga dia menganggap dirinya sangat menyedihkan.


"Selamat datang" Raja elf gelap itu berkata dengan nada bosan. Dia menatap kerumunan di bawahnya. Mereka terlihat seperti semut baginya.


Raja elf itu menompang dagunya dengan tangannya sambil menatap malas. "Aku tidak akan menyangka bahwa sebanyak ini yang akan datang. Padahal kalian belum mengetahui topik apa yang ingin kubicarakan" katanya dengan nada mengejek.

__ADS_1


"Kami datang kemari hanya untuk menunjukkan rasa hormat kami padamu, raja" salah satu dari rombongan manusia itu mencoba keberuntungan nya untuk memberikan pujian kepada sang raja.


"Oh?" sang raja mengangkat alisnya. " Kalau aku menyatakan aku membutuhkan manusia percobaan untuk eksperimen ku. Apakah kau rela untuk mengajukan dirimu?"


Manusia itu membeku di tempat. Kakinya bergetar ketakutan.


Raja elf itu tertawa kecil. "Hahaha, aku hanya bercanda" jawabnya.


"Terima kasih raja" manusia itu bernapas lega dan mengundurkan dirinya kembali ke dalam barisan rombongan.


"Tapi perkataanku sedikit benar. aku memang membutuhkan manusia untuk penelitian ku" perkataannya membuat suasana di aula itu menjadi membeku. Dia tersenyum "Aku belum selesai bicara. Percobaan ku tidak akan membunuh kalian. Aku hanya ingin kalian menyumbangkan mana gelap kalian padaku. Aku hanya membutuhkan lima orang penyihir dengan mana terbanyak. Kalian tidak akan melakukan pekerjaan ini secara sia-sia. Aku akan memberikan kalian imbalan."


Raja elf itu membuka ruang dimensinya. Dia mengeluarkan lima ramuan peningkat mana tingkat tinggi. Lima buku sihir gelap tingkat tinggi dan juga lima senjata sihir.


"Ini adalah hadiah bagi yang terpilih" Dia tersenyum.


Mata semua manusia yang ada di ruangan itu langsung berbinar. Mereka memandang semua harta karun itu dengan mata yang penuh dengan keserakahan.


"Aku hanya memilih lima" raja elf itu mengangkat kelima jarinya. "Jadi aku sudah menyiapkan tes untuk itu" Dia memandang para prajurit elf yang menunggu di tepi aula. "Bawa benda itu kemari"


Para prajurit itu mengangguk patuh. Mereka mengambil sebuah meja dengan bola kristal biru di atasnya. Lalu menggeser meja itu ditengah-tengah aula.


"Aku akan mengetes kapasitas mana kalian dengan bola kristal ini. Kalau kalian layak, maka bola kristal ini akan bersinar. Semakin kuat sinarnya, maka semakin banyak kapasitas mana kalian" raja elf itu menjelaskan.


Rombongan manusia itu mengangguk mengerti. Akhirnya mereka pun membentuk barisan untuk mengetes mana mereka pada bola kristal.


Diana ikut berbaris. Dia berada di belakang ibunya.


Setelah beberapa saat, tibalah giliran mereka. Ibu Diana berhasil membuat bola kristal itu menjadi sangat terang. Dan terpilih sebagai salah satu kandidat. Tapi saat Diana mengetes kekuatan nya, tidak ada mana gelap yang keluar dari tubuhnya. Dan bola kristal itu tidak memberikan reaksi apapun.


Dia gagal secara otomatis. Diana hanya bisa menurunkan kepalanya kecewa. Mana gelap di dalam tubuhnya itu seperti anak nakal. Hanya muncul kalau dirinya berada dalam bahaya. Tapi itu tidak akan muncul kalau dia menginginkan nya. Jujur saja, Diana cukup kecewa karena hal itu. Tapi dia hanya bisa menghela napas pasrah dan mundur ke belakang barisan.


Diana tidak ingin berpisah dari ibunya, jadi dia tidak mau pergi dari istana. Dia tetap mengekor di belakang ibunya. Emerta juga tidak tega membiarkan putri nya itu berada di dunia luar sendirian. Jadi dia membiarkannya.


Tapi raja elf itu melihat keanehan. Dia hanya menginginkan lima manusia. Tetapi kenapa ada enam manusia di istana miliknya?


"Siapa tamu tak diundang?" tanyanya dingin. Semua orang di tempat itu langsung membeku.


"Maafkan saya tuan. Aku ingin membawa anakku." Kata Emerta dengan berani.


Mata Raja elf itu menyipit. "Siapa kau berani memerintah ku?" teriaknya. Suaranya bergema dan membuat seluruh orang di aula itu bergetar ketakutan. Bahkan wajah Emerta memucat.


Hanya satu orang yang tidak terpengaruh oleh auranya. Orang itu adalah Diana. Gadis itu menatap raja elf dengan pipi cemberut dan tatapan kesal.


Diana merasa kesal dengan raja elf itu. Diana berpikir bahwa orang itu terlalu galak dan menyeramkan. Orang seperti itu tidak akan bisa bergaul dengan orang lain. Dan pasti dia dihindari oleh banyak orang. Dan yang pasti nya dia cocok untuk hidup sendiri. Tapi kenapa dia menjadi raja?


"Kakek, kau terlalu galak. Jangan memarahi ibuku seperti itu. Dia sama sekali tidak memerintahmu. Kalau kau selalu galak seperti itu, semua orang akan membencimu" Diana berkata dengan berani dengan menempatkan kedua tangan di pinggangnya. Diana memanggil raja elf itu kakek karena dia mendengar rumor bahwa pria itu sudaj berumur ribuan tahun.


Semua orang membelalak kaget saat mendengar perkataan Diana. Mereka tidak menyangka bahwa anak itu berani mengatakan hal seperti itu! Anak itu bahkan memarahi raja mereka secara terang-terangan. Dalam pikiran mereka anak itu sudah mati.


Bahkan Emerta bergidik ngeri. Dia langsung menarik anaknya ke dalam pelukannya.


"Apa yang kau lakukan!"


"Humph!" Diana hanya merenggut kesal.

__ADS_1


Urat-urat kekesalan muncul di kepala raja elf itu. Dia berdiri dari singgasana nya dengan aura yang sangat dingin. Mereka yang tidak bisa menahan aura itu jatuh berlutut. Bahkan Emerta berusaha bertahan untuk tidak berlutut sampai kakinya bergetar.


Hanya Diana yang tidak merasakan efek apapun. Semua orang mengernyit bingung saat tahu gadis itu bisa menatap raja elf dengan berani.


"Kakek, berhenti mengintimidasi orang lain dengan wajah jelekmu!" Kata Diana dengan pipi cemberut.


Semua orang kembali mematung. Mereka bahkan tidak bisa mengendalikan rasa takut mereka dan tubuh mereka seperti akan meleleh. Mereka takut raja elf akan melampiaskan amarahnya pada gadis kecil itu kepada mereka juga. Padahal mereka tidak melakukan apapun.


Raja elf itu melotot. Dia melambaikan tangannya, TAK! Dia memukul kening Diana.


"Kakek, kau benar-benar kejam!" protes Diana sambil membungkuk. Dia menutupi dahinya yang kesakitan dengan lengannya.


"Kau dikurung sebagai hukuman. Jangan berani berkeliaran di istanaku" Dia melihat para prajurit untuk menahan Diana. "Bawa dia ke kamar tamu dan kunci" katanya. Lalu raja elf itu melenggang keluar aula.


"Tuan, aku mohon ampuni putriku. Dia masih muda, karena itu dia tidak bisa mengendalikan emosi nya" Diana menghentikan raja elf itu.


"Aku tidak akan melukai nya. Aku akan membebaskan nya saat tugasmu sudah selesai" ini adalah keputusan mutlak dari raja elf itu sebelum dia pergi meninggalkan aula istana.


Diana terus memberontak saat prajurit elf itu membawanya. Tapi ibunya tidak melakukan apapun dan juga hanya memberi nya tatapan "jangan buat masalah lagi" sebelum pergi dengan penyihir lainnya. Jadi dia hanya bisa pasrah saat di bawa ke dalam kamar terkunci.


Diana benar-benar tidak senang dikurung. Walaupun ada beberapa pelayan yang mengantarkan makanan untuknya. Walaupun fasilitas di kamar itu lengkap. Dia bisa membersihkan diri dan juga mendapat pakaian ganti. Tapi dia tidak suka dikekang.


Sampai akhirnya dia merencanakan sesuatu dalam pikirannya. Dia melihat jendela besar di kamarnya dan berencana untuk melarikan diri lewat situ.


Tapi Diana sedikit bingung karena dia sama sekali tidak tahu sihir terbang. Jadi dia harus berusaha memanjat dinding agar bisa keluar. Tapi dinding itu sangat tinggi. Walaupun dia masih berada di lantai dua istana.


Tapi Diana tidak menyerah. Saat tengah malam dia menjalankan aksinya. Dia memanjat keluar dari jendela. Diana agak menyesal. Kalau saja dia belajar Sihir dengan baik. Dia tidak akan jadi seperti ini. Seharusnya dia belajar sihir terbang. Tapi karena selalu malas, dia menunda-nunda hal itu. Lagipula Diana tahu bahwa dirinya sama sekali tidak berbakat menggunakan sihir.


Dia terus memanjat turun. Tapi dia menemukan sesuatu yang tidak terduga saat dia melewati salah satu jendela.


Dari jendela itu dia bisa melihat sosok familiar yang dikenalnya, berubah menjadi sosok raja elf yang galak itu.


"Kakak Ren!" Diana mengerjap kaget.


Ren panik saat dia mendengar suara seseorang. Lalu dia menoleh dan melihat Diana sedang menatapnya dari jendela. Gadis itu merangkak dan menempel di jendela seperti laba-laba.


"Kakak Ren!"


Wajah Ren berkedut. Dia kesal sekaligus bingung. Padahal dia sudah menggunakan sihir pendeteksi kalau ada seseorang disekitarnya. Tapi dia sama sekali tidak bisa mendeteksi kedatangan gadis kecil itu. Dia tidak tahu alasannya.


Gadis itu tidak terpengaruh oleh aura miliknya. Dan juga keberadaan gadis itu sulit dideteksi oleh orang lain. Kalau dia dilatih dengan benar, dia bisa menjadi pembunuh terkenal. Walaupun tidak mungkin Diana akan setuju dengan pikiran itu.


Ren menggunakan sihirnya untuk menerbangkan gadis kecil itu masuk. Diana sedikit kaget saat tahu tubuhnya mengambang dan secara perlahan berhenti mengambang saat dia berada di depan Ren.


Tanpa pikir panjang, Diana langsung memeluk Ren. "Kakak Ren~" serunya senang. "Kita bertemu lagi."


Ren mengernyit bingung. "Siapa kau?"


Diana tersentak. Tapi hanya sebentar sebelum matanya melotot menatap Ren. "Kau pernah menolongku waktu kecil. Kau tidak ingat? Aku Diana!"


Ren benar-benar tidak ingat. Dia tidak berbohong. Dia menolong banyak sekali anak kecil selama beberapa tahun ini dan dia tidak bisa mengingat nama anak-anak yang ditolong nya.


Wajah Diana berubah sedih. "Kakak Ren, kau melupakanku...Apa aku memang tidak sepenting itu..." katanya lirih.


Ren merasa bersalah. Jujur saja Ren sangat lemah kalau melihat anak kecil sedih atau menangis "Aku tidak akan melupakanmu lagi. Maafkan aku"

__ADS_1


"Oke~" kata Diana senang. Dia tidak akan pernah tahu bahwa di masa depan, Ren akan melupakannya lagi.


Babnya terlalu panjang karena author malas untuk memisahkan nya jadi dua bab 😅🤣


__ADS_2