
Ini adalah sesi isi pikirannya Denis, author akan membuat sesi tokoh lainnya nanti. Kalian pasti penasaran kenapa Denis sangat tidak menyukai Eva bukan? Beginilah ceritanya dari sudut pandang Denis. Selamat membaca ~
***
Namaku adalah Denis Well. Aku merupakan salah satu pangeran tertua dari kerajaan Well. Dan aku mempunyai seorang adik lebih muda 2 tahun dariku, dari ibuku yang lain. Yah, kau tahu ayahku mempunyai banyak istri, tapi dia hanya memiliki dua anak laki-laki dan tidak memiliki anak perempuan. Aku sangat risih saat ayahku menatap kami dengan kecewa, sambil menggumamkan 'aku ingin anak perempuan' berkali-kali. Kenapa dia menyalahkan ketidakmampuannya memproduksi anak perempuanĀ kepada kami? Padahal kami tidak tahu apa-apa.
Saat muda, aku tumbuh dengan baik. Tapi hal itu tidak berjalan mulus oke. Aku tinggal di istana, karena itu tercemar lebih cepat. Skema dan rencana licik tersebar di sekitarku, aku tidak mungkin berpura-pura tidak tahu.
Saat itu aku masih lima tahun. Aku duduk bersama ayahku, dan melihat bagaimana proses rapat kerajaan dimulai. Dan aku benar-benar kagum. Ayahku adalah pemimpin di sini, pemegang kekuatan utama. Dan aku kelak akan menggantikannya. Melihat para bangsawan itu memberikan sikap hormat pada keluarga kami saat berjalan di depan mereka, membuatku berpikir bahwa kami benar-benar berkuasa.
Tapi, tidak sampai saat itu. Aku yang berumur lima tahun hanya bisa melihat apa yang di depanku, tapi tidak bisa melihat yang terjadi dibelakangku. Sampai aku benar-benar mendengar perkataan semua bangsawan itu. Aku minta maaf, itu tidak semuanya, tapi banyak dari mereka yang berkumpul dan merencanakan sesuatu.
Aku, yang saat itu berumur delapan tahun mendengar semua percakapan mereka. Melihat ekspresi mereka dari balik layar. Mereka benar-benar mengerikan....para bangsawan itu...
Mereka memasang wajah sopan dan ramah di depan kami, tapi memasang wajah ganas penuh dengan aura pembunuh di belakang kami. Para bangsawan itu merupakan para bangsawan yang berencana untuk memberontak dan menggulingkan kekuasaan keluarga kerajaan. Aku benar-benar tidak tahu kenapa mereka ingin menggulingkan keluarga kami. Sampai aku menemukan fakta itu...
Keluarga kerajaan Well ternyata bukanlah pemilik asli kerajaan ini. Kami merebutnya dari keluarga kerajaan terdahulu, keluarga kerajaan Court. Terjadi perang yang cukup lama sampai kedua faksi itu mulai memutuskan untuk berdamai. Keluarga Well menang, dan keluarga Court turun tahta. Hal ini berlangsung selama beberapa generasi.
Tetapi, akhir-akhir ini faksi keluarga Court yang masih tersisa mulai membangun kekuasaan dalam istana. Mereka mulai menjadi bangsawan yang memiliki jabatan penting. Lalu, ada satu orang kunci utama yang menggerakan faksi itu untuk bangkit, itu adalah jendral Court. Jendral Court merupakan satu-satunya keturunan dari keluarga kerajaan Court yang masih tersisa. Dia terkenal akan keganasannya di medan perang. Dia juga dikenal sebagai pendekar pedang terkuat di seluruh kerajaan ini, belum ada yang mengalahkan reputasinya. Dan yang lebih penting, rakyat sangat menghormatinya.
Tapi, jendral Court tidak terlibat dalam politik istana. Dia mengasingkan diri dari ibukota dan mendirikan mansion di sebuah desa. Saat aku mendengar itu, aku merasa lega. Aku bersyukur orang itu tidak haus akan kekuasaan. Atau akan ada perang saudara yang terjadi jika kedua faksi utama terlalu ambisius.
Aku juga tidak pernah melihat sosok jendral ini. Dia jarang ke istana. Saat keistana pun, dia hanya berkunjung sebentar. Tapi mendengar cerita dari mulut orang-orang aku berpikir dia adalah orang yang hebat dan aku menghormatinya.
Tapi itu semua berubah sampai aku melihat ayahku yang selalu menunjukkan wajah cerianya, menunjukkan wajah sedih dan menangis. Baru kali itu aku melihat raja negeri ini menangis. Ayah berkata dia sudah tidak sanggup untuk mengontrol para bangsawan itu. Dan memperingatiku untuk selalu berhati-hati terhadap semua bangsawan yang kutemui. Dan penyebab semua bangsawan itu tidak terkendali, tidak lain adalah jendral Court. Jendral Court selalu menenangkan peperangan dan membangun reputasi yang sangat kuat di negeri ini. Sehingga faksi kerajaan Court semakin yakin bahwa mereka bisa merebut tahta kembali dengan bantuan Jendral Court.
Ayahku putus asa dan dia mengambil jalan terakhir untuk bisa menyelamatkan kami sekeluarga. Dia mengirim surat pada Duke Court agar berkunjung ke istana membawa keluarga intinya, tujuannya adalah....pertunangan....
Ayah berharap dengan menyatukan dua keluarga kerajaan, kedamaian dapat terjadi.
Saat aku berumur sembilan tahun, aku menghadiri pertemuan itu. Saat itulah aku melihat sosok Duke Court yang sebenarnya. Dia adalah seorang pemuda tampan dan gagah. Auranya sangat menindas, menandakan 'orang yang mengangguku akan mati'. Aku bahkan tidak mengerjap saat melihatnya, aku mengaguminya.
Tapi...
Duke Court itu sangat kurang ajar! Dia memanggil ayahku dengan tidak hormat. Tidak pernah ada bagsawan yang bersikap seperti itu pada ayahku. Dan ayahku tidak marah. Kenapa? Karena dia tidak berkutik. Dia tidak mampu melawan atau pun memarahi Duke Court. Dia takut pihak lawan menjadi tidak senang dan konflik menjadi melebar. Tapi aku benar-benar tidak suka itu! Dia bahkan mengataiku sebagai bocah lemah dan pengecut dengan mata meremehkannya. Sekarang aku tahu, keadian yang direncanakan para bangsawan itu mungkin terjadi! Apalagi dengan sikap Duke Court yang seperti ini. Dia benar-benar tidak takut denga keluarga kerajaan Well!
__ADS_1
Dan disaat itulah pertama kali aku melihat putri tunggalnya. Putrinya mewarisi gennya, seluruh fiturnya hampir mirip seperti Duke Court. Dia memiliki rambut pirang dan kulit seputih salju. Namanya adalah Eva. Kesan pertamaku melihatnya, dia adalah seorang anak perempuan yang cantik. Dan dia juga tidak mengeluarkan aura menindas seperti Duke Court. Tapi, tatapannya sangat tajam. Entah mengapa aku merasa gadis kecil sepertinya menyembunyikan banyak hal, walaupun ini hanya dugaan....
Saat para orang dewasa itu pergi, kami ditinggal berdua. Aku mengamati gadis itu. Kelihatannya dia agak pendiam. Apa dia tidak suka padaku? Tapi tiba-tiba dia mulai mengajakku berbicara.
Oh? Aku menepis pikiranku sebelumnya. Gadis itu tampaknya menyukaiku.
Aku berusaha menjawabnya dengan susah payah. Aku bingung dalam pemilihan kata, sehingga aku menjawabnya dengan kata yang singkat.
Tapi kenapa gadis kecil itu sangat kaget dengan sikapku. Dia beberapa kali tersedak. Aku sangat tersinggung tahu. Apa suaraku sejelek itu?
Lalu dia mulai mengeluarkan kata hinaan!
Aku tidak terima ini! Dan aku mulai membentaknya.
Aku pikir dia akan menangis. Karena gadis-gadis kecil sangat suka menangis kau tahu, aku sangat risih dengan hal itu.
Tapi aku sangat menyesali tindakanku kalau gadis kecil itu menangis.
Tapi dugaanku salah. Gadis itu berbalik membentakku. Kami saling bentak dan saling menghina.
Lalu saat amarah kami sampai puncak. Gadis itu berkata dia tidak ingin bertunangan.
Memangnya siapa yang ingin bertunangan dengan dia? Aku juga tidak mau kau tahu!
Sampai akhir kami tetap saling membentak, dan aku mengancamnya saat dia mengucapkan kata-kata 'bahwa dia akan mati kalau kami tidak bertunangan'.
Aku berharap aku tidak bertemu gadis yang menjadi tunanganku itu. Aku tidak menyukainya! Dia gadis yang kasar.
Tapi siapa yang mengira bahwa ayahku sudah menyebarkan berita di kalangan bangsawan bahwa kami bertunangan? Benar-benar ayah yang tidak sabaran! Walaupun pertunangan kami belum tersebar keluar karena kami belum dewasa, tapi tetap saja aku tidak menyukainya! Ayah itu bahkan berkata bahwa dia akan mengumumkan secara resmi pertunangan kami saat Eva berumur 12 tahun. Cih, aku tidak mau! Tapi aku juga tidak berdaya....
****
Saat aku berumur sepuluh tahun. Aku akan mengadakan pesta teh untuk memulai debutku di kalangan bangsawan. Aku benar-benar tidak ingin mengundang tunanganku yang kasar itu! Tapi ayah bersikeras, karena itu tidak sopan kalau tidak mengundangnya. Bahkan ibuku menitipkan sebuah jepit rambut sebagai hadiah, menyuruhku menyerahkannya pada gadis itu. Aku benar-benar tidak mau! Walaupun aku berteriak keras dalam hati untuk memberontak, tapi aku benar-benar tidak bisa melawan kedua orang tuaku....
Pesta teh pun tiba. Aku melihat gadis itu datang. Aku sengaja mengabaikannya dan tidak mempedulikannya di depan umum seperti ini, agar mempermalukannya. Agar dia pergi dari pesta ini. Tapi, walaupun sudah diejek oleh bangsawan lainnya, pertahanan gadis itu tetap kokoh. Tidak ada raut wajah sedih, hanya ada raut wajah tidak peduli! Dia benar-benar tidak mempedulikannya! Entah kenapa saat melihatnya tidak peduli seperti itu membuatku kesal. Aku benar-benar ingin melihatnya marah. Sikap tidak pedulinya itu melukai harga diriku. Bahkan dia memberiku senyum mengejek!
__ADS_1
Lalu terjadilah kekacauan itu. Kekacauan yang terjadi selama acara. Gadis itu mulai berkelahi dengan gadis bangsawan lainnya. Aku berusaha menghentikannya, tapi gagal.... Kekacauan sudah terjadi.
Saat kekacauan semakin menjadi, aku langsung meminta maaf pada semua tamu yang hadir, dan membawa pembuat onar itu menjauh dari tempat kejadian.
Gadis itu meronta-ronta dalam peganganku. Tapi aku tidak mempedulikan nya. Entah kenapa aku suka memeluknya seperti ini? Kenapa dia begitu empuk?
Saat kami tiba di kamar, aku langsung menceramahinya. Aku benar-benar tidak suka gadis yang arogan dan pemberontak seperti dirinya. Aku menyuruhnya untuk menjadi gadis yang baik dan sopan. Tapi tetap saja dia tidak mendengarkannya dan terus memberontak.
Gadis itu menyalahkanku, dan mulai menangis. Lalu dia bilang dia membenciku....
Entah kenapa hatiku sakit saat dia membenciku, melihatku tajam dengan mata kecilnya. Aku benar-benar tidak suka perasaan ini.
Aku mengalah. aku menjelaskan Kenapa aku bersikap seperti itu dan terus membujuknya untuk bersikap lembut. Aku tidak tahu dia mendengarkan aatu tidak. Tapi secara perlahan tangisannya berhenti. Aku senang...
Kurasa dia tidak membenciku lagi bukan? Aku tidak mau dibenci olehnya.
Tapi kemudian dia menyatakan bahwa aku hanya temannya.
Kenapa? Aku benar-benar bingung. Kita bertunangan, bukan berteman. Aku tidak menerima ini.
Aku langsung menjelaskan semua kewajiban yang harus dipatuhinya! Dia harus sadar diri bahwa dia tunanganku!
Saat aku menjelaskan kewajiban-kewajiban seorang tunangan dengan serius, gadis itu malah menjadi memerah malu.
Kenapa? Aku tahu ini pembahasan orang dewasa. Tapi kita juga akan menjadi dewasa juga kan? Kenapa dia harus malu? Pengetahuan sejak dini itu lebih baik, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Tapi...yah...ini tidak buruk....
aku menyukai wajahnya yang memerah malu dan amarahnya yang lucu itu.
Entah kenapa aku semakin ingin menggodanya? Ada apa denganku?
Pesta teh itu berakhir begitu cepat. Aku ingin bersama dengan gadis itu lebih lama. Tapi gadis itu pulang dengan cepat. Aku benar-benar kecewa. Aku harusnya menahan kepergiannya dan menyuruhnya untuk menginap....
***
__ADS_1