
cerita sebelumnya:
Rexus dan Fram berteman baik. Mereka saling bercerita. Fram menceritakan pada Rexus tentang ras elf nya dan bagaimana mereka berteman baik dengan naga. Mendengar kan cerita Fram, Rexus jadi ingin bertemu dengan naga lainnya, terutama Chronos, naga tua yang berada di desa elf gelap.
Sementara Eva mencoba artefak baru untuk memperkuat teknik meditasinya. Dia menikmati hal itu sampai jam makan malam tiba.
Saat mereka makan malam bersama, Eva juga mendapatkan fakta menarik bahwa orang tuanya ingin menetap sementara di ibukota.
***
Setelah makan malam selesai, aku kembali ke kamar untuk melanjutkan meditasiku. Aku merasa sangat antusias sekarang dan berniat untuk tidak tidur agar bisa bermeditasi seharian.
Tapi aku menemukan Rexus bergulung dengan nyaman di atas kasur saat aku membuka pintu kamarku.
"Apa kau sudah puas bermain?" aku menusuk-nusuk pipi Rexus dengan jariku.
Rexus langsunh membuka matanya. "Berhenti manusia. Aku ingin tidur" katanya sombong. Tapi dia tetap tidak bergerak dari posisi nyaman nya.
"Bagaimana Fram? Kalian sudah menjadi teman?" aku bertanya dengan mata penasaran karena mereka sudah menghabiskan waktu bersama seharian ini.
"Elf itu. Dia baik, aku menyukainya" jawab Fram. "Em, aku ingin memberitahumu juga, aku merasakan manusia asing disekitar sini" Rexus memperingati sebelum dia kembali menutup matanya dengan nyaman.
Aku tersentak setelah mendengar perkataan Rexus. Manusia asing? Apakah ada penyusup dan sebagai nya?
Aku dengan cepat menggunakan manaku untuk mendeteksi seluruh mansion. Aku bisa melihat kedua orang tuaku di kamar. Para pelayan, dan juga penjaga. Tidak ada kehadiran asing di dalam mansion.
Lalu aku memperluas jangkauan pendeteksian meliputi seluruh tanah di sekitar mansion. Dari halaman sampai ke jalan ibu kota yang berada di luar pintu gerbang. Dan aku menemukannya!
Ada empat kehadiran asing yang mengamati mansion kami di luar gerbang belakang. Mereka bersembunyi di balik pepohonan. Mereka adalah pengintai?
BRAK!
Aku membuka jendela kamarku lalu menatap ke belakang mansion. Aku mencari arah yang tepat untuk mencoba teknik yang baru saja kupelajari.
Aku mempelajari teknik ini secara otodidak alias bukan dari guru manapun. Hanya berasal dari imajinasi liarku.
Aku mengeluarkan artefak baruku, si pisau kecil. Lalu aku mulai mengalirkan manaku ke dalam pisau. Sudah kuduga dari senjata sihir kelas atas, itu bisa menyerap manaku dengan baik. Setelah berhasil menyerap manaku, aku mulai bisa menggerakan pisau itu tanpa perlu menyentuhnya. Hanya dengan lambaian tanganku, pisau itu bergerak dengan lembut.
Aku pun melempar pisau itu keluar jendela.
SYUUU
__ADS_1
Pisau itu melesat dengan kecepatan angin ke arah gerbang belakang. Aku mengamati semua yang terjadi dengan sihir pendeteksi milikku.
Empat orang berpakaian hitam tidak sadar bahwa ada benda kecil yang mengarah pada mereka dengan kecepatan luar biasa.
SYUUU, SYUU, SYUU
Pisau itu melesat di antara mereka yang masih tidak bergerak. Tapi tidak ada efek apapun pada mereka.
" Apa itu?"
"Apa seseorang melempar batu?"
Satu detik.
Dua detik.
tiga detik berlalu....
Mereka sadar bahwa ada yang aneh dengan tubuh mereka. Mereka merasakan kesakitan yang sangat hebat di tubuh mereka.
"ARGHHHHH!!"
Setelah senjata sihir itu melaksanakan tugas nya dengan baik, aku menerbangkannya kembali ke kamarku. Saat pisau kecil itu tiba di hadapan ku, kondisinya masih sangat bagus. Tidak ada goresan atau pun noda darah manusia.
Benar-benar senjata sihir tingkat tinggi! Itu bahkan tampak seperti baru setelah memotong tulang manusia dan pepohonan! Aku benar-benar mendapatkan harta yang berharga kali ini.
Aku sengaja tidak membunuh para pengintai itu karena aku ingin mengetahui siapa dalang di balik semua ini. Mungkin mereka bisa menyelamatkan diri kalau berhasil kabur dari ayahku. Karena aku tahu ayahku juga mengetahui kehadiran mereka.
Duke Court, walaupun dia sedang bersantai, dia tidak bodoh. Telinganya sangat sensitif. Dia bisa tahu bahwa Eva menggunakan sihir pendeteksi dan dia juga melakukannya. Saat dia tahu bahwa ada orang asing yang mengawasi mansion mereka, dia langsung murka.
Dia ingin menghajar mereka, tapi sekarang dia sibuk membuat susu bayi. Kalau dia mengabaikan pekerjaan ini, Diana akan mengusir nya dari kamar. Jadi dia hanya bisa menahan rasa ingin membunuhnya dan menyelesaikan pekerjaannya lebih dulu.
"Tunggu aku para serangga, lima detik!" pandangan Duke Court berubah tajam dan tangannya langsung bergerak cepat.
***
Di sebuah mansion di ibu kota, sesosok pria setengah baya duduk bersantai sambil menggoyangkan kakinya. Dia menatap bola sihir di depan nya dan sesekali tersenyum senang. Di sampingnya, ada putrinya yang sangat pintar menemaninya. Sang Putri juga melihat bola sihir sambil menggambar sesuatu di atas kanvas putih yang besar.
Mereka adalah Marquis Zent dan Reina. Dan saat ini mereka sedang melakukan pekerjaan penting demi kerajaan.
Setelah Reina mengadu padanya bahwa dia dianiaya oleh musuh, Marquis Zent berniat mempercepat rencananya.
__ADS_1
Dia mengirim beberapa orang untuk memantau mansion Duke Court yang berada di ibu kota. Dia sudah melakukan hal ini dari petang tadi. Para bawahannya akan menanam beberapa bola sihir di sudut-sudut penting mansion.
Sementara Reina yang berada di samping nya bertugas untuk menggambar denah lengkap. Reina mempunyai banyak bakat. Bakat menggambar bukan apa-apa baginya.
Semuanya berjalan lancar. Sampai tiba-tiba lima menit yang lalu, senjata sihir tak kasat mata melukai semua bawahannya. Memotong kaki dan tangan mereka.
"Duke Sialan itu mengetahui nya!" umpat Marquis Zent saat dia melihat kejadian yang ditampilkan bola sihir.
"Marquis! Duke Court menyerang!" Marquis Zent bisa mendengar suara panik dari telepati yang dikirimkan bawahannya.
"Kau harus melarikan diri! Cepatt!" Titah Marquis Zent panik.
Dengan cepat para pengintai itu melarikan diri. Tapi Duke Court sudah tiba di depan mereka semua dalam sekejap mata. Mereka belum sempat membuka mulut mereka, tapi tubuh mereka menjadi potongan daging dalam hitungan detik.
'Sialan! Seharusnya satu kubiarkan hidup' pikir Duke Court menyesal. Dia tanpa sadar membunuh semuanya. Dia mengira pemimpin kelompok itu adalah orang kuat yang bisa menahan serangannya. Tapi dugannya salah. Mereka semua benar-benar hanya sekelompok serangga.
Duke Court menemukan bola sihir yang terjatuh dari salah satu para pengintai itu.
"Apa ini?" kata Duke Court sambil mengamati bola sihir itu. Dia ingin melacak jejaknya.
Sementara di sisi lainnya, Marquis Zent berteriak panik saat wajah Duke Court muncul dengan jelas di bola sihir miliknya.
"Pecahkan!" teriaknya panik.
PRANGG!
Reina dengan cepat mengayunkan kakinya untuk memecahkan bola kaca itu.
"...."
Suasana di mansion itu hening sejenak.
Haa~
Marquis Zent menghela napas lega. "Syukurlah, kita tidak terlambat. Iblis itu hampir saja melacak jejak mananya" Wajahnya langsung berubah benci "Dia benar-benar iblis. Dia bisa membunuh orang-orang dengan mudah nya tanpa ekspresi apa pun. Harus dengan cepat dibersihkan" katanya sambil menggertakan giginya.
Duke Court masih tak bergerak dari tempatnya. Pelacakannya gagal karena sisi lain memutuskan aliran sihirnya.
Wajahnya gelap. Tapi dia tidak mengatakan apapun. Hanya senyum menyeramkan yang terbentuk di bibirnya.
Duke Court, sang dewa perang, melalui hari-harinya dengan membosankan selama beberapa tahun. Sekarang musuh tak dikenal muncul di depan matanya dan dia merasa sangat antusias akan hal itu. Jiwa perangnya langsung bergejolak.
__ADS_1