Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 6 Siapa Kekasihmu?


__ADS_3

Cerita sebelumnya:


Vivian memberitahu Eva tentang masalah nya. Alasan kenapa dia menampar Reina dan alasan kenapa dia bersedih. Eva pun menghiburnya.


Lalu Vivian juga memberitahu nya rencana rahasia Marquis Zent untuk mencelakai Duke Court. Awalnya Eva cukup kaget dan sedih. Tapi dia dengan cepat mencari cara untuk mencegah hal itu. Dia berniat meminta bantuan kepada Dean Wason dan juga Sayn.


***


Aku langsung berdiri saat melihat Ren menghampiri kami. "Apa yang kau lakukan disini Guru Wilson?" aku bertanya untuk yang kedua kalinya.


"Aku perlu bantuanmu untuk penelitian. Tenang saja. Aku sudah meminta izin kepala sekolah agar kita bisa keluar dari akademi sebentar" jawab Ren sambil menunjukkan senyum nakal.


Aku merinding saat mendengar jawabannya. Apa? Aku akan jadi manusia percobaan lagi? Aku kira dia sudah berhenti menggangguku. Tapi ternyata tidak. Dia masih terus memintaku untuk melakukan penelitian aneh itu.


Normalnya, aku akan menolak permintaan Ren. Tapi setelah mendengar cerita Diana, aku berpikir lagi. Aku memang ingin menemui Ren dan bertanya tentang nenekku, Emerta. Dan ini adalah kesempatan yang cukup bagus.


Jadi aku mengangguk setuju sebagai responnya. "Baiklah."


Ren mengangkat alisnya kaget. Dia tidak percaya Eva akan merespon nya dengan baik. Padahal Ren sudah mempunyai pikiran untuk membawanya dengan paksa alias menculiknya lagi.


Sementara Sayn terus menatap Ren dengan tatapan tidak senang sepanjang pembicaraan mereka. Ren menyadari tatapan itu dan balas menatap nya.


"Kau adalah murid transfer itu bukan? Dari Kerajaan tetangga?" tanya Ren tiba-tiba.


Sayn bekedip. Dia merubah ekspresi wajahnya menjadi sangat datar. "Iya, guru."


"Hm, Semenjak kau hanya murid pertukaran. Kau harus belajar dengan baik di sini. Walaupun aku melihat banyak dari kalian yang sibuk mengejar gadis bangsawan di tempat ini. Kau seharusnya tidak seperti menjadi seperti saudara-saudaramu" kata Ren dengan nada mengejek. Ren ingin membalas bocah seumur jagung ini. Karena bocah ini yang lebih dulu memberi kan tatapan bermusuhan padanya.


Wajah Sayn berkedut. Jujur saja dia benci mendengar perkataan Ren. Tapi dia lebih membenci saudara-saudaranya yang bertingkah seperti sampah di tempat ini.


"Aku akan belajar dengan baik guru" respon Sayn. Dia masih merespon dengan sopan.


"Tapi aku sama sekali tidak pernah melihat mu menghadiri kelas. Lain kali kau harus menyingkirkan boneka itu dan hadir dengan tubuhmu sendiri" kata Ren nakal.


Deg!


Mata Sayn membelalak kaget.


'Dia tahu!' pikir Sayn. Dia langsung menatap Ren dengan tatapan tajam sambil mengigit bibirnya. 'Apa dia tahu semua rahasiaku?'

__ADS_1


"Aku sama sekali tidak tahu dan tidak ingin mencari tahu" balas Ren santai. Seakan-akan dia bisa membaca pikiran Sayn.


Sayn melongo mendengar responnya. Di depan Ren dia merasa seluruh diri nya telanjang dan tidak ada rahasia yang bisa disembunyikan. Sayn merasa harga dirinya tidak ada gunanya disini. Jadi dia mulai mengeluarkan aura membunuhnya dan mengarahkan nya pada Ren.


Tapi aura itu terpental dengan mudahnya. Ren memandang nya skeptis. Ren tidak percaya bibit jagung ini mengarah kan aura membunuh padanya. Jadi Ren membalasnya.


Aura membunuh itu sangat tajam seolah-olah menutupi seluruh pandangan Sayn. Sayn mengerjap kaget. Wajahnya memucat dan seluruh tubuhnya berkeringat dingin karena menahan semua aura itu. 'Orang ini kuat' pikirnya sambil menggertakan gigi. Dia tidak mengira seorang guru di akademi akan memiliki kekuatan seperti ini. Dia mengira kekuatan Ren akan setara dengan Robert. Tapi itu tidak benar.


"Apa yang kalian lakukan?" Eva bertanya bingung saat melihat kedua orang itu bertatapan cukup lama. 'Apa mereka saling berbicara dengan telepati? Tapi sejak kapan mereka berdua saling kenal?' Eva berpikir.


Tersadar oleh suara Eva, Ren segera menarik semua auranya. Sementara Sayn berusaha mengatur napasnya yang tersengal karena menahan aura kematian itu.


"Sayn, kau kenapa?" aku bertanya khawatir. Tidak mungkin pria ini tiba-tiba sakit bukan?


"Aku tidak apa-apa" Sayn dengan perlahan berdiri. "Aku akan pergi" katanya. Dia menatap Ren sebentar, lalu mendengus kesal. Sebelum akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.


Aku tidak terlalu memikirkan kepergian Sayn. Jadi aku segera mengikuti Ren. Dia membawaku ke rumah pohon itu lagi.


Ren tidak mengikatku seperti sebelumnya, jadi aku terbang dengan bebas ke tempat itu. Perlu waktu sepuluh menit untuk sampai di sana.


Akhirnya kami sampai di rumah pohon milik Ren. Rumah pohon itu masih sama seperti biasanya. Tapi aku tidak menyadari bahwa Ren memasang mantra pelindung di pohon ini. Sehingga orang luar tidak akan bisa melihat rumah pohon itu dari luar.


Aku mengamatinya. Penampilan nya tidak berbeda jauh dengan para bangsawan muda atau mungkin para murid. Orang itu terlalu menipu. Bagaimana bisa dia terlihat muda seperti itu walaupun dia sudah berumur ribuan tahun?


Terlebih lagi, aku juga penasaran bagaimana wujud sebenarnya Ren. Wujud elf gelapnya karena selama ini dia selalu menggunakan penampilan manusia miliknya. Tapi tentu saja aku tidak akan berani menanyakan hal itu. Karena Ren sama sekali belum memberitahu ku identitas aslinya. Aku mengetahui semuanya dari Diana. Jadi bagiku dia masih Guru Wilson, guru dari akademi dan juga wali kelasku.


Ren mengambil teko minuman untuk mengisi cangkir kosong. Lalu dia memberikan cangkir itu pada ku dan membuat ku melongo kaget.


"Minumlah" katanya sambil duduk di kursi kecil nya.


Aku langsung duduk di depannya. Hanya ada meja bundar kecil yang memisahkan kami. Lalu aku mengambil cangkir itu dan meminumnya.


"Eh? Enak..." gumamku tanpa sadar. Entah kenapa rasanya sangat familiar. Seperti es soda?


"Penemuan baruku. Kau membicarakan tentang makanan aneh sebelumnya bukan? Apakah rasanya seperti itu?"


Aku menatap Ren lekat-lekat. "Kau membuat minuman soda?"


Ren tersenyum dan mengangguk percaya diri.

__ADS_1


"Apa ini penemuan yang kau bicarakan? Kukira kau berhasil. Rasanya sangat enak!"


"Bukan. Aku punya penemuan lainnya. Minuman itu hanya selingan." Ren juga meminum soda itu. "Rasanya memang enak." dia berkomentar.


"Tentu saja. Kau juga bisa membuat es krim, yogurt bukan? Minuman itu juga sangat enak" kataku antusias.


"Aku bukan mesin pembuat makanan. Aku akan membuatnya kalau ada waktu" jawab Ren ketus saat Eva melihat nya dengan antusias.


"Humph! Tidak perlu. Aku akan membuatnya sendiri nanti" jawabku cemberut. Lagipula membuat es krim dan yogurt itu tidak sulit. Aku juga bodoh. Kenapa aku meminta Ren untuk membuat semua hal itu? Padahal kami juga tidak seakrab itu.


Ren menahan pipi nya dengan tangan kanannya lalu dia menatap Eva dengan tatapan malas. "Apa pangeran Kano itu kekasihmu?" katanya tiba-tiba.


Puh!


Aku langsung memuntahkan minumanku. Bahkan aku juga tersedak.


"Darimana kau mendengar hal seperti itu? Itu tidak mungkin!" aku langsung membantahnya.


"Aku hanya menyimpulkan nya sendiri. Tidak mendengar nya dari siapapun" jawab Ren. Dia menatap Eva dengan tatapan nakal. "Siapa yang mengira kau akan mengumpulkan banyak kekasih di umur semuda itu"


Wajah Eva langsung berkedut.


"Kau mempunyai tunangan. Dan aku juga melihat mu sangat dekat dengan guru baru itu. Um...atau aku harus memanggilnya mata-mata dari Menara Sihir" sambung Ren sambil memainkan jarinya.


Urat-urat kekesalan muncul di kepalaku. "Jadi apa maksudmu mengatakan semua ini? Itu bukan urusanmu sama sekali!" aku menatapnya kesal.


Ren menatap nya serius. "Jadi siapa kekasihmu?"


Uhuk!


"Tidak seorang pun!" bantahku lagi.


"Tapi pada akhirnya kau harus memilih satu bukan?" Ren menatapnya penasaran.


"Aku tidak akan memikirkan hal itu untuk saaat ini" kataku sedih. Aku memikirkan cara untuk bertahan hidup, karena itu aku memutuskan untuk berteman baik dengan semua tokoh utama itu. Walaupun aku gagal berteman baik dengan Reina karena gadis itu sangat menyebalkan. Tapi aku belum memiliki perasaan apapun pada mereka.


"Aku belum pernah menyukai siapapun..." jawabku lesu.


"...."

__ADS_1


Ren terdiam. Dia tidak mengalihkan tatapannya dari Eva. Dia sedang merenung saat ini dan tidak ada yang tahu tentang isi pikirannya. Suasana di antara mereka pun menjadi hening sejenak.


__ADS_2