
cerita sebelumnya:
Eva dan Lilac memutuskan untuk mencari Vivian. Vivian berada di kelas yang berbeda sehingga gedung kelas mereka juga berbeda. Gedung kelas B terletak di dekat perpustakaan.
Tapi, saat di tengah jalan, mereka melihat perkelahian yang menjadi tontonan banyak orang. Saat Eva memeriksanya, ternyata yang berkelahi itu adalah orang yang dikenalnya. Itu adalah Sayn. Eva pun membawa Sayn meninggalkan tempat itu karena dia ingin bertanya apa yang terjadi.
***
Bagi Sayn, tidak mudah untuk menjalankan organisasi. terutama organisasi yang bergerak di bawah tanah dan memiliki reputasi yang buruk.
Walaupun begitu, Sayn sangat menikmati waktunya. Baginya ini lebih baik daripada harus menghabiskan waktunya di istana kecil itu. Dia bisa berkeliling dan bertemu banyak orang.
Walaupun dia perlu membunuh beberapa orang karena misi yang di dapat. Tapi hal itu tidak mengganggunya. Entah bagaimana membunuh bukanlah apa-apa baginya. Kalau dia ingin, dia bisa melakukannya dengan mudah.
Karena sikapnya yang menyeramkan itulah, Sayn bisa dengan mudah duduk di kursi pemimpin. Karena semua orang menganggumi nya, disertai dengan rasa takut.
Tapi akhir-akhir ini dia mulai tidak menyukai misi yang diberikan oleh organisasi. Alasannya sederhana. Dia punya orang yang ingin dia temui. Tapi karena misi sialan itu, dia harus berpindah-pindah tempat. Sehingga dia tidak bisa menetap di suatu tempat.
Akhirnya, hari ini misinya selesai. Dia dengan senang hati kembali ke akademi untuk menggantikan boneka hidup miliknya. Tapi suasana di akademi tidak seperti biasanya. Sangat sepi dan sunyi. Walau pun dia memiliki boneka yang menggantikan kehadirannya. Tetap saja boneka itu tidak tahu apapun. Dan dia juga tidak memperoleh informasi apapun dari boneka mati itu.
Lalu dia mendapatkan beberapa informasi dari murid-murid yang masih berlalu lalang. Pendengaran Sayn sangat tajam, jadi dia bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
Sayn memperoleh informasi bahwa sedang ada ujian kenaikan tingkat di akademi ini. Dia tidak terlalu peduli. Dia yakin bonekanya bisa lulus dengan mudah, karena tidak ada yang menyadari keberadaan boneka itu. Dan Sayn juga tidak terlalu peduli dengan peringkat. Baginya itu tidak penting.
"Bukankah putri Duke itu mulai menunjukkan taringnya?"
"Dia mengalahkan Dewi Geranina dan menduduki peringkat lima"
Mendengar percakapan itu, telinga Sayn menajam. Hal itu langsung menarik perhatiannya karena mereka sedang membicarakan Eva.
"Dia sangat hebat seperti ayahnya"
"Dia juga bersembunyi dengan sangat baik"
"Berarti rumor tentang dirinya itu tidak benar? Mereka mengatakan bahwa dia seorang yang menyukai hal mewah dan suka memandang rendah para rakyat jelata"
__ADS_1
"Mungkin saja rumor itu tidak benar, lagipula kita tidak mengenalnya dengan baik."
"Terlepas dari semua itu, dia sangat hebat. Dulu aku meragukan nya sebagai tunangan putra mahkota. Tapi sekarang tidak, dia benar-benar jenius"
Sayn tersenyum kecil saat mendengar semuanya. Lalu dia mengangguk kan kepalaku setuju saat orang-orang itu mulai bergosip tentang gadisnya.
Tapi, tiba-tiba sekelompok anak laki-laki datang dan mulai merusak semuanya.
"Apa yang kalian bicarakan? Dia tidak jenius sama sekali"
"Benar. Aku mendengar Duke memberikan obat padanya. Sehingga dia bisa menjadi kuat tiba-tiba."
"Rumor tentang dia suka membuli rakyat jelata itu benar. Aku melihatnya sendiri dengan mataku. Dia membuat masalah dengan mereka. untung saja dewi Reina ada disana untuk membantu"
"Aku juga mendengar bahwa dia sangat suka mencari masalah dengan Dewi Reina, bahkan membuat nya menangis. Hanya karena dia iri dengan gadis baik itu"
"Ck, ck, ck dia orang yang egois seperti itu"
"Dia gadis yang licik seperti penyihir. Aku dengar dia bisa dengan membunuh orang tanpa berkedip. Dia kejam sama seperti ayahnya"
Wajah Sayn berubah jelek. Dia menatap Lima orang anak laki-laki yang mulai menyebarkan rumor buruk itu.
Jadi tanpa aba-aba Sayn mulai menyerang mereka tiba-tiba. Lima orang anak laki-laki itu bahkan tidak bisa berkutik. Semuanya hanya terjadi dalam beberapa detik sebelum tubuh mereka hancur dan kesadaran mereka menghilang.
***
Aku membawa Sayn menjauhi keramaian. Aku berhenti saat aku melihat suasana di sekeliling kami mulai sunyi.
Lalu aku menatap Sayn erat-erat.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau berkelahi?"
Sayn mengalihkan pandangannya dan menjawab dengan acuh.
"Itu tidak penting. Mereka hanya membuat ku kesal"
__ADS_1
"Tapi kau hampir membunuh mereka! Apa kau gila!" aku mulai memprotes tindakannya.
Sayn mendengus. "Humph! Mereka bukan orang penting. Kalau mereka mati, jangan pedulikan itu" katanya kejam.
"Aku tidak mempedulikan mereka. Aku mempedulikan mu. Kalau kau membunuh orang di akademi, kau benar-benar akan berakhir dengan buruk" kataku serius.
Wajah Sayn memerah sesaat. Dia mengangkat tangannya dan mencubit kedua pipi Eva. "Jangan khawatir. Aku tidak selemah itu. Aku bisa menjaga diriku walaupun pihak akademi mengejarku" katanya percaya diri.
Aku masih menatapnya dengan wajah cemberut. "Kita tidak tahu apa yang terjadi di masa depan. Jadi berhati-hatilah" aku menasehatinya. "Dan berhenti memainkan pipiku!" protesku langsung.
"Oh! Aku minta maaf" Sayn langsung melepas tangannya saat tahu pipi Eva mulai memerah karena dia terus mencubit nya.
"Eva, apa yang terjadi?" Lilac berhasil mengejar dua orang di depannya. Lalu dia sempat melihat interaksi Eva dan Sayn. Mereka sangat dekat. Padahal Lilac tidak ingat bahwa Eva mempunyai teman dekat lainnya di akademi ini selain dirinya, Vivian dan Denis.
"Dan siapa itu?" Lilac menatap Sayn. Dan matanya langsung berbinar. Dengan antusiasme tinggi, Lilac mulai mengelilingi Sayn dengan tatapan penasaran. "Eva, siapa mahluk tampan ini? Kenalkan padaku. Aku sama sekali tidak mengenalnya. Sekarang aku mulai meragukan diri ku. Padahal biasanya aku sangat update tentang pria tampan. Tapi aku sama sekali tidak pernah melihatnya!" Lilac terus mengoceh.
"Dia salah satu pangeran dari Kano, namanya Sayn" aku mengenalkan mereka dengan santai. "Sayn, ini Lilac, sahabatku"
Lilac mengerjap kaget. "Pangeran Kano?" Dia mulai mengingat semua pangeran yanb berada di kelas. Jujur saja, Mereka tidak menarik perhatian Lilac sama sekali. Dan Lilac hanya kenal dengan putra mahkota, karena pria itu cukup tampan. Untuk yang lainnya, mereka bahkan tidak terlihat di mata Lilac.
"Pangeran-pangeran itu... Aku tidak melihat ada wajah tampan disana! aku yakin itu! Mereka semua seperti kuda yang selalu menggoda gadis-gadis. Tidak tahu bahwa tampang mereka sangat buruk. Hanya putra mahkota yang lumayan" Lilac berkomentar.
Wajah Sayn berkedut saat dia mendengar pernyataan Lilac.
Aku juga tidak bisa menyembunyikan wajah canggung nya. Aku lupa bahwa selama ini Sayn menggunakan boneka miliknya untuk menghadiri kelas. Bukan dirinya yang sebenarnya. Untung saja Lilac tidak mengingat wajah Sayn.
"Dia selalu menutupi wajahnya dengan jubah. Karena itulah aku tidak bisa mengingat nya" kataku canggung.
"Ah!" mata Lilac membelalak seakan-akan dia mendapat pencerahan. Lalu dia memegang erat tangan Sayn, lalu dia menggoyang nya dengan antusias. "Aku Lilac! Salam kenal!" katanya dengan mata berbinar.
Aku hanya bisa menggeleng kan kepala ringan saat melihat sikap Lilac. Dan menatap Sayn dengan mata kasihan.
"Bisakah kita mengajaknya menemui Vivian?" tanya Lilac langsung.
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap Sayn untuk meminta persetujuan nya lebih dulu. Sayn mengangguk pelan sebagai respon nya.
__ADS_1
"Oke, kita akan mengajaknya" kataku langsung.