Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 7 Kemarahan dan Keraguan


__ADS_3

Cerita sebelumnya:


Raja Albion dan pangeran Erick mengunjungi kerajaan Kano untuk menjalin hubungan kerja sama. Mereka pun akhirnya membuat kesepakatan. Pangeran Erick tetap tinggal di kerajaan Kano, juga merupakan salah satu kesepakatan.


Pangeran Erick mengikuti kelas di akademi kerajaan dan akan tinggal selama beberapa bulan di kerajaan Kano. Hal itu membuat kegemparan. Semua orang bingung kenapa sang pangeran melakukan nya. Walaupun alasan utamanya adalah untuk melihat budaya belajar dari kerajaan lain.


***


Denis menyelesaikan misinya. Dia selesai sesuai dengan waktu yang ditentukan, tidak lebih cepat ataupun lebih lama. Sehingga membuat dirinya sedikit kecewa. Dia ingin selesai lebih cepat tapi ternyata tidak bisa.


Setelah kembali ke ibukota, dia langsung menemui sang raja karena ingin menanyakan beberapa hal. Saat itu sang raja sedang minum teh bersama Ratu di taman kerajaan.


"Kau kembali" Ratu dengan penuh kasih memeluk putranya. Dia wanita yang penyayang. Bahkan dia juga memanjakan pangeran kedua walaupun pria itu bukan putra kandungnya.


"Apa semuanya baik-baik saja? Apa kau terluka?" Ratu memeriksa seluruh tubuh Denis. Dia melontarkan beberapa pertanyaan konyol yang tidak perlu.


"Kau tidak apa-apa" Denis menjawab datar. Pandangannya fokus kepada sang Raja yang berada tidak jauh darinya.


Denis duduk berhadapan dengan sang raja. Menatapnya serius dan berkata. "Aku ingin menanyakan sesuatu"


"Aku sudah tahu apa yang ingin kau tanyakan" Raja menjawab sambil menyesap tehnya.


"Jadi jelaskan padaku" kata Denis dengan ekspresi serius.


Raja menghela napasnya, lalu menjelaskan dengan panjang lebar. Dia menjelaskan semua informasi yang sudah diselidikinya dengan bantuan Marquis Zent.


Duke Court berniat untuk melakukan pemberontakan terhadap keluarga kerajaan. Faksi Court juga sudah mulai aktif dengan hal itu. Bahkan Duke secara terang-terangan menyalin kerja sama dengan Menara Sihir.


Ekspresi Raja sangat jelek. Dia menjelaskan nya dengan penuh amarah. Bahkan gelas porslen di tangannya hancur berantakan karena dia melampiaskan kemarahan nya.

__ADS_1


Denis memasang wajah ragu. Jujur saja dia tidak percaya bahwa Duke Court akan melakukan pemberontakan. Pria itu bukan seperti orang yang haus kekuasaan sama sekali.


"Aku masih tidak mempercayai nya." Denis menyangkalnya. Tapi dia tidak berusaha untuk membela Duke. Dia bersikap sebagai individu yang netral disini.


"Aku juga tidak mempercayai nya" lanjut Raja. Dia menatap Denis dalam-dalam. "Sampai dia berkata ingin membatalkan pertunangan. Lalu aku mendapat kan informasi bahwa dia mulai berkolusi dengan Menara Sihir. Kembali ke daerahnya dan mulai memperkuat prajuritnya"


Mata Denis melebar. Saat dia mendengar hal itu, dia seperti tersambar petir. Dia tidak percaya bahwa Duke ingin membatalkan pertunangan. Ini memberinya terlalu banyak kejutan dan membuat nya terluka.


"Belum tentu Duke ingin memberontak. Aku tahu bahwa keluarga Court sudah berteman lama dengan Menara Sihir. Itu bukan hal yang mengejutkan" Denis menahan rasa marahnya. Dia masih tidak ingin menyalahkan Duke Court. Tapi dia juga tidak akan membela nya. Bagaimana pun dia masih condong ke pihak ayahnya saat ini.


Raja sedikit terkejut. Sebenarnya dia baru saja mendengar berita bahwa Duke bekerja sama dengan Menara Sihir akhir-akhir ini, dari informan terpecayanya, Marquis Zent. Jadi dia cukup terkejut saat tahu bahwa kedua kubu itu sudah kenal sejak lama.


Melihat wajah Raja yang kebingungan, Denis melanjutkan "Robert, salah satu murid di Menara sihir adalah guru sihir Eva. Pria itu mengajarinya sejak Eva masih berumur lima tahun. Hubungan kedua pihak sudah sangat dekat sejak itu."


"Tapi tetap saja mereka mencurigakan." Raja bersikukuh dengan keputusan nya. Sejak Duke mempermalukan nya di aula kerajaan saat itu, dia benar-benar kehilangan kepercayaan nya untuk pria itu. Ditambah dengan beberapa kata provokasi dari Marquis Zent, kebencian di dalam hati Raja menjadi semakin besar.


Raja bahkan berkata. "Kalau aku benar-benar mengalah. Sebagai raja, apa aku membiarkan pemberontak mengambil alih kerajaan kita?" Katanya tajam.


Denis terdiam. Dia tidak bisa menjawab. Raja benar. Kalau keluarga kerajaan mengalah dan membiarkan faksi Court mengambil alih, kerajaan mereka akan hancur. Apalagi Denis sudah melihat seberapa busuk para bangsawan dari faksi Court sejak dia masih kecil.


Denis menyerah. Dia tidak lagi berdebat dengan ayahnya dan kembali ke ruangannya. Tapi saat dia melintasi lorong istana, tanpa sengaja dia mendengar sekelompok orang sedang berdiskusi. Mereka adalah para bangsawan yang berpihak kepada keluarga kerajaan.


"Kita harus memanfaatkan raja."


"Ya, kita harus memanfaatkan raja untuk mengusir para pemberontak itu."


"Kalau pertunangan benar-benar dibatalkan, semuanya akan menjadi lebih mudah. Kita bsia mengusir Duke dari kerajaan ini dan mempertahankan kekuasaan kita"


Mata Denis melebar. Dia bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan dengan sihirnya. Dia juga bisa melihat tembus pandang ke dalam ruangan itu dan mengenali semua orang.

__ADS_1


Dia benar-benar marah saat para bangsawan itu berkata ingin memanfaatkan ayahnya, untuk mempertahankan kekuasaan mereka di kerajaan ini. Di bawah emosinya yang tidak terkendali. Dia mendobrak masuk ke dalam.


Semua orang yang ada di ruangan itu tersentak kaget saat Denis masuk. Lalu mereka membeku dan wajah mereka menjadi sangat pucat.


"Yang Mulia" mereka semua menunduk hormat, berpura-pura tidak tahu apapun dan bersikap baik.


Wajah Denis semakin jelek. Dia tersenyum dan berkata. "Aku mendengar semua yang kalian bicarakan"


Mata mereka melonggo. Seperti tersambar petir, mereka tidak bisa berkutik. Kaki mereka gemetaran dan mulut mereka membeku.


"Ingin memanfaatkan ayahku? Ingin kekuasaan? Aku tidak menyangka bahwa bangsawan dari faksi kerajaan adalah sampah" Denis berkata dengan geram. Udara di sekitarnya bahkan bergetar karena dia berteriak marah.


Tidak ada yang berani menjawab. Mereka semua diam tidak berkutik.


"Kalian ingin berkhianat dan memanfaatkan keluarga kerajaan?" Denis menekankan dengan senyum dingin.


Mereka semua semakin pucat. Kaki mereka bergetar dan langsung jatuh berlutut.


"Tidak yang mulia" tapi ada satu orang yang berani membuka mulutnya. Walaupun dia berlutut, dia menatap Denis lekat-lekat dan berkata. "leluhur kami dan kami sudah membantu Raja dan kerajaan ini selama bertahun-tahun. Tapi kami tidak pernah berkhianat. Kami selalu berada di depan untuk melindungi Raja dari segala pemberontakan. Menstabilkan posisinya." Marquis Zent berkata.


Saat mendengar perkataan marquis Zent, semua bangsawan lainnya mengembalikan kepercayaan diri mereka. Dan menatap Denis dengan mata bersinar.


"Marquis benar. Kita tidak salah sama sekali kalau kita ingin menstabilkan posisi kita di kerajaan ini. Bukankah Raja juga diuntungkan kalau kami berada di sisinya? Kami selalu membantunya" salah satu dari mereka menjawab.


"Kami tidak serakah. Kami hanya ingin sesuatu yang menjadi hak kami. Setelah perjuangan selama bertahun-tahun, mempertahankan posisi ini, kami tidak salah sama sekali" yang lainnya menjawab dengan percaya diri.


"Kalau posisi kami semakin kokoh, bukankah yang mulia raja juga akan semakin terbantu? Lagipula kerajaan ini tidak akan bisa berjalan baik tanpa bangsawan." jawab yang lainnya.


Marquis Zent tersenyum senang, sementara Denis menggertakan gigi nya. Dia tidak bisa membantah. Karena dia benar-benar tidak bisa membuang para bangsawan itu sekarang. Kalau dia melakukan nya, saat faksi Court melakukan pemberontakan, mereka tidak akan bisa menghandle nya. Keluarga kerajaan tidak bisa mengatasi itu sendiri. Apalagi para bangsawan ini juga memiliki beberapa kewenangan di bidang politik, keuangan dan militer.

__ADS_1


__ADS_2