Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 6 Sepuluh Besar


__ADS_3

cerita sebelumnya:


Hasil ujian tertulis pun diumumkan. Reina berhasil mendapatkan poin sempurna dan menjadi pusat perhatian semua orang.


Eva hanya mendapat nilai di ambang batas lulus, yaitu 70. Sementara Lilac mendapatkan nilai lebih tinggi darinya, yaitu 80 dan Vivian mendapatkan nilai 95.


Semua murid tingkat satu berhasil lulus ujian tertulis. Dan ujian babak pertarungan pun dimulai. Ujian ini masuk dalam babak pertama.


***


Pertandingan babak pertama pun dimulai. Semua orang mulai berkelahi satu sama lain. Sudah ada beberapa orang yang gugur dan terlempar keluar arena. Sementara Aku masih berdiri di sudut arena untuk mencari orang yang ingin melawanku.


Tapi tidak ada yang menganggap ku! Apa mereka semua menganggap ku sebagai manekin?


Walaupun ada beberapa orang yang merasa kan kehadiranku, mereka langsung mengabaikannya. Aku bisa mendengar mereka berbisik dam kata-kata "Duke" keluar dari mulut mereka.


Kelihatannya mereka benar-benar takut berhadapan denganku karena keberadaan ayahku. Apalagi semua orang sudah tahu bahwa duke tinggal di ibukota beberapa saat terakhir ini. Sehingga mereka semua semakin waspada.


Tapi ada satu orang yang mengarahkan perhatiannya padaku. Dia adalah putera mahkota dari Kerajaan Kano.


Putera Mahkota Kano dan aku bertatapan dengan intens. Dia sudah mengetahui kekuatan asliku sejak aku mendapat misi untuk mengantarnya ke kerajaan ini. Jadi dia tidak meremehkanku seperti yang murid lain lakukan. Dia juga tidak takut dengan kekuasaan Duke dari kerajaan lain.


Kami pun sudah bersiap untuk bertarung, tapi tiba-tiba bel tanda pertandingan berakhir berbunyi.


Aku melonggo kaget di tempat. Apa ini sudah berakhir? Hanya sepuluh menit? Secepat itu?


Aku benar-benar tidak percaya bahwa babak pertama sudah berakhir. Hanya tersisa sepuluh orang di arena 5. Karena itulah pertandingan nya dihentikan.


"Kau beruntung" Putera Mahkota Kano menunjukkan senyum sinisnya pada ku.


Aku hanya mengerjap polos. Apa aku benar-benar lulus ke babak selanjutnya tanpa menggerakan tubuhku? Bukankah aku terlalu beruntung?

__ADS_1


Setelah mengalami banyak ketidakberuntungan dan kemalangan, aku benar-benar sudah rendah diri dengan poin keberuntungan ku. Aku tidak menyangka akan mengalami keberuntungan di tengah banyaknya kemalangan yang terjadi. Ini mengejutkan serta cukup menakjubkan.


Akhirnya, aku lulus ke 50 besar dengan mudah. tanpa bertarung dengan satu pun lawan di arena.


Lalu dilakukan pertarungan satu lawan satu, untuk pemilihan 25 besar. Pemilihan lawan dilakukan secara acak. Kebetulan sekali aku mendapat kan lawan yang tidak aku kenal. Dia berasal dari murid kelas B, Sein.


Tapi kenapa aku merasa familiar dengan murid bernama Sein ini? Ah! Dia adalah salah satu murid yang selalu mengekor pada Reina.


Pertandingan pun dimulai. Aku bisa melihat tatapan benci dari lawan di depanku. Dia menyerang. Tapi jujur saja serangannya sangat lemah. sungguh lemah.


Aku tidak menggunakan satu pun sihirku. Aku menghindari serangan nya dengan kekuatan fisikku belaka. Dia sangat lamban. Tentu saja pertahanannya tidak cukup bagus karena dia seorang penyihir. Tapi kekuatan sihirnya juga sangat lemah. Aku hanya perlu mengunci lengannya dan membuatnya terjatuh. Lalu Pertandingan berakhir dengan cepat. Aku pun masuk ke babak selanjutnya.


"Mereka terlalu lemah dan pengecut" Lilac mulai cemberut. Dia mengomentari lawannya yang melarikan diri sebelum bertanding.


"Tapi aku mendapat kan lawan yang lumayan hebat" Vivian mengeluh. Dia melawan murid dari kelas A, salah satu pangeran dari kerajaan Kano. Sehingga dia cukup kesulitan dan hampir kalah. Tapi dia berhasil mengatasinya dan menang.


Kami bertiga berhasil masuk ke dalam 25 besar. 25 orang yang lulus saat ini akan otomatis naik ke kelas dua. Tapi peringkat 11-25 tidak berhak menantang peringkat umum. Mereka bisa naik tingkat, tapi mereka tidak akan mendapatkan peringkat apa pun.


Babak selanjutnya adalah 10 besar. Ada beberapa peserta mengundurkan diri karena sudah lolos di babak ini. Akhir nya hanya tersisa 20 orang saja.


Penentuan 10 besar pun dimulai. Lawanku adalah Louis, saudara kembar Lilac. Aku tidak menyangka akan melawan bocah ini dari sekian banyak orang.


"Karena kau adalah temannya, aku tidak akan melukaimu." kata Louis percaya diri. Dia menunjukkan senyum cemerlang. "Tapi lebih baik kau mengalah sekarang kalau tidak ingin terluka"


Aku mengabaikan provokasi bodohnya.


Aku menggunakan sihir apiku. Tapi Louis dengan mudah menghindar. Karena dia adalah pendekar sihir, sangat mudah menghindari serangan sihir lawan.


Aku tidak akan menggunakan sihir tingkat tinggi karena aku tidak ingin merusak lapangan. Jadi aku menggunakan sihir tingkat menengah.


Louis merasa percaya diri. Lawannya hanya seorang penyihir wanita. Walaupun dia bisa menggunakan sihir tingkat menengah, itu tidak akan berguna kalau tidak mengenainya.

__ADS_1


Louis yakin dengan kekuatan fisiknya yang lebih unggul. Jadi dia mulai menyerang lawan dengan pedangnya.


SWOOSH!


pedang itu langsung menebas lawan dengan kuat. Bahkan arena pertandingan juga rusak karena tebasan itu. Menimbulkan debu yanh mengelilingi seluruh arena.


'Akhirnya berakhir' Louis dengan percaya diri menyarungkan pedangnya. Dia mengira dia sudah menerbangkan lawan keluar arena.


Tapi dugaannya salah. Sesuatu yang tidak terduga tiba-tiba menyentuh lehernya. Louis sama sekali tidak melihat pergerakan karena saking cepatnya nya. Tiba-tiba lawan sudah menyodorkan pisau kecil di lehernya.


GULP!


Louis gugup. Pasalnya pisau itu sudah menggores lehernya. Menimbulkan luka kecil yang membuat lehernya berdarah. Louis tidak menyangka gadis kecil penyihir seperti itu akan mempunyai kekuatan fisik yang kuat.


Mereka semua menyatakan Eva adalah penyihir. Tapi kekuatan fisik penyihir sangat lemah. Eva memiliki kekuatan fisik yang sangat kuat. Dan Louis berpikir bahwa informasi itu salah! Eva bukan penyihir tapi pendekar sihir! Kalau dia mengetahui hal ini dia tidak akan meremehkan nya. Bagaimanapun juga Louis merasa malu kalau harus kalah dengan gadis yang lebih kecil darinya.


Aku berhasil mengunci leher Louis dan menyodorkan pisauku di lehernya.


"Aku akan mengampunimu karena kau saudara Lilac" aku membalikkan perkataannya.


Wajah Louis berkedut saat dia mendengar pernyataan itu.


Aku mulai mengayunkan kakiku dan BUK! Menendang pria itu keluar arena. Siapa yang menyangka bahwa tubuhnya akan seringan ini? Apa itu benar-benar tubuh seorang pria?


Saat melihat kemampuan Louis, aku tidak sengaja membandingkan nya dengan kemampuan Lilac. Jujur saja Lilac jauh lebih kuat darinya. Padahal di masa lalu, kekuatan mereka seimbang. Tapi sekarang kekuatan Lilac berkembang lebih dulu. Ini mungkin karena Louis sibuk mengejar wanita sehingga dia benar-benar mengabaikan latihannya.


Akhirnya aku pun berhasil masuk ke dalam sepuluh besar. Lilac juga berhasil lolos.


Tapi sayangnya langkah Vivian terhenti sampai di babak ini saja. Lawannya adalah Putera Mahkota dari kerajaan Kano. Saat Vivian merasa tekanan yang sangat besar dari pria itu. Dia langsung menyerah tanpa perlawanan.


Pertandingan pun berakhir. Sepuluh besar murid sudah terbentuk. Pertandingan selanjutnya akan diadakan besok. Jadi hari ini kami bisa beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2