Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 6 Sihir Baru


__ADS_3

Cerita Sebelumnya:


Ren membawa Eva kembali ke mansion miliknya agar bisa mendapatkan darah kedua orang tuanya. Dan ternyata ibu Eva, Diana adalah keturunan David dan dia adalah penyihir gelap yang menyembunyikan statusnya.


Ren ingin membuka buku sihir gelap penelitian David. Hanya keturunannya yang bisa membuka buku itu. Diana pun berhasil membuka buku itu.


Eva mengira urusan Ren dengan nya selesai setelah kejadian ini. Tetapi Ren membawanya kembali ke rumah pohon sebagai kelinci percobaan.


***


Ren membawaku ke sebuah ruangan kecil. Saat aku masuk, aku cukup kaget. Ruangan itu penuh dengan kertas dan tinta. Semuanya berhamburan di atas lantai.


Perasaan yang familiar. Bukankah aku juga melihat Ren berada di tumpukan buku sebelumnya saat di akademi?


Aku memandang Ren. 'Aku tidak menyangka dia benar-benar maniak buku....' pikirku.


"Duduk" Ren meletakan tubuhku di kursi kayu kecil.


"Apa yang akan kau lakukan padaku?" tanyaku cemas.


Ren mengeluarkan selembar kertas dan melambaikan nya di depan mataku. Aku tahu apa itu dan mataku membelalak kaget. "Kertas ujianku!"


"Aku sedikit tertarik dengan pemikiran mu" kata Ren. "Lagipula kau keturunan David. Pikiran mu sama seperti orang itu"

__ADS_1


"Apa yang ingin kau ketahui dariku?" Aku mengernyit kan kening tidak senang. Apa dia menargetkan ku hanya karena kertas ujian bodoh itu. Tidak masuk akal!


Ren mendekatkan wajahnya tiba-tiba. Hidung mereka bahkan bersentuhan. "Segalanya" dia berbisik.


Wajah Eva memerah. Kesal dan rasa malu bercampur menjadi satu. Dia dengan cepat menjauhkan wajahnya. "Berhenti bermain-main!"


Melihat Eva sudah mulai galak seperti kucing liar, Ren menggeleng kan kepalanya. Sebelumnya kucing di depannya sangat patuh dan ketakutan. Tapi setelah tahu bahwa dia tidak berniat untuk membunuh nya, kucing ini tiba-tiba menjadi liar. Tapi Ren tidak mempermasalahkan hal itu. Dia bahkan tersenyum. Sesuatu menggelitik di hatinya saat dia mengganggu kucing itu. Seakan-akan itu kesenangan tersendiri untuknya.


"Konsepmu tentang sihir benar-benar aneh" Ren melihat kertas ujian Eva dengan seksama. "Kau mengatakan disini bahwa kau bisa membuat alat terbang dengan sihir. Lalu ada juga alat sihir yang sangat aneh. Mungkin para guru tidak akan pernah memperhatikan imajinasi mu. Dan mereka hanya menganggap mu menuliskan omong kosong. Tapi tidak denganku"


Aku mengingat jawabanku saat Ren mengatakannya.


Sebenarnya saat ujian, ada satu soal yang berbunyi "Inovasi sihir apa yang akan kau lakukan di masa depan"


Aku pun menulis semua hal di yang ada di kehidupan lamaku. Semua hal yang kulihat di bumi. Jujur saja, walaupun dunia ini kinerjanya sangat mudah karena menggunakan mana untuk beraktivitas, tetap saja dunia ini masoj ketinggalan jauh dalam hal teknologi.


"Apa kau tertarik dengan hal itu?" aku bertanya.


"Mungkin aku bisa membuat alat sihir terbang seperti yang imajinasimu bayangkan"


Mataku langsung berbinar saat mendengar nya. "Benarkah? Apa itu tidak sulit?"


"Kita akan membuat beberapa versi kecil terlebih dahulu untuk uji coba. Setelah itu berhasil, kita akan membuat versi besar yang bisa menampung banyak orang."

__ADS_1


"Kita?"


"Ya, bukankah kau akan menjadi kelinci percobaan? Aku akan menempatkan mu di bagian strategis"


Aku hampir muntah darah saat mendengar nya. Dia benar-benar ingin menjadikanku objek untuk penemuan barunya.


Tapi hal itu bukan masalah untukku. Aku bukan manusia lemah yang akan mati hanya karena jatuh dari langit kalau pesawat sihir itu gagal. Aku masih bisa terbang atau bahkan membuat pelindung. Ren mungkin sudah mengetahui hal itu.


"Lalu, alat sihir apa ini?" tanya Ren kemudian sambil menunjukan inovasi aneh milikku yang lain.


Aku tidak menulisnya terlalu jelas. Aku hanya mengatakan "Alat sihir komunikasi" di kertas ujianku. Tidak ada pengembangan kata dan mungkin Ren bingung dengan kalimat itu.


Saat menulis nya aku memikirkan penggunaan ponsel yang bisa digunakan untuk siapa saja. Di dunia ini kita bisa melakukan telepati untuk berkomunikasi dan mungkin lebih efektif tanpa memegang apa pun. Tapi sekali lagi, targetku bukanlah para penyihir kuat. Tapi manusia biasa dengan mana rendah yang tidak bisa menggunakan telepati. Bukankah akan lebih efektif kalau mereka mereka bisa berkomunikasi satu sama lain dari jarak jauh,m


"Ya... aku memikirkan sebuah alat sihir yang bisa digunakan untuk berkomunikasi jarak jauh. Umm...kau tahu mana bisa mengirimkan suara bukan?" aku mulai menjelaskan ideku untuk membuat ponsel sihir. Aku hanya menjelaskan konsepnya, tapi tidak terlalu detail karena aku juga belum pernah mencoba membuat nya.


Tapi Ren mendengarkan nya dengan antusias. Bahkan sesekali dia mengangguk pelan, mengerti konsep nya.


"Bagaimana dengan benda ini?" Ren bertanya. Dia bertanya tentang konsep senjata sihir baru yang kupikirkan yaitu senapan sihir.


Di dunia ini mereka punya pedang, pisau, belait dan tombak sihir. Tapi tidak pernah ada senapan/ pistol karena mereka masih menggunakan konsep lama.


Aku menjawab pertanyaan Ren dengan antusias dan mengeluarkan semua konsep yang kupikirkan. Entah kenapa saat berbicara dengan Ren, aku melihat kita mempunyai minat yang sama. Itu tidak seperti yang lainnya, yang menganggap pikiranku gila dan terlalu mustahil dilakukan.

__ADS_1


Walaupun aku menceritakan apa yang kupikirkan pada Dean Crsytal, guruku, dia tidak merespon sekuat Ren. Dia hanya mengangguk dan mengatakan itu ide yang bagus. Mereka mendengar kan dan memujiku tapi mereka tidak mengerti apa yang kubicarakan. Kau bisa mengetahui semuanya dari ekspresi mereka saat mendengar kan ceritaku.


Jadi tanpa sadar, mereka benar-benar berbicara dengan antusias sampai pagi menjelang. Eva bahkan lupa kalau dia mempunyai jadwal lain pagi ini, ujian pertandingan peringkat di akademi.


__ADS_2