
Setelah konferensi itu selesai, Eva bisa melihat bahwa Sayn dan Robert menghampirinya secara bersamaan. Robert membawa Dean Wason bersamanya.
Eva tersenyum lebar saat dia melihat orang-orang yang sudah lama tidak dilihatnya. Sejujurnya, Robert dan Sayn masih mengunjunginya di awal-awal kepindahannya ke Albion. Tapi kedua pria itu tidak mengunjunginya lagi selama tiga tahun terakhir. Dia tidak tahu mengapa. Eva berniat mengunjungi mereka. Tapi dia tidak punya waktu karena fokus dengan penelitiannya. Tapi mereka juga masih menghubungi satu sama lain dengan alat sihir komunikasi.
Eva tidak tahu alasan mengapa Robert dan Sayn tiba-tiba menghilang. Semuanya karena Ren. Robert dan Sayn memiliki keahlian menyelinap dan menemui Eva diam-diam. Tapi semenjak Ren menaruh pengawasannya, kedua pria itu tidak bisa lagi melakukannya.
Robert pernah memasang lingkaran sihir teleportasi rahasia di kamar Eva. Dalam hitungan detik, lingkaran sihirnya menghilang dan Robert tiba-tiba diserang aura membunuh yang sangat kuat. Sayn juga pernah berteleportasi langsung dan menyelinap pada malam hari, saat Eva tertidur. Tapi dia tiba-tiba terpental dan juga ditekan oleh aura membunuh yang kuat.
Keduanya sadar bahwa Ren menjaga Eva. Tapi mereka tidak tahu mengapa elf tua itu benar-benar menunjukkan aura membunuh yang kuat pada mereka. Mereka tidak yakin bisa mengalahkannya. Sehingga keduanya menyerah secara perlahan. Lalu karena memiliki kesibukan masing-masing, mereka benar-benar tidak lagi fokus pada Eva. Sehingga rasa ketertarikan keduanya pada gadis kecil itu memudar. Walaupun mereka masih berteman baik.
Sayn dan Robert merinding saat melihat Ren menatap mereka dengan mata melotot. Tidak ada aura membunuh yang keluar, tapi entah mengapa mereka berdua merasa tertindas. Sayn hanya tersenyum pahit sementara Robert memasang wajah datar seperti tidak terjadi apapun.
"Kakek, bagaimana keadaanmu?" Eva langsung memeluk Dean Wason. Dia tidak melihat pria tua itu selama lima tahun lamanya. Tetapi penampilannya tidak berubah sama sekali. Dan Eva sangat merindukannya.
Dean Wason mengusap kepala Eva. "Kau sudah besar sekarang" dia tersenyum bahagia. "Apa kau belajar sihir dengan baik?"
Eva mengangguk antusias. "Aku mungkin bisa mengalahkanmu sekarang kakek" Eva tersenyum percaya diri.
Dean Wason langsung tertawa terbahak-bahak. "Bagus. Bagus. Aku ingin melihatnya nanti" katanya. "Cucuku memang yang terbaik" dia memuji Eva dengan lantang. "Aku dengar kau juga membuat banyak golem? Apa kau bisa memberikan beberapa golem spesial kepada kakekmu ini?"
"Tentu saja" jawab Eva langsung. "Aku juga akan memberikan alat sihir yang kuciptakan pada kakek" katanya.
"Oh" Dean Wason terlihat tertarik. "Menakjubkan. Kau sangat menakjubkan" Dia mengelus kepala Eva lagi dengan bersemangat.
"Oh, Enell. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan padamu" kata Dean Wason. Akhirnya, kedua orang itu pergi ke tempat lainnya untuk berbicara secara empat mata.
Eva mulai menyapa Robert. "Masta, lama tidak bertemu" dia tidak merasa canggung, memanggil Robert dengan panggilan seperti itu. Karena Robert masihlah guru yang berjasa padanya.
__ADS_1
Robert tersenyum. Dia merasa lega. Dia mengira mereka berdua akan berbicara dengan canggung. Dia mengangkat tangannya, ingin mengelus rambut Eva. Tapi aura membunuh yang kuat langsung menyerangnya. Hanya dalam sedetik. Tangannya membeku di udara. Lalu dia bisa melihat Ren melotot ke arahnya. Robert menarik tangannya dan tersenyum canggung.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Robert.
"Aku baik-baik saja" Eva menyadari perubahan canggung Robert. Tapi dia tidak merasakan apapun yang aneh. Dia refleks menoleh ke arah Ren sambil mengernyitkan keningnya. Tapi pria itu tersenyum cerah dan melambai padanya. Jadi dia pikir Ren tidak melakukan apapun dan menarik pandangannya lagi.
Eva berbicara sebentar dengan Robert. Lalu pria itu undur diri untuk kembali bersama Dean Wason. Lalu Eva melihat ke arah Sayn yang berdiri mematung di sampingnya.
"Bagaimana penelitianmu?" tanya Sayn, memulai topik terlebih dulu. Sesekali dia melihat ke arah Ren, takut pria itu menyerangnya.
"Bagus" jawab Eva santai.
"Kau bisa kirimkan beberapa golem lagi ke Kano? Beberapa bangsawan menginginkan golem pembersih"
"Tentu saja" jawab Eva bersemangat.
Lalu dua orang yang tidak pernah diduganya juga mendekat ke arahnya. Mereka adalah Denis dan Reina. Eva merasa canggung. Dia mundur beberapa langkah sampai berdiri sejajar dengan Ren. Lalu dia mulai menyembunyikan setengah tubuhnya.
Melihat sikap Eva yang tidak mau bertemu dengannya, Denis tersenyum sedih.
"Ada urusan apa?" Ren membuka mulutnya. Dia melirik Denis dan Reina secara bergantian. Reina yang merasa takut dengan tatapan Ren, langsung bersembunyi di balik punggung Denis.
"Aku hanya ingin menyapa teman lamaku" jawab Denis canggung dengan ekspresi datarnya.
"Kau ingin berbicara dengannya?" Ren bertanya pada Eva.
Eva melirik ke arah Denis. Perasaannya sangat rumit. Dia tidak ingin bermusuhan dengannya. Tapi dia juga tidak mau lagi berhubungan dengan pemuda itu. Bagaimana pun juga pemuda itu adalah red flagĀ yang mengikutinya. Nasibnya akan berakhir buruk jika berhubungan dengannya.
__ADS_1
Jadi Eva langsung menggelengkan kepalanya.
Denis merasakan dadanya sangat sakit saat melihat sikap Eva yang seperti itu. "Aku datang ingin meminta maaf" katanya.
Eva tidak merespon.
"Reina juga ingin meminta maaf padamu"
"Aku tidak melakukan kesalahan apapun. Kenapa aku harus minta maaf" potong Reina cepat. Dia menatap Eva dengan tatapan tajam penuh kebencian. "Kenapa aku harus minta maaf kepada pembunuh ayahku" sindirnya.
"Tutup mulutmu" kata Denis kesal.
Reina langsung terdiam.
Denis hanya bisa menghela napas, pasrah. "Aku tidak ingin bermusuhan denganmu. Dan aku harap kita masih bisa berteman baik. Aku benar-benar minta maaf dengan apa yang sudah aku lakukan" Denis membungkukan tubuhnya.
"Yang Mulia!" cegah Reina tidak setuju.
"Kau sudah meminta maaf pada ayahku, jadi tidak perlu lagi." jawab Eva acuh. "Kita bukan musuh" tambahnya lagi. Lalu Eva menarik tangan Ren dan meninggalkan keduanya.
"Kau baik-baik saja?" bisik Ren. "Aku bisa menghancurkannya kalau kau ingin" katanya dengan nada misterius.
"Tutup mulutmu" dengus Eva kesal.
"Kau sudah berani membentakku ya gadis kecil" Ren menampar bokongnya langsung di tempat. "Aku akan menghukummu nanti"
Wajah Eva langsung memerah malu. Dia tidak menyangka bahwa Ren akan melakukan hal seperti itu di tempat umum. "Aku akan membunuhmu" dia menggertakan gigi sambil mengejar Ren.
__ADS_1
Ren menghindarinya dengan mudah sambil tersenyum bahagia. Dia benar-benar merasa senang mengganggu Eva. Dia semakin bergairah melihat wajah cemberutnya, membuatnya ingin terus menganggunya.