
Cerita sebelumnya:
Akhirnya guru Wilson dan Fram (bocak elf yang diselamatkan Eva) bertemu. Mereka membicarakan beberapa hal. Wilson menyuruh Fram untuk kembali, tapi Fram memutuskan untuk menetap dengan Eva.
***
Setelah pertemuan dua elf gelap itu, aku segera kembali ke kamarku dan bersiap-siap lagi. Setelah selesai, aku memutuskan untuk kembali asrama. Aku menyerahkan bocah elf bernama Fram itu pada Wiya untuk mengurusnya. Tentu saja aku tidak bilang pada Wiya kalau aku melakukan misi ke kerajaan Kano. Aku takut Wiya melapor pada ayah bodoh, sehingga orang tua membuat keributan. Yah, kau tahu, ayahku sangat sensitif saat mendengar kata "Kerajaan Kano". Dia sudah berperang bertahun-tahun dengan Kerajaan Kano, jadi hal itu bisa dimaklumi. Aku hanya mengatakan padanya bahwa akademi memberiku tugas. Dan mungkin aku tidak akan kembali ke mansion beberapa waktu ini.
Saat aku kembali ke asrama, aku disuguhkan dengan ruangan kosong. Biasanya aku melihat Vivian yang sibuk dengan buku mantranya. Kali ini gadis itu tidak ada. Mungkin dia mengurus beberapa hal dan tidak kembali ke asrama?
Keesokan harinya, aku bangun pagi-pagi sekali dan bersiap-siap.
Aku langsung menghubungkan sinyal telepati ke Lilac.
"Jadi dimana titik kumpulnya?" aku bertanya.
"Kita disuruh ke ruangan kepala sekolah. Beliau akan menjelaskan misinya lebih detail" jawab Lilac.
Aku mematikan sinyal telepati dan bergegas keluar asrama.
Beberapa menit kemudian, aku sampai di depan ruang kepala sekolah. Ruang kepala sekolah berada di bangunan yang sama dengan ruang para guru.
"Aku sudah sampai, kau dimana?" aku menghubungkan telepati lagi dengan Lilac.
"Masuk"
Aku pun membuka pintu dan masuk. Pemandangan pertama yang kulihat adalah ruangan yang penuh dengan interior putih. Hanya ada satu meja dan kursi di depan ruangan. Lalu ada dua rak buku yang menghiasi sisi samping ruangan.
Aku memindai ruangan ini. Aku melihat seorang perempuan tua dengan jubah hitam dan pakaian kulit. Aku melihat lencana bersinar di dadanya. Ah! Ini pasti kepala sekolah itu! Jujur saja, selama di dalam novel, Eva tidak pernah berurusan dengan kepala sekolah. Dia bahkan belum pernah menemuinya di masa lalu. Keberadaan kepala sekolah ini cukup misterius. Dia jarang menampakan diri di depan publik. Biasanya kehadirannya di depan publik diwakilkan oleh wakil kepala sekolah. Aku pernah mendengar rumor, hanya beberapa orang terpilih yang bisa melihatnya.
Aku memperhatikan kehadiran lainnya selain wanita tua itu. Aku melihat beberapa murid. Mereka pasti murid yang diutus untuk melakukan misi pengawalan ini. Aku melihat si kembar api yang menatapku sambil tersenyum. Lalu aku juga melihat Reina! Yah, tokoh utama pasti terlibat, tidak mungkin tidak. Lalu ada pangeran kedua yang berdiri di samping Reina dan terus menatapnya. Kelihatannya pria itu benar-benar terikat dengan tokoh utama.
Aku juga melihat tiga orang bangsawan lainnya yang tidak terlalu kukenal. Dua dari mereka berasal dari kelas A, Ben dan Chris. Dua orang bocah ini cukup baik dalam penguasaan sihir mereka, Mereka berdua adalah pendekar pedang dan kapasitas mana mereka juga cukup besar. Untuk satu orang bangsawan lainnya aku tidak mengenalnya. Aku juga belum pernah melihat lambang keluarganya. Jujur, aku tidak hapal semua lambang keluarga bangsawan yang ada di negara ini. Lagipula gadis bangsawan ini cukup misterius. Rambutnya terlalu acak-acakan dan menutupi wajahnya. Mengingatkanku akan sosok "sadako" di film horor. Belum pernah ada gadis bangsawan yang berpenampilan sepertinya.
Aku juga melihat dua orang biasa lainnya. Dua orang ini adalah sahabat Reina dan berasal dari kelas A juga. Aku tidak ingat nama mereka. Yang aku tahu, mereka berdua cukup menyebalkan.
"Selamat pagi kepala sekolah" kataku sambil membungkuk hormat lalu masuk ke dalam barisan.
Kepala sekolah hanya mengangguk. "Baiklah, kalian semua sudah berkumpul." katanya sambil mengamati murid-muridnya. "Aku akan menjelaskan detail misinya. Seperti yang kalian tahu kedua negara memutuskan untuk melakukan gencatan senjata dan program pelajar ini terbentuk. Para pangeran dan putri dari Kerajaan Kano akan pergi ke akademi ini untuk belajar. Jumlah mereka tiga belas orang. Tugas kalian sederhana. Kalian hanya harus mengawal mereka melewati hutan perbatasan untuk sampai ke ibukota. Pastikan keselamatan mereka. Misi pengawalan ini dilakukan sebagai jaminan karena pihak kerajaan Kano belum bisa percaya untuk membebaskan putri dan pengeran kerajaan mereka untuk pergi ke kerajaan Well sendiri. Jadi kalian lah jaminannya. Karena kalian murid-murid terbaik di akademi ini"
__ADS_1
"Kalian akan berangkat menggunakan pintu dimensi" Kepala sekolah mengeluarkan alat sihir. Lalu sebuah lingkaran besar muncul di udara. "Ini adalah pintu masuk menuju kerajaan Kano. Alat ini hanya bisa digunakan sekali karena itulah saat kalian balik ke sini, kalian harus berjalan berombongan melewati jalur darat. Karena kerajaan Kano tidak menyediakan sihir transportasi ke Kerajaan Well. Sebenarnya pintu dimensi milikku ini illegal, karena aku mencuri koordinat mereka. Tapi dalam situasi ini tidak apa-apa agar perjalanan kalian lebih cepat. Tidak perlu menempuh jalur darat bolak-balik. Kalian mengerti?"
Kami semua mengangguk.
"Lalu aku akan mengirim satu orang guru untuk memimpin kalian"
"Robert keluarlah"
Robert yang berada dalam bayang-bayang dan menyembunyikan dirinya segera membatalkan sihirnya.
"Perkenalkan, saya Robert dari Menara Sihir, mulai sekarang saya akan menjadi guru yang memimpin misi kalian" jelas Robert sambil tersenyum.
Murid-murid yang mendengar langsung gaduh. Sebenarnya mereka cukup terkejut dengan kata "Menara Sihir" yang dilontarkan Robert. Mereka berpikir bagaimana bisa orang dari Menara Sihir menjadi guru di akademi? Bukankah hubungan akademi dan Menara Sihir tidak seakrab itu? Mereka bahkan saling memamerkan kekuatan masing-masing. Jadi hal yang terjadi di depan mereka cukup mengejutkan.
Aku melonggo kaget! Pria itu tidak muncul di depanku selama beberapa hari ini, dan ternyata dia juga terlibat dalam misi ini. Jadi begini ya pengaturannya. Robert tidak menjadi wali kelasku, tapi menjadi guru dengan status anggota Menara sihir. Bisa dibilang dia semacam guru freelance?
Akhirnya mata kami bertemu. Robert hanya tersenyum saat dia menatap mataku.
"Halo gadis kecilku. Lama tidak bertemu" telepati dari Robert tiba-tiba menyerang kepalaku. Dia tersenyum misterius dan sedikit nakal.
"Master~ kau darimana saja selama ini?" tanyaku cemberut.
"Baiklah. Kalian bisa pergi. ingat, jangan membuat masalah dan jaga diri kalian" kata kepala sekolah.
Satu per satu murid mulai melewati pintu dimensi itu. Aku berada di barisan terakhir. ketika aku ingin melangkahkan kaki masuk, tiba-tiba kepala sekolah menegurku.
"Kau Eva?"
Aku menoleh "Ya?"
Mata kami bertatapan. Aku merasa ada sesuatu yang masuk ke dalam mataku, seperti kilatan cahaya. Tapi itu hanya sebentar dan aku tidak merasakan apa-apa. Tapi anehnya, aku memperhatikan bahwa tubuh kepala sekolah itu bergetar. Sebenarnya, apa yang dilakukannya padaku?
"Kepala sekolah, sebenarnya aku ingin bertanya ini. Hasil ujianku dan kemampuanku hanya biasa-biasa saja. seharusnya tidak mungkin aku bisa masuk dalam tim ini bukan?"
Kepala sekolah itu tersenyum. "Bukankah identitasmu sebagai putri jendral perang sudah cukup?"
"Ah! jadi begitu..."
"Masuklah"
__ADS_1
Tanpa berpikir lagi aku langsung masuk ke dalam pintu dimensi.
Setelah semua murid-murid itu pergi, hanya Kepala Sekolah dan Robert yang masih tertinggal di dalam ruangan.
"Maaf sudah merepotkanmu untuk mengirimu ke Kano sebagai utusan selama beberapa hari ini" kata kepala sekolah sambil duduk di kursinya.
"Tidak apa-apa nyonya. Saya merasa terhormat." jawab Robert sopan.
"Maaf merepotkanmu lagi untuk melindungi para bocah itu" kata Kepala sekolah dengan nada lelah.
"Saya tidak masalah"
"Ternyata pak tua itu benar. Membuatmu bekerja sebagai guru sekaligus asistenku membuat beban kerjaku sedikit berkurang haa~ Aku benar-benar lelah. Aku bingung bagaimana pak tua itu masih bertahan sebagai pemimpin di organisasi besar seperti itu. Dia benar-benar tahan"
"Dean selalu bersemangat. Walaupun kadang dia lelah, hobinya membuatnya melupakan semua kepenatannya" jawab Robert.
"putri duke itu....dia berhubungan dengan pak tua itu?" tanya kepala sekolah tiba-tiba, yang membuat Robert tersentak karena terkejut.
"Yah...aku tidak bisa menjawab. Anda bisa bertanya langsung pada Dean, nyonya." jawab Robert ambigu. "Baiklah saya permisi dulu nyonya. Saya harus menyusul para bocah itu" kata Robert cepat dan menghilang ke dalam pintu dimensi.
"...."
Kepala sekolah merenung.
Beberapa hari yang lalu, dia mendapat berita dari stafnya bahwa ada seorang gadis bangsawan dengan seragam akademi yang masuk ke dalam tokonya. Dan yang lebih mengejutkan, kapasitas mana gadis itu sangat besar. Kurcaci itu tidak tahu namanya dan tidak tahu dari keluarga mana dia berasal. Tapi dia ingat lambang keluarga di seragamnya dan menggambarkannya di kertas lalu menunjukkannya pada kepala sekolah. Gambarnya sangat jelek, tapi kepala sekolah langsung mengenalinya. Ini lambang keluarga "Duke Court".
Dia ingat Duke Court hanya memiliki putri tunggal dan baru masuk tahun ini sebagai murid baru. Jujur saja putri duke ini tidak mencolok. Tidak ada yang tahu bahwa dia memiliki kapasitas mana sebesar ini. Apa bocah itu menyembunyikannya? Apa karena perintah duke?
Jujur saja, saat melihat gadis itu, dia berbeda menurut rumor yang beredar. Menurut rumor dia gadis yang cukup buruk dan tidak punya kemampuan. Tapi itu salah! Gadis itu cukup sopan. Dan dia menyembunyikan kekuatan besarnya dengan cukup baik. Dia juga tidak sengaja mendengar beberapa rumor bahwa putri duke berhubungan baik dengan Menara Sihir. Walaupun dia tidak mendapatkan informasi itu secara spesifik.
Lalu, saat dia ingin masuk ke dalam gadis itu dan mengamati inti sihirnya. Jiwanya tiba-tiba terguncang dan terpental keluar. Seperti ada sesuatu yang kuat melindungi bocah itu dan dia tidak tahu apa itu.
"Ini benar-benar misterius" kepala sekolah bergumam. Dia cukup senang karena akademinya mendapat satu murid berbakat lagi. Tapi dia juga cukup waspada dan merasa agak berbahaya. Dia takut kekuatan keluarga Court akan semakin besar dan membuat kedudukan keluarga kerajaan semakin melemah. Kalau tersebar berita bahwa putri duke itu jenius, dia yakin tatanan bangsawan akan dilanda kekacauan. Faksi keluarga Court akan semakin kuat dan bertambah. itu hal yang buruk.
"Semoga saja dia tidak merencakan hal yang jahat" kata kepala sekolah melankolis. Dia takut duke Court secara perlahan membangun reputasi dan kekuatannya untuk memberontak. Akademi berada di pihak kerajaan. Tentu saja dirinya juga. Dia tidak mau menjadi musuh dengan Duke Court, karena dia pasti membantu pihak kerajaan kalau perang kedua faksi itu benar-benar terjadi.
"Semoga hal buruk yang kubayangkan ini tidak pernah terjadi..." Apalagi putra mahkota bertunangan dengan gadis itu. Jadi kemungkinan terjadinya peristiwa ini sangat kecil.
Jangan Lupa LIKEE nya
__ADS_1