
Cerita Sebelumnya:
Tim Menara Sihir menghampiri tempat kejadian. Robert pun langsung menuju ke arah Eva, sementara para Dean mengejar para jubah hitam.
Eva benar-benar sekarat. Robert berhasil menyelamatkannya dengan menyuruhnya menggunakan elemen cahaya dengan semua mana dalam tubuhnya.
Eva pun mengeluarkan elemen cahaya miliknya, menyebabkan cahaya perak menyebar ke seluruh kota. Warga kota menyebut ini sebagai fenomena aneh dari dewa. Fenomena ini hanya berlangsung sepuluh detik lalu menghilang. Tapi ada efek yang cukup mengejutkan dan membuat semua orang tidak bisa melupakannya. Cahaya perak yang berasal dari Eva tanpa sadar mulai menyembuhkan semua orang yang terkena efek cahaya.
Eva pun diselamatkan. Dia dan Robert memutuskan untuk kembali ke penginapan. Sementara dua orang pemuda dari Komunitas Sihir menghilang dengan cepat sebelum Eva mengucapkan terima kasih pada mereka.
***
Dean Wason dan yang lainnya mengikuti bayangan hitam yang mereka lihat. Tapi bayangan hitam itu langsung menghilang dengan cepat. Bahkan tidak meninggalkan jejak apa pun.
"Ck!" Dean Wason mendesak kesal. "Mereka kira mereka bisa lari dari penglihatanku" Dean Wason tersenyum dingin. Dia masih bisa merasakan jejak mana. Walaupun jejak mereka menghilang. Jejak mana samar karena menggunakan sihir tidak akan pernah hilang. Karena Dean Wason bisa melacaknya, walaupun itu jejak samar sekali pun. "Kalian ikuti aku. Kita akan menangkap para tikus itu" kata Dean Wason dengan nada pelan, sebelum akhirnya bergerak dan menghilang di atas kegelapan malam.
Sementara di sisi lain, para jubah hitam itu berteleportasi ke hutan yang tidak jauh dari Kota Sihir. Mereka mengira rencana melarikan diri mereka berhasil. Walaupun sebelumnya mereka merasakan kehadiran yang kuat mendekati mereka. Mereka cemas. Tapi setelah lari kehadiran kuat itu menghilang. Mereka sangat lega.
Tapi dugaan mereka salah!
Tiba-tiba, hanya dalam jeda waktu beberapa detik setelah teleportasi, beberapa orang misterius muncul dan mengepung mereka.
SWOSH! SWOSH! SWOSH!
Satu per satu dari mereka muncul dan mulai mengelilingi para jubah hitam. Tentu saja itu adalah Dean Wason dan sembilan Dean lainnya.
"Menara sihir..." kata salah satu dari jubah hitam itu dengan nada benci.
Dean Wason mengamati kelompok di depannya. Walaupun mereka menyembunyikan wajah mereka di balik jubah. Dean Wason tetap mengenali mereka. Dia tidak akan pernah melupakan mana orang-orang ini! Para kakek-kakek sialan dari Sihir Kematian!
"Itu kalian!" teriak Dean Wason sambil menggertakkan giginya. Pantas saja dia merasakan bahwa jejak mana mereka sangat familiar.
__ADS_1
"He? Apa yang kau lakukan di sini? Kau benar-benar mengikuti kami. Dasar tua bangka penguntit!" kata salah satu dari jubah hitam itu. Dia perlahan membuka tudungnya.
Yang lainnya juga mengikuti.
Dean Wason melihat keempat orang itu. Dia mengenali tiga lainnya, tapi dia tidak mengenali orang terakhir. Dean Wason tidak terlalu memikirkan hal itu. Bisa saja orang yang tidak dia kenal adalah anggota baru dari Sihir Kematian.
"Jadi itu benar-benar kalian!" kata Dean Wason penuh amarah. Dari dulu kedua organisasi ini memang tidak pernah akur sama sekali.
"Apa maksudmu?" kata si pemimpin itu berpura-pura. "Kalian yang mengikuti kami saat kami sedang mencari binatang sihir. Apa yang kalian inginkan?" dia berbalik menyalahkan Dean Wason.
"Dasar tidak tahu malu!" Dean Wason sudah kehilangan kesabarannya.
'Bagaimana mereka masih mengelak seperti orang tidak bersalah! Dasar orang tua tidak tahu malu!' pikir Dean Wason penuh amarah.
"Kau yang tidak tahu malu! Kami hanya berkeliling di sekitar tapi beraninya kau mengikuti kami!" si pemimpin jubah hitam bersikeras. Walaupun di dalam hatinya dia sangat cemas. Kalau mereka bertarung sekarang dengan pihak Menara Sihir, mereka akan kalah telak! Ini karena kemampuan mereka yang hampir sama dan Menara Sihir lebih diuntungkan karena jumlah mereka yang banyak. jadi dia berniat untuk membuat mereka ragu, walaupun itu tidak berhasil. Karena Dean Wason tidak akan pernah mempercayai perkataannya.
"Sudah cukup!" teriak Dean Wason geram. "Aku akan menghancurkanmu dulu, setelah itu akan meminta penjelasan kalian. Tenang saja, aku tidak akan membunuh kalian..." kata Dean Wason.
Para jubah hitam itu panik. Keringat dingin keluar dari kening mereka. Tapi mereka tetap bertingkah keren dan mempersiapkan diri dengan posisi menyerang juga.
Tapi tiba-tiba terdengar teriakan yang keras. "Hentikan!"
Lalu dari jauh muncul tiga bayangan misterius yang secara perlahan mendekat.
"Apa yang kalian lakukan? Kenapa membuat keributan di Kota Sihir?!"
Ternyata tiga orang itu adalah para tetua Kota Sihir yang muncul karena keributan yang terjadi sudah terlalu parah.
Para jubah hitam dan Dean Menara Sihir langsung memberi hormat pada tiga penatua itu.
"Maaf. Kakek menyebalkan ini yang mulai duluan" kata si pemimpin jubah hitam.
__ADS_1
Tangan Dean Wason bergetar. Lalu dia menunjuk pria jubah hitam itu dan berteriak. "Dasar pria tua tidak tahu malu! Kau berani mencelakai cucuku dan bahkan menyebabkan kekacauan di seluruh kota!"
"Apa maksudmu? Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi di kota. Kami hanya berkeliling hutan seharian dan kau tiba-tiba berteriak pada kami seperti binatang gila" dia mengelak.
"Kau! Kau...."
"Sudah! Sudah! Hentikan kalian berdua! Bagaimana kalian bisa bertindak kekanakan seperti ini padahal kalian semua sudah berumur" kata salah seorang tetua. "Kalau oara junior melihat kelakuan kalian. Kalian akan merasa malu."
Semua orang pun menundukkan wajah mereka karena memerah malu.
"Sudahlah. Wason kau bisa kembali ke penginapan. sebentar lagi domain sihir akan dibuka. Lalu Hong, setelah domain sihir dibuka kau bisa meninggalkan Kota ini karena timmu sudah gagal." tetua itu berkata dengan bijaksana.
Dean Wason tidak setuju. Dia masih ingin memukul bajingan tua itu. Tapi akhirnya dia merendam kemarahannya. "Kalau aku bertemu denganmu lagi. Kau mati!" Dean Wason mengancam sebelum berbalik pergi dan lenyap.
"Hmph!"
Tim Sihir kematian juga pergi meninggalkan tempat itu. Hanya menyisakan seorang dari tim mereka. Orang terakhir yang tidak dikenali Dean Wason tadi. Orang itu membungkuk kepada ketiga penatuan sihir.
"Aku gagal" katanya menyesal.
"Tidak apa-apa. Gunakan organisasi itu sebaik-baiknya. Lagipula ini diluar nalar bahwa gadis kecil itu bisa melakukan semua itu" kata tetua Kota Sihir dengan mata menyipit.
"Baik tuan" kata orang itu sambil membungkuk pergi sebelum akhirnya menghilang.
Akhirnya hanya tersisa tiga orang penatua di tempat itu.
"Menara Sihir sangat beruntung mendapatkan monster seperti itu. "
"Pantas saja Wason mengangkatnya menjadi cucu kecil"
"Lalu bagaimana dengan tekurnya. Haruskah kita merelakannya?"
__ADS_1
"Kita tidak akan pernah merelakannya. Hanya tunggu waktu yang tepat lalu kita akan bergerak lagi. Um...salah. Kita tidak akan bergerak sendiri. kita hanya perlu memanfaatkan para pion itu dan menonton dari jauh" Dia tersenyum percaya diri. "Lagipula semuanya dalam genggaman ku. Kalau bisa, kita harus membawa monster kecil itu juga hehehe..."