Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 5 Pertandingan Sihir: Babak Pertama Berakhir


__ADS_3

Cerita sebelumnya:


Eva dibawa berkelana ke masa lalu untuk melihat asal usul sang telur emas.  Lalu setelah mengetahui bahwa itu adalah telur naga, Eva kembali ke dunia nyata.


Bersamaan dengan itu pertandingan pun berakhir dan mereka kembali ke aula di kota sihir. Menerima


pengumuman pemenang babak dan menukar kristal mereka dengan token untuk masuk ke domain sihir.


***


Setelah nama Menara Sihir disebutkan, Robert pun maju sebagai perwakilan. Pria itu menukarkan bola kristal miliknya dengan sebuah token. Setelah selesai, dia kembali bersama kelompoknya.


Aku melihat token yang ada di tangan Robert. Token itu terbuat dari kayu dengan simbol aneh di atasnya. Aku masuh belum tahu kegunaan token ini untuk apa. Walaupun kami tahu ini kunci masuk, tapi kami tidak tahu kegunaan utamanya.


Setelah semua tim yang lolos menerima token mereka, tetua itu segera melanjutkan penjelasannya.


"Token yang kalian terima itu adalah kunci masuk ke dalam domain sihir. Bagi tim yang berhasil mencapai posisi pertama, tim tersebut akan masuk lebih dulu ke domain sihir. Disusul dengan tim lainnya diurutan kedua sampai keempat. Keuntungan yang di dapat dari tim peringkat tinggi adalah kalian bisa mendapatkan waktu lebih lama untuk menjelajahi domain sihir sehingga bisa mendapatkan lebih banyak benda berharga. Tapi ini tergantung keberuntungan kalian masing-masing. "


Penjelasannya pun berakhir.


"Baiklah, kalian bisa kembali ke penginapan kalian. Pertandingan selanjutnya akan dimulai dua hari lagi. Kalian bisa bersantai sekarang "


Lalu tetua itu menghilang dari tengah-tengah aula.


Acara sudah berakhir, kami bertiga memutuskan untuk berteleportasi ke penginapan. Saat kami sampai, Dean baru, Jean dan Hans sudah menunggu kami.


Aku merasa lega saat melihat Jean dan Hans. Kelihatannya mereka baik-baik saja dan tidak ada luka pada tubuh mereka. Walaupun wajah mereka masih pucat karena memerlukan lebih banyak istirahat untuk memulihkan stamina mereka.


"Aiyooo, kerja bagus hahahaha" Dean baru itu langsung tertawa terbahak-bahak. Dia menghampiri Robert dan Charlotte lalu menepuk bahu mereka dengan semangat. "Kerja bagus kalian berdua, kerja bagus hahaha"


Katanya sambil seolah-olah tidak melihat Eva berdiri di antara mereka. Dia mengabaikan keberadaan Eva secara terang-terangan.


"Dean...." Hans berusaha berbicara.


Tapi Dean baru itu langsung memotong omongannya. "Pasti sulit untuk kalian berdua. Bagaimana pun Jean dan Hans harus gugur lebih dulu sehingga bantuan kalian berkurang. Dan harus mengurus sesuatu yang menyusahkan juga. Aku tahu waktu kalian sangat sulit ha..." katanya sarkas sambil sesekali melirik Eva.


Sebenarnya Jean dan Hans sudah menceritakan semuanya pada Dean baru itu. Menceritakan tentang apa yang mereka alami. Menceritakan tentang Eva yang menggunakan sihir tingkat tinggi dan juga sihir cahaya. Tapi Dean baru itu tidak mempercayainya. Dia mengira Jean dan Hans berhalusinasi. 'Bisa saja gadis bangsawan tidak berguna itu menggunakan alat sihir aneh.' Dia berspekulasi.


Robert tidak tahan dengan sikap Dean baru ini saat dia melihat Eva dengan mata mengejek. Entah kenapa itu membuatnya kesal dan tidak nyaman. Dia ingin menyela tapi tiba-tiba Eva membuka suaranya.


"Baiklah, aku akan ke kamarku dulu. Pertandingan ini membuat tubuh kecilku sakit ah~. Dadah masta dan semuanya" kataku santai.


Sebenarnya aku sama sekali tidak mempedulikan perkataan Dean baru itu. Walaupun sesekali ada rasa ingin menghajarnya. Mungkin aku akan melakukannya saat aku menemukan waktu yang tepat.


Aku pun segera menuju kamarku tanpa menoleh ke belakang.


Dean baru itu melihat Eva pergi dan tersenyum senang. Lalu dia menatap empat orang lainnya. "Kalian bisa beristirahat. Dan juga para Dean akan segera tiba di kota Sihir. Kami benar-benar tidak sabar untuk menjelajah domain sihir itu hahaha" katanya bersemangat.

__ADS_1


Tapi Robert tidak menanggapinya. Hanya memberinya bahu dingin sebelum kembali ke kamarnya. Charlotte hanya membungkuk sedikit padanya sebelum menyusul Robert untuk kembali ke kamar. Menyisakan Jean dan Hans yang berdiri sambil menghela napas mereka frustasi. Jean dan Hans menatap Dean baru itu. Mereka meragukan kesehatan otak sang Dean baru. Tapi mereka juga tidak bisa berbuat banyak.


***


Aku segera kembali ke kamarku dan melepas jubahku. Menatap telur kecil yang menempel erat di celanaku. Dengan sekuat tenaga menarik telur itu, tapi telur itu sama sekali tidak mau lepas.


"Hei, ada apa denganmu? Berhenti menempel di bajuku..." gerutuku sambil berusaha sekuat tenaga menariknya. Tapi benda kecil itu tidak mau lepas.


"Baiklah....apa kau menginginkan sesuatu? Ayolah, lepaskan celanaku" kataku menyerah. Lagipula aku tidak bisa melakukan hal berbahaya yang dapat melukai benda kecil ini.


Telur kecil itu sepertinya mengerti perkataanku karena dia tiba-tiba lepas dengan sendirinya. Lalu mulai melompat-lompat sambil mengeluarkan suara.


"Pi~~~"


Aku tersentak saat mendengar suara itu.


Astaga! Sangat imut!


Aku segera mengambil telur kecil itu lalu menatapnya dengan seksama. Kenapa dia hanya menetas sebagian dan mengeluarkan kakinya saja? Apa dia tidak bisa mengeluarkan kepalanya? Haruskah aku membantunya?


Aku langsung mengetuk cangkang telur, ternyata masih keras.


"Pi! Pi! Pi!" telur itu langsung melarikan diri dari tanganku dan berteriak protes.


Kelihatanya dia tidak suka saat aku mengetuk cangkang telurnya.


"Pi~ Pi~" dia menjawab.


Tapi aku sama sekali tidak mengerti oke. Aku sama sekali tidak mengerti omongan binatang sihir.


Um...tunggu!


Sepertinya aku ingat sesuatu!


Bukannya aku punya ramuan yang bisa menirukan suara binatang? Astaga! Bagaimana bisa ada kebetulan seperti ini!


Aku langsung membukan ruang dimensiku dan mengambil ramuan itu lalu meminumnya.


Awalnya aku mengira, aku akan menirukan suara Pi, Pi, Pi itu untuk berkomunikasi dengannya. Tapi ternyata tidak.


"Apa kau mengerti apa yang kukatakan sekarang?" tanyaku dengan perkataan seperti biasanya.


"AH! AH! AH! Kau bisa bicaraaa!" telur itu berteriak kaget.


Ah ~ Ternyata ini efek ramuanya. Efek ramuan ini bisa membuatku mengerti apa yang binatang sihir itu katakan.


"Aku meminum ramuan ]. Sekarang jelaskan, kenapa kau mengikutiku?" tanyaku lagi.

__ADS_1


"Um...makanan..." dia menjawab lirih.


"Apa?" kataku syok.


Aku kaget. Tidak mungkin kan dia mengikutiku hanya karena makanan? Tidak masuk akal!


"Aku tidak punya makanan. Kau mengikutiku karena makanan?"


"Makanan...." katanya.


Baiklah, karena telur kecil ini ingin makanan, aku segera membuka ruang dimensi untuk mengambil beberapa daging dan memberikannya padanya. Tapi dia tidak mengindahkan daging yang kuberikan.


"Ada makanan di depanmu"


Telur itu melompat.


"Bukan, bukan, bukan" katanya frustasi.


"Makanan, makanan, makanan" katanya menuntut.


Aku tidak mengerti maksudnya. "Makanan? Apanya?"


"Makanan, makanan, makanan" katanya menuntut sambil terus melompat.


Ha~ aku menyerah. aku tidak mengerti sama sekali dan tidak mau ambil pusing. Jadi aku mengabaikan telur kecil itu dan mencari makanan untuk diriku sendiri.


Pluk! Tapi tiba-tiba telur kecil itu melompat di tanganku.


"Hei, benda kecil. Apa yang kau lakukan?"


Um...tunggu. Aku merasakan sesuatu yang aneh. Mana gelapku tiba-tiba merembes keluar lagi. Apa lagi ini! Mana gelap milikku mulai merembes keluar dan menyelimuti telur. Tapi kali ini kejadiannya berbeda. Mana gelap itu perlahan menghilang seakan-akan telur itu menyerapnya.


"Kenyang, kenyang, kenyang" telur itu berteriak senang sambil melompat-lompat.


Ah! Ternyata yang dimaksud benda kecil ini makanan adalah mana gelapku!


"Bahaya!" tiba-tiba telur kecil itu berteriak lagi sebelum bersembunyi di antara bajuku.


Bahaya? Apa maksudnya?


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2