
Cerita Sebelumnya:
Eva dan Vivian berjalan-jalan di ibukota. Mereka mengunjungi sebuah toko aneh yang menjual alat-alat sihir. Toko itu mempunyai banyak rumor aneh, dari milik kepala sekolah akademi sampai membuat senjata penghancur. Pembayaran di toko itu juga aneh, yaitu menggunakan mana. Eva membeli beberapa buku mantra tingkat lanjut dan Vivian membeli buku tentang formasi sihir.
***
Aku bertanya pada Vivian tempat makan rekomendasi yang enak. Vivian membawaku ke salah satu restoran yang terkenal diantara para bangsawan. Restoran ini terkenal mahal dan makanannya sangat enak. Tentang harga mahal, aku tidak terlalu memikirkannya, yang penting rasanya enak.
Saat pertama kali melihat tampilan gedungnya, aku merasa ini terlalu berlebihan dan terlalu mewah. Tapi saat masuk ke dalam, pikiran itu langsung hilang. Suasana di dalam restoran terasa sederhana tapi elegan. Dan penuh dengan tanaman hijau yang langka. Aku menyukainya. Tempatnya sangat nyaman dan tidak berisik. Dan restoran ini juga terbagi menjadi dua lantai.
Kami menuju lantai dasar karena tempat ini tidak terlalu ramai. Para pelayan itu sangat ramah saat menyambut kami. Pelayan mulai memberikan menunya dan aku menyerahkan pemilihan makanan pada Vivian. Ini pertama kali aku pergi ke tempat ini, restoran "Eat Meal". Restoran ini ternyata tidak hanya terkenal di kalangan bangsawan, tapi di semua kalangan. Aku melirik sekeliling dan melihat beberapa pendagang atau orang biasa juga ada di sini.
"Yah tentu saja. Harga dalam menu dibedakan menjadi murah dan mahal. Para pendagang itu masih bisa memesan makanan kalau mereka mau. Bahkan kadang restoran ini memberi diskon kepada orang biasa." Vivian menjelaskan dengan santai.
Aku mengangguk mengerti.
Beberapa menit kemudian, makanan yang kami pesan mulai datang.
Aku mulai melihat meja di depanku. Ada berbagai macam makanan. Ada daging panggang, roti, sop dan yang lainnya.
"Ini adalah menu makanan favorit disini" kata Vivian sambil menyodorkanku sepotong kue.
"Oh. Bukannya ini hanya kue coklat?"
"Mereka menambahkan susu kau tahu? Aku tidak tahu bahwa susu sangat cocok dikombinasikan dengan coklat. Bahkan aku mendengar susu juga bisa dibuat menjadi alat kosmetik untuk merawat kulit. Produk ini digemari di kalangan gadis bangsawan." Kata Vivian dengan mata bersinar.
"..."
Aku terdiam. Aku sempat lupa bahwa aku berada di dalam novel. Dan abad di dalam novel ini seperti eropa zaman dulu. Masih menggunakan sistem kerajaan. Tentu saja hal seperti itu merupakan penemuan baru di mata mereka.
"I..iya" jawabku dengan nada canggung. Aku tidak bisa menjawab "ini biasa saja" atau aku akan menyakiti hati Vivian.
Kami mulai makan. Aku mencicipi satu per satu makanan di atas meja. Semuanya enak! Perutku yang lapar ini benar-benar menjerit saat makanan itu masuk ke dalam perutku!
"Makanan ini sangat enak! Pantas saja tempat ini sangat populer!" kataku antusias sambil menatap Vivian.
"?"
Tapi Vivian sepertinya tidak mendengarku. Dia menoleh ke samping dan mematung. Apa yang dilihatnya?
Aku mengikuti arah tatapannya dan melihat Reina! Ternyata gadis itu juga pergi ke restoran ini. Reina berjalan beriringan bersama tiga orang gadis lainnya. Kelihatannya mereka rakyat jelata. Aku bisa tahu dari seragam akademi yang masih dipakai oleh mereka.
***
"Wah, tempat ini begitu besar~" kata gadis disampingnya dengan nada kagum dan mata berbinar.
"Makanan disini pasti mahal. Kami tidak mampu membelinya"
__ADS_1
"Kalian tenang saja. Aku akan membayarnya. Aku benar-benar ingin makan dengan kalian" jawab Reina dengan nada manis sambil tersenyum.
"eh?" Reina kaget saat dia melihat ke depan. Dia melihat Vivian sedang bersama Eva dan makan dengan riang.
Vivian pun menoleh. Dan mereka saling bertatapan.
Reina tersenyum lalu menghampiri Vivian dengan semangat.
"Kakak!" katanya dengan nada bahagia.
"...." aku dan Vivian sama sekali tidak mengatakan apa pun.
Aku menatap Reina dari atas ke bawah. Gadis ini....bukankah dia terlalu keterluan? Setelah konflik seperti itu, dia masih berpura-pura bahwa dia akrab dengan Vivian. Lihat saja senyum bahagianya itu. Dia benar-benar tidak merasa bersalah. Dia gadis yang cukup optimis. Dia dengan cepat melupakan konflik dengan orang lain dan berpura-pura bahwa dia dekat dengan orang itu. Yah, itu adalah keahlian tokoh utama.
"Ah, salam Nona Eva~" katanya dengan nada manis dan menatapku.
Seketika aku langsung merinding.
Dia benar-benar gadis yang hebat.
Aku bisa menghadapinya dengan biasa. Tapi tidak dengan Vivian. Aku lihat wajahnya sudah memerah dan tangannya mengepal erat menahan marah.
BRUK! Vivian langsung memukul meja dengan kepalan tangannya.
"Kenapa kau ada disini..?" katanya dengan suara gemetar menahan teriakannya.
"Jangan tunjukkan wajahmu di depanku lagi!" teriak Vivian sambil menunjuk Reina.
Teriakannya membuat perhatian seluruh tamu di restoran melihat kami.
Aku berkeringat dingin. Bagaimana ini? Bukankah Vivian terlalu membenci Reina? Dia bahkan tidak bisa menahan amarahnya di depan umum. Ini bisa gawat. Aku tidak ingin mereka berkelahi dan membuat keributan.
"Kenapa kakak selalu memarahiku? Bahkan selalu membentakku? Apa salahku..." kata Reina lirih. Dia mulai menagis. Aku melihat butiran air mata keluar dari matanya.
"Kau! Kau selalu bertingkah seperti ini! Bertingkah lemah seperti ini. Padahal kau...kau!" kata Vivian geram sambil menatap benci Reina.
Vivian mengingatnya. Kejadian saat di mansion. Saat dia belum memutuskan untuk pindah di asrama dan saat Reina mulai masuk ke rumah mereka sebagai anak ayahnya. Vivian awalnya tidak terlalu membenci Reina. Dia bahkan memperlakukan gadis itu sebagai adiknya sendiri. Tapi karena terlalu baik, Reina mulai bersikap berani. Reina mulai mencuri barang-barangnya. Dari baju, jepit rambut dan kosmetik. Dia masih tetap acuh tak acuh terhadap sikapnya karena barang-barang itu tidak penting.
Tapi suatu hari, Reina mengambil kalung peninggalan ibunya! Vivian langsung murka saat itu. Dia mencari Reina dan menyuruh kepala pelayan meletakkan Reina ke dalam penjara bawah tanah rumahnya. Menghukumnya agar dia tidak mencuri lagi.
Tapi hal itu diketahui Marquis. Marquis mulai murka karena keadaan putrinya sangat menyedihkan di penjara. Marquis mulai memarahi Vivian. Vivian mulai menjelaskan alasan kenapa dia menghukum Reina.
Tapi Reina mengatakan ini, dia masih mengingatnya. "Aku tidak mencuri kalung itu...Kalung itu aku menemukannya..." katanya dengan nada menyedihkan.
Vivian semakin murka. Jelas-jelas Reina berbohong. Vivian selalu menjaga kalung itu seperti harta karun karena itu peninggalan ibunya. Dia menyimpannya dalam kotak perhiasan termahal dan meletakkaannya dengan baik di dalam lemari.
Marquis semakin sedih saat melihat Reina hampir menangis. DIa menatap Vivian dan memarahinya. "Bagaimana kau bisa begitu serakah? Walaupun itu barangmu kau tetap harus berbagi dengan adikmu! Apa kau lupa kau memperoleh semua barang-barangmu darimana? Dari uangku!" kata Marquis kasar.
__ADS_1
Vivian langsung tersentak mendengar perkataan Marquis. Matanya langsung berkaca-kaca. Dia mengepalkan tanganynya erat-erat, berusaha menahan tangisan kesedihan yang bercampur dengan amarah.
"Baiklah..." kata Vivian geram. "Mulai sekarang aku akan mengembalikkan semua barang milikmu itu. Aku akan mengembalikan semuanya." kata Vivian marah sambil melangkah pergi. Tapi dia berbalik sebentar. "Tapi kau harus tahu sesuatu Marquis..." katanya dingin. "Kalung yang diambil oleh Reina bukan dibeli dengan uangmu. Itu milik ibukku. dan tidak mungkin aku meletakkan barang berharga seperti itu sembarangan" Lalu dia berbalik pergi.
Setelah kejadian itu Vivian memutuskan untuk meninggalkan mansion. Dia hanya membawa barang yang dibelikan oleh ibunya. Tapi dia bingung mau kemana. Lalu dia ingat bahwa di akademi ada asrama. Jadi dia mengatur kepindahannya ke asrama. Dia sudah menetapkan tujuannya. Setelah lulus, dia benar-benar akan memutuskan hubungan dengan Marquis dan membangun pondasinya sendiri di kalangan bangsawan.
Sebelum pembukaan akademi, dia menginap beberapa hari di penginapan sebelum pindah di asrama. Saat itu dia mulai mendengar rumor di ibukota. Ada banyak rumor yang membuatnya penasaran. Semenjak itu, Vivian selalu mengikuti rumor terbaru yang ada di ibu kota. Tapi ada satu rumor yang tak pernah dilupakan dalam ingatannya.
"Aku dengar Marquis Zent membawa putri kandung dari kekasihnya. Yah, kau tahu...Marquis Zent sama sekali tidak mencintai istrinya. Mereka menikah karena pernikahan politik. Jadi setelah istrinya meninggal, dia membawa anak dari kekasihnya, yang sangat disayanginya. Tapi sangat disayangkan. Marquis Zent mendapat keuntungan dari kekayaan istrinya, dia mendapat banyak warisan sekarang. Dan keuangannya sangat stabil"
Mendengar rumor itu, kebencian di mata Vivian semakin besar. Dia sangat membenci Reina dan berharap menghancurkan gadis itu. Dia juga membenci Marquis, tapi Marquis tetap ayahnya. Ada rasa ragu untuk membenci orang tua sendiri. Jadi dia menumpuk kebenciannya hanya pada satu titik, yaitu Reina.
Saat ini, orang yang paling dibencinya, berdiri di depannya. Menyapanya dengan senang seolah-olah mereka akrab. Yang paling tidak tahu malu, dia bahkan tidak meminta maaf sedikit pun karena kesalahannya. Bagaimana mau meminta maaf, gadis licik ini bahkan tidak mengakui bahwa dia mencuri!
"Pada akhirnya rakyat jelata tetap rakyat jelata. Sikap liar mereka tetap tertanam dalam otak mereka" gumam Vivian.
Gumamannya terdengar oleh para teman Reina. Dan raut wajah mereka langsung berubah menjadi tidak senang.
"Kenapa dengan rakyat jelata?"
"Kau merendahkan kami hanya karena kami bukan bangsawan?"
"Reina adalah gadis yang baik. Dia berbeda dari gadis sombong dan jahat seperti kalian"
"Lagipula apa salahnya Reina. Dia hanya menyapa kalian. Kenapa kalian membentaknya seperti itu? Walaupun dia dulu rakyat jelata, darahnya adalah bangsawan! Kalian tidak bisa merendahkannya!"
Begitulah perkataan mereka. Yang membuat fokus semua tamu restoran itu ke arah kami. Aku dan Vivian langsung dipenuhi tatapan kebencian dalam sekejap. Aku yakin sebentar lagi akan ada rumor bahwa "putri duke menggertak orang biasa" dan "kakak tiri menggertak adiknya".
Dan juga apa maksud "kalian" ini? Aku sama sekali tidak berbicara apa pun dari tadi. Tapi aku langsung terlibat. Dan terlibat secara otomatis menjadi orang jahat. Aku tidak senang mereka menuduhku seperti itu. Tapi aku menahanya.
"Sudahlah, Vivian. Kita masih belajar setelah kembali. kau harus menenangkan pikiranmu" kataku membujuk Vivian. Aku tidak ingin kejadian ini semakin rumit.
Lalu aku menatap Reina. "kami minta maaf. Emosi Vivian sedang tidak baik karena itulah dia marah" kataku berusaha menjelaskan.
"HUMPH!" aku mendengar salah satu teman Reina mendengus kesal.
Reina lagi-lagi tidak menjawab permintaan maafku. Wajahnya menunduk sedih. Dan air matanya masih mengalir.
Dalam sekejap aku mendengar bisikan-bisikan tidak jelas dari para tamu restoran. Karena sikap Reina yang semakin menyedihkan, aku yakin mereka salah paham bahwa aku mengatakan sesuatu yang menyakiti Reina.
Aku menatap Reina lekat-lekat. Gadis ini terlalu sulit. Aku tidak tahu apa dia memang naif dan bodoh, makanya sikapnya seperti ini. Atau ini hanya sikap yang dibuat-buat?
"Ada apa ini?" suara dingin terdengar dan bergema di seluruh restoran. Seluruh bisikan langsung terdiam dan kami menatap ke arah pintu masuk.
Itu Denis! Dia sedang bersama pangeran kedua. Dia masuk sambil melihat sekeliling. Saat mata kami bertemu, dia langsung menghampiri kami.
Jangan lupa tinggalkan LIKE
__ADS_1