Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 2: Dean Wason


__ADS_3

Setelah Dean Caro perlahan menghilang. Dean Wason mulai mengalihkan tatapannya kepada Charlotte. Tapi bekas pandangan dingin yang ditujukannya pada Dean Caro langsung berubah dengan tatapan kasih sayang.


"Charlotte..." tegurnya.


Charlotte agak tersentak "I...iya..."


"Aku cukup kecewa dengan tindakanmu" kata Dean Wason.


"Ma...maaf ketua..." jawab Charlotte lirih.


Dean Wason tidak mempunyai keluarga. Dia seorang pengembara yang membuat sihir menjadi tujuan hidupnya. Lebih tepatnya dia sangat ingin tahu akan sihir, seorang peneliti sihir. Dia meneliti, mengembangkan dan membuat sihir baru. Dia memiliki julukan lain sebagai 'maniac sihir'.


Saat itu, dialah yang membawa Charlotte ke menara sihir karena sihir cahayanya. Dan semua orang mengakui kekuatan sihir Charlotte sehingga dia mendapat julukan 'Putri Suci'. Itulah juga hal yang menyebabkan kedudukannya di menara sihir semakin naik, tidak berbeda dengan Dean Caro menjadi penatua saat membuat Robert menjadi muridnya. Sayangnya, Charlotte bukanlah murid Dean Wason. Dean Wason tidak berniat mengangkatnya menjadi murid. Serta dia tidak membutuhkan ketenaran dan kekuasaan. Dia hanya tertarik pada sihir. Oleh karena itu, Dean Wason sudah menganggap Charlotte sebagai putrinya sendiri. Sebab dialah yang mengajarinya untuk mengembangkan sihirnya dan merawatnya sampai dia menjadi sebesar ini. Dia tahu Charlotte sangat dekat dengan Dean Caro dan muridnya. Dia pernah berpikir bahwa Robert tidak buruk untuk bersanding dengan Charlotte.


Sayangnya Dean Wason tidak tahu, bahwa kasih sayangnya terhadap Charlotte tidak terbalas. Charlotte tidak memiliki kasih sayang lebih atau menganggapnya sebagai sosok ayah. Dia hanya bersikap sopan dan hormat padanya karena dia adalah ketua Menara Sihir. Dan Dean Wason tidak pernah tahu, bahwa Charlotte menyebunyikan kegelapan haus akan kekuasaan dalam dirinya, karena terpengaruh oleh Dean Caro.


"Istirahatlah. Renungkan kembali perbuatanmu" kata Dean Wason dengan nada lembut. "Jangan ulangi lagi dan jauhi Dean Caro" lanjutnya dengan nada serius.

__ADS_1


Charlotte menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Baik..." jawabnya lirih. "Terima kasih ketua...."


Dean Wason kemudian mengalihkan pandangannya pada Robert dan Eva. "Kalian berdua ikut aku"


Tiba-tiba, sebuah pintu dimensi muncul di depan kami.


"Ayo, Leon, Cristal" kata Dean Wason kepada kedua penatua lainnya. Kedua penatua itu mengangguk.


Saat semua penatua sudah melewati pintu, Robert memegang tanganku dan kami berdua ikut menyusul para penatua itu.


"Eva jangan membuat masalah, oke" kata Robert lembut.


Aku pasti tidak akan membuat musuh besar seperti itu, kecuali otakku bermasalah dan perlu dioperasi. Kalau dipikir-pikir aku sudah punya banyak musuh, padahal aku masih sepuluh tahun. Aku hanya tahu musuhku adalah Denis dan Reina. Tapi kini bertambah menjadi pak tua jelek itu dan putri suci.


"Haaa...." aku hanya mengehela napas kecil memikirkan jalan cerita ke depannya. Alurnya sudah berantakan, bagaimana cerita ini akan berjalan ke depannya?


Charlotte masih berdiri di tempatnya tidak bergerak. Dia memperhatikan gerakan semua orang di depannya dengan wajah datar. Saat pintu dimensi terbuka dan satu per satu manusia mulai melewati pintu, ekspresi Charlotte tetap datar. Tapi, saat dia melihat Eva kecil menyunggingkan senyum bahagia dan sibuk berceloteh dengan Robert, ekspresinya tiba-tiba berubah menjadi jelek. Tapi itu hanya sebentar, sampai dia merubah ekspresinya menjadi datar lagi. Entah apa yang sedang dipikirkannya.

__ADS_1


***


Saat kami melewati pintu dimensi, kami tiba disebuah rumah kayu. Ruangan itu penuh dengan tanaman-tanaman kecil merambat disetiap sudutnya. Dan sekeliling penuh dengan bau hutan. Di depan kami ada meja petak besar dari kayu dan kursi-kursi kecil mengelilingya. Dua penatua yang mengikuti Dean Wason segera duduk.


"Silahkan duduk" Dean Wason menatap Robert dan aku.


Kami segera duduk.


Dean Wason mengambil poci teh yang ada di tengah-tengah meja. "Sudah dingin" gumamnya. Kemudia dia menggunakan sihir untuk menghangatkannya. Dia mulai menerbangkan cangkir ke depan semua orang yang duduk. Lalu mulai menerbangkan poci teh. Poci teh itu bergerak perlahan dari satu orang ke orang lainnya, menuangkan teh mengisi gelas-gelas mereka. Lalu saat dia melihat semua orang sudah mendapatkan secangkir teh, dia mulai duduk dan menuangkan teh di gelasnya sendiri. "Minumlah" katanya.


Dua penatua lain tanpa ragu langsung menyesapnya. Robert menyusul meminum seteguk teh di depannya.


Aku ragu dan bingung. Bagaimana kalau tehnya di racun? Tapi kelihatannya tidak mungkin dia melakukannya terang-terangan bukan?


Robert melihat Eva yang sedang bingung, lalu dia menyikutnya.


Aku langsung tersadar dari lamunanku dan menatap Robert yang menyikutku. Lalu mulai mengambil cangkir di depanku dan menyesap tehnya. Hmmm...ini enak! Kualitasnya lebih bagus dari teh yang ada di rumah duke. Apakah ini teh langka? Atau teh yang dibuat sendiri oleh Dean? Apa aku boleh memintanya sebagai oleh-oleh saat pulang nanti? Bodoh, kenapa aku berpikir seperti ini! Saat ini kami belum bebas dan belum tentu mereka akan mengizinkanku pulang!

__ADS_1


Dean Wason melihat bahwa semuanya sudah menyicipi jamuannya. Dia tersenyum "Baiklah"


Lalu dia menatap Robert dalam-dalam "Sekarang jelaskan padaku" nadanya berubah menjadi serius.


__ADS_2