
Cerita sebelumnya:
Akhirnya cangkang telur Rexus pecah. Membuat Rexus menjadi seekor naga utuh. Walaupun ukurannya sangat kecil, dan dia sama sekali belum menyadari kekuatannya, Rexus tetaplah naga. Dan Eva menyadari bahwa Rexus mengalami mutasi karena dia memiliki dua corak pada tubuhnya.
***
Aku dan Rexus selesai mengamati tulang raksasa itu. Bahkan tulang raksasa itu sudah menjadi abu. Aku juga mendapatkan kristal hitam langka karena naga itu.
Aku pun menutup kembali retakan besar yang kubuat, dan melanjutkan perjalanan kami.
Sebenarnya, aku tidak tahu harus kemana untuk saat ini. Aku sama sekali tidak bersiap-siap untuk menjelajah atau pun mencari tahu peta daerah ini sebelumnya. Tapi kukira memang seperti inilah pertandingan di babak kedua. Kita hanya harus berkeliling sesuai insting masing-masing, kalau beruntung kita akan menemukan harta karun. Tapi teori ini sebenarnya cukup buruk untukku. Semenjak aku lahir, aku sama sekali tidak beruntung. Aku selalu mempunyai nasib buruk. Bahkan saat di bumi, aku juga selalu mengalami kejadian buruk.
Jadi bagaimana aku harus menghentikan rencana Reina, kalau aku sama sekali tidak tahu dimana gadis itu berada sekarang.
Aku melihat langit gelap di atasku. Hari sudah malam. Aku yakin semua organisasi sihir itu sudah diteleportasi ke tempat ini. Mungkin, aku juga tidak tahu. Walaupun sudah berlalu satu hari di domain sihir, aku tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu di dunia nyata.
Apa mungkin sudah satu jam?
***
__ADS_1
Ya, perkiraan Eva benar. Sudah berlalu satu jam di dunia nyata. Artinya mereka mempunyai waktu empat hari untuk berburu sementara empat jam di dunia nyata.
Bahkan saat ini, di tengah-tengah aula, para penatua duduk berkumpul sambil menatap layar besar yang berisi beberapa layar kecil dengan tempat yang berbeda-beda. Mereka saat ini sedang melihat kejadian di Domain Sihir. Ada yang bertarung, ada yang sedang menjelajah berkelompok atau sendiri. Bahkan sudah ada beberapa peserta yang sudah mendapatkan harta karun.
Lebih menakjubkannya lagi, tidak hanya para penatua dari Kota Sihir yang melihat semua kejadian itu. Para penghuni empat organisasi itu juga melihat semuanya! Lebih tepatnya, Kota Sihir menghubungkan layar besar itu ke tempat semua organisasi itu dengan menggunakan rune kuno. Ini sangat menakjubkan. Kalau kita melihat di tempat yang jauh, kita bisa melihat bahwa semua murid dan guru dari Menara Sihir berkumpul di halaman depan. Mereka membentuk kerumunan manusia hanya untuk melihat layar besar yang ada di halaman depan menara mereka. Hal itu juga terjadi untuk Tim Jiwa Sihir, Bayangan dan Komunitas Pengembara.
Adegan di layar pun terus berganti, tidak hanya fokus pada satu orang. Saat adegan berganti ke seorang gadis kecil yang sedang berjalan santai dengan binatang sihir di kepalanya, salah satu penatua langsung berteriak kaget.
"Telur itu sudah menetas!" penatua itu berteriak sehingga membuat kaget penatua lainnya.
"Apa maksudmu telur?" tanya seorang penatua penasaran. Penatua itu memakai jubah putih yang sangat elegan. Walaupun dia memiliki rambut putih, wajahnya terlihat lebih muda dari penatua lainnya. Dia juga mengeluarkan aura yang lebih dominan dari semua penatua. Ya, dia adalah ketua penatua dari Kota Sihir. Seorang jenius sihir di masa mudahnya, Kenn Herlen. Semua orang memanggilnya penatua Kenn. Dia bisa menjadikan dirinya sebagai pemimpin di usia yang semuda itu, menunjukkan bahwa kemampuannya tidak rendah. Lebih mengejutkannya lagi, dia bersahabat baik dengan Dean Wason.
Dia adalah seorang kakek dengan jubah hitam. Tubuhnya sedikit pendek dan kurus. Dia adalah penatua ketiga di Kota Sihir, Penatua Yeeti.
"Apa sebenarnya yang kau sembunyikan?" tanya lagi penatua yang lainnya.
Penatua ini bertubuh gemuk. Kalau Eva melihatnya dia akan mengenalinya, ini adalah penatua yang selama ini berdiri di tengah-tengah alun-alun dan mengarahkan peraturan pertandingan ini pada mereka. Penatua pemandu pertandingan ini adalah penatua kelima, Penatua Mong.
"Aku tidak menyembunyikan apapun!" sentak penatua Yeeti sambil memberikan kode rahasia pada rekannya. Dia menatap penatua yang duduk di sampingnya. Penatua ini memakai jubah ungu dan mempunyai tubuh lebih tinggi dari penatua lainnya. Dia mempunyai wajah yang sangat tirus, menambahkan kesan yang menyeramkan. Dia adalah penatua keempat, Penatua Ahn.
__ADS_1
"Mungkin dia hanya gugup atau dia hanya ingin makan telur. Kalian tahu dia sangat bodoh" jawab penatua Ahn. Dia ingin membuat lelucon, tapi itu berakhir tidak baik. Suasana menjadi hening karena leluconnya sangat garing.
"Sudah, sudah. Kalau kau menginginkan telur, aku akan memberimu banyak telur malam ini" kata penatuan Kenn sebelum fokus kembali pada layar di depannya.
Di samping penatua Kenn ada seorang wanita dewasa yang terlihat seperti berumur empat puluhan.
"..."
Dia adalah penatua kedua, Penatua Herlina. Dia adalah satu-satunya penatua wanita di Kota Sihir. Penatua Herlina hanya diam mengamati semua percakapan di depannya sambil menutup mulutnya dengan kipas kecil emas yang cantik. Setelah perseteruan kecil itu berakhir, dia kembali fokus pada layar di depannya. Layar itu berganti lagi, menampakkan sosok lelaki tua bersama dua orang lainnya yang sedang terbang mengelilingi langit. Ekspresi Penatua Herlina langsung berubah saat dia melihat lelaki tua itu. Matanya memancarkan rasa kerinduan dan dia tersenyum kecil. Lelaki tua yang ada di layar itu adalah Dean Wason dengan dua orang Dean lainnya. Ya, Herlina ini adalah wanita yang menyukai Dean Wason di masa lalu. Terlebih lagi Herlina adalah seorang wanita tua. Umurnya sudah 90 tahun, tapi dia menggunakan sihir untuk membuat tubuhnya tetap awet muda. Di masa mudanya dia selalu mengejar Dean Wason, walaupun Dean Wason tidak mengindahkannya karena lelaki itu terlalu sibuk dengan sihir.
***
Aku melanjutkan perjalanan dengan naga kecil Rexus yang duduk santai di kepalaku. Aku memilih untuk berjalan dan tidak menggunakan sihir terbang. Kenapa? Karena aku ingin mengamati semua detail area. Kalau aku terbang, aku akan melewatkan beberapa hal yang tidak bisa kulihat dari atas langit. Aku tidak akan melewatkan satu harta karun pun! Tapi sayangnya, sudah tengah malam dan yang kutemukan hanya gurun tandus, hutan dan gurun lagi.
"Kenapa daerah ini sama sekali tidak berubah!" kataku kesal. Aku berada di gurun tandus lagi kali ini.
Aku cukup lelah dan memutuskan untuk membuat tenda di sini. Aku akan beristirahat selama satu malam sebelum melanjutkan perjalananku lagi esok hari.
Eva tertidur dengan lelap. Dia menggunakan semua harta pelindung di ruang dimensi miliknya, sehingga dia merasa aman. Rexus juga meringkuk dengan nyaman di lapisan bajunya.
__ADS_1
Pagi berlalu dengan cepat. Eva membuka matanya saat dia merasa silau karena matahari yang naik ke atas langit. Dia pun mengemaskan tendanya dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya.