
cerita sebelumnya:
Eva memenangkan pertandingan. Reruntuhan itu memberinya sebuah piala yang merupakan artefak kuno. Eva perlu membuat kontrak darah terlebih dahulu agar bisa menggunakan nya.
Ular hitam itu menyelinap ke dalam artefak piala dan secara tidak sengaja terkena tetesan darah Eva. Tetesan darah Eva mengejutkan nya dan terasa sangat enak. Dia ingin memakan Eva, tapi Rexus terbangun dan refleks memakan ular itu tanpa sadar.
***
"Apa yang terjadi?" tanya Robert. Semua orang tidak menyadari keanehan yang terjadi. Semua ini karena kejadian ini terlalu cepat dan ukuran ular itu sangat kecil. Mereka hanya tahu binatang sihir milik Eva Tiba-tiba terbang dengan cepat.
"Tidak apa-apa. Dia hanya memakan benda aneh" jawab Eva ambigu. Dia meletakkan Rexus dalam pangkuannya sambil terus memukul punggung nya untuk memuntahkan makanan yang dimakannya. Walaupun itu mustahil.
"Kadal itu semakin besar. Atau aku salah lihat?" gumam Denis tiba-tiba.
Mendengar perkataan Denis, aku langsung mengamati Rexus.
Dia memang bertambah besar!
Dulu dia hanya sebesar telapak tanganku. Tapi sekarang sudah sebesar lenganku! Walaupun bentuknya masih tidak banyak berubah -masih seperti kadal, kaki empat, ekor dan sisik. Sayap nya masih sekecil sayap capung, belum tumbuh. Tapi dia masih bisa menggunakan nya untuk terbang walau pun itu cukup lucu.
Aku benar-benar mengabaikan hal ini. Aku tidak tahu apakah ini normal atau tidak. Tapi baru beberapa hari, dia sudah semakin besar. Apa karena dia terlalu banyak makan? Mungkin aku akan membatasi makanannya nanti. Dia harus diet! Kadal ini terlalu rakus! Mungkin saja naga obesitas akan terbentuk di masa depan karena dia terlalu banyak makan.
Tapi aku sedikit bingung bagaimana aku meletakkan nya saat dia menjadi naga dewasa nanti. Bukankah akan membuat kehebohan kalau memelihara seekor naga di rumahmu?
"Dia memang semakin besar. Apa tingkatnya naik?" sambung Sayn.
"Aku tidak tahu. Mungkin dia terlalu banyak makan" jawabku ambigu.
"Kau!" Tiba-tiba Reina berteriak sambil beranjak dari kursinya. Semua orang tersentak kaget dengan tingkah nya.
"..." Kami menatap Reina dengan ekspresi bingung. Kenapa dia tiba-tiba berteriak?
Reina sangat frustasi. Dia tidak tahu apa yang dipikirkan ular itu untuk melompat ke arah Eva dan dimakan oleh kadal peliharaan nya.
Awalnya dia percaya diri bahwa ular itu tidak akan mati hanya karena dimakan kadal kecil. Tapi saat dia mulai mengirimkan telepati, tidak ada yang menjawab nya. Dia sudah mencobanya berkali-kali tapi ular itu tidak menjawab nya.
Reina menjadi takut. Dia tidak pernah menduga ular berumur ratusan tahun akan mati hanya karena dimakan kadal!
__ADS_1
"Sama sekali tidak masuk akal! Keluarkan yang kau makan!" teriak Reina tiba-tiba sambil menunjuk Rexus. Bahkan Denis tersentak kaget melihat ekspresi Reina sekarang. Dia tidak pernah menduga gadis selugu itu bisa berekspresi mengerikan seperti itu.
Rexus mengigil ketakutan. Eva memeluknya sambil menatap tajam Reina. "Apa yang kau lakukan? Kenapa kau berteriak seperti hewan liar tiba-tiba?"
Tubuh Reina bergetar karena dia berusaha menahan amarahnya. Kemarahannya benar-benar sudah mencapai puncak sekarang. Dia takut dia akan meledak.
"Hentikan! Apa yang kau lakukan?" kata Denis sambil menatap Reina tajam.
Reina ingin mengamuk. Tapi saat dia melihat Denis menatapnya dengan jijik, dia langsung tersadar. Dia sadar bahwa dia melakukan hal yang salah kali ini karena tidak bisa mengontrol emosi nya. Sehingga meninggalkan kesan yang buruk untuk Denis.
"Aku minta maaf... Sepertinya aku terkena sihir ilusi yang buruk" jawab Reina lirih. "Terima kasih telah membuat ku sadar Yang Mulia"
"Sihir ilusi?" Denis mengernyitkan kening. Dia benar-benar tidak menduga ada sihir ilusi di tempat ini. "Lain kali berhati-hatilah"
"Baik Yang Mulia"
Setelah itu, suasana kembali damai.
Aku menyimpan artefak piala itu di dalam ruang dimensiku. Sebelum meninggal kan reruntuhan, kami berterima kasih kepada sistem monitor, sang penjaga reruntuhan.
Melihat sikap baik anak-anak manusia itu, yang berterima kasih padanya, dia memberikan mereka ramuan peningkat mana kepada masing-masing anak. Dia adalah penjaga yang baik hati.
"Bagaimana?" tanya Dean Wason.
"Aku berhasil mendapatkan artefak nya" kataku bangga.
"Kerja bagus" Dean Wason menunjukkan senyum tulus sambil mengusap kepala Eva.
Akhirnya babak kedua berakhir. Tepat saat hari mulai petang, kami semua di teleportasi kan kembali ke kota sihir.
"Selamat datang kembali" seorang penatua terbang ke tengah aula. Kali ini kami melihat seorang dengan wajah yang asing.
Kemudian, tiga wajah asing lainnya muncul bersama dengan penatua gemuk yang biasanya memandu kami.
"Saya Kenn, pemimpin Kota Sihir yang kecil ini" orang itu memperkenalkan dirinya.
Aku cukup kaget saat mendengar nya. Aku tidak menyangka pemimpin Kota Sihir akan cukup muda seperti ini. Kira-kira dia seumuran ayahku. Aku mengira dia akan menjadi Kakek-kakek. Aku juga melihat seorang wanita yang seumuran dengan ibuku. Apa dia penatua juga? Sisanya hanyalah kakek tua dengan janggut putih.
__ADS_1
"Orang itu sudah muncul" gumam Dean Wason, seakan-akan dia sudah mengenal mereka.
"Kakek, kau kenal mereka?"
"Teman lama..." jawab Dean Wason penuh dengan rasa nostalgia.
Hmm....Jadi Kota Sihir ternyata memiliki hubungan dengan Menara Sihir? Benar-benar berita yang tidak terduga.
Pertandingan sihir ini berakhir dengan damai. Pemimpin kota itu hanya menyampaikan beberapa pidato, aku tidak terlalu memperhatikan nya, lalu kami semua disuruh kembali ke penginapan untuk beristirahat. Karena besok kami akan kembali ke tempat kami masing-masing.
Reina dengan cepat memisahkan diri dari rombongan. Dia tidak mengatakan apa pun. Hanya membungkuk rendah pada Denis, tidak mempedulikan orang lainnya. Lalu dia mulai berlari kecil ke kelompok nya.
Gadis itu sangat putus asa. Setelah kembali ke mansionnya mungkin dia akan menangis dengan puas untuk melampiaskan semua amarah dan kesedihannya. Dia juga akan menceritakan semua ini pada ayahnya agar sang ayah bisa membantunya untuk membalas dendam.
Denis dan Sayn juga pamit untuk kembali ke kelompok mereka masing-masing.
Setelah pidato selesai, kami berkumpul bersama dengan penatua lainnya, lalu kembali ke penginapan.
Tapi tiba-tiba sesosok wanita menghalangi kelompok kami. Aku sedikit terkejut. Aku mengenalnya. Dia adalah salah satu penatua muda di Kota Sihir.
"Wason...lama tidak bertemu. Kau ingin pergi diam-diam lagi tanpa memberikan salam padaku?" katanya dengan nada yang menggoda.
Mataku membelalak kaget melihatnya.
Uhuk!
Dean Wason langsung tersedak. "Ayo kita cari tempat lain untuk berbicara" mulutnya berkedut.
Dua orang itu Langsung menghilang dari hadapan kami.
"Apa yang terjadi? Mereka benar-benar saling kenal?" kataku tak percaya.
"Um...aku mendengar rumor bahwa dulu mereka sepasang kekasih" Dean ketiga mulai bergosip di antara kelompok.
Pffttt!
Apa?!
__ADS_1
Aku hampir mati tersedak mendengar berita menakjubkan ini.
Bukankah perbedaan umur mereka terlalu jauhhh?!