
cerita sebelumnya:
Eva pun melawan semua orang yang mengepung nya. Satu vs banyak orang. Walaupun begitu dia bisa menangani semuanya. Dan menunjukkan bakat dan kekuatan nya yang membuat semua orang melongo. Raja Kano berambisi untuk mengambil Eva untuk dirinya sendiri. Jadi dia bersikeras untuk menangkap nya. Dan mengaktifkan alat sihir yang membuat Eva tidak bisa keluar dari istana. Sementara di sisi lain pangeran Erick mengamati Eva dengan mata berbinar karena merasa tertarik dengan kekuatan nya.
***
Raja Kano kembali sadar. Walaupun dia kesal Eva bisa menghindari semua serangan. Dia juga merasa lega karena melihat gadis kecil itu kelelahan. Yang berarti dia bisa menangkap nya dengan mudah.
Dia membuka mulutnya, ingin menyuruh semua orang menyerang Eva. Tapi tiba-tiba tongkat yang ada di tangannya menghilang dalam sekejap.
"?" dia membeku. Dan melihat sesosok pria di depannya bermain sambil mengayunkan tongkat sihirnya.
"Kau?!" Urat-urat kekesalan muncul di kepala Raja Kano.
Dia terlalu fokus pada Eva sehingga melonggarkan pengawasannya. Dia tidak sadar bahwa ada yang mendekatinya dan mencuri darinya.
"Pangeran Erick! Kembalikan alat sihirku. Ini bukan saatnya bermain-main!" Raja Kano berteriak.
Hal ini menyebabkan pangeran Erick yang berada di tengah area menjadi pusat perhatian.
"Tapi aku suka bermain" kata pangeran Erick genit sambil mengedipkan mata kirinya. Membuat Raja Kano semakin kesal.
Lalu pria itu bergerak perlahan ke arah Eva. Eva mengernyit bingung. Tapi Pangeran Erick tidak mengeluarkan aura membunuh atau pun tatapan benci padanya. Sehingga dia merasa rileks walaupun pria itu menuju ke arahnya. Dia merasa pangeran Erick bukanlah musuh.
Pangeran Erick tersenyum. Lalu dia membungkuk "Halo putri" katanya dan memberikan tongkat sihir itu dengan elegan ke arah Eva. "Hadiah untukmu"
"...." tindakan pangeran Erick membuat suasana menjadi hening sekali lagi.
"Jangan main-main!" Raja Kano berteriak, memecah keheningan. "Apa kau tidak takut kerajaan mu dalam bahaya kalau kau membantu penyihir jahat itu? Semua orang akan menganggap buruk kerajaan Albion dan kau akan diturunkan tahta dari putra mahkota." kata Raja Kano panjang lebar.
Pangeran Erick berkedip. "Pria tua itu tidak akan membiarkanku turun tahta." dia mengibaskan rambutnya dengan percaya diri. "Karena aku anak tunggal" katanya lagi sambil berkacak pinggang.
Sekarang semua orang dibuat kesal dengan perkataan Pangeran Erick. Bahkan Eva mengedipkan matanya dengan cepat karena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Pangeran Erick tiba-tiba mendekati telinga Eva dan berbisik. "Kalau kau terus menunda-nunda, kita tidak akan bisa melarikan diri"
Mata Eva terbelalak. Dengan cepat dia merebut alat sihir itu dan menonaktifkan segelnya. Lalu secara perlahan sangkar listrik itu mulai menghilang.
Pangeran Erick tersenyum. Dia ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi SYUU! Eva tiba-tiba terbang meninggalkan nya!
__ADS_1
Dia membeku sejenak sebelum akhirnya mengikuti Eva terbang.
"Tangkap mereka!" Raja Kano dengan panik menyuruh beberapa penyihir yang bisa terbang untuk menangkap mereka.
Pangeran Erick terbang di sisi Eva sambil tersenyum. "Apa imbalan ku?" katanya kemudian.
Eva mengernyitkan keningnya. "Kenapa kau membantuku?" Eva tidak percaya bahwa pangeran Erick akan membantunya seperti ini.
"Karena aku ingin" jawabnya singkat.
Eva tidak mengerti. Dia tahu bahwa pangeran Erick ini memang menyebalkan saat dia pertama kali bertemu dengannya. Tapi dia tidak pernah tahu bahwa pria itu akan semenyebalkan ini.
"Lalu kenapa aku meminta imbalan?"
"Tentu saja setiap hutang budi harus dibalas. Aku hanya ingin balasan yang setara" Pangeran Erick menepuk rambut poninya yang terangkat karena terpaan angin.
Eva meningkatkan kewaspadaan nya. Dia tahu bahwa tidak ada yang gratis di dunia ini. Pria ini membantu nya karena menginginkan sesuatu. Bagaimana kalau dia menginginkan sesuatu yang buruk. "Apa yang kau inginkan?"
"Hmmm" pangeran Erick meletakkan telunjuk di bibirnya dan bergaya seolah-olah dia berpikir keras.
"Kalau kau menginginkan sesuatu yang buruk, aku tidak akan mengabulkan nya" kata Eva dingin.
Eva langsung bersiap menyerang pria di samping nya.
"Ehhh? Tunggu dulu, tunggu dulu" pangeran Erick dengan cepat berkata. "Dengarkan aku dulu." Dia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan nya. "Bisakah kau mengajariku sihir gelap?" katanya langsung dengan nada serius.
Puft!
Eva terkejut dan hampir jatuh saking terkejutnya. Dia tersedak dan cegukan beberapa kali.
"Kau tidak apa-apa kan?" pangeran Erick refleks menepuk bahunya dengan raut wajah cemas.
"Kau gila?!" kata Eva langsung dengan mata melotot. "Semua orang benci dengan sihir gelap tapi kau ingin belajar ?!" dia masih syok.
"Memangnya salah? Sihir gelap benar-benar menarik. Terutama sihir yang kau gunakan barusan" pangeran Erick menatap Eva serius. "Dan tidak ada sihir yang jahat. Semua mana itu murni tidak tahu apa-apa. Yang jahat adalah manusia yang menggunakan sihir itu. Mereka melakukan banyak kejahatan sehingga sihir itu di cap sebagai sihir jahat. Padahal itu sangat keren" dia berkata dengan nada bijak.
"Tapi kau tahu bahwa hanya keturunan yang bisa menggunakan sihir itu. Jadi aku tidak bisa mengajarimu apapun" kata Eva langsung.
"Aku tahu" pangeran Erick merenggut sedih. "Tapi tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini. Ada banyak alat sihir dan ramuan aneh di dunia ini. Mungkin saja di antaranya ada yang bisa membuat ku memiliki sihir gelap. Tidak harus menjadi keturunan untuk memiliki itu" katanya.
__ADS_1
"Kau gila!" tembak Eva langsung. Dia melihat pria itu seperti dia melihat orang gila. "Aku tidak mau!" Eva refleks mendorong pria itu ke samping dengan kekuatan penuh, menyebabkan pria itu terlempar satu meter ke samping.
Pangeran Erick kembali mendekati nya lagi dalam sekejap, lalu meloncat-loncat di udara sambil mengelilingi nya. "Ayolah, ayolah, ajari aku oke? ayolah"
Eva merasa frustasi melihat pria itu berkata terus menerus tanpa berhenti di dekatnya. "Tidak!" tapi dia bersikeras menolak.
GRAB!
Pangeran Erick menarik lengan Eva. Lalu memegangnya erat-erat dengan mata berkantung. "Guru, jadikan aku muridmu!"
Urat-urat kekesalan muncul di kepala Eva. "Siapa yang gurumu?!" katanya marah sambil menendang kaki sang pangeran.
Pria itu langsung meringis sambil mengangguk kakinya. Lalu tiba-tiba BOM! Bola api melewati mereka dan meledak di depan mata mereka.
Karena tidak fokus, mereka lupa bahwa mereka berdua sedang dikejar banyak orang sekarang. Mereka bahkan belum melintasi kerajaan Kano.
Lalu sangkar aneh itu muncul lagi. Eva bingung, padahal alat sihir itu berada di tangannya. Sementara di tempat yang cukup jauh, Raja Kano terkekeh sambil memegang tongkat sihir lainnya.
"Kalian kira aku hanya punya satu harta huh?" katanya sombong.
"Bagaimana sekarang?" tanya pangeran Erick.
"Aku tidak tahu" Eva menggeleng kan kepalanya.
"Bagaimana kalau kita pura-pura tertangkap lalu minta tolong?" pangeran Erick berkata dengan bodoh.
Eva langsung menoleh dan menatapnya dengan tatapan tajam.
"Aku hanya bercanda" kata pria itu kemudian.
Eva memicingkan matanya. Dia merasakan sesuatu yang aneh menuju ke arahnya dari luar sangkar.
Eva menarik kerah baju pangeran Erick dan membawanya bergeser ke samping. Dan BAM! Sesuatu yang bercahaya mengenai sangkar. Eva tidak tahu apa itu tapi terlihat seperti sayatan pedang.
Lalu KRAK, KRAK, KRAK, sangkar di depan mereka retak dan meninggalkan lubang yang besar.
Eva kaget karena dia tidak menyangka bahwa sangkar listrik ini bisa dihancurkan! Dia mengira bahwa sangkar itu menyerap semua serangan sihir.
Dan pemilik serangan itu perlahan mendekati mereka. Eva bisa melihat jubah hitam dan rambut ungu yang sangat familiar.
__ADS_1
"Nenek!"