Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Topeng (Robert POV)


__ADS_3

Setelah melarikan diri dari kastil elf gelap, aku segera melarikan diri ke dalam hutan. Aku tidak menggunakan sihir terbang karena terlalu mencolok. Aku hanya menyusuri hutan, menjauhi desa elf itu dengan kecepatan maksimal.


Pendengaranku cukup kuat, jadi aku merasakan getaran samar-samar di belakangku. Para elf itu mengejarku!


Heh~


Tapi mereka pikir mereka bisa menangkapku? Bodoh sekali!


"Aku sudah lelah bermain-main" aku memperlambat langkahku dan berhenti di tempat.


Aku langsung merapal mantra teleportasi.


SHUUU~


Secara perlahan aku menghilang dan pandanganku menjadi gelap.


Setelah beberapa saat secercah cahaya menusuk penglihatanku, dan aku sudah berada di depan Menara Sihir.


Ini benar-benar beruntung!


Untung saja aku punya mana yang cukup untuk berteleportasi sejauh ini. Kalau tidak aku bisa terdampar di tempat yang tidak kukenal.


ps: semakin besar jarak teleportasi maka semakin banyak mana yang dibutuhkan.


Aku segera menuju aula pengawasan untuk menyerahkan bukti bahwa aku sudah menyelesaikan misiku.


Setelah itu aku langsung menuju ruang terpenting bagiku...ruang Dean Caro.


Dean Caro awalnya hanya memiliki ruangan sedikit di atas lantai para murid senior. Tapi, dia dipindahkan akhir-akhir ini karena sudah menjadi salah satu penatua. Aku tidak tahu kenapa guru bisa menjadi penatua, tapi aku pikir itu hal yang baik. Setelah menjadi penatua, guru cukup bersemangat, ehm...mungkin....


"Guru!" aku memekik bersemangat sambil mendorong pintu dengan kuat.


Dean Caro yang sedang sibuk dengan penelitiannya tiba-tiba bergetar kaget. Dia membuka sedikit mulutnya, ingin membentak, tapi dia langsung mengernyitkan keningnya dan bersikap santai. "Ada apa Robert?"


"Aku ingin memberitahumu sesuatu. Ini sesuatu yang menakjubkan" kataku antusias.


Aku mulai bercerita dari awal. Saat aku bertemu kakek itu dan mendapatkan peta misterius. Saat aku berpetualang ke desa elf dan mencuri barang mereka. Aku juga menceritakan bahwa aku menemukan buku cerita dan selembar kertas dengan tulisan kuno. Aku menceritakan semuanya, kecuali tentang Eva.


Mata Dean Caro berbinar. "Berikan kotak itu padaku"


"Ehm...tapi..." aku agak ragu memberikannya.


"Aku akan memberimu petunjuk lebih jauh. Terutama tulisan kuno itu. berikan padaku!" dia mendesak.


Aku memberikan kotak itu padanya.


Dean Caro segera membuka kotaknya. Dia mengamati buku cerita aneh itu dan mengernyitkan keningnya. "Tidak berguna" dia langsung melemparkan buku itu ke tempat sampah. Lalu mulai mengambil secarik kertas yang ada di dalam.


"Ehhh?" aku segera mengambilnya. "Walaupun ini tidak menarik, kau seharusnya tidak membuangnya guru" kataku mengeluh.


Dean Caro tak menanggapi, dia terus fokus sambil memegang kertas itu.


"AKU MENEMUKANNYA!" tiba-tiba berteriak histeris.


Aku tanpa sadar memundurkan langkahku. Entah kenapa raut wajah guru saat ini sangat mengerikan.... Ada apa ini? Aku belum pernah melihat guru berekspresi seperti ini sebelumnya...


"Guru...." aku bergumam takut-takut.


Tapi Dean Caro tidak peduli. Dia menatap kertas itu dengan antusias dan bergumam tidak jelas. Lalu sesekali dia berteriak dengan bahasa aneh.


"Guru!" aku langsung berteriak keras.


Dean Caro berhenti bersikap aneh dan menatapku.


"Barang itu milikku!" kataku langsung. "Kembalikkan!"


Entah kenapa aku langsung merasakan hawa ingin membunuh? Apa itu berasal dari guru? Tapi itu hanya sebentar. Dalam sekejap hawa membunuh itu menghilang. Dan Guru menatapku dengan ekspresi datar.


"Berikan ini padaku dulu. Aku akan mencari tahu apa yang tertulis disini. Setelah itu aku akan memberitahukannya padamu dan mengembalikan kertas ini" Dean Caro menjelaskan. "Kau tenang saja, aku tidak akan mengambilnya darimu. Aku hanya penasaran. Aku sangat menyukai benda misterius seperti ini" Dean Caro bersikap santai sambil menunjukkan senyum tulusnya.


"Baiklah guru. Kapan kau akan mengetahui apa yang tertulis disitu?"


"Secepatnya. Aku akan memberitahumu secepatnya setelah melihat referensi di perpustakaan"


Aku mengangguk. Lalu aku melihat sekeliling ruangan guru dan merasa prihatin. "kau harus memperhatikan kesehatanmu guru" kataku khawatir karena dia terlalu banyak meneliti sesuatu. "Aku pergi dulu guru"


"Pergilah anak nakal" kata Dean Caro sambil menggerakan tangannya.


Aku hanya tersenyum sebelum pergi meninggalkan ruangan itu.


Dean Caro menatap kepergian Robert dan tersenyum.


"Akhirnya aku menemukannya. Benar-benar bocah pembawa keberuntungan. Tidak sia-sia aku mengambilnya. Dan beruntungnya dia bodoh ahahaha"


Dia melirik kertas di tangannya


"Kekuatan! Aku datang! Aku datang!" dia berteriak seperti orang gila sambil mengangkat tangannya ke atas. Dan raut wajahnya berubah seperti orang gila...


***


Beberapa bulan berlalu semenjak kejadian itu. Aku melalui hariku seperti biasa. Aku berlatih. Datang ke mansion duke untuk mengajari Eva. Sesekali menghampiri guru untuk menanyakan perkembangan tentang tulisan kuno itu. Tapi guru selalu menjawab, bahwa dia belum menemukan artinya. Semakin lama aku semakin risih. Apa aku harus merebut kertas itu dari guru dan mencari tahu sendiri?


"Kenapa lama sekali?" gumamku frustasi.


Akhirnya dua bulan berlalu, Guru akhirnya memberiku jawaban memuaskan.


"Ini resep untuk membuat ramuan kekuatan" jelas Dean Caro. "Ada banyak bahan langka di dalamnya. Tapi, kalau kau menemukan satu atau dua bahan dan mencampurkannya, ramuan itu tetap memiliki efek. Walaupun efeknya tidak sekuat ramuan dengan bahan lengkap."


Dia memberiku secarik kertas. "Ini. Aku sudah membuat salinannya untukmu"


"Eh?" aku mengernyit bingung. "Aku ingin kertas yang asli guru. Aku tidak membutuhkan salinannya" kataku sambil mengabaikan kertas di depanku. "Humph" aku merenggut kesal.


Mata Dean Caro melotot penuh kebencian. Tapi itu hanya sebentar, sehingga Robert sama sekali tidak memperhatikannya. Dalam sekejap, dia kembali menata ekspresinya. "Baiklah" Dia mengeluarkan kertas lainnya dan memberikannya pada Robert. "Ini"


"Terima kasih guru~" kataku. "Aku juga ingin kertas salinannya" kataku.


"Aku ingin dua-duanya" aku munjukkan senyum lebarku sambil memperlihatkan gigiku.

__ADS_1


Guru tidak merespon. Dia hanya terdiam. Kelihatannya dia kesal bukan?


Ah, sudahlah. Aku langsung menarik kertas lainnya dari tangan guru dan pergi meninggalkan tempat itu.


Ruangan itu hening, setelah Robert berteleportasi meninggalkan ruangan.


"ARGGGGHH!" Dean Caro menjerit frustasi. "Dasar bocah sialann! Kalau saja dia bukan anak genius. Aku pasti akan melenyapkannya"


Tatapannya semakin dingin "Tidak. Aku pasti akan membunuhnya di tempat sejak kami pertama kali bertemu. Aku tidak akan membawa bocah sial itu kemari dan berpura-pura baik padanya, ck!"


***


Bertahun-tahun berlalu. Tanpa sadar, aku sudah beranjak usia dewasa. Bagi anak laki-laki usia 18 tahun merupakan usia dewasa. Bagi anak perempuan, usia dewasa mereka adalah 17 tahun. Saat anak-anak mencapai usia dewasa, mereka akan mengadakan upacara untuk menyambut peralihan mereka dari anak-anak menuju dewasa. Upacara kedewasaan ini bersifat wajib, tapi tidak terlalu rumit dan sulit.


Upacara kedewasaan merupakan upacara perjamuan sederhana. Para bangsawan merayakan upcara kedewasaan mereka dengan mengadakan pesta perjamuan yang mewah. Beberapa bangsawan tingkat tinggi akan mengundang raja sebagai tamu penting. Tapi berbeda dengan rakyat jelata. Mereka hanya mengadakan perjamuan sederhana di rumah mereka. Mereka hanya memesan atau membuat makanan yang lebih mewah dari biasanya dan makan bersama dengan anggota keluarga yang lengkap. Mereka tidak mengundang orang luar.


Menara Sihir menerapkan konsep keduanya. Setiap murid yang memiliki tanggal lahir yang sama akan mengadakan upacara kedewasaan bersamaan. Menara Sihir mengadakan pesta yang sangat mewah, tetapi hanya diperuntukan untuk anggota mereka sendiri. Mereka tidak mengundang orang luar.


Aku akan merayakan upacara kedewasaanku hari ini. Selain aku, ada dua puluh orang anak lainnya yang menuju dewasa. Kami mengadakan perjamuan di aula. Dan ketua Menara Sihir akan memanggil satu per satu anak, dan mulai memberikan mereka berkat atau hadiah kecil.


Dua puluh satu orang remaja, baik laki-laki dan perempuan, berbaris dengan rapi di depan aula. Mereka mengenangkan jubah putih yang lebih elegan dari biasanya. Itu merupakan jubah yang istimewa, menandakan bahwa mereka sudah naik menjadi murid senior. Ada setangkai bunga mawar di saku dada mereka, membuat penampilan mereka semakin elegan. Remaja laki-laki mulai mengeluarkan aura yang keren dan anak perempuan bertindak sangat fenimin, mereka berhias diri dengan baik khusus untuk hari ini.


Robert berada di barisan paling akhir. Namanya paling terakhir disebut saat pemberkatan. Ketua Menara Sihir hanya memberi Robert sebuah bros pelindung berbentuk bunga. Itu merupakan alat sihir yang langka, bisa digunakan saat darurat. Dan terlebih lagi, bisa digunakan sebanyak sembilan kali. Entah kenapa bros pelindung ini menggunakan konsep nyawa kucing.


Saat pemberkatan berakhir, acara makan-makan pun dimulai. Para tamu mulai berbaur satu sama lain. Mereka membentuk kelompok kecil dan mulai bercengkrama dengan ria.


Saat aku sedang sibuk berbicara dengan murid lainnya. Tiba-tiba aku melihat guru meninggalkan aula pesta.


Sudah kuduga, guru tidak suka suasana keramaian seperti ini. Guru lebih suka menyendiri untuk melakukan penelitian anehnya, dia tidak suka bersosialisasi.


Aku mulai menatap sosok yang melintas dengan melankolis. Kalau bukan karena guru, aku tidak akan hidup bahagia disini. Kalau bukan karena guru, aku tidak akan menjadi sosok yang hebat seperti ini. Aku langsung mengejarnya. Aku ingin berterima kasih padanya atas semua yang telah dia lakukan. Sampai aku bisa beranjak dewasa dan mandiri seperti ini.


Aku meninggalkan aula. Aku mulai mengikuti sosok guru yang berjalan sangat cepat.


tapi setelah mengikutinya beberapa saat, aku merasa bingung. Eh? Guru mau kemana?


Dia melangkah ke halaman belakang Menara Sihir dan mulai memasuki hutan terlarang. Apa yang ingin dilakukan guru di hutan terlarang ini? Bukankah tempat ini penuh monster. Apa guru ingin berburu?


Aku terus mengikutinya dan tiba-tiba aku melihat sekelompok berjubah hitam mulai muncul dan mengelilingi guru. Eh? Apa ini musuh! Aku bersiap menampakkan diri untuk membantu guru. Tapi...


"Hormat kami master" para jubah hitam itu membungkuk serentak.


Master? Mereka murid guru? Tapi kenapa mencurigakan? Apa guru mempunyai murid di tempat lainnya? Kenapa dia harus menyembunyikan mereka dan bertindak mencurigakan seperti itu?


"Baiklah. Kalian sudah datang. Kalian sudah menyelesaikan misinya?"


Para jubah hitam itu mengangguk.


"Misi? Misi apa?" aku mengernyitkan kening penasaran.


"Tidak lama lagi, rencana kita akan dijalankan. Aku sudah mendapatkan anak itu dan menumbuhkannya. Kita tinggal memetik buahnya. Dan aku akan semakin kuat hahaha" Dean Caro tertawa terbahak-bahak sambil menatap langit. "Kalian tenang saja. Sebentar lagi waktunya tiba."


Keningku semakin mengernyit saat mendengar perkataan guru. Apa maksudnya? Entah kenapa perasaanku tidak enak.


"Anak itu harus membalas budinya. Aku sudah membesarkannya. Dia harus menjadi batu panjatanku menuju kekuasaan" kata Dean Caro dengan nada dingin.


DEG! Jantungku berdetak.


DEG! Jantungku berdegup lagi.


"Guru..." aku bergumam kecil. Mulutku terasa kering dan sangat sulit untuk terangkat.


"Tapi master..." salah satu jubah hitam itu tiba-tiba menyela. "Dia anakmu..." katanya lirih.


DEG! Jantungku berdenyut semakin kuat. DEG! DEG!


Anak.....?


Apa benar guru adalah ayahku? Orang tua yang selama ini kucari? Guru sudah bersusah payah untuk merawatku, itu karena dia orang tuaku bukan?


Tanpa sadar mataku mulai basah.


"Eh? Aku menangis..." aku menyentuh mataku dan air mata langsung membasahi jariku.


"Ayah....ayah...ayah..." aku bergumam dan derai air mata semakin keras.


"Aku merindukanmu ayah...aku merindukanmu...."


jantungnya berdegup kencang. Ini bahkan berdegup lebih kencang daripada saat dia bersama Eva. Dia benar-benar senang sekaligus gugup. Apakah aku beruntung? Ternyata aku saat ini hidup bahagia dengan ayahku....


Apa aku keluar saja untuk menampakkan diriku? Aku yakin ayah pasti senang!


Aku mulai menggerakan kakiku. Tapi tiba-tiba...


"Arghh!" sebuah teriakan bergema dan dara bercucuran melintas di depan mataku.


BUK! Jubah hitam yang telah berbicara tadi ambruk ke tanah dan kepalanya berguling menuju kaki Dean Caro.


Robert menyaksikannya diam-diam dengan mata membelalak. Tubuhnya mematung.


"Siapa saja yang berani berkata seperti itu akan menyusulnya!" kata Dean Caro dingin sambil menunjuk mayat di depannya.


"Jangan berani-berani menyebut anak di depanku!!" dia berteriak.


"Kalau berita ini tersebar, aku akan membuat kepala kalian berguling!"


Para jubah hitam itu terdiam tidak bergeming sambil menundukan kepala mereka.


"Anak? Anak apa? Hahaha"


"Dia tidak lebih dari pion. Dan seharusnya dia tidak lahir."


"******* sialan itu!" dia mengumpat sambil menghentakkan kakinya. "Berani-beraninya dia hidup dan hamil! Sial! Aku harusnya membunuhnya setelah menidurinya! Berani-beraninya dia melahirkan anak terkutuk itu!"


"Untung saja bocah itu berguna! Kalu tidak pasti akan kulenyapkan, dia tidak ada bedanya dengan bocah gembel biasa"


Ah! Tubuhku bergetar. Aku tidak jadi menggerakan kakiku. Kenapa? Apa aku takut? Apa aku takut ayahku membunuhku dengan tangannya sendiri?

__ADS_1


"Baiklah, kita pergi." kata Duke Caro menenangkan nada suaranya.


Para jubah hitam itu hanya mengangguk.


"Jangan lupa. Cari bahan terakhir. Kita perlu menyempurnakan ramuannya." Ini adalah kata-kata terakhir, sebelum sosoknya menghilang di tempat.


Para jubah hitam itu juga menghilang satu per satu.


Aku masih mematung.


Secara perlahan, aku menggerakan kakiku menuju tempat Dean Caro berdiri.


"Apa-apaan..." gumamku lirih.


"Hahahahahah!" aku tertawa gila sambil menatap langit.


Apa yang baru kudengar ini ? Hahaha!


Guruku yang kuanggap orang penting bagiku ternyata menganggapku seperti itu? Aku hanya dimanfaatkan hahaha!


Dia bahkan tidak mau mengakuiku sebagai anaknya!


Hahaha!


Setelah aku mengeluarkan tawaku selama beberapa menit. Aku langsung terdiam.


"Aku bahkan tidak membutuhkan orang sepertinya..." gumamku dengan nada dingin.


Ya, benar!


Aku juga tidak membutuhkannya!


Persetan dengan orang tua! Aku sama sekali tidak peduli!


"Ingin memanfaatkanku?hahaha...."


***


Beberapa tahun berlalu, dan tiba-tiba kabar yang mengejutkan menggemparkan Menara Sihir. Aku tidak tahu dari mana sumbernya. Tapi, rahasia bahwa aku adalah putra orang itu terungkap. Aku tahu bahwa rahasia ini akan bersembunyi lebih lama lagi.


Hari itu, semua rahasia terungkap. Semua orang di Menara Sihir mengalihkan perhatian mereka padaku setelah kabar itu terungkap. Beberapa dari mereka menatapku dengan mata penasaran. Sisanya dengan mata kebencian dan keirian. Mereka membuat spekulasi bahwa kemampuanku sebagai jenius dibuat-buat karena aku adalah anak haram penatua. Spekulasi buruk itu semakin menyebar luas, sehingga hampir semua murid menatapku dengan kebencian.


Tentu saja mereka akan membencinya! Siapa yang tidak akan membenci seseorang yang mengandalkan koneksi agar bisa populer? Beberapa murid mulai mencari masalah untuk bertarung denganku. Aku tentu saja menerimanya. Dan tentu saja aku menang! Aku ingin membuktikan bahwa aku memang berbakat, dan karena itulah pak tua itu ingin memanfaatkanku! Tapi, para murid itu tetap tidak mengakuinya. Semakin banyak murid yang menatangku, walaupun sudah dikalahkan dan dihajar berkali-kali. Mereka tetap gigih datang di pintu kamarku.


Orang tua itu juga sudah merasakan perubahan sikapku padanya. Saat rahasia itu terungkap, dia melepas topengnya. Dia tidak memperlakukanku dengan ramah seperti sebelumnya. Lebih tepatnya dia menekanku! Dia memaksaku untuk mematuhi perintahnya. Aku tentu saja memberontak, tapi aku tetap tidak bisa menentangnya terlalu jauh, karena dia selalu mengancamku dengan kata-kata 'balas budi karena sudah membesarkanmu', membuatku merasa tidak nyaman.


Walaupun rahasia terungkap, hanya para murid yang heboh. Para penatua acuh tak acuh. Mereka tidak peduli sama sekali. Aku yakin ini berita sepele untuk mereka, karena itu mereka tidak peduli.


Tapi, suatu hari, Dean Wason, ketua Menara sihir itu memanggilku!


Jujur saja, selama hidupku, aku hanya bertemu Dean Wason dua kali. Dan ini pertemuan ketiga. Jadi aku merasa gelisah, tidak nyaman dan agak sedikit takut. Apa gara-gara berita itu?


Aku memasuki ruangan Dean Wason takut-takut. Aku melihat pria tua itu sibuk dengan buku yang ada di depannya. Wajah pria tua itu bijaksana, dan terlihat seperti pria tua yang sangat ramah. Hal ini sedikit mengurangi rasa gelisahku.


"Oh?" Dean Wason mengangkat alisnya. "Kau sudah masuk rupanya" dia langsung menutupnya dan mempersilahkan Robert untuk duduk.


Aku langsung duduk. "Terima kasih"


"Kau tau kenapa aku memanggilmu?"


Aku menatap Dean Wason ragu-ragu. Tidak tahu mau menjawab apa  "itu...itu..."


"Bukan itu!" sela Dean Wason. "Aku tidak akan membicarkan berita tidak penting itu" katanya acuh tak acuh. "Kau sudah tahu pertandingan sihir sudah dekat bukan?"


"Ah!"


Aku mengangguk antusias.


"Bagaimana persiapanmu?"


Rasa antusiasku langsung menghilang. Dan wajahku berubah muram.


Pertandingan sihir? Entah kenapa aku ingat perkataan Dean Caro beberapa hari yang lalu. Aku harus mengikuti pertandingan itu dan mengambil kursi peringkat. Agar bisa mencari barang yang dia inginkan.


Dean Caro, pria itu sangat terobsesi dengan kekuatan. Dia sibuk meneliti resep aneh yang kutemukan dan berharap menemukan bahan terakhir di domain misterius. Harusnya aku tidak memberitahunya tentang resep itu! Aku sangat menyesal....


Aku menatap Dean Wason serius. "Ketua, ada yang ingin kubicarakan?"


"....." Dean Wason tidak menjawab, dia hanya membalas tatapanku dengan wajah serius juga.


"Aku tidak akan ikut Pertandingan Sihir itu. Aku juga akan keluar dari Menara Sihir" kataku tegas.


Dean Wason membelalakan matanya. "Tidak!" katanya langsung.


"Kau satu-satunya murid berguna yang ada disini! Murid lain tidak akan bisa menggantikanmu! Apa kau ingin mempermalukan Menara Sihir dengan mengirim murid-murid bodoh itu!"


"Tapi aku sudah memutuskannya" kataku tegas. "Aku tidak mau dimanfaatkan oleh orang itu. Aku tidak mau!"


"Tapi...aku juga tidak bisa menentangnya...." kataku lemah.


Raut wajahku berubah sedih. "Dia membesarkanku. Memberiku kehidupan yang nyaman. Dia juga orang tuaku. Walaupun dia orang jahat, aku tetap tidak bisa mencelakainya. Jadi pilihanku hanyalah melarikan diri dari semua ini"


"Aku tahu, tapi..." Dean Wason ragu-ragu. Tapi kemudian dia menghilangkan keraguannya. "baiklah...aku akan menghargai keputusanmu"


"Terima kasih ketua" aku menundukkan kepala dengan tulus.


"Kalau begitu aku akan permisi dulu"


"Kau harus hati-hati. Dia bisa saja merencanakan sesuatu karena kau melarikan diri. orang tua itu pasti frustasi" Dean Wason menggelengkan kepalanya.


Robert tersenyum. "Kau juga harus hati-hati pak tua. Jaga tahtamu dengan waspada" kataku berani.


Aku tidak pernah memanggil "Dean Wason" dengan sebutan pak tua. Itu benar-benar lancang. Tapi, aku sudah memutuskan keluar dari Menara Sihir, jadi aku tidak terikat aturan itu lagi. Aku bisa dengan bebas mengatakan apa pun yang kuinginkan, bahkan kepada Penatua Menara Sihir.


"Bocah, dasar kau!"


"Hahaha....selamat tinggal pak tua. Jangan meninggalkan jejak oke"

__ADS_1


Dan, beberapa saat kemudian, berita bahwa Robert diusir dari Menara Sihir terungkap ke publik. Dan Menara Sihir menjadi gempar lagi. Kepala seluruh orang penuh dengan pertanyaan. Bagaimana bisa seperti ini? Kenapa? Mereka tidak pernah tahu kenapa bocah itu diusir. Apa dia membuat masalah? Apa dai menyinggung seseorang yang kuat?  Dan beritanya datang satu persatu, membuat mereka tidak bisa mengistirahatkan otak mereka.


Sejak itu, Robert meninggalakan Menara Sihir. Dia mengelilingi kerajaan, dan lebih sering menginap ke mansion duke. Eva tidak pernah tahu, bahwa masternya yang selalu berkunjung secara rutin itu menginap di mansionnya sendiri.


__ADS_2