
Cerita sebelumnya:
Duke berhadapan dengan Reinell serta pasukannya dan berhasil dilumpuhkan. Tetapi Ren dan yang lainnya datang membantu. Duke merasa lega dan bersiap untuk mundur dari pertarungan. Tapi Reinell tidak membiarkannya dan berniat menghancurkan mereka dengan sihir cahaya anehnya. Tapi Eva kebal terhadap sihir itu dan dia berhasil mengalahkan beberapa orang dan melemahkan sihirnya.
***
Ren merasa kesal. Dia benar-benar benci terlihat lemah. Dia benar-benar benci diskriminasi antara sihir gelap dan sihir cahaya. Para dewa itu benar-benar membuat sihir cahaya terlihat lebih kuat daripada sihir gelap. Walaupun itu memang benar. Tapi para penyihir gelap juga bisa menghindari efek dari sihir cahaya kalau mereka melakukan persiapan. Ren terlalu meremehkan lawannya dan membuat dirinya terjebak di dalam sangkar bodoh ini. Oleh karena itu, dia merasa sangat kesal.
Sangkar cahaya itu masih mengurung mereka. Serta memberikan efek buruk untuk tubuh mereka walaupun cahayanya mulai meredup karena tidak mendapatkan asupan sihir cahaya lagi.
Ren menggunakan kesempatan ini. Dia mengangkat tangannya dan sekali lagi sebuah kabut gelap muncul dan menyelimuti seluruh sangkar. Sangkar itu pun perlahan-lahan mengeropos dan tiba-tiba SRASH! Hancur dan jatuh ke tanah. Lalu menghilang secara perlahan. Semua orang merasa lega dan bebas saat sangkar itu menghilang.
Ren menggunakan sihirnya lagi. Sebuah kabut gelap menyelimuti seluruh langit. Lalu tiba-tiba petir besar muncul dari kabut dan mulai mengarah ke arah pasukan musuh.
Beberapa orang tersambar petir tanpa perlawanan dan jatuh ke tanah. Beberapa dari mereka hangus terbakar dan mati. Tapi ada yang bertahan hidup karena mereka menggunakan alat sihir pertahanan mereka tepat waktu. Dalam sekejap serangan Ren sudah melenyapkan hampir dari keseluruhan pasukan musuh.
"Orang jahat yang kejam" Reinell memegang erat tombaknya. Ini adalah senjata sihir kuno yang diturunkan secara turun temurun oleh leluhurnya. Senjata sihir yang dihadiahkan oleh dewa kepada keturunan mereka untuk menjaga dunia dari orang-orang jahat. Tombak itu dijuluki sebagai tombak suci oleh mereka.
Reinell mengalirkan mana cahayanya ke dalam tombak suci itu. Lalu dia melompat ke atas langit dan mulai menusuk kabut hitam yang menutupi langit dengan tombak sucinya.
__ADS_1
Tombak itu mengeluarkan cahaya menyilaukan seperti matahari. Saat keduanya bersentuhan, kabut gelap yang menutupi mereka mulai memudar dan menghilang.
Para prajurit cahaya langsung bersorak kegirangan saat hal itu terjadi. Reinell menatap semua orang dengan tatapan bangga sambil mengangkat senjatanya tinggi-tinggi.
Kepercayaan dirinya meningkat saat ini. Dia yakin dia bahkan bisa mengalahkan sang raja elf di depannya sekarang. Karena sihir gelap itu bisa dengan mudah dia musnahkan.
Reinell bergerak cepat menyerang Ren. Dia mengarahkan tombaknya dan sekali lagi tombak itu mengeluarkan cahaya menyilaukan.
Ren mengeluarkan mana gelapnya lalu dengan cepat membentuk pedang raksasa dari mana gelap itu. Pedang itu terlihat sangat menakutkan dan tekanan yang kuat memancar keluar.
Kedua senjata yang berlawanan itu saling berbenturan satu sama lain di udara. Mengakibatkan tekanan yang sangat kuat. Beberapa orang di bawah mereka terhempas karena tidak mampu menahan tekanan yang dikeluarkan dari pertarungan kedua orang itu.
Reinell merasa kesal karena dia masih tidak bisa melukai Ren. Tapi dia senang saat melihat pedang menakutkan itu hancur berantakan. Itu berarti pedang mana itu bahkan tidak sebanding dengan tombak sucinya. Tombak suci miliknya sama sekali tidak tergores.
Kepercayaan dirinya pun pulih dalam sekejap. Setelah menyembuhkan luka-luka nya dia melihat Ren dengan mata serius. Dia akan mengalahkan mahluk jahat ini kali ini. Dia akan melenyapkannya!
Dia kembali menyerang Ren. Kali ini Ren tidak mengeluarkan pedang hitam itu lagi. Dia merasa senang. Berarti pedang itu benar-benar hancur!
Dia berniat menusuk ke arah dadanya. Tapi Ren mengangkat tangannya dan menegang ujung tombak itu dengan jarinya. Dia langsung membeku di udara.
__ADS_1
Dia melihat Ren dengan wajah bingung. Dia berusaha menggerakkan tombaknya kembali tapi tombak itu tidak bisa bergerak. Seakan-akan ada tekanan kuat yang manahan tombaknya.
Ren memegang ujung tombak itu. Dia menggerakkan tombak itu dengan mudahnya. Lalu melemparnya ke bawah. Reinell juga ikut terlempar dan BOM! Kekuatan lemparannya cukup mencetak lubang besar di tanah.
Reinell masih menatap Ren dengan tatapan syok. Dia bahkan tidak ingat untuk menyembuhkan tubuh nya sekarang. Beberapa tulang nya patah. Sementara Ren membalas tatapan itu dengan mata emasnya sambil memasang ekspresi datar.
Saat itu, Reinell tahu bahwa perbedaan kekuatan mereka sangat lah besar. Tapi itu hal yang wajar. Makhluk itu bukan manusia dan memiliki umur tak terbatas. Bagaimana bisa seorang manusia yang hidup selama tiga puluhan tahun melawan mahluk yang berumur ribuan tahun. Bayangkan saja berapa besar kekuatan yang diperolehnya setelah berlatih selama ribuan tahun?
"Aku benar-benar akan membunuh kalian semua kalau aku mau" suara Ren memecah kesunyian. Dia menatap semua orang dari atas langit seakan-akan dia menatap para semut. "Tapi aku bukan orang yang haus darah dan tidak ingin membuang-buang tenagaku"
Semua orang terdiam.
"Aku tidak tahu bahwa sisa-sisa dari kuil suci masih hidup. Kalian menyembunyikan diri dengan baik. Dan itu bukan hal yang buruk. Tapi seharusnya kalian tidak bisa menghakimi orang-orang dan menganggap diri kalian dewa. Kalian hanyalah manusia kecil" Ren menatap mereka jijik.
"Dewa pasti akan turun dan menghukummu!" Reinell berteriak gila.
"Orang-orang itu tidak punya waktu untuk melakukan nya" kata Ren acuh. Lalu dia menatap Duke dan semua orang. "Ayo pergi. Jangan buang-buang lebih banyak waktu di tempat ini"
Duke langsung mengorganisir pasukannya untuk mundur. Kali ini tidak ada yang menghentikan mereka lagi. Semua pasukan musuh tidak bergerak dari tempat mereka dan memberi pasukan Duke jalan.
__ADS_1
"Kembali ke kamp" Duke memerintahkan dengan cepat.