
Cerita sebelumnya:
Berita tentang akhir peperangan sudah menyebar. Gosip pun menyebar ke setiap orang dengan versi yang berbeda-beda. Vivian dan Wiya, yang saat itu berada di kerajaan Well sudah sadar. Lalu mereka berbicara dengan Denis. Pembicaraan itu membuat Denis merasakan penyesalan yang mendalam.
***
Denis menemui Marquis Zent di penjara. Dia bertanya tentang apa yang dia rencanakan di kerajaan ini dan kenapa dia menjadi mata-mata. Penyihir pendamping yang bisa menggunakan sihir pikiran juga ikut dengannya. Jadi dalam satu langkah, Denis mengetahui semua rahasia Marquis hanya dengan membaca pikirannya.
Marquis sejak lama sudah menginginkan jabatan yang lebih tinggi di kerajaan. Lalu seorang misterius mulai menghampirinya dan berniat untuk membantunya. Marquis Zent langsung setuju. Orang misterius itu membangun laboratorium di ruang bawah tanah mansion. Lalu mereka mulai mengambil beberapa anak jalanan sebagai subjek penelitian.
Tapi anehnya, Marquis bahkan tidak tahu di mana anak-anak itu sekarang dan penelitian apa yang mereka lakukan. Karena dia tidak terlalu tertarik untuk mencari tahu tentang hal itu. Sehingga Denis tidak mendapatkan informasi apapun tentang penelitian illegal yang ada di negaranya.
Tapi Denis mendapatkan informasi bahwa orang-orang misterius itu menginginkan kerajaan Well sebagai base mereka. Karena itu mereka mau membantu Marquis mendapat jabatan yang lebih tinggi. Agar mereka lebih mudah untuk beroperasi. Dia tidak mengerti mengapa mereka menginginkan Kerajaan Well sebagai base. Bukannya masih ada kerajaan lain di luar sana?
Lalu Denis sangat syok saat mengetahui bahwa Marquis lah yang sudah membunuh Raja. Pria tua itu mengakuinya. Dia melakukan itu karena tidak bisa mengendalikan emosinya.
"Apa-apaan..."
Fakta ini membuat Denis linglung. Dia tidak mengira bahwa ini akan terjadi. Dia sudah menuduh Diana dan pangeran Kano itu sebagai pembunuh. Dan bahkan berniat menghukum mati mereka. Dia sudah mengadili orang yang tidak bersalah sama sekali.
Mata hati Denis terbuka. Rasa penyesalan di dalam dirinya semakin besar sekarang. Setelah mengetahui fakta itu, dia mengirim Jean untuk menemui Duke. Dia mengira Duke masih berkemah di hutan sekitar. Dia akan mengajak nya untuk berunding terakhir kalinya dan meminta maaf. Dia benar-benar menyesal. Dia ingin Duke dan keluarganya kembali ke kerajaan Well. Dia tidak peduli bahwa mereka adalah penyihir gelap.
Setelah itu, Denis mengumumkan hukuman Marquis kepada semua orang.
"Marquis akan diadili. Dia akan dihukum mati karena kasus pengkhianatan dan pembunuhan Raja"
__ADS_1
Satu kata itu membuat semua orang di kerajaan Well gempar. Jadi berita bahwa istri Duke membunuh Raja sama sekali tidak benar. Dan dia juga bukan mata-mata. Wanita malang itu hanya kambing hitam!
Denis tidak berniat untuk menyembunyikannya. Walaupun dia tahu menyebarkan fakta ini akan membuatnya mempermalukan diri sendiri karena mengadili orang yang salah. Setidaknya dia benar-benar ingin meminta maaf dan membersihkan nama Duke.
Awalnya setiap penduduk mengangumi Duke. Dia adalah panutan setiap anak laki-laki di kota. Tapi setelah tahu dia menyembunyikan mata-mata penyihir gelap. Semua orang menjadi membencinya. Tapi setelah tahu bahwa Duke hanya kambing hitam. Semua orang menyesal.
Jendral besar kerajaan adalah pria tua yang paling sedih dan menyesali perbuatannya. Pasalnya dia benar-benar berperang melawan Duke dan bahkan menghabisi beberapa pasukannya, yang notabene nya pihak yang sama sekali tidak bersalah. Dia membunuh banyak orang yang tidak bersalah karena hal itu.
"Aku akan meminta maaf kembali kepada Duke secara pribadi" Denis mengumumkan.
Sementara itu, Reina kembali ke kerajaan Well. Dia benar-benar syok dengan plot twist yang terjadi. Awalnya dia senang karena keluarga Duke itu akan hancur. Tapi tiba-tiba sekarang ayahnya yang akan dihukum mati karena pengkhianatan dan pembunuhan. Dia juga tidak pernah menduga bahwa sang ayah akan membunuh Raja.
"Yang mulia. Ayahku tidak bersalah. Pasti ada yang salah. Ayahku tidak mungkin membunuh Raja" Reina menangis.
"Itu tidak mungkin!" kata Reina emosional. "Penyihir gelap itu pasti menggunakan sihir hitam untuk mengendalikan pikirannya. Sehingga dia bisa melakukan hal jahat seperti itu. Ayahku tidak mungkin melakukan nya" katanya sambil terisak.
"Reina. Rumah Marquis Zent tidak memiliki pemimpin sekarang. Kau akan diangkat menjadi calon pemimpin keluarga Zent. Kau akan mendapatkan gelar bangsawanmu sebagai kepala keluarga saat upacara kedewasaanmu diadakan" Denis mengabaikan protes Reina. Dan dia mulai memberitahu apa yang dia pikirkan.
Reina terdiam. Dia tidak berpikir bahwa dia akan menjadi pewaris keluarga Zent sekarang.
"Tapi Yang Mulia. Ayahku tidak bersalah. Dia bukan orang jahat. Apa yang mulia tidak ingat sama sekali tentang pengabdiannya selama ini? Dia mengabdi selama bertahun-tahun dan berdiri di samping Raja. Tidak mungkin dia melakukannya" Reina masih memohon.
"..." Denis mengabaikan nya. "Kau bisa pergi sekarang."
"Tidak Yang Mulia. Aku tidak mau. Tolong...tolong jangan hukum mati ayahku. Aku tidak bisa menerimanya. Aku tidak akan bergerak dari tempat ini sampai yang mulia mencabut hukuman nya" Reina berlutut di depan kaki Denis.
__ADS_1
"Baiklah, kau tidak ingin aku menghukum seorang kriminal?" Denis menaikkan alisnya, menatap Reina serius. "Kau tahu kejahatan yang dia lakukan sama sekali tidak kecil"
"Tidak. Membunuh seseorang adalah kejahatan besar. Tapi yang mulia juga membunuh pelaku itu. Bukankah itu juga termasuk kejahatan besar? Saling membunuh adalah sebuah kejahatan besar!"
Denis mengernyitkan keningnya, dia berpikir sebentar.
"Baiklah, aku tidak akan membunuhnya"
Reina kaget. Dia tersenyum lebar. "Terima kasih Yang Mulia"
"Aku akan mencabut akal budinya dengan sihir. Sehingga dia tidak bisa menggunakan otaknya lagi. Lalu mengasingkannya dari kerajaan Well." sambung Denis.
"Apa...?" Reina tersentak. Mencabut akal budi seseorang akan membuat orang itu tidak bisa melakukan apapun. Sama seperti orang autisme. Mereka tidak bisa berinteraksi dengan orang lain. Mereka bahkan tidak bisa membersihkan diri mereka dan makan sendiri. Karena fungsi otak mereka benar-benar dinonaktifkan. Mereka akan menjadi orang bodoh tanpa otak. Hal itu bahkan lebih buruk dari kematian.
"Tidak...tidak Yang Mulia..."
"Nona Reina. Bukankah kau terlalu egois?" Denis menatap Reina dengan tatapan jijik. "Aku sudah menuruti kemauanmu dengan tidak membunuhnya. Lalu kau ingin lebih?"
"Aku...aku..."
"Kau harus berpikir dewasa atau kau tidak akan pernah mewarisi keluarga Zent. Tapi tenang saja, Vivian juga bukan calon yang buruk" ini adalah kata-kata terakhir Denis sebelum dia meninggalkan Reina sendirian disana.
Wajah Reina memerah. Air matanya mengalir. Dadanya terasa sesak. Dia mengigit bibirnya dan mengepalkan tangannya erat-erat, sampai telapak tangannya berdarah, untuk menahan dirinya agar tidak berteriak.
"Semuanya gara-gara dia. Gara-gara dia hidupku menjadi berantakan seperti ini" dia berkata dengan mata memerah penuh kebencian. "Dasar brengsek! Aku akan menghancurkanmu nanti!"
__ADS_1