
Cerita Sebelumnya:
Eva ingin menemui Dean Cristal yang sedang mengajar, tapi dia tidak tahu arah. Di tengah jalan dia bertemu dengan bocah yang menitipkan surat padanya. Surat yang ingin diberikan pada Robert. Bocah itu bernama Jen. Bocah itu menawarkan bantuan dan mengantarkan Eva. Saat Eva sampai ke tempat tujuan, Jen masih mengamatinya dengan raut wajah mengerikan. Apa yang sedang disembunyikan oleh Jen?
Eva masuk ke ruangan. Dean Cristal masih mengajar, jadi Eva menunggu sampai Dean Cristal selesai. Setelah pelajaran selesai, Eva dan Dean Cristal saling berdiskusi satu sama lain. Eva memberitahukan keluh kesahnya saat berlatih. Dan Dean Cristal memberikan masukkan dan solusinya. Diskusi mereka berlangsung sampai sore hari.
Saat itu Dean Cristal undur diri karena sedang ada urusan. Tetapi Eva masih terdiam di tempatnya. Dia masih bimbang dengan pilihannya. Apa dia harus diam-diam berpetualang dengan petunjuk peta batu untuk mencari Robert? Atau tetap di Menara Sihir untuk berlatih?
Dia juga penasaran dengan amplop titipan itu. Karena rasa penasarannya, dia membukanya. Dan di dalam amplop itu hanya ada sebuah kartu. Kartu apa itu?
***
Aku mengeluarkan kartu itu secara perlahan. Kartu itu berwarna perak dan agak tebal. Lalu ada sebuah tulisan yang tertera. Tulisan itu berbunyi.
"12-1-1213, 09 p.m, Asoka Garden"
Aku menompang daguku, berpikir.
Tahun 1213? Eh, bukannya itu tahun sekarang?
Lalu tanggal 12? bulan 1? Bukankah berarti hari ini?
Jam sembilan malam? Di taman Asoka?
Eh? Ini surat undangan?
Siapa yang mengundang Robert?
"Ini tidak masuk akal!" bentakku sambil berdiri.
Orang itu ingin memberikan Robert undangan hari ini. Tapi kalau Robert membuka undangannya beberapa hari kemudian, bukankah undangan ini sudah tidak berlaku? Apa si pemberi undangan tidak tahu kalau Robert sedang tidak ada disini? Hmmm, ini bisa jadi...
"Jadi dimana Taman Asoka ini?" gumamku sambil berpikir.
Aku bahkan belum tahu semua lantai yang di Menara Sihir ini, apalagi taman-taman yang ada di dalamnya.
KRUK KRUK KRUK
Perutku berbunyi saat aku sedang berpikir.
Aku memikirkan terlalu memikirkan banyak hal sekarang ini.
"Ah, lebih baik aku makan dulu..."
Aku langsung teleport ke ruang makan, memilih kursi dan memesan makanan.
Aku berada di ruang makan selama beberapa menit, sampai akhirnya perutku terisi penuh.
Saat sudah kenyang, aku benar-benar merasa mengantukk....
'Hari juga sudah malam....' pikirku sambil menatap jendela.
Apa aku pergi tidur saja?
Dalam sekejap, semua rasa penasaran itu langsung menghilang hanya karena rasa kantuk.
"Kau mau ke taman Asoka?"
"Pertunjukan di sana bagus"
Tanpa sengaja suara bisikan itu terdengar terbawa angin.
TRING! Mataku langsung terbuka lebar. Rasa kantuk itu hilang entah kemana. Dan aku langsung mencari sumber suara itu.
Aku melihat dua orang murid perempuan sedang duduk berhadapan di belakangku.
Aku langsung menghampiri mereka tanpa berpikir.
__ADS_1
"Permisi...maaf..." kataku lirih.
Mereka langsung menghentikan percakapan mereka dan melihatku.
Salah satunya melihatku dengan teliti dari atas ke bawah, lalu dia membuat wajah bingung "Ada apa?" tanyanya. Dia adalah seorang gadis dengan wajah ramah. Ada bintik-bintik merah di hidungnya yang membuatnya tampak kontras dengan pipinya yang bulat.
"Maaf...aku ingin menanyakan tentang Taman Asoka. Aku mendengar kalian menyebutnya tadi..." kataku sambil melihat mereka.
Mereka mengernyitkan kening, membuat raut wajah tidak suka.
"Bukan begitu!" sangkalku lagi. "Aku tidak bermaksud untuk menguping kalian! Aku tidak sengaja mendengarnya. Aku minta maaf..."
Melihat gadis kecil di sampingnya bersikap takut-takut, Murid perempuan lainnya, yang memiliki kulit hitam, mulai terkikik. "Jangan takut. Kami tidak menyalahkanmu. Kami hanya sedikit kaget, karena orang yang tidak kami kenal tiba-tiba menghampiri kami" jelasnya sambil tersenyum geli.
"Taman Asoka ya?" kata Gadis dengan wajah berbintik. " Taman Asoka ada di halaman belakang Menara. Taman itu dekat dengan hutan terlarang"
Aku masih berdiri mematung di tempat sambil mengernyitkan kening.
Halaman belakang? Hutan terlarang?
Aku benar-benar tidak pernah mendengar nama ini. Bahkan di dalam novel sekali pun.
Lalu aku teringat peta batu yang kutemui di ruangan bawah tanah. Ikon hutan itu....Jangan-Jangan hutan terlarang? 'Hmmm...haruskah aku meminta tolong pada mereka untuk mengantarku?' aku berpikir sambil memandang kedua murid perempuan di depanku.
Kedua gadis itu langsung memalingkan wajah mereka dan bergosip lagi. Kelihatannya tidak peduli lagi dengan kehadiranku.
Tidak...Kelihatannya mereka tidak mau...
"Terima kasih..." kataku sambil berpamitan.
Sebelum aku berbalik, suara mereka terdengar lagi.
"Hati-hati. Jangan sampai memasuki hutan terlarang..." kata gadis berkulit hitam serius.
Aku langsung mengangguk cepat sebagai tanggapan.
Urat-urat kekesalan muncul di kepalaku. Itu tidak lucu oke?
Gadis itu pasti menganggapnya hal yang lucu. Dan yang paling penting, aku tidak bodoh ,ck.
Mereka kembali ke pembicaraan mereka lagi tanpa mempedulikanku.
Aku langsung berbalik pergi meninggalkan ruang makan. Saat sampai d lorong depan, aku mendengarkan pembicaraan para murid yang sedang pergi secara berkelompok. Aku bukan penguping oke. Aku hanya ingin mencari informasi. Aku mendengar, bahwa mereka ingin keluar. Berarti mereka ingin ke halaman depan Menara Sihir bukan?
Tanpa pikir panjang, aku langsung mengikuti sekelompok murid itu untuk masuk ke dalam pintu dimensi.
Dan aku berpindah tempat di tempat yang belum pernah kudatangi sebelumnya.
Halaman depan Menara Sihir sangat besar. Penuh dengan orang-orang yang berlalu lalang.
Lalu di depanku ada dua daun pintu yang besar. Lebih besar dari gerbang istana. Ini adalah gerbang Menara Sihir, benar-benar menakjubkan....
Lalu aku melihat di dua sisi pintu gerbang, ada dua pos penjaga. Dan para tamu asing atau pengunjung luar, harus memeriksakan diri mereka dahulu di pos penjaga sebelum masuk ke dalam.
Hmm, kelihatannya aku melewatkan bagian ini bukan karena aku diculik? Aku tidak pernah melewati pos penjagaan, aku benar-benar beruntung hehehe...
Baiklah, tujuan utamanya adalah halaman belakang. Setelah aku menemukan halaman belakang, aku akan mencari taman Asoka.
Aku masih penasaran, undangan apa itu? Siapa yang mengundang Robert? Dan ada acara apa?
"Apakah ada Pesta atau festival...? Bukankah itu menyenangkann...?" gumamku dengan tubuh bergetar antusias.
Aku memutar bola mataku, menoleh ke kiri dan kanan, mencari target untuk menanyakan arah.
Lalu aku melihat seseorang melintas di depanku. Aku langsung menegurnya 'Maaf!"
Orang itu menoleh. "Ada apa?"
__ADS_1
"Apa kau tahu dimana halaman belakang?"
"Kau pengunjung luar?" tanyanya sambil mengernyitkan kening.
Aku mengangguk.
Dia mengangkat tangannya, menunjuk arah di sebelah kiriku. "Lewat sana. Lalu belok ke kiri. Halaman belakang ada di sana"
Aku langsung berterima kasih dan segera mengikuti arah yang ditunjuk.
Lalu belok kiri....
Saat aku berbelok, aku menemukan halaman dengan padang rumput yang luas. Halaman itu sangat luas, bahkan ada beberapa rumput tinggi yang dijadikan sekat antara halaman satu dengan halaman lainnya.
Keramaian di halaman ini sudah agak berkurang. Hanya ada beberapa orang di sini. Sebagian dari mereka sibuk bersantai sambil membaca buku.
Aku agak tidak enak untuk menegur mereka. Lalu aku menemukan sebuah keberuntungan! Ternyata ada papan penunjuk arah. Papan itu menunjukkan berbagai tempat.
"Taman Eros, Taman Han, Aula..." aku bergumam sambil membaca papan petunjuk satu persatu. "Ah, taman Asoka!"
Papan petunjuk "Taman Asoka ada di posisi paling bawah.
Tanpa pikir panjang aku langsung melesat menuju arah yang ditunjuk. Aku harus melewati beberapa taman sebelum sampai ke taman Asoka. Taman Asoka berada di paling belakang, dan lebih jauh dari gedung.
Aku melihat petunjuk dari papan mahoni yang tertancap di tanah. Papan itu bertuliskan "ASOKA"
Berarti aku sudah sampai bukan?
Aku mengamati taman ini. Taman ini lumayan besar. Ada beberapa kursi kecil, kolam dan beberapa taman yang penuh dengan bunga. Sisanya diisi dengan rerumputan pendek. Taman ini sangat cantik. Di tengah-tengahnya ada sebuah pondok kecil dari jerami. Lalu di belakang taman, kau akan melihat hutan yang rindang. Hutan ini mungkin hutan terlarang itu bukan?
Saat aku tiba, hari sudah gelap. Langit yang penuh bintang dan beberapa kunang-kunang berterbangan di sekitar pondok. Dan juga ada bulan tunggal dengan cahaya redupnya di langit. Cahaya Bulan itu sangat kontras dengan cahaya bintang. Pemandangan yang sangat indah...
Lagi-lagi aku menyesal karena di dunia ini tidak ada kamera, ha....
Tapi ini aneh. Di tempat seindah ini, tidak ada seorang pun. Padahal ada beberapa kursi yang bisa digunakan untuk membaca bukan? Lalu pemandangan di sini juga lebih indah dan suasananya lebih tenang. Tapi kenapa sepi? Apa karena berbatasan dengan hutan terlarang?
Aku menghampiri pondok dan terduduk sambil menyandarkan kepalaku. Aku menatap hutan rimbun di depanku. Ada apa dengan hutan terlarang itu? Apa itu berbahaya?
Aku dengan malas mengangkat tanganku untuk mengambil amplop itu dari ruang dimensi. Aku mengeluarkan kartu di dalamnya lalu mengangkatnya dan menatapnya.
Tiba-tiba, cahaya bulan di atasku terpantul ke arah kartu, melewati kartu dan terpantul ke wajahku. Lalu aku melihat sesuatu yang tidak terduga!
"Ah!" aku terpekik kaget dan hampir melempar kartu yang kupegang!
Saat terkena cahaya bulan, muncul tulisan aneh di atas kartu. Tulisan itu tiba-tiba muncul sendiri. Tulisan berwarna perak! Tulisan itu terus muncul satu persatu dan memenuhi kartu.
Uwahh! sihir apa ini? Benar-benar keren!!
Saat semua tulisan sudah terlihat, aku langsung membacanya. "Mos isqrito deus no en..."
"Eh? Tulisan apa ini?" aku bergumam sambil mengernyitkan kening.
Apa ini sebuah mantra? Tapi mantra apa?
DEG! Tiba-tiba aku merasa dadaku sakit. Aku merasa benda asing tiba-tiba masuk ke dalam jantungku.
Aku memegang dadaku sambil mengerang sakit. Apa ini? Kenapa tiba-tiba sakit?
Secara perlahan pandanganku mulai buram...
Dan aku melihat sosok seseorang di depanku. Aku tidak melihatnya dengan jelas. Hanya berupa gambaran buram dengan bentuk manusia.
"Siapa...." aku hanya bisa bergumam lirih, sebelum aku benar-benar kehilangan kesadaran.
****
Para readerss, jangan lupa likenya ya ~
__ADS_1