
cerita sebelumnya:
Vivian kembali ke mansion milik Marquis Zent untuk memgemas semua barangnya. Tapi siapa yang mengira dia akan menemukan kejadian tidak terduga.
Dia tanpa sengaja mendengar bahwa ayahnya, Marquis Zent merencanakan sesuatu yang jahat pada Duke Court bersama dengan orang dengan jubah hitam mencurigakan.
***
Di suatu gang kecil di ibu kota, ada sesosok gadis kecil yang terduduk lemas. Napasnya terengah-engah. Rambutnya berantakan dan wajahnya memucat.
Dia adalah Vivian yang berhasil melarikan diri dari kematian setelah mendengar sesuatu yang sangat mengejutkan.
Vivian merasa bersyukur pada artefak yang diberikan oleh Eva. Artefak itu bereaksi dengan cepat untuk membuat pelindung dan menteleportasi kan tubuhnya menjauh dari tempat kejadian.
Dia diteleportasikan secara acak dan tidak tahu dimana dia berada sekarang. Vivian bahkan belum bisa memulihkan rasa takutnya untuk mengamati situasi di sekitar.
Dia melihat rok gaunnya yang terkena serangan. Padahal hanya tergores sedikit, tapi secara perlahan gaunnya mulai menghitam seperti terbakar.
"Racun..." gumam Vivian dengan bibir bergetar.
Dia dengan cepat-cepat merobek kain yang terkena racun agar tidak menjalar di tubuh nya. Dia juga mengeluarkan ramuan penawar dari ruang dimensinya dan meminumnya. Dia tahu racun itu tidak mengenainya, tapi tetap saja di ketakutan. Karena itu dia melakukan pencegahan.
Perlu sekitar setengah jam bagi Vivian untuk menenangkan pikiran nya. Setelah dia mulai bisa berpikir jernih dan berdiri. Vivian langsung bertekad menuju kediaman Eva.
Dia berlari kecil dari gang kecil itu menuju ke jalan utama. Suasana sangat hening dan sunyi karena hari sudah lewat dari tengah malam. Semua orang sudah menghentikan aktivitas mereka sehingga semuanya benar-benar sepi.
Vivian mengentikan langkahnya. Dia kembali ketakutan karena kesepian yang tak berdasar itu. Jujur saja Vivian tidak pernah berpergian sendiri di ibu kota seperti ini. Setidaknya akan ada kereta kuda dan juga sipir yang menemaninya.
Tapi kereta kudanya tertinggal di kediaman Marquis dan dia tidak berani untuk kembali ke sana.
__ADS_1
Jalanan ibu kota itu terasa menakutkan untuknya. Jalan menuju ke mansion duke masih sangat jauh dan tidak mungkin di lakukan dengan berjalan kaki. Vivian juga tidak bisa terbang. Dia belum mempelajari sihir itu karena kekuatan mananya masih belum cukup.
Tap, Tap, Tap
Tiba-tiba terdengar suara kaki di belakang punggungnya.
Vivian membeku dengan mata membelalak. Tubuhnya kembali bergetar hebat. Dia berpikir jubah hitam itu berhasil mengejar nya. Dia benar-benar ketakutan dan bahkan tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
Secara perlahan dia merasakan sebuah tangan dingin menyentuh bahunya.
"Kyaaa!" tanpa sadar dia berteriak sambil berjongkok untuk melindungi dirinya. Dia benar-benar berpikir dia akan mati kali ini.
"Apa yang sedang kau lakukan?" seseorang tiba-tiba bertanya padanya. Entah mengapa Vivian merasa suara itu sangat familiar.
Vivian memberanikan diri untuk menoleh dan dia melihat dua orang pria. Salah satu dari mereka adalah orang yang dia kenal. Orang itu adalah Putera Mahkota Denis dan pengawalnya.
Denis baru saja menyelesaika tugasnya untuk mengawasi ibu kota di malam hari. Lalu dia melihat seorang gadis ketakutan di tengah jalan dengan tubuh bergetar. Dia mengira ada kejahatan yang terjadi di tempat ini. Tapi dia tidak menemukan kehadiran siapapun di jalan ini kecuali gadis itu.
Jadi Denis menghampiri gadis asing itu dan menegurnya. Dan Denis merasa gadis itu sangat familiar. Dia adalah gadis bangsawan yang sering dilihat nya bersama Eva. Dan juga putri Marquis Zent yang pernah dilihatnya waktu kecil.
"Apa yang kau lakukan disini?" Denis bertanya lagi untuk yang kedua kalinya. Tentu saja dia bingung karena tidak mungkin seorang gadis bangsawan sendirian di tengah jalan. Dia bahkan tidak berpergian dengan keretanya.
"Bukankah harusnya kau berada di asrama sekarang? Apa kau menginap di mansionmu?"
tanya Denis lagi.
"Aku meninggalkan kediaman marquis Zent. Dan melupakan kereta kuda milikku. Jadi aku ingin kembali ke asrama sekarang" jawab Vivian.
Dia bisa saja meminta bantuan Denis untuk membawanya ke kediaman Duke Court. Tapi dia meragukan pemikiran itu. Pasalnya dia juga mencurigai Denis, walaupun dia tahu Denis mungkin tidak tahu apa-apa. Vivian hanya ingin berjaga-jaga dan membuat dirinya tetap aman. Bagaimana pun juga Vivian tahu bahwa Marquis Zent adalah tangan kanan dari raja.
__ADS_1
"Aku akan mengantarmu kembali" Denis menawarkan bantuan secara tiba-tiba.
Wajah Vivian memerah dan dia menunduk malu. "Tidak perlu yang mulia...saya bisa kembali sendiri"
Tapi Denis tidak mempedulikan perkataannya. Dia menggunakan sihirnya untuk menerbangkan Vivian kembali ke akademi.
Vivian melongo dan berteriak saat tubuhnya mengambang, lalu melesat dengan cepat. Dalam sekejap gadis itu sudah tiba di depan pintu gerbang akademi.
Denis mengerutkan kening curiga saat dia mengirim Vivian kembali. Dia merasa ada sesuatu yang tidak benar.
"Selidiki kediaman Marquis Zent" perintahnya.
Jensen mengernyit bingung. Tapi dia tetap mengangguk patuh. "Baik Yang Mulia. Lalu bagaimana dengan pelatihan nya?"
"Tunda itu sampai kita mendapatkan hasil penyelidikannya"
Lalu kedua orang itu menghilang di tempat seakan-akan menyatu dengan kegelapan malam.
***
Vivian kembali dengan aman di akademi. Dia langsung menuju asramanya dengan cepat karena merasa tidak aman. Dia hanya merasa aman saat dia menyentuh kamarnya karena dia tahu bahwa akademi tidak akan pernah membiarkan orang luar masuk ke dalam. Dan mereka juga mempunyai sistem pertahanan sendiri.
BAK!
Vivian menutup pintu kamarnya dengan nalas tersengal karena dia berlari di sepanjang halaman untuk menuju ke asramanya.
Setelah napasnya kembali normal, Vivian bermaksud menghubungi Eva menggunakan telepati. Dia merasa bodoh karena tidak memikirkan cara ini lebih dulu. Tapi tetap saja sia-sia karena Eva menolak sinyal telepati darinya.
"Mungkin dia sudah tidur. Aku akan menemuinya besok pagi..." gumam Vivian sambil mengigit jempolnya. Dia berpikir dia tidak akan bisa tidur malam ini.
__ADS_1