
cerita sebelumnya:
Denis datang dan menyelamatkan Evan dari tangan Marquis. Lalu dia melihat kematian ayahnya sendiri dan menjadi sangat marah. Tapi dia berusaha menenangkan diri nya. Dan menanyakan pelaku nya. Marquis berkata bahwa para penyusup dan Diana yang membunuh Raja dan tentu saja Denis percaya. Niat membunuh yang sangat besar diarahkan ke Sayn. Dan mereka bertarung. Diana pun menghentikan pertarungan itu dengan mengambil semua kesalahan yang ada. Dia mengaku sebagai pembunuh dan rela dihukum. Tapi dia berharap Denis membebaskan Evan dan Sayn. Denis menyetujuinya.
***
Eva sangat gelisah. Dia berusaha menunggu dengan tenang sepanjang malam, tapi dia tidak bisa. Dan tidak ada satu pun yang memberi kabar padanya. Semua orang sama sekali tidak bisa dihubungi setelah beberapa jam berlalu. Jadi Eva memutuskan untuk kembali ke kerajaan Well sekarang. Dia sudah menduganya bahwa dia tidak bisa menunggu.
Eva memutuskan untuk keluar, tapi dia bisa mendengar suara desakan yang sangat ribut dari luar kamarnya. Saat dia keluar, dia melihat semua orang mengelilingi kamarnya. Mereka adalah para murid dari kerajaan Well yang datang bersama dengan nya ke tempat ini sebagai teman satu kelas.
Saat Eva keluar dari kamarnya, dia langsung menjadi pusat perhatian. Dan semua orang menatapnya tanpa ekspresi. Dia tidak tahu apa yang dipikirkan oleh semua orang itu.
"Ada apa?" Eva refleks bergumam dan mereka bisa mendengarnya.
"Apa kau benar-benar penyihir gelap?" salah satu dari mereka tiba-tiba bertanya dengan nada arogan.
Eva tidak menjawab.
"Ibumu adalah penyihir gelap. Dan sekarang wanita jahat itu telah ditahan. Tapi ini tidak adil. Bagaimana bisa kau masih ada disini hanya karena kau dibawah umur dan mereka membiarkan mu bebas begitu saja!" yang lainnya mulai protes.
"Aku melihat Eva menggunakan sihir gelap sebelum nya..." Reina membuka suaranya takut-takut. Seakan-akan Eva mengancamnya karena hal itu. Lilac yang berada di samping nya berusaha menenangkan gadis itu dengan mengelus punggung nya.
"Kau benar-benar membuat malu kerajaan kami!"
"Pergi dari sini!"
__ADS_1
"Kau harus menginap di penjara dengan ibumu"
"Bagaimana gadis jahat seperti mu bisa menjadi tunangan yang mulia Denis?!"
"Kami tidak akan menyetujuimu sebagai ratu kami!"
"Pergi dari kerajaan kami atau mati!"
Anak-anak itu menyumpahi Eva satu persatu.
Eva merasa tidak nyaman. Dia merasa bersalah. Melihat semua orang membencinya, dia benar-benar merasa depresi. Bahkan dia hampir menangis walaupun dia tidak ingin. Dia mengepalkan tangannya erat-erat dan tidak menjawab mereka sama sekali.
Dia harus pergi dari sini. Hanya itu yang ada di pikirannya.
Eva bergegas keluar dari asrama itu. Dia melewati kerumunan manusia yang menatap nya benci. Tapi tiba-tiba beberapa orang menghentikan nya.
Ada dua orang lainnya yang juga ikut dengan Louis. Mereka semua anak laki-laki dan merupakan pendukung setia Reina.
"Kami tidak akan membiarkanmu melarikan diri!"
"Kami akan menangkapmu dan membawamu ke penjara!"
Eva mengernyitkan keningnya. Dia merasa tidak senang. Dia sebenarnya tidak ingin membuat masalah dan pergi diam-diam. Tapi dia keluar karena dia merasakan bahwa ada banyak sekali orang di depan kamarnya. Dan dia tidak pernah tahu bahwa orang-orang itu akan membencinya sekarang. Padahal sebelumnya mereka berteman.
Eva melihat ke arah Lilac. Lilac merasakan tatapan Eva dan refelks mengalihkan pandangannya. Lalu bersikap bahwa dia tidak mengenalnya sama sekali. Saat itu Eva tahu, hubungan pertemanan nya dengan Lilac sudah selesai. Mereka menjadi orang asing sekarang.
__ADS_1
Dua bocah itu menyerangnya tiba-tiba. Eva menghindar dengan mudah lalu menendang lutut keduanya, menyebabkan kedua bocah itu tersungkur ke tanah.
Louis marah karena kedua temannya dihajar dan ikut menyerahkan dengan pedangnya. Dia juga memakai sihir dan membuat pedang sihirnya mengeluarkan lidah-lidah api.
"Kau berani melukai orang-orang terdekat ku. Aku tidak akan memaafkan mu!" kata Louis sambil menyerang.
Louis masih ingat saat Reina menangis di depannya dan mengadu bahwa Eva selalu mengganggunya dan mengejeknya tidak berguna. Karena dia hanya bisa menggunakan sihir cahaya. Louis yang awalnya kagum pada Eva, berubah pikiran. Ditambah fakta bahwa Eva adalah penyihir gelap yang harus dibasmi. Dia menjadi membenci Eva sepenuhnya.
Eva tidak menghindar. Dia mengaktifkan sihir airnya lalu menyelimuti tangannya dengan gelembung air. Pedang Louis meleset dan menusuk gelombang air itu. Lidah api pada pedang itu pun padam. Eva langsung menggunakan kesempatan itu untuk merebut pedang Louis dan menendang bocah itu. Tubuh Louis langsung terpental ke belakang. Lalu Eva menjatuhkan pedang di tangannya dan menginjaknya sambil retak menjadi dua bagian.
Melihat kejadian itu, Reina refleks berteriak lalu menutup mulutnya. Dengan mata berkaca-kaca dia melihat Lilac dan berkata "Louis...Louis terluka..."
Lilac hanya menatap Eva sambil mengernyitkan keningnya. Dia benar-benar tidak ingin ikut campur. Tapi Eva melukai saudaranya. Hal itu sudah kelewat batas. Dia sedikit tidak senang.
Sebenarnya dia ingin bersikap tenang dan tidak memihak siapapun. Tapi melihat saudaranya dipermalukan di depan umum, dia benar-benar tidak terima.
"Hentikan!" Lilac menghampiri Louis dan memberi bocah itu ramuan penyembuh. Lalu dia menatap Eva. "Kau sudah keterluan" katanya.
Eva tak membalas. Dia tak mempedulikan Lilac dan melangkah keluar. Tapi Lilac menghalangi jalannya.
"Kau benar-benar Sombong. Walaupun aku tahu kau memang seperti itu sejak awal" kata Lilac sarkas. Dia memang tahu bahwa Eva orang yang keras dan tidak akan merendahkan dirinya di depan siapa pun. Bahkan di situasi tersulit. Lilac menyukai sifat Eva itu dulunya. Tapi sekarang tidak. Dia menganggap Eva terlalu sombong karena tahu bahwa dirinya berbakat. Dia juga mendengar beberapa sifat jelek Eva dari Reina. Bahwa gadis itu sering menindasnya dengan kekerasan hanya karena Reina tidak bisa bertarung.
Eva melihat Lilac prihatin. Dulu mereka adalah teman baik. Lalu hubungan mereka semakin renggang. Dan teman baik itu sekarang menjadi musuhnya.
"Sejak awal memang ditakdirkan sebagai musuh..." gumam Eva sedih. Dia tidak bisa mengubah takdir apapun pada akhirnya.
__ADS_1
Lilac mendengar perkataan Eva. Dia sedikit bingung. Dia memang tidak menyukai Eva sekarang. Tapi dia tidak pernah menganggap Eva sebagai musuh nya. Dia hanya kesal dengan sikap keras Eva yang masih menjunjung tinggi martabat nya di situasi sulit seperti ini. Seolah-olah dia adalah orang yang kuat, tidak ada yang berani menyentuhnya. Padahal kehidupan nya dan keluarganya berada di ujung tanduk.
Lilac hanya ingin Eva melepas sifat keras dan sombongnya. Lalu menangis dan memohon bantuan. Hanya itu. Dia tidak pernah menganggap Eva musuh walaupun dia seorang penyihir gelap.