
Tanpa terasa setahun lagi berlalu. Diana sudah berumur 19 tahun dan juga Dia sudah tinggal di mansion ini selama dua tahun lamanya.
Diana merasa khawatir karena ibunya tidak menjemput nya dan dia juga tidak bisa menghubungi Ren lagi. Sehingga dia hanya bisa meminta bantuan Enell untuk mengantarnya ke hutan elf gelap.
Enell sedikit tersentak saat mendengar permintaan Diana. "Hutan elf gelap? Tempat itu berbahaya! Kenapa kau ingin kesana?"
"Ibuku ada disana. Di hutan itu" jawab Diana lirih.
"Apa maksudmu?"
"Aku dan ibuku adalah penyihir gelap"
Mata Enell langsung melongo kaget. Tapi hanya sekejap sebelum dia mengatur ekspresi nya kembali. "Lalu?"
"Karena ibuku mempunyai mana gelap yang sangat banyak, raja elf meminta bantuannya untuk melakukan penelitian. Tapi sudah dua tahun, harusnya penelitian itu sudah selesai.... tapi Dia tidak mengabariku sama sekali. Setidaknya aku ingin menemuinya." Diana menatap Enell serius. "Apa kau membenciku setelah tahu bahwa aku penyihir gelap?"
Enell menghela napas, lalu dia menatap Diana sambil tersenyum. "Aku cukup kaget saat mengetahui nya. Tapi aku bukan orang yang berpikiran sempit. Aku tidak membencimu. Lagipula kau tidak melakukan kejahatan apapun. Orang jahat itu bersifat relatif. Aku sudah membunuh banyak sekali orang jahat, jadi aku tahu itu lebih baik dari orang lain"
Diana menghela napas lega "Tapi mana gelapku hanya akan muncul tiba-tiba. Jadi kau tidak perlu khawatir kalau orang lain mengetahuinya"
"Setelah kau menemukan ibumu. Apa kau ingin menjadi pengembara lagi? Meninggalkan ku?" tanya Enell. Wajahnya cukup sedih sekarang.
Diana sangat bimbang. "Aku tidak tahu..." jawabnya lirih.
Enell menyentuh bahu Diana. "Apakah kau pernah memikirkan tentang permintaan ku dulu? Aku tidak akan pernah berubah pikiran tentang itu. Aku ingin kau tinggal bersamaku"
Setahun yang lalu, Enell pernah melamarnya. Tapi Diana menolak nya.
Diana memiliki banyak sekali pertimbangan kenapa dia menolak lamaran Enell. Pertama, dia adalah penyihir gelap. Kedua, dia perlu memikirkan ibunya juga.
Ketiga, ada banyak sekali gadis bangsawan yang mengincar Enell. Diana sudah terbiasa dengan pemandangan Gadis bangsawan itu menggoda Enell di depan matanya. Walaupun Enell menolak mereka dengan dingin.
Keempat, Pernikahan mereka tidak akan pernah disetujui oleh pihak keluarga Enell. Diana pernah mendengar pertengkaran Enell dan tetua dari keluarga perihal masalah pernikahan. Para tetua itu mengatur pertunangan Enell dengan anak bangsawan lainnya. Tapi Enell menolak dan menjadi konflik.
Diana tidak tahu apakah dia bisa menghadapi semuanya. Belum lagi kenyataan terbaru yang diterimanya, yaitu ibunya sangat membenci bangsawan.
Melihat keraguan Diana, Enell tidak memaksakan keputusan nya lebih jauh. Dia hanya menghela napas untuk menenangkan emosinya. "Aku akan mengantarmu ke hutan elf itu" dia membuat keputusan.
Diana menatapnya tak percaya. Sebenarnya Diana merasa sedikit bersalah. Pria itu melakukan segalanya untuknya tapi dia tidak bisa membalas kebaikannya.
__ADS_1
"Terima kasih" Diana hanya bisa mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya.
Sebulan berlalu, Enell mendapatkan panggilan kerajaan untuk memimpin perang. Jadi dia harus menunda rencana nya untuk mengantar Diana ke hutan elf.
Diana tidak masalah dengan penundaan itu. Dia malah bersikeras untuk mengikuti Enell ke Medan perang. Tapi tentu saja Enell menolak keras hal itu. Sehingga Diana hanya bisa menyerah dan menunggu Enell sampai dia menyelesaikan pekerjaannya.
Seminggu berlalu. Diana selalu melihat berita terbaru tentang perang perbatasan itu dari surat kabar yang ada di ibukota. Mereka mengatakan bahwa perang itu berlangsung dengan lancar. Pasukan Enell berhasil memukul mundur musuh dan bahkan mengambil alih wilayah musuh. Mereka mengatakan raja akan memberi hadiah yang sangat besar kepada pria itu karena jasanya.
Enell sudah pergi berperang selama sebulan. Seharusnya sebentar lagi pria itu akan kembali. Diana tetap menunggu di mansion itu seperti biasa. Dia makan, tidur, bermain dengan pelayan dan merawat bunga-bunga.
Tapi sesuatu yang tidak terduga terjadi di mansion itu. Tetua bangsawan itu mengunjungi mansion Enell. Saat mereka melihat keberadaan Diana, wajah mereka berubah jelek.
"Jadi kau wanita yang menyihir anak itu!" seorang pria setengah baya menyeret Diana, berusaha membawanya ke suatu tempat.
Para pelayan dan prajurit berusaha menghentikannya. Tapi mereka dipukul mundur oleh pengawal yang dibawa tetua itu.
Diana ingin memberontak. Tapi tetua itu mengancam akan membunuh semua orang di mansion, jadi Diana hanya bisa pasrah dan menurut.
Tetua itu membawanya ke suatu tempat di tengah hutan. Diana tidak tahu apa yang akan dilakukan pria tua itu padanya.
"Dia adalah wanita penyihir itu!"
"Bukankah anakmu, Fifi sudah menjadi ratu negara ini? Kita bisa dengan mudah menjalankan rencana kita. Suruh anakmu untuk memberikan racun ke raja baru itu"
"Dia itu putri yang kurang ajar! Dia memutuskan hubungannya dengan keluarga dan pergi memihak keluarga kerajaan. Raja baru itu mencuci otaknya. Benar-benar anak yang sangat tidak berbakti dan tidak berguna!"
Diana bisa mendengar banyak sekali percakapan tentang perebutan kekuasaan. Dia bahkan mendengar bahwa Fifi menikah dengan raja dan menjadi ratu. Jujur saja, Diana tidak pernah menanyakan keadaan gadis itu selama ini. Tapi tidak ada berita pernikahan besar selama dua tahun ini. Jadi kemungkinan Fifi menikah sebelum dia bertemu Enell dan memasuki ibukota.
"Sekarang jalang ini berusaha mencuci otak tuan muda kita!"
"Singkirkan dia sebelum semuanya semakin jauh. Lebih baik kita menyingkirkan nya sekarang sebelum anak itu kembali."
"Kau benar. Kita bisa mengatakan bahwa jalang ini mati dimakan binatang sihir "
"Jangan lupa bunuh semua saksi mata yang ada di mansion itu"
"Kau bohong! Kau bilang padaku untuk membiarkan mereka hidup!" Diana berteriak marah. Dia bahkan tidak bereaksi apapun saat orang-orang itu berencana untuk membunuhnya. Tapi dia menunjukkan reaksi yang kuat saat tahu para pelayan dan prajurit yang tidak bersalah itu akan dibunuh. Padahal sebelumnya mereka sudah berjanji untuk membiarkan orang-orang itu hidup. Ternyata mereka berbohong!
"Diam!" Salah satu Penatua itu menamparnya dengan keras.
__ADS_1
Diana menahan tamparan itu dengan wajah jelek. Dia sama sekali tidak takut. Dia bahkan menatap semua orang itu dengan tatapan benci.
Salah satu tetua merasa tidak nyaman dengan tatapan Diana. Dia menarik pedangnya. "Kita akhiri saja disini" katanya tajam sambil menebas tubuh Diana.
Diana memejamkan matanya. Tapi dia tidak merasakan sakit apapun pada tubuhnya. Diana berpikir bahwa dia sudah mati sekarang karena itu dia tidak merasakan sakit. Tapi itu salah. dia membuka matanya dan menemukan sebuah pelindung transparan mengelilingi tubuhnya. Lalu kalung kecil yang diberikan oleh Ren hancur berkeping-keping saat pelindung itu muncul.
"Artefak Sihir?"
"Ini artefak sihir yang sangat kuat! Darimana jalang ini mendapatkan nya? Apa Enell memberikannya?"
Tapi sayangnya pelindung itu tidak bertahan lama. Pelindung itu secara perlahan memudar dan tetua itu melancarkan serangan kedua. Serangan kedua berhasil membuat lengan dan kaki Diana terluka karena pelindung itu tidak sepenuhnya menahan seluruh serangan.
Tapi ekspresi Diana sangat datar. Seakan-akan dia tidak merasakan sakit apapun dari luka-lukanya.
Serangan ketiga pun dilakukan. Diana memejamkan matanya pasrah. Tapi sama seperti sebelumnya. Dia tidak merasakan apapun. Malahan dia merasa tubuhnya melayang dan seseorang memegang pinggangnya.
Diana membuka matanya dan melihat sosok yang familiar. "Enell?"
Wajah Enell sangat menyeramkan sekarang. Dia menatap dingin semua orang di depannya. Bahkan dia tidak peduli bahwa Diana memanggilnya.
"Tuan Enell kau kembali?"
"Tuan muda, ini bukan seperti yang kau lihat. Wanita itu mencuri harta berharga milik keluarga kami. Kau seharusnya tidak membantu nya."
SWOOSH
Enell menebaskan pedangnya dan pria yanh berteriak itu terbelah menjadi dua bagian.
Semua orang membeku di tempat. Wajah Diana bahkan memucat. Dia belum pernah melihat pembunuhan secara terang-terangan seperti ini. Melihat darah dan daging itu berhamburan di depan matanya, Diana merasa sangat mual.
"Tutup matamu" Enell berkata sambil meletakkan telapak tangannya di mata Diana.
"Em?"
"Jangan dengarkan apapun. Abaikan semua teriakan yang kau dengar. Walaupun mereka tidak akan bisa berteriak" kata Enell dingin.
Diana tidak tahu apa yang terjadi karena matanya ditutup. Enell bahkan tidak bergerak dari tempat awalnya. Tapi Diana bisa mendengar suara tebasan pedangnya yang sangat kuat. Diselingi dengan suara teriakan. Diana berusaha mengabaikan semua itu. Walaupun hatinya sangat gugup sekarang.
Enell berusaha membunuh orang terakhir, yaitu ayah Fifi. Enell tidak peduli bahwa pria itu adalah orang tua Fifi. Pasalnya dia selalu memperlakukan Fifi dengan tidak adil sejak gadis itu masih kecil. Karena itulah Fifi selalu datang ke tempatnya untuk meminta perlindungan. Jadi menurut Enell, dia juga tidak pantas hidup.
__ADS_1