
Cerita Sebelumnya:
Setelah kembali ke vila utama untuk melihat adiknya. Eva kembali ke ibu kota. Setelah kembali hidupnya sangat monoton. Semua orang menjadi sibuk dan tidak terlihat. Sayn sibuk dengan misinya dan tidak pernah terlihat lagi sejak mereka mengikuti kelas praktek. Robert juga tidak terlihat sama sekali dan Eva sama sekali tidak tahu pemuda itu kemana. Denis juga tidak bekabar, sama seperti Robert.
Tapi telepati dari Dean Wason membuat hidup monoton Eva akan berakhir. Pertandingan sihir akan diadakan dan Dean Wason menyuruh Eva untuk berkunjung ke Menara Sihir. Robert akan menjemputnya. Sebelum Robert menjemputnya, Denis tiba-tiba muncul dan memberikan kata-kata ambigu.
Setelah Robert menjemputnya, mereka pun menghilang dari akademi.
***
Dalam sekejap kami tiba di ruang pribadi Dean Wason.
Aku melihat sosok tua itu sedang duduk di meja sambil mengamati beberapa dokumen.
Perhatian Dean Wason teralihkan saat melihat mereka sampai.
"Kalian sudah tiba?" gumam Dean Wason sambil mengangkat alisnya. Dia segera meletakkan dokumen di tangannya dan fokus pada dua orang itu.
"Ikuti aku" kata Dean Wason kemudian. Kakek itu segera beranjak dari tempatnya dan menuntun kedua orang muda itu ke ruangan lainnya.
Setelah mereka tiba di ruangan pribadi dan duduk, Dean Wason membuka mulutnya
"Kau tidak rindu dengan kakek?"
Pernyataan itu langsung membuatku membelalak kaget. Satu-satunya kata yang diucapkan adalah itu? Aku mengira dia akan membicarakan tentang pertandingan sihir karena wajahnya sangat serius. Tapi ternyata aku salah. Apa-apaan ini?
"Tentu saja aku merindukan kakek" jawabku jujur. Aku sudah tidak berkunjung ke Menara Sihir ini lama sekali. Tentu saja aku merindukan kakek angkatku satu-satunya.
"Kemari" Dean Wason membuka tangannya untuk memberikan aba-aba bahwa gadis kecil itu harus memberikannya pelukan ringan.
Tanpa perlawanan aku langsung beranjak dan memeluk Dean Wason. "Aku benar-benar merindukanmu kakek..."
"Apa yang terjadi denganmu akhir-akhir ini. Aku dengar kentut tua itu mengirim anda ke misi yang berbahaya" katanya dengan nada yang agak dingin.
"Itu tidak berbahaya. Lagipula kita hanya mengawal anak-anak" jawabku santai
__ADS_1
Haa~ Dean Wason menghela napas. "Baiklah. Tapi aku benar-benar senang gadis kecilku baik-baik saja"
"Tentu saja aku akan baik-baik saja!" kataku percaya diri.
Wajah Dean Wason dan Robert langsung berkedut. Tentu saja mereka tidak mempercayai perkataan Eva. Gadis kecil itu selalu terlibat dalam masalah berbahaya seakan-akan dia mencari masalah itu sendiri.
Kalau Eva mendengar isi pikiran orang-orang ini, dia pasti akan mengomel "aku tidak pernah mencari masalah berbahaya. Itu Eventku sendiri oke. Aku sedang berjuang untuk hidup sekarang!"
Setelah melepaskan rasa rindu satu sama lain, Eva kembali ke tempat duduknya. Dan Dean Wason langsung berubah serius kembali.
"Bagaimana dengan perjalananmu ke Atena? Apa hasilnya?" tanya Dean Wason.
"Atena" adalah nama salah satu kota yang ada di dunia ini. Atena adalah pusat kota bagi para penyihir. Semua orang yang berkunjung disana adalah penyihir. Kalian tidak bisa menemukan prajurit sihir disana, karena mereka semua dilarang masuk. Hanya penyihir yang bisa masuk ke dalam.
"Semuanya berjalan baik. Aku berhasil mendapatkan lencanya" Robert menjawab.
Ah! Aku mengerti. Pantas saja Robert tidak terlihat akhir-akhir ini. Dia pergi ke Atena untuk mengambil lencana pertandingan. Aku juga baru ingat. Pertandingan sihir ini diadakan di Atena. Dimana seluruh pertandingan akan disaksikan oleh seluruh penyihir dan juga dewan sihir yang ada di Atena.
Robert mengeluarkan lima lencana dengan lambang Bunga Mawar dan Pedang. Ini merupakan lambang Menara Sihir. Tapi kenapa ada lima lencana?
"oh?"
Dean Wason tersenyum. "Tenang saja, aku sudah mendaftarkan namamu. Satu lencana untuk kalian berdua"
Satu lencana terbang ke arahku dan aku segera menangkapnya. Aku melihat lencana itu penasaran. Ukiran yang ada di atasnya benar-benar indah.
"Bagaimana dengan sisanya?" aku bertanya. Aku sangat penasaran dengan teman satu timku.
"Charlotte, Jean dan Hans" Dean Wason langsung menjawab.
Aku agak kaget saat mendengar nama Charlotte. Aku tidak ingat detil spesifik pertandingan sihir di dalam novel tapi nama Charlotte tidak pernah disebut di pertandingan sihir itu. Bagaimana dengan Reina? Apa gadis itu memang tidak ikut pertandingan dan mendapat hadiah menakjubkan dari Robert. Hmm...
Sebaiknya aku jangan memikirkan hal ini dulu. Jujur saja, kekhawatiran aku tentang Reina terlalu berlebihan. Bisa saja gadis itu memang tidak mengikuti kompetisi dan menerima hadiah dari Robert.
"Baiklah dengarkan, aku akan menjelaskan alur pertandingannya secara singkat" kata Dean Wason serius. "Pertandingan ini akan dibagi menjadi dua babak. Babak pertama adalah survival game. Kalian berlima harus selamat di babak pertama, karena hanya empat dari enam tim yang akan lolos. Babak kedua adalah pertandingan antar tim. Tim tiga besar akan memiliki kesempatan untuk masuk ke dalam domain sihir untuk mencari harta karun"
__ADS_1
Eva dan Robert mengangguk mengerti.
"Kapan pertandingannya akan diadakan kakek?" aku bertanya.
Dean Wason tersenyum "sekarang"
"Eh?"
TAK! Dean Wason menjentikkan jarinya. Tiba-tiba sebuah lingkaran sihir berwarna biru muncul di baah kakiku. EH?! Lingkaran transportasi?
"Semoga beruntung..."
Aku mendengar Dean Wason menggumam sebelum secara perlahan pria tua itu menghilang dari hadapan kami.
Aku dan Robert pun secara otomatis berteleportasi ke tempat lainnya. Saat kami tiba, kami berada di ruangan serba putih. Ruangan ini mengingatkanku saat aku pertama kali berkunjung ke Menara Sihir. Aku ingat Charlotte mengurungku di ruangan seperti ini.
"Kenapa kakek tiba-tiba mengirim kita seperti ini?" tanyaku dengan nada agak kesal. Bukankah harusnya Dean Wason juga ikut dengan kita untuk melihat pertandingan? Kenapa dia meninggalkan kita?
Robert tersenyum melihat gadis kecil disampingnya cemberut. Dia menyukai ini, entah kenapa ekspresi gadis itu benar-benar lucu dan membuatnya ingin mencubit pipi kecil itu. "Karena tempat ini rahasia..." dia menjawab perlahan.
"Eh?"
"Tempat ini rahasia. Pertandingan sihir ini dirahasiakan dari semua orang, hanya keenam organisasi yang mengetahui acara ini. Semua ini dilakukan agar informasi tentang domain sihir tidak tersebar keluar. Dean mengirim kita secara tiba-tiba karena dia tidak ingin kita mengingat titik teleportasi untuk melakukan teleportasi kembali di kemudian hari. Karena semuanya bersifat rahasia." Robert menjelaskan.
"Ehh? Tapi bukankah master baru saja dari tempat ini untuk mengambil lencana?" kataku bingung.
Robert menggeleng. "Aku tidak pernah mengambil lencana di tempat ini. Aku mengambil lencanya di pusat kota. Lagipula sangat sulit menemukan lencana ini karena semua kurir bersembunyi. Butuh sedikit usaha menemukan toko tersembunyi dimana kurir itu berada"
" Begitu. Aku mengerti"
Aku memperhatikan ruangan putih ini. Ruangan ini sangat besar dan tidak ada tanda-tanda memiliki ujung. Apa mereka menggunakan dimensi sihir? Tapi setelah dilihat lebih detail, kita bisa melihat titik-titik kecil. Aku mengaktifkan sihir di mataku agar bisa melihat lebih kelas. ternyata mereka adalah manusia. Mereka semua adalah semua peserta yang diteleportasikan ke tempat ini secara random.
Lalu aku melihat Empat titik hitam kecil mendekat ke arah kami. Mereka semakin mendekat. Ah! Ternyata itu adalah Charlotte dan dua orang lainnya. Tapi siapa pria yang satu lagi? Wajahnya sangat asing, tapi dia menggunakan jubah Dean.
Pria dengan jubah Dean itu tiba-tiba menegur kami. "Kalian terlambat. Apa yang kalian lakukan? Ayo cepat kita harus segera menuju titik kumpul" katanya tidak senang sebelum beranjak pergi.
__ADS_1
Ada apa dengan orang ini? Kenapa dia tiba-tiba datang dan memarahi kami? Aku bahkan tidak mengenalnya. Dasar orang aneh!