Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 2: Tanya Arah


__ADS_3

Cerita Sebelumnya:


Eva secara perlahan masuk ke dalam ruang bawah tanah ditemani bola-bola api sebagai penerangan. Saat sampai di dasarnya, dia hanya menemukan ruang kerja kecil. Ruang kerja yang hanya berisi kursi, meja dan dua lemari. Dia mulai menggeledah ruangan tersebut untuk mencari petunjuk. Tapi, dia tidak menemukan apa pun. Saat dia akan menyerah, dia menemukan petunjuk. Dia menemukan bahwa ada peta raksasa yang tergambar di dinding batu. Dia menyalin peta itu di tempat yang lebih kecil dan menyimpannya dalam ruang dimensi. Dia bimbang, haruskah dia mencari tempat yang ada di peta? berpetualang mencari Robert?


"Ah~ aku akan memikirkannya nanti" pikir Eva dan dia memutuskan untuk pergi tidur


***


Keesokan paginya, aku cepat-cepat bersiap. Lalu aku memutuskan untuk menemui Dean Cristal. Kenapa? Tentu saja karena aku sangat merindukannya! Dan aku masih perlu bimbingannya atas latihanku yang mengalami kemacetan, hiks.


Tanpa pikir panjang, aku langsung teleport ke ruangan Dean Cristal. Setelah sampai, aku tidak melihat kehadiran siapa pun.


'Kemana guru? Di aula? Atau guru tidak ada di Menara Sihir' aku berpikir.


Ah, kenapa tidak dihubungi saja!


Aku mulai mengirim sinyal telepati dan diterima.


"Guru!" pekikku dalam pikiran.


"Eva?"


"Guru, kau dimana? Aku ada di ruanganmu"


"Oh, Eva, maafkan aku. Aku sedang tidak ada di tempat. Aku sedang mengajar" jawab Dean Cristal.


"Tidak apa-apa guru. Aku yang salah karena berkunjung tanpa memberitahumu. Hmmm...dimana tempat mengajarmu guru?"


"Kau ingin menyusul kemari?"


"Hm..." aku menganggukan kepala.


"...." Dean Cristal terdiam selama beberapa detik.


"Aku agak khawatir kalau kau pergi sendiri. Tunggu saja di ruanganku oke. Aku taku kau tersesat...." katanya dengan nada cemas.


Walaupun aku tahu Dean Cristal khawatir kalau aku tersesat, tapi kenapa aku merasa perkataannya seperti ejekan ya?


"Aku tidak akan tersesat guru. Beritahu saja dimana" kataku yakin.


"Benarkah....?" tanyanya ragu-ragu. "Aku masih tidak yakin..."


"Tentu saja tidak!" kataku percaya diri sambil membusungkan dadaku. "Aku tidak bodoh. Sekarang aku sudah bisa membedakan lantai-lantai" kataku agak semangat.


Itu kebenaran oke? Aku sudah bisa menggunakan pintu dimensi dan aku juga sudah mengunjungi beberapa tempat untuk jaga-jaga. Walaupun aku tersesat, aku bisa menanyakan jalan kepada orang yang lewat bukan? Agak memalukan kalau aku bertanya pada Dean Cristal....


"Ayolah, itu bukan hal yang mengkhawatirkan, guruuu..." kataku memelas.


Haa~ Dean Cristal menghela napas.


"Baiklah....Aku ada di lantai lima puluh, Ruang lavender 1. Kau bisa kemari" kata Dean Cristal menyerah.


"Terima kasih guru"


"Ingat! Kalau tersesat, kau harus memberitahuku" kata Dean Cristal memastikan.


"Tentu saja guru"


Setelah mendapatkan alamat tempatnya, aku segera keluar dari kamar Robert.


Hmm, lantai lima puluh ya....


Aku mulai menyusuri lorong, untuk mencari pintu dimensi secara acak.


Lalu aku menemukan sebuah pintu dimensi yang cocok. Ini hanya insting oke. Aku melihat ada banyak murid yang memasuki pintu itu, jadi kukira itu jalan pintas untuk ke tempat yang ramai. Lagi pula aku tidak mungkin tersesat. Aku masih ingat pintu dimensi yang pernah kumasuki.


Aku menggunakan pintu itu dan berteleportasi ke tempat yang kuketahui! Yah, ini pasar yang sebelumnya pernah kukunjungi dengan Robert.


"Oke, aku ingat pintu dimensi menuju ruang makan dan aula. Tapi dimana pintu dimensi ke lantai lima puluh ya?" aku bergumam sambil berpikir.


Ah~ akan lebih mudah kalau aku pernah ke tempat itu sebelumnya, jadi tinggal teleport saja, ck.


"Oke sudah waktunya bertanya" gumamku sambil melihat sekeliling.


Dan tebak aku menemukan siapa! Aku menemukan bocah aneh itu lagi!


Aku menemukan bocah aneh yang memberiku amplop titipan itu.


Oke, aku tanyakan saja padanya!


Aku mulai bergerak maju menghampirinya. Aku melihat bocah itu sedang berdiri mematung di bawah pohon yang ada di samping pertokoan. Sepertinya dia sedang melamun? Tidak! Aku pikir dia sedang berkomunikasi dengan seseorang. telepati?


"Halo" aku memanggilnya sambil melambaikan tangan.


Bocah itu melihatku dan panik. Lalu dia menggumamkan sesuatu yang tidak bisa kudengar dan mulai melontarkan senyum gugup.

__ADS_1


Kelihatannya dia tidak suka aku memanggilnya? Kenapa? Apa karen aku menganggu pembicaraannya?


"Halo..." balas bocah itu dengan nada canggung.


"Uhh...maaf karena sudah menganggu pembicaraanmu" kataku menyesal sambil membungkuk meminta maaf.


"Tidak...tidak...apa-apa...." balasnya panik.


Lalu dia menatapku dengan wajah bingung. "Ada apa?"


"Oh, aku ingin menanyakan arah padamu. Apa kau tahu dimana lantai lima puluh. Lalu dari sini, kita harus menggunakan pintu dimensi yang mana?" kataku langsung.


"Uh...aku tahu lantai lima puluh...."


Dia menatapku ragu-ragu. "Haruskah...aku mengantarmu?"


"Uooh!" mataku berbinar.


"Bocah, kau benar-benar orang baik. Terima kasih" kataku sambil memukul pundaknya.


Sebenarnya tidak sopan memanggilnya bocah oke, karena dia lebih tua dariku.


Bocah itu mulai menuntunku mencari pintu dimensi.


"Siapa namamu?" tanyaku pada bocah pendiam itu. Kalau aku tidak berbicara, kita akan terus diam sampai dia selesai mengantarku.


"Jen..." jawabnya lirih dengan ekspresi malu-malu.


"Oh, kak Jen. Perkenalkan, aku Eva"


"Sudah tahu"


"Kau sudah tahu namaku?"


Jen menatapku ragu-ragu, lalu perlahan dia mulai menunjukku. "Kau....terkenal disini..."


APAA?!


Terkenal? Aku terkenal di Menara Sihir? Aku benar-benar kaget kali ini.


"Bagaimana bisa...?" tanyaku lirih.


Jen menatapku bodoh "Kau tidak tahu.....?"


"Kau adalah putri Duke sombong itu dan kau cucu angkat dari Ketua Menara Sihir. Bagaimana kau bisa tidak tahu? Lalu kau juga tunangan Putra Mahkota" katanya dengan cepat. Benar-benar berbeda dengan omongannya yang selalu terbata-bata.


Aku menatapnya dengan mata membelalak kaget.


Wah!! Apa aku memang seterkenal itu!


"Hehehe..." aku tertawa cengengesan.


Melihat gadis kecil di depannya sedang tertawa aneh, Jen merasa agak menggelikan.


'Gadis ini aneh...' pikirnya sambil melihat senyum gadis kecil itu.


"Ah, kita sudah sampai" kata Jen sambil menunjuk ruangan yang ada di depanku.


Kami pun masuk. Dan aku berteleportasi ke lantai yang tidak pernah kukunjungi sebelumnya.


Aku menelusuri lantai lima puluh ini, dan tidak ada perbedaan sama sekali dengan lantai lainnya. Masih berupa lorong panjang dengan banyak pintu ruangan.


"Eva...kau sudah memberikan amplopnya pada Robert...?" tanya Jen tiba-tiba dengan nada terbata-bata.


"Belum. Master tidak ada disini. Kau tenang saja, aku pasti akan memberikan amplop itu padanya" kataku yakin. Kenapa orang ini ingin sekali memberikan amplop itu pada Robert? Apa ada rahasia? Apa aku harus membukanya diam-diam? Hehehe..


Lalu aku menatapnya dengan serius "Dimana ruang levender 1?" tanyaku pada Jen.


Jen menatapku sambil mengernyitkan kening. "Bagaimana bisa kau berkeliaran tanpa tahu arah..." katanya tidak percaya.


Uh! Aku langsung menatapnya tajam "Aku tahu arah oke! Aku hanya bertanya padamu untuk mengujimu saja!" teriakku penuh dengan omong kosong.


"....." Jen tidak menjawab.


Dia mengangkat tangannya "Ruangan sebelah kiri, ruangan kelima dari sini..."


"Terima kasih bro~" balasku sambil menepuk bahunya. Aku langsung pergi meninggalkannya. Aku bisa memasang wajah tidak tahu malu, tapi wajah ini tidak akan bisa bertahan lama. Jadi aku harus cepat-cepat melarikan diri!


"......"


Jen terdiam di tempatnya. Dia terus mengawasi punggung Eva, sampai Eva berhasil masuk ke dalam ruangan yang ditunjuknya.


Tiba-tiba raut wajahnya berubah menyeramkan dan dia tersenyum sinis. "Terjebak..." katanya lirih. Lalu sosoknya secara perlahan menghilang dari lorong.


***

__ADS_1


Aku langsung membuka ruangan yang ditunjuk Jen dan masuk dengan sembrono.


SREK! Semua orang langsung memandangku karena aku membuka pintu tiba-tiba.


Aku melihat ruangan seperti ruang kelas. Dengan beberapa murid junior yang duduk di kursi batu bertingkat, lalu ada podium di tengah-tengah. Dan Dean Cristal ada di tengah podium sambil mengayunkan tongkat pengajarnya.


Saat aku masuk, perhatian mereka semua teralihkan, bahkan Dean Cristal juga menatapku.


"Duduk" telepati Dean Cristal terdengar.


Aku langsung menggaruk kepalaku malu-malu. "Maaf..." kataku lirih sambil mencari tempat duduk di barisan paling belakang.


SREK! Pandangan mereka semua berbalik serentak, memandang ke arah podium lagi.


Aku melonggo kaget. Bagaimana mereka bisa menoleh secara serentak seperti itu?


'Mereka benar-benar seperti militer yang sedang berlatih gerakan geleng kepala' aku berpikir.


Pelajaran itu hanya berlangsung beberapa menit. Kelihatannya sudah masuk jam pelajara terakhir.


Saat Dean Cristal menyelesaikan semua materinya, satu persatu murid mulai bubar meninggalkan ruangan.


Aku langsung menghampiri Dean Cristal.


"Selamat siang guru" kataku sambil memberi hormat.


"Ikut aku" kata Dean Cristal sambil menuntunku. Kami masuk ke dalam ruangan kecil yang ada di ruang kelas itu.


"Duduklah" katanya.


Aku langsung duduk.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Dean Cristal ramah.


"Aku baik-baik saja guru" kataku bersemangat.


Dean Cristal tersenyum. "Lalu bagaimana? Apa kau mempunyai pertanyaan? Apa ada halangan pada latihanmu?"


Aku mengangguk cepat.


Aku mulai memberitahukan hambatan-hambatan yang terjadi selama pelatihan. Lalu Dean Cristal memberikan saran solusinya. Kami terus berdiskusi.


Tanpa kami sadari, diskusi kami berakhir saat hari menjelang sore.


"Ah" Dean Cristal tersentak. "Aku tidak tahu kita akan berbicara lama seperti ini. Sudah sore, aku harus mengurus hal yang lainnya" katanya menyesal sambil melihat ke arah jendela.


"Baiklah guru, aku berterima kasih atas semua saranmu"


Dean Cristal hanya tersenyum sebagai jawabannya. Tapi tiba-tiba ekspresinya berubah serius. "Apa kau tahu jalan pulang?"


DEG! Aku tersentak.


"Tentu saja aku tahu!" jawabku langsung. Ya...bukankah wanita tua terlalu meremehkanku??


Aku bisa langsung teleport ke kamar Robert atau pun ruangan kakek tau!


"Baiklah, sampai nanti..."


"Sampai nanti guru"


Secara perlahan sosok Dean Cristal di depanku memudar dan menghilang.


Aku masih diam di tempat.


Aku memikirkan peta batu itu.


Apa aku harus pergi diam-diam? Berpetualang? Mencari Robert?


Oh! Robert...benar..Robert! Aku lupa!


Aku langsung mencari amplop pemberian Jen itu di dalam ruang dimensi dan mengeluarkannya.


"Isi amplop ini apa ya" gumamku penasaran.


Jiwa penasaranku bergetar. Tapi ini tidak baik membuka barang pribadi orang lain...


Apa aku harus membukanya?


Kupikir Robert tidak akan marah kalau aku membukanya bukan?


Jadi secara perlahan tanganku mulai bergerak untuk membuka segel amplop.


Hanya ada sebuah kartu tebal di dalam amplop itu.


"Kartu apa ini?" gumamku sambil mengeluarkannya.

__ADS_1


****


Para readers, jangan lupa like ya, biar author bisa crazy up, kalau likenya banyak hahaha....


__ADS_2