Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 3: Akademi: Pelajaran Pertama


__ADS_3

Cerita sebelumnya:


Eva mendapatkan teman sekamar bernama Vivian, yang merupakan kakak tiri Reina. Sayangnya mereka tidak sekelas, sehingga mereka tidak bisa bersama saat menuju gedung akademi.


Saat memasuki kelas A, Eva merasakan suasana yang familiar. Dia melihat banyak mata yang menatap tidak senang padanya. Lalu Reina juga mulai mendekatinya dan meminta maaf seakan-akan dirinya sudah ditindas, yang membuat kesalah pahaman para murid semakin jelas. Dia juga bertemu dengan tiga gadis bawahannya di masa lalu.


Lalu wali kelas mereka masuk. Dia bukan Robert. Siapa dia? Eva merasakan bahwa dia melihat seorang elf dengan tatapan dingin walaupun hanya sebentar.


'Apa aku hanya berhalusinasi' Eva berpikir ragu


***


"Baiklah, perkenalkan nama saya Wilson. Mulai sekarang saya akan menjadi wali kelas kalian dan mengajari kalian tentang sihir" kata pria itu di depan kelas.


Pria bernama Wilson itu tampaknya seumuran Robert. Dia memiliki figur seorang pria maskulin berambut pirang dan bermata biru. Dia pria dewasa tampan yang memancarkan aura ceria, berbeda dengan Robert yang selalu memancarkan auran elegan dan dingin.


"Baiklah, karena kalian baru mulai. Aku akan mengajari kalian terlebih dahulu untuk mengatur mana elemen kalian dan melakukan mantra dasar. Aku tahu ada beberapa yang sudah mempelajarinya karena mempunyai tutor di rumah masing-masing. Tapi jangan meremehkan ini oke. Hal-hal yang kuat memerlukan pondasi yang kuat, jadi jangan pernah meremehkan kekuatan dasar kalian."


"Baik guru" para murid itu mengangguk.


"Baiklah. Aku akan memberikan kalian kertas elemen. Kertas ini akan mengetahui seberapa jauh kalian menguasai elemen kalian. Baiklah ambil ke depan, mulai dari barisan paling depan."


Satu per satu murid mulai mengambil kertas elemen itu. Mereka mengambilnya sesuai dengan elemen yang dimilikinya. Saat tiba giliranku, aku mengambil kertas berwarna merah untuk elemen api ku dan kertas berwarna biru muda untuk elemen airku.


"Amati kertas kalian masing-masing" kata guru Wilson. "Edarkan mana kalian di dalam kertas itu. Mana kalian akan sangat sulit dikendalikan saat kalian memasukkannya di dalam kertas elemen karena kertas itu sangat tidak seimbang. Bagi kalian yang sudah bisa mengontrol dan menguasai mana, kalian pasti bisa mengeluarkan sihir dasar dari kertas elemen itu"


Satu per satu murid mulai berkonsentrasi dan mulai mengeluarkan mana mereka.


"Ehhhh? Ini sulit!!"


"Ah, manaku terputus"


"Kenapa susah sekali untuk mengeluarkan sihir dasar. Seperti ada penghalang"


"Kenapa kertas ini sangat memberontak!!"


Aku mendengar para murid itu mengeluh. Bahkan ada yang mengamuk tidak sabar.


Aku jadi penasaran. Aku melihat kertas elemen berwarna merah muda di tangannya.


"Apa sesulit itu?" dia  bergumam. Lalu dia mulai mengedarkan mana dan mengirimnya pada kertas itu.


PSSHHH! Api kecil mulai muncul di atas kertas.


'Eh? Ini tidak sesulit yang kuduga"


"Bukan hanya aku yang berhasil ternyata" gumamku sambil mengamati sekeliling. Aku melihat ada beberapa murid yang berhasil melakukannya. Ada berbagai elemen yang keluar, dari gumpalan air, gumpalan tanah, bola udara dan bola api.


Aku melirik Lilac yang kursinya kebetulan berada di sampingku. Dia juga berhasil mengeluarkan api kecil.


Aku mencoba kertas yang satunya, yang berwarna biru dan SHERRR, gumpalan bola air mulai muncul.


'Latihan ini terlalu gampang' pikirku meremehkan.


'Bahkan pelatihan dari Robert dan Dean Cristal lebih susah. Apa karena ini akademi? Jadi pelatihan mulai disesuaikan dengan kemampuan anak-anak?'


Lilac kebetulan melihat Eva. Dan dia melihat ekspresi cemberut dan meremehkannya.


"Kau melakukannya dengan bagus kawan" kata Lilac sambil menepuk bahuku.

__ADS_1


"Padahal kau bukan penyihir khusus api. Tapi kau memunculkan api itu lebih cepat dariku!"


"Ahahaha" aku tertawa canggung. "Ini hanya kebetulan. Kalau aku melakukannya lagi, Itu tidak akan secepat ini"


Ahhh! Dasar bodoh!! Lain kali kau harus hati-hati oke. Jangan mencolok! Aku berusaha memperingati diriku.


WAAA WAAA WAA


Aku mendengar seruan keributan dan kegaduhan.


Di saat aku ingin membuat diriku berbaur dan tidak mencolok, coba lihat ada seseorang yang sangat ingin mencolok dan menonjol disini. Siapa lagi kalau bukan Reina.


Gadis pengguna cahaya itu berhasil mengeluarkan mantra cahaya yang menyilaukan dari kertas itu. Ahh, dia memang sudah disetting untuk menjadi hebat ya ~


"Oh? Pengguna elemen cahaya?" guru Wilson berseru kaget. "Benar-benar langka dan penguasaanmu juga sudah sangat hebat" guru itu memuji.


"Terima kasih guru" kata Reina menerima pujian itu dengan sopan.


"Ah! Sudah kuduga dari peringkat terbaik!" aku mendengar Lilac berseru. "Kau lihat Eva. Gadis polos itu benar-benar hebat ternyata. Kau seharusnya berteman dengannya, kenapa harus berkelahi dengannya sih"


"Hmph!" aku hanya mendengus tidak peduli.


Guru Wilson menatap elemen cahaya yang dibuat oleh Reina dengan teliti. "Cahaya ini? Apa manfaatnya?" tanyanya penasaran.


"mmm...ini bisa membuat seseorang bersemangat lagi. Ini bisa menghilangkan kelelahan fisik.." jelas Reina lirih.


Guru Wilson langsung mengulurkan tangannya ke sumber cahaya dan dia tersentak kaget. "Ini hebat!" dia berseru.


"Kau adalah tipe penyembuhan ya. Apa kau bisa menggunakan sihir untuk menyembuhkan luka, kutukan dan penyakit?"


Reina mengangguk pelan. "Aku bisa sedikit..."


Aku mengamati mereka. Ahhh~ sudah dimulainya. Event Reina yang terkenal dengan sihir penyembuhannya. Mulai sekarang dia akan dihormati orang. Bahkan di anak emaskan kepala sekolah dalam berlatih. Dia juga secara perlahan akan merebut gelar "Gadis Suci" itu dari Charlotte.


"Apaan sih hebatnya sihir itu" aku menggerutu pelan. Aku tidak tahu bahwa gerutuan kesalku di dengar oleh Lilac.


"Itu sangat hebat kau tahu. Sangat langka mempunyai orang yang bisa menyembuhkan. Apalagi kita selalu berhadapan dengan pertarungan dan pertempuran. Terluka sudah jadi makanan sehari-hari. Kau harus berbaikan dengannya Eva. Jadi aku bisa membujuknya untuk membentuk tim misi bersama kami" kata Lilac.


Tidak mau! Pikiranku langsung menolaknya. Walaupun mulutku tetap diam, pikiranku sangat memberontak.


Apa sih yang bagus dari sihir itu. Aku juga pengguna elemen cahaya, tapi aku belum pernah mencobanya. Hmm....Karena aku belum mencobanya, aku jadi tidak tahu apa aku bisa menggunakan sihir penyembuhan atau tidak.


"Apa aku harus mencobanya saja...?"


Aku langsung menatap Lilac disampingku. Dia cocok menjadi subjek penelitian sihirku karena anak ini sangat cerewet hehehe...


Aku mulai meletakkan tanganku pada bahunya. Dan mulai mengedarkan mana lalu memanggil elemen cahaya. Aku langsung membayangkan bahwa Lilac memulihkan semua staminanya. Dan kelihatannya itu berhasil! Karena aku melihat cahaya pudar menyelimuti tubuh Lilac.


"Apa yang kau lakukan?" kata Lilac bingung sambil mengamati tubuhnya. "Ini benar-benar hebat! Aku sangat bertenaga. Apa yang kau lakukan padaku? Apa kau menggunakan sejenis dopping?" dia bertanya antusias.


Ah, gawat! Tapi tenang saja Eva. Aku sudah menyiapkan alasan yang logis sebelum aku bereksperimen.


"Aku sedang mencoba alat sihir baruku" kataku sambil menunjuk kalung kelinci pemberian Denis, yang memiliki fungsi yang sama. Yaitu untuk menambah vitalitas. "Bagaimana? Apa kau merasa segar dan bersemangat? Kalung ini dapat menambah vitalitas. Aku ingin mencoba apakah aku bisa menyalurkan efeknya pada orang lain dan ternyata bisa!"


"Hebat Eva! Kau mendapatkan harta karun seperti itu! Dari mana kau mendapatkannya? Apa kau punya lebih? Kalau iya, aku ingin satu" katanya penuh harap.


"Aku hanya punya satu. Lagi pula ini hadiah..." jawabku lirih.


"Ehh? Siapa yang memberikan kalung kelinci imut seperti itu sebagai hadiah?"

__ADS_1


"Ah!" Lilac tiba-tiba tersentak. Lalu senyum menggoda mulai muncul dari bibirnya. "Dari kekasihmu ya? Aku tidak menyangka putra mahkota yang dingin itu memperlakukanmu seperti itu"


"Diamlah" kataku kesal sambil memukul kepalanya.


"Jangan-jangan kau iri padaku karena tidak punya pasangan?" kataku tajam.


Aku tidak tahu perkataanku menyentuh titik gelap yang sangat ingin disembunyikan oleh Lilac. "Jangan sombong! Aku pastikan aku akan menemukan pasangan yang lebih baik dari putra mahkota" katanya bersemangat. "Kau lihat saja!"


"Baiklah, aku mendukungmu."


"Tapi Eva..." matanya langsung mengarah pada guru Wilson yang ada di depan kelas. "Bukankah wali kelas kita tidak buruk? Bisa menjadi guru di umur semuda itu. Dia benar-benar hebat karena akademi ini dipenuhi oleh orang tua. Aku ingin menjadikannya target. Walaupun dia bukan bangsawan. Dia tampan dan hebat. Haruskah aku memberinya obat dan menjebaknya ke kamar, lalu menyuruhnya menikahiku?"


Uhuuk! Aku langsung tersedak saat mendengar perkataannya. Aku melirik Lilac yang sedang menatap Wilson dengan mata bersemangat.


Apa-apaan gadis ini? Ternyata dia sangat berbahaya! Bagaimana dia bisa memikirkan untuk memberikan pria obat lalu menjebaknya di tempat tidur? Bukankah dia terlalu gila!


Aku bergidik ngeri. Haruskah aku memperingatkan Robert? Ya...aku harus memperingatkannya! Bagaimana kalau gadis ini tiba-tiba merubah targetnya. Robert bisa dalam bahaya!


Beberapa jam berlalu, pelajaran itu akhirnya berakhir. Semua murid di kelas ini sudah bisa menghasilkan sihir dari kertas elemen itu setelah mencoba beberapa kali.


"Baiklah, aku akan memberikan kalian satu set kartu elemen dengan berbagai elemen. Aku akan memberi kalian satu minggu untuk melakukan mantra sihir lanjutan dengan kertas elemen itu. Jangan mengecewakanku. Kalian bisa mencari referensi beberapa mantra lanjutan di perpustakaan. Hanya setelah kalian berhasil melewati ujian ini, kalian bisa menuju tahap pelajaran selanjutnya"


"Ah! Mantra lanjutan!"


"Aku belum belajar mantra lanjutan!"


"Ini benar-benar sulit guru!"


"Aku seorang pendekar, kenapa aku harus belajar sihir seperti ini?"


"Ini buang-buang waktu bagi para pendekar!"


"Waktu satu minggu terlalu singkat. Itu tidak mungkin!"


Aku mendengar para murid itu menyampaikan keluhan mereka. Tentu saja yang mengeluh adalah para bangsawan. Sementara para orang biasa, aku bisa melihat api semangat di mata mereka untuk menantang diri sendiri.


BUK! Guru Wilson memukul meja di depannya. Dalam sekejap semua keluhan itu menghilang.


"Jangan banyak mengeluh!" katanya dingin. "Kalau kalian masih ingin belajar di tempat ini kalian harus berusaha."


Lalu dia menunjukkan senyum manis. "Kalau kalian tidak ingin, kalian bisa pergi. Pintu keluar terbuka lebar"


Semua murid yang mengeuh tadi langsung tersentak dan tubuh mereka gemetar ketakutan.


"Maafkan kami..."


"Aku tahu kalian sangat dimanjakan saat di rumah kalian masing-masing. Tapi ini adalah akademi, tempat untuk belajar. Bukan rumah bangsawan. Dan di sini tidak ada yang namanya bangsawan dan orang biasa. Semuanya diperlakukan sama. Sejak kalian meminta untuk masuk ke kelas A yang merupakan kelas terbaik. Kalian harus mengikutinya. Kalau tidak mau, tinggal keluar saja" kata Guru Wilson tegas.


"Baiklah. Ada yang perlu ditanyakan lagi?"


Kepala para murid dengan cepat menggeleng.


Guru Wilson itu tiba-tiba mengarahkan tatapannya padaku.


"Eva bukan? Ikut aku" katanya pelan dan perlahan melangkah keluar kelas.


Eh? Aku benar-benar kaget. Guru itu memanggilku? Kenapa? Apa aku membuat masalah? Tapi aku bersikap baik dari kemarin. Tidak mungkin aku membuat masalah! Kenapa guru itu memanggilku?


Jangan lupa LIKE

__ADS_1


__ADS_2