
Cerita Sebelumnya:
Penukaran token ke masing-masing tim pun selesai. Tim Menara Sihir kembali ke penginapan mereka. Disana Jean, Hans dan Dean baru itu sedang menunggu mereka. Walaupun terjadi sedikit masalah saat Dean baru mulai mengejek Eva dan mencibirnya. Tapi Eva tidak mempedulikannya dan memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
Saat di kamarnya Eva berusaha menangani telur emas yang menempel padanya. Telur itu ternyata mengikutinya karena menganggap mana gelap miliknya sebagai makanan. Lalu sebuah gangguan yang tidak diketahui pun datang.
***
Beberapa mahluk kecil sangat menyukai mana gelap Eva. Elf gelap adalah contohnya. Dan sekarang telur emas kecil itu. Entah kenapa di mata mereka mana gelap miliknya sangatlah lezat. Tapi Eva tidak mengetahui hal itu.
***
Telur kecil itu berteriak bahaya sebelum melemparkan dirinya di antara lipatan bajuku untuk bersembunyi.
"Bahaya?" aku bergumam sambil dengan waspada mengamati sekeliling. Tapi aku tidak menemukan apa pun. Aku berpikir sebentar, sekarang kita ada di penginapan khusus para peserta pertandingan. Tidak mungkin ada penyusup yang menyerang bukan. Telur ini pasti mulai berhalusinasi lagi atau dia takut serangga? Kalau benda kecil ini takut serangga kenapa dia bisa tinggal lama di hutan?
Aku mulai mengabaikan teriakan bodoh telur itu. Ya...aku tidak mempedulikannya sampai tiba-tiba, aku mendengar jendela kamarku berderit. Dan pandanganku menjadi hitam, karena seseorang menutup matakuĀ dengan tangannya.
Aku sama sekali tidak bisa bela diri. Saat aku mulai menggapai tangan yang menutup mataku, sebuah tangan asing lainnya mengunci kedua tanganku. Refleks, aku mengeluarkan sihirku tapi tiba-tiba orang yang menutup mataku berkata "Hei, lama tidak berjumpa"
Hm? Tunggu! Suara ini tidak asing.
"Sayn?!"
"Yap" jawab Sayn sambil melepaskan tangannya dari mataku. "Benar-benar lucu melihatmu ketakutan seperti itu. Apa kau berpikir aku akan menculikmu" katanya sambil tertawa terbahak-bahak.
Aku menatap Sayn dengan mata menyipit tidak senang.
BAK! Refleks, aku langsung menginjak kakinya.
"Apa yang kau lakukan?" protes Sayn sambil mengangkat kakinya yang teinjak.
Jujur saja dia bisa dengan mudah menghindari serangan Eva. Tapi entah kenapa saat berada di dekat gadis itu, semua kewaspadaannya hilang dan dia menjadi orang bodoh.
__ADS_1
Aku menatap Sayn cemberut.
"Apa yang kau lakukan disini? Bagaimana kau bisa menyelinap masuk?"
Kalau dipikir-pikir kenapa para tokoh utama ini selalu menyelinap masuk ke kamarku. Sejenak aku memikirkan Robert dan Denis yang melakukannya juga. Tapi Robert adalah juaranya, pria itu paling sering menyelinap ke dalam kamarku.
kenapa orang ini ada di sini.
Eh? Tunggu!
Aku mengamati Sayn dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Pakaian ini tidak asing...aku pernah melihatnya. Jubah itu juga..." gumamku sambil berpikir.
"Ah! Kau ketua Tim Bayangan?!" aku berteriak kaget.
"Shhh, diamlah" kata Sayn.
Aku refleks menutup mulutku.
"Tenanglah" kata Sayn santai. "Ini tidak ada hubungannya dengan Kerajaan Kano" katanya sarkas. "Aku memiliki misi rahasia sendiri dengan organisasi ini. Tapi ini cukup berbahaya." Lalu dia menatap Eva lekat-lekat. "Aku paling kaget saat tahu kau juga mengikuti pertandingan sihir. Apa yang ada di pikiranmu? Bukankah kau masih ada kelas di akademi?"
"Bagaimana kau bisa bertanya balik padaku saat kau tidak menjawab pertanyaanku, humph!" kataku cemberut.
"Baiklah, baiklah." Sayn mengalah. "Aku ada di tempat ini karena sedang menjalankan misi. Aku tidak bisa memberitahumu lebih lengkap karena kau tidak ada hubungannya" tegasnya. "Tapi aku tidak menyangka Duke akan mengizinkanmu mengikuti pertandingan berbahaya seperti ini" dia mengernyitkan keningnya tidak percaya.
"Eh...itu...." aku sangat gugup saat mendengarnya. Kalau dipikir-pikir, aku sama sekali tidak pernah meminta izin orang tuaku kalau aku akan mengikuti pertandingan sihir. Karena 100% mereka tidak akan pernah mengizinkannya. Tapi aku meminta bantuan kakek agar memberitahu mereka. Semoga baik-baik saja. Walaupun aku kurang yakin saat memikirkan ayah barbar itu.
"Kau benar-benar menyelinap?" tuntut Sayn.
"Aku sama sekali tidak menyelinap!" bantahku langsung. "Hanya saja waktu itu pertandingannya terlalu mendadak. Karena itu aku tidak sempat memberitahu orang tuaku. Lagipula Kakek akan mengurusnya"
Itu benar. Aku mengatakan fakta dan tidak berbohong di sini.
__ADS_1
"Baiklah, aku mempercayaimu"
"Aku benar-benar melupakannya. Kenapa kau menyelinap ke kamarku seperti itu?"tanyaku tidak senang.
Aku sangat tidak senang karena semakin banyak penyusup setiap kali aku berada dalam kamar. Haruskah aku membeli alat sihir kuat dan memasang pelindung agar orang-orang itu tidak bisa masuk?
Sayn tersenyum. "Aku hanya ingin memberi salam" Dia menjawab santai. Lalu perlahan dia mulai berjalan pelan ke arah Eva.
Eva refleks berjalan mundur saat Sayn menghampirinya. Keningnya berkerut bingung dan panik. Sayn terus mendekatinya.
BAK! Sampai akhirnya dia tidak bisa berjalan mundur lagi karena dinding di belakangnya.
Sayn tetap maju sampai jarak mereka hanya selebar telapak tangan. Lalu dia tersenyum dan secara perlahan menurunkan kepalanya untuk melihat wajah Eva. Wajahnya semakin dekat dan semakin dekat. Eva mematung. Ini terlalu tiba-tiba. Otaknya mati beku dan tidak bisa memproses apa pun kali ini.
Wajah kami semakin dekat. Sayn tersenyum, lalu dia menggerakan kepalanya ke samping dan berbisik di telingaku "Atau kau mengharapkan aku melakukan apa?" katanya dengan nada menggoda.
Bocah ini! Aku benar-benar ingin memukulnya. Berani-beraninya dia menggodaku seperti ini!
"Kau..."
BAM! Pintu kamarku terbuka. Lalu aku melihat Robert berdiri di sana. Robert berdiri dengan wajah menyeramkan, dia bahkan mengeluarkan aura membunuh.
BRUKKK! Robert bergerak cepat dan memukul Sayn, menyebabkan pria itu secara menyedihkan terlempar ke sisi lainnya.
Ada rasa puas saat aku melihat adegan ini. Walaupun aku kasihan dengan Sayn, tapi melihatnya menerima pukulan seperti itu aku merasa lega. Akhirnya ada orang yang membantuku melampiaskan kekesalan.
Tapi tunggu!
Kenapa aku merasa kejadian ini tidak asing ya?
Apa pernah terjadi hal seperti ini sebelumnya?
Hm....
__ADS_1
Entahlah, sejujurnya aku tidak terlalu ingat. tapi aku merasa sangat de ja vu,