
cerita sebelumnya:
Pertandingan perebutan peringkat seratus umum masih terus berlanjut. Eva memperhatikan pertandingan para peserta yang memiliki peringkat di atasnya lebih dulu.
Reina berhasil menduduki peringkat 11. Putra mahkota Gerd berhasil menduduki peringkat 15. Fena menduduki peringkat 50 dan Lilac berhasil mengalahkan peringkat 20.
Untuk peserta lainnya, Eva tidak terlalu memperhatikan nya. Dan dia malah tertidur. Dia terbangun saat gilirannya tiba. Tapi anehnya peserta kuat dari sepuluh besar, yang sama Sekali tidak dikenalnya, memusuhinya tanpa sebab.
***
"Apa kau berani menerima tantanganku?" Geranina sekali lagi menyuarakan tantangannya.
Aku sebenarnya bisa menolak kalau aku mau. Karena tantangan dari senior itu tidak resmi. Hanya murid baru yang bisa memberikan tantangan pada para senior. Tapi para senior tidak bisa memberikan tantangan nya pada murid baru, untuk mencegah masalah pembulian. Tantangan itu tidak resmi dan dapat ditolak.
Tapi kita juga bisa menerimanya kalau kita menginginkan nya. Aku sedang berpikir saat ini. Terima atau tidak? Aku sedang bingung saat ini.
"Humph! Aku yakin kau takut!" aku mendengar kan suara menjijikan itu lagi. Siapa lagi kalau bukan pria peringkat sembilan itu. Kenapa dia selalu membuatku kesal dengan memberikan provokasinya? Hei, padahal aku sama sekali tidak mengenalmu!
Mungkin aku harus terbiasa menghadapi situasi seperti ini. Mengingat banyak sekali yang membenciku, walaupun aku sama sekali tidak berbuat salah pada mereka.
"Aku akan menerimanya"
Jawaban Eva membuat seluruh aula menjadi gempar. Geranina adalah dewi di mata mereka. Dan anak baru ini berani menerima tantangan nya dengan percaya diri.
"Bukankah dia mencari mati?"
"Tapi dia anak duke"
"Tidak ada hubungannya dengan duke. Geranina adalah dewi, dia tidak akan bisa mengalahkan nya"
"Dia tidak akan bisa memanggil ayahnya saat pantatnya dipukuli nanti"
"Aku benar-benar menantikan hal itu. Melihat gadis sombong seperti itu jatuh adalah kesenangan tersendiri untukku"
Mereka mulai bergosip satu sama lain. Tapi isi gosip mereka sebagian besar adalah merendahkan Eva dan ingin melihat dia kalah dengan menyedihkan. Eva benar-benar tidak tahu bahwa ada banyak sekali murid akademi yang tidak menyukainya karena rumor buruk miliknya.
Geranina langsung turun di tengah arena. Saat dia masuk ke dalam arena, informasi miliknya muncul di udara.
"Geranina Van Deuz"
"19 tahun"
"Kelas 3A"
__ADS_1
"Anggota Dewan"
"Peringkat 5"
Semua informasi tentang Geranina pun dibaca oleh ku.
"Peringkat 5 ya..." aku bergumam pelan. Aku belum pernah melihat peringkat sepuluh besar itu bertarung karena tidak ada yang berani melawan mereka.
Sekuat apa tingkat 5 ini?
Aku pun maju ke tengah aula, tempat di mana kami akan bertanding.
"Baiklah, kalian bisa mulai" salah satu guru akademi, yang ditunjuk menjadi wasit pertandingan, memberikan aba-abanya. Setelah itu sorakan keras mulai terdengar dari seluruh aula.
"Bersiaplah!" Geranina mengeluarkan pedang nya dan menyerang dengan cepat.
Aku menghindari ayunan pedang itu. Tapi pedang itu tetap mengikuti langkahku.
Dia cukup cepat. Kelihatannya dia seorang pendekar sihir, sama seperti Lilac.
Kalau aku tidak menggunakan artefak untuk memperkuat tubuhku, aku tidak akan bisa mengimbangi kecepatannya.
Wajah Geranina menjadi sangat jelek karena Eva terus menghindari serangan nya. Dia mengira anak itu akan kalah di serangan pertama. Lagipula dia hanyalah penyihir tanpa kekuatan fisik. Tapi dugaannya salah.
Setelah dia siap, dia meleparkan sihir itu.
"Break!"
KRAK, KRAK
DUARRRR!!
Itu adalah sihir tingkat bumi tingkat tinggi. Saat dia melemparkan sihirnya, sebagian arena rusak dan hancur.
Melihat debu dan lubang besar di depannya, Geranina merasa puas. Dia merasa sihir tingkat tingginya berhasil melukai Eva. Walaupun napasnya sekarang sangat berat karena kelelahan.
Aku benar-benar tidak tahu bahwa perkembangan nya secepat ini. Dia langsung menggunakan sihir tingkat tinggi padahal kami hanya bertanding selama beberapa menit.
Untung saja aku dengan cepat memasang sihir pelindung dan mundur. Walaupun aku tetap terjebak, karena lantai di bawah kakiku tiba-tiba rusak. Tapi aku hanya terjatuh sebentar sebelum aku menggunakan sihir terbangku, lalu mendarat perlahan ke area yang tidak menjadi reruntuhan.
Debu di arena perlahan menghilang, menampakkan sosok Eva yang masih baik-baik saja di pinggir lapangan. Senyum kemenangan Geranina langsung menghilang. Wajahnya langsung berubah serius.
'Kenapa dia baik-baik saja? Dia bahkan tidak terluka?!' pikir Geranina tak percaya. Bahkan guru akademi pun akan memiliki tampilan menyedihkan kalau terkena sihirnya! Tapi kenapa dia baik-baik saja!
__ADS_1
Penampilan Eva masih sangat bersih seperti sebelumnya. Bajunya hanya sedikit berdebu sehingga dia mengibaskan roknya sedikit. Sikapnya juga masih sangat santai seperti dia tidak pernah menggunakan sihir apapun.
"Bukankah terlalu awal menggunakan sihir tingkat tinggi?" kataku bingung sambil menatap murid wanita di depanku. Maafkan aku, aku lupa namanya tehe~
Tapi, aku hanya melihat dia diam membisu sambil menggertakan giginya.
Yah, kalau memang ingin bertanding menggunakan sihir tingkat tinggi, aku akan menurutinya.
Aku melambaikan tanganku "Inferno".
Sisi area lainnya langsung berubah menjadi kolam lava. Kolam lava itu bahkan terbentuk ke arah bangku penonton. Untung saja ada penghalang antara area pertandingan dan kursi penonton. Jadi kecelakaan tidak diinginkan bisa dihindari.
Geranina terlambat menghindar. Sepatunya dengan cepat lenyap menjadi abu. Walaupun menghindar dengan sihir terbang, kakinya mengalami sedikit luka bakar.
Aku melihat lawanku masih sangat sehat, bahkan dia bisa terbang dengan lincah. Aku pun mengeluarkan sihir tingkat tinggi lainnya. "Wind"
Satu angin tornado kecil pun mengarah ke musuh.
Aku mengira ini masih kurang. Dia pasti bisa menghindari angin itu. Jadi aku mengeluarkan sihir lainnya.
"Waterbom"
"Strike"
"fire ball"
Aku mengeluarkan sihir tingkat menengah berturut-turut dari tiga elemen, yaitu air, angin dan api.
Bunyi tanah retak dan bunyi hancur lainnya pun menghiasi telingaku. Sekarang area pertandingan sepenuhnya hancur menjadi batu-batu kecil dan penuh debu.
Aku menggunakan sihir terbang untuk mengamati seluruh area yang hancur. Saat debu mulai menghilang, aku pun melihat lawanku.
"..."
Tapi kondisinya tidak baik. Bukan hanya tidak baik. Itu sangat mengenaskan. Dia tergeletak di salah satu batu runtuhan dengan pakaian compang-camping dan tubuh penuh dengan goresan darah.
"Aku tidak membunuh nya bukan?" gumamku sedikit panik. Aku tidak mengira dia benar-benar akan babak belur hanya dengan sihir kecil ini! Apa ini salahku karena terlalu berlebihan?!
Selama ini Eva terbiasa menghadapi lawan yang kuat dan lebih senior darinya. Walaupun dia selalu berakhir dengan kekalahan karena kurang nya pengalaman dan kemampuan. Jadi setelah menghadapi lawan yang sebaya dengannya, dia berada di tingkat yang berbeda. Tapi dia tidak menyadari itu.
"...."
Bahkan seluruh aula sekarang membisu dalam diam. Semua itu terlalu cepat untuk mereka. Pertandingan itu hanya berlangsung sepuluh menit. Geranina hanya menggunakan satu sihir. Saat Eva membalasnya dengan serangan sihir lainnya, Geranina langsung kalah dengan mutlak tanpa perlawanan apapun. Bahkan seluruh arena sekarang hancur total. Pertandingan ini benar-benar seperti berat sebelah. Padahal ini adalah pertandingan kelas atas.
__ADS_1
Bahkan sang wasit pun mematung saat melihat pertandingan di depan matanya. Dia juga lupa untuk memberitahu bahwa pertandingan sudah berakhir.