
Cerita Sebelumnya:
Eva dan Denis meninggalkan Menara Sihir untuk kembali ke ibukota. Saat itu rasa cemburu Denis semakin menjadi, karena dia melihat kedekatan Eva dengan Robert.
Disisi lain, Dean Caro sedang merencanakan sesuatu untuk menyempurnakan ramuannya.
***
Kami menyusuri hutan selama setengah jam untuk sampai di ibukota. Setelah menyentuh ibukota, Denis langsung mengantarku ke mansion dengan kudanya.
Saat kami tiba di gerbang mansion, ekspresi para penjaga menjadi cerah. Dan para pelayan berlarian keluar dari dalam mansion menuju halaman untuk menyambut kami.
"Terima kasih yang mulia" kataku sambil memberi hormat.
"...." Denis tidak menjawab.
Dia langsung membalikkan kudanya.
Eh? Dia pergi begitu saja? Apa dia benar-benar tidak suka melihatku?
"Jangan lupa pakai hadiahnya" suara Denis terdengar.
Aku tidak bisa melihat ekspresinya saat dia mengatakan itu karena dia sudah membawa kudanya ke depan gerbang.
Hadiah? Hadiah apa?
Oh? Aku ingat! Kotak kecil itu.
Aku langsung mengambil kotak kecil itu dan membukanya. Ada sebuah kalung dengan lionton kelinci di dalamnya.
Aku mengeluarkan kalung itu, mengamatinya sambil mengernyitkan kening.
Kenapa harus kelinci? Apa selera Denis memang seperti ini? Apa ada pesan tersembunyi dari kalung ini?
Aku berpikir keras tapi aku tidak menemukan jawabannya. Akhirnya aku menyerah...
"Yah, ini tidak buruk" gumamku. Setidaknya ini sangat lucu.
Aku mulai mengenakan kalung itu di leherku. Saat kalung itu terpasang, arus listrik kecil menyerang tubuhku. Membuat tubuhku bergetar kecil.
Eh? Kenapa rasa lelahku tiba-tiba hilang? Ternyata ini bukan kalung biasa. yah, sudah kuduga...
Ini hadiah dari putra mahkota, tidak mungkin sebuah item biasa.
"Nonaaaa!!" suara teriakan terdengar dan teriakan itu semakin kuat.
Aku melihat Wiya berlari menghampiriku dengan wajah cemas dan air mata berlebihan.
"Nona...hiks...kau tidak apa-apa kan? tidak apa-apakan?" katanya panik sambil memeriksa setiap inchi tubuhku.
"Aku tidak apa-apa." jawabku. "Jangan berlebihan Wiya"
"Tidak!" Wiya membantah dan langsung memelukku.
"Jangan lakukan itu lagi nonaa, hikss..."
"Jangan menghilang tiba-tiba. Kami disini sangat khawatir"
"Untung saja...untung saja....Menara Sihir memberitahu keberadaanmu...kalau tidak....kalau tidak...."
"Aku tidak apa-apa Wiya" tegasku sekali lagi sambil membalas pelukannya.
"Maaf membuatmu khawatir"
Wiya secara perlahan melepaskan pelukannya dan isak tangisnya mulai mereda.
"Maafkan aku semuanya, karena membuat kalian khawatir" kataku membungkuk meminta maaf kepada seluruh staff yang ada di mansion.
Aku menjelaskan mereka bahwa aku baik-baik saja. Dan aku merasa sedikit menyesal karena membuat masalah seperti ini. Tapi ini tidak sepenuhnya salahku kau tahu. Aku diculik! Aku bukan melarikan diri, kabur atau apa pun, tapi diculik. Jadi kejadian ini benar-benar bukan sepenuhnya salahku. karena aku bahkan tidak menduga kalau aku akan diculik.
Setelah suasana kembali tenang dan normal. Aku langsung kembali ke kamarku, merebahkan diriku. Aku tidak berpikir apa pun sampai rasa kantuk menyerang dan aku terlelap.
***
Keesokan paginya, aku mendengar dari Wiya dan pelayan lainnya bahwa ayahku akan menjemputku kembali dalam beberapa hari. Karena punya banyak waktu luang, aku mengeluarkan tiga buku mantra lanjutan yang diberikan oleh Dean Cristal. Aku mengamati jenis-jenis sihir yang ada di dalamnya. Lalu aku tertarik dengan salah satu mantra. Mantra lanjutan elemen bumi.
"Golem"
Ini mantra untuk membuat boneka golem dari tanah. Uwahhh, keren, sangat keren!
Aku langsung membaca dan berusaha memahami mantra itu. Setelah yakin kalau aku cukup mengerti mantranya, aku langsung menutup buku itu.
Aku bergegas ke halaman belakang. Dan melirik sepetak tanah yang gersang.
"Kurasa ini tidak akan merusak pekarangan" aku berpikir. Karena tidak ada tanaman apa pun yang ditanam di lahan ini.
Aku mulai memejakan mataku, mengucapkan mantra sembari mengedarkan mana.
Secara perlahan, tanah di depanku mulai terangkat dan membentuk serpihan-serpihan. Serpihan-serpihan itu perlahan mulai menyatu membentuk sebuah boneka dengan setengah tinggi tubuhku.
Aku membuka mataku saat mantranya sudah selesai dan melihat boneka golem kecil di depanku. Boneka itu sangat jelek, tidak ada estetika. Hanya terbentuk dari kumpulan kerikil.
Hmm...bisakah benda ini bergerak? Aku mulai memerintahkan boneka itu bergerak.
KRIEK KRIEK KRIEK
boneka batu itu menggerakan kakinya secara perlahan.
Oh? Benda ini bisa bergerak hahaha
Tapi tiba-tiba, CRASH...
Boneka batu itu melebur dan hancur menjadi kumpulan kerikil yang tidak terbentuk.
__ADS_1
Apa-apaan ini? Sihirku yang gagal atau golemnya yang tidak berguna?
Hmmm, mungkin terlalu kecil, jadi tidak bisa menahan tubuhnya sendiri untuk bergerak, sehingga hancur...?
Aku berusaha mencari jawabannya. Mencari apa yang salah. Tapi aku tidak menemukannya.
"Yah sudah, kita buat versi besar saja" kataku sambil mulai menggunakan mantra itu lagi.
Kali ini aku berdiri agak jauh dan bongkahan-bongkahan tanah mulai terangkat, membentuk sosok manusia dewasa.
Aku melihat boneka di depanku.
"Ini sudah cukup besar kan?" aku bergumam. Lalu aku mulai menggerakannya secara perlahan.
Tapi golem itu hanya bergerak tiga langkah, sebelum....Crash! Hancur kembali...
"....."
"Arghhhh!!" aku berteriak frustasi sambil mengacak rambutku.
Kenapa hancur lagi?
Apa kurang besar?
Aku memejamkan mataku dan mulai menggunakan mantra lagi. Kali ini aku berdiri sangat jauh. Setengah tanah halaman belakang mansion terangkat. Membentuk sebuah lubang besar. Kali ini aku juga menggunakan tanah lainnya, tidak hanya tanah yang gersang itu. Aku tidak peduli. Aku harus berhasil. Aku kesal dan frustasi karena percobaanku selalu gagal.
Aku membuka mata. Aku melihat boneka besar setinggi mansion berdiri di depanku. Huwaa, ini baru yang namanya golem! Kalau sebesar ini baru bisa menghancurkan musuh. Aku baru sadar golem-golem sebelumnya sangat tidak berguna!
Wahai boneka tanah, bergeraklah! Aku memerintahkan golem itu.
KREK KREK KREK
Golem raksasa itu perlahan bergerak maju. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, empat langkah....Golem itu berhasil memecahkan rekor tiga langkah!
Dan akhirnya, golem itu bergerak sampai langkah kesempuluh!
Yeah! Aku berhasil! Ternyata memang benar kalau bentuknya terlalu kecil dan tidak bisa menahan gravitasi sehingga menjadi hancur saat bergerak.
Aku mulai bermain-main dengan golem itu. Mengontrol gerakan maju, mundur dan belok.
"Golemnya bisa menyerang tidak ya?" aku berpikir, sambil mulai mengangkat tangan golem itu, membentuk tinju dan melepaskannya.
SHUA! Tinju kecil terlontar!
Berhasil!
Saat aku sedang asyik bermain dengan golem yang kubuat, tiba-tiba hentakan kaki berlarian menghampiriku.
"Ada musuh!!"
"Dimana?"
"Siaga!"
Aku melihat para penjaga mendekatiku dengan senjata mereka dan para pelayan berdiri di belakang dengan membawa peralatan masak.
Aku masih memaklumi untuk membawa senjata, tapi untuk apa alat masak itu?
"Nona, dimana musuhnya?"' tanya salah satu penjaga waspada.
Musuh apa? Tidak ada musuh disini! Apa mereka berhalusinasi?
Aku tanpa sadar menggerakan golem raksasaku.
BRAK! Golem itu menghentakan kakinya dan tanah di dekatku bergetar.
Uuuhh aku benar-benar tidak sadar. Ternyata dari tadi golem raksasa ini menyebabkan tanah di sekitar mansion mengalami gempa kecil. Karena itulah para penghuni mansion mengira tempat mereka diserang.
"Maaff....ini sihir baru yang kupelajari" kataku sambil menunjuk golem raksasa. "Namanya Toni"
"....."
Tidak ada yang bersuara.
Tubuh mereka kaku dan mereka menatap golem itu dengan mata kosong.
"No...nona..." kata Wiya takut-takut. "Jangan melakukan hal yang berbahaya nonaa...."
Aku mengernyitkan kening. "Ini tidak berbahaya. Lihat, lihat, lihat" kataku sambil menggerakan golem itu.
"Nonaa, berhenti. Batalkan sihir itu nonaa." desak Wiya.
Entah mengapa perasaannya tidak enak. Nona muda di rumahnya selalu membuat masalah. Dia yakin tidak akan ada hal yang baik kalau nona muda mereka melakukan sesuatu yang baru.
"Wiyaa, apa kau meremehkanku?" kataku tidak senang. "Aku bisa mengendalikannya, kau tidak perlu begitu..."
KRAK KRAK KRAK
Suara berderak itu menghentikan perkataanku.
Aku mulai melihat bahwa golem di depan ku mengeluarkan suara berbahaya dan secata perlahan serpihan-serpihan kecil mulai terjatuh ke bawah.
Ti...tidak mungkin kann?!
"Menyingkir!" teriakku langsung sambil melambaikan tangan ke arah para penjaga dan pelayan.
Para penjaga dan pelayan segera menjauh. Aku juga menjauhi tempat itu dengan sihir terbang.
Dan BRAKK!!! Golem raksasa itu mulai runtuh. Bebatuan besar mulai menyebar ke berbagai arah.
uwahhhh!!! Tidak mungkin kan?
"Jangan jatuh ke arah sana wahai batu!!" teriakku putus asa.
__ADS_1
Tapi tentu saja batu tidak mempunyai pikiran, bebatuan itu hanya mengikuti gravitasi dan jatuh ke bawah.
Lalu CRASH BRAK, Bebatuan pecahan golem mulai menimpa bangunan di depan mansion.
KREK KREK KREK, bangunan mansion mulai bersuara menakutkan dan perlahan BRAKKK, ikut menjadi hancur.
Aku hanya bisa menatap kekacauan yang kubuat.
Halaman yang berlubang.
Bebatuan besar yang tersebar di seluruh halaman.
Halaman yang hancur berantakan...
Bangunan depan mansion yang hancur....
Tak lupa aku juga melihat para penjaga dan pelayan, pakaian mereka compang camping dan kotor.
Haa~ aku menghela napas lega saat melihat penampilan mereka. "Untung saja tidak ada yang terluka" kataku lega.
Tapi bagaimana dengan semua kekacauan yang telah kuperbuat?
Ayahku belum pulang kan?
"Masih ada beberapa hari lagi, dia tidak mungkin pulang." Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri.
"Sebelum orang tuaku kembali, aku harus membersihkan semua kekacauan ini" aku bertekad.
Tapi itu terlambat.
Sosok yang kutakutkan sudah berdiri disana, tepat di dekat pagar mansion.
Duke Court dan istrinya berencana kembali lebih awal karena mengkhawatirkan putri mereka yang hilang tiba-tiba. Walaupun pihak menara sihir sudah mengkonfirmasi bahwa dia baik-baik saja. Dan putra mahkota sudah memberitahu mereka bahwa dia mengantarkan Eva dengan selamat di ibukota. Pikiran mereka masih tidak bisa tenang. Jadi mereka menyelesaikan urusan mereka lebih cepat dan segera menuju ke ibukota.
Saat mereka sampai di depan mansion, para penjaga tidak ada disana. Lalu terasa tanah di bawah mereka bergoyang, seperti gempa bumi kecil. Lalu tiba-tiba suara bangunan hancur terdengar. Mereka panik.
'Apakah ada serangan musuh?' Mereka berpikir.
Mereka bergegas masuk dan mencari sumber suara. Lalu mereka melihat kekacauan besar di halaman belakang. Tidak ada tanda-tanda serangan. Para penjaga dan pelayan baik-baik saja. Putri mereka juga melayang penuh energi di atas.
Hanya ada halaman yang rusak...
Bangunan yang hancurr.....
Bebatuan yang berserakan....
Tanah yang berlubang....
Hanya sekilas mereka bisa tahu sumber penyebabnya. Itu adalah putri mereka sendiri, yang melayang dengan energik di atas mansion.
Aku melihat kedua orangtuaku. Terutama mata ayahku.
Uwahhh, mengerikannn.... Tampaknya dia benar-benar marah. Karena aku sudah berada di ujung tanduk, aku hanya punya satu cara!
Aku dengan secepat kilat mendekati ibuku.
"Mama~" kataku dengan manja sambil memeluknya. "Kau sudah kembali, aku merindukanmu~"
"Apa yang terjadi sayang?" tanya Diana sambil mengelus kepala putrinya.
"Hem....itu sesutu yang tidak terduga ma, tidak penting"
"Apanya yang tidak penting!" suara ayahku menyerang telingaku.
"Kau! Kau gadis nakal!" ayahku langsung meraih telingaku dan menjewernya.
"Ah! Sakit paaa"
Ayahku belum pernah melakukan kekerasan fisik padaku. Tampaknya kali ini dia benar-benar marah. Hukuman terberatku hanya dikurung lalu menulis surat penyesalan sebanyak seratus halaman. Tapi kali ini dia benar-benar menjewer telingaku
"Sayang~" bujuk Diana. "Kau menyakiti Eva, lepaskan" katanya prihatin.
Tapi Duke tidak peduli.
"Aku benar-benar harus mendisiplinkan dia! sudah berapa banyak masalah yang dia buat? Kabur dari rumah! Menyelinap ke ibukota! Tersesat di kamp pelatihan! Menyelinap ke Menara sihir! Menghancurkan mansion! Aku benar-benar sudah mentolerir sikapnya ini!" kata Duke dengan napas tersengal-sengal.
"Pa...maafkan aku. Aku tidak sengaja" kataku lirih dengan mata berkaca-kaca.
"Sayang~ maafkan Eva oke? Dia masih kecil. Wajar anak kecil sangat over aktif" kata Diana membujuk.
"Baiklah..." kata Duke lirih sambil melepaskan jewerannya.
"Kau dihukum menulis surat penyesalan seribu lembar"
Apa? Mataku terbelalak kaget.
"Bagus kan sayang~ papa sudah memaafkanmu~" kata Diana.
"Tidak!" aku langsung menarik baju ayahku. "Jewer saja lagi. Aku tidak mau menulis. Aku tidak mau menulis huuuuu" kataku memohon. Aku lebih memilih telingaku di jewer dari pada harus menulis surat penyesalan seribu halaman. Itu hal yang gila.
"....."
Diana dan Duke Court hanya terdiam.
Duke Court tidak mempedulikan nya dan mengalihkan tatapannya kepada para penjaga dan pelayan. "Kalian bersiap. Kita akan kembali ke mansion utama. Aku akan memperbaiki mansion ini nanti"
Para penjaga dan pelayan itu mengangguk.
"Tidakk paaa...aku tidak mau menulisss hikss" rengekku lagi sambil terisak.
"Oke, kalau begitu kau tidak boleh makan daging dan tidak akan mendapatkan uang saku" jawab Duke Court lugas.
"....." Aku langsung terdiam. Rengekan dan isakanku langsung berhenti.
__ADS_1
"Aku akan menulis. Kau tenang saja ayah" kataku yakin. "Aku akan menyelesaikannya dengan cepat."
"......" Duke Court dan Diana hanya terdiam.