
Cerita sebelumnya:
Ren berhasil menemukan Eva dan membawa gadis itu kembali ke kamarnya. Saat Eva kembali, Diana menyambut nya dengan wajah murka. Lalu Diana memarahi dan membuat Eva mematung ketakutan. Eva pun meminta maaf karena kesalahannya. Untung saja Diana memaafkannya.
Setelah itu Ren memberi tahu mereka bahwa dia akan mempertemukan mereka dengan Emerta saat makan malam selesai. Jadi mereka harus menunggu sampai makan malam selesai.
Eva menghabiskan waktunya dengan membaca buku. Sementara Diana tertidur karena kelelahan. Evan juga tiba-tiba terbangun dan menemani Eva untuk membaca buku.
***
Beberapa saat kemudian, Diana terbangun. Dia sangat kaget setelah melihat Evan terbangun dan mulai memberinya susu.
"Dia tidak menangis bukan?" Diana bertanya dengan cemas. Diana takut tangisan Evan akan menganggu sekitar.
Aku masih membaca buku. Aku merespon Diana dengan menggeleng pelan. "Dia tidak menangis. Dia sibuk bermain sendiri" kataku kemudian.
"Syukurlah~" Diana mendesah lega. "Aku takut dia menjadi rewel karena kami sekarang berada di tempat asing. Aku takut dia tidak menyukainya"
"Jangan khawatir. Evan adalah bayi yang baik. Dia menangis saat itu karena lapar. Kalau perutnya penuh, dia hanya akan tertawa" respon ku.
Diana mengangguk pelan sebelum akhirnya fokus menyusui Evan. Setelah selesai menyusui, Evan kecil kembali terlelap.
"Dia benar-benar tukang tidur. Sama seperti Rexus" aku tanpa sadar berkomentar.
"Setidaknya tidak seperti mu yang selalu berkeliaran saat kecil" jawab Diana cemberut.
Aku hanya tersenyum canggung. Melihat Diana mengurus bayi, aku tahu itu tugas yang sulit. Evan adalah bayi yang baik dan tidak rewel. Tapi Diana sudah kelelahan saat mengurusnya. Bayangkan saja betapa lelahnya mengurusku saat kecil. Aku tidak sebaik Evan saat itu. Aku selalu aktif dan berkeliaran kemanapun karena rasa penasaran ku pada sihir. Aku yakin Diana sangat kelelahan saat mengurus ku. Aku jadi merasa bersalah. Kalau tahu akan jadi seperti itu. Aku akan berpura-pura menjadi bayi yang baik. Sayangnya, semua sudah terlambat.
Tok, tok, tok
Seseorang mengetuk pintu kamar kami.
Aku pun bergegas membuka pintu kamar. Ada seorang pelayan di depan. Dia membawa troli makanan.
"Tamu yang terhormat, saya datang mengantarkan makan malam" kata pelayan itu.
Aku mengingat nya. Pelayan ini adalah elf wanita yang mengantar kami ke kamar sebelumnya.
"Silahkan masuk"
Roda-roda troli pun berderit saat pelayan itu mendorong nya masuk. Setelah selesai mengantarkan makan malam, pelayan itu membungkuk hormat lalu pergi.
Aku tidak menduga bahwa makanannya akan diantar ke dalam kamar. Tapi ini lebih baik. Aku mengira bahwa kami harus makan di meja makan bersama orang asing yang tidak kukenal. Tapi ternyata itu tidak terjadi.
Aku membuka melihat makanan yang disajikan. Menunya biasa. Ada steak, buah-buahan, roti dan beberapa makanan penutup manis. Menu standar yang disedikan di rumah-rumah bangsawan.
Apa Ren memasaknya sendiri? Aku langsung menggeleng kan kepalaku untuk membuyarkan pikiran bodoh itu. Karena itu tidak mungkin! Statusnya adalah seorang raja di sini. Jadi dia tidak mungkin memasak.
Aku juga tidak menduga bahwa ada menu daging. Menurut buku, elf adalah bangsa vegetarian yang tidak mengonsumsi daging. Tapi mungkin semuanya dikecualikan karena ini adalah ras elf gelap. Karena ras elf gelap memang selalu menyimpang dari ras elf lainnya.
"Ibu, tidak makan?" aku mengajak Diana untuk makan bersama.
"Duluan saja, nanti ibu akan menyusul" jawab Diana. Wanita itu sibuk mengganti popok bayi Sekarang.
Aku pun mengambil piring dan memasukkan beberapa potong makanan ke dalam piring ku. Hmmm, dagingnya enak, cukup empuk.
__ADS_1
Tapi saat daging itu mulai masuk ke dalam perutku, aku merasa sesuatu menyakitkan menyentuh perutku dan Uhuk! Aku langsung terbatuk.
"Eva!" Diana berteriak panik, menghampiri nya.
Aku masih tidak sadar apa yang terjadi. Perutku terasa terbakar dan aku terus terbatuk tanpa henti. Saat aku mengusap mulutku ada boda darah disana.
Tidak mungkin...
Ini racun!
"Eva!" Diana berteriak panik sambil menompang tubuh Eva yang perlahan jatuh nke bawah.
Aku tidak menduga bahwa aku akan diracuni. Ini pertama kalinya juga aku makan racun. Rasanya menyakitkan. Aku merasa perutku terbakar dan tenggorokan ku sangat sakit. Lalu kesadaran ku perlahan juga mulai memudar. Tapi aku berusaha mengigit bibirku sampai berdarah untuk menjaga tubuhku tetap sadar.
Walaupun pandangan ku sangat buram. Aku bisa mendengar isak tangis Diana di samping ku.
"Ibu...tenanglah....jangan menangis...." katakh terbata-bata. Bahkan sangat sulit untuk membuka mulut dan berbicara.
Aku harus menyembuhkan diriku, tapi aku bahkan tidak bisa bergerak. Seakan-akan tubuh dan pikiranku benar-benar membeku.
Lalu secara perlahan cairan basah mengalir di mulutku. Diana memberiku sesuatu. Itu adalah ramuan penyembuh. Ramuan itu masuk ke dalam perutku dan mengurangi rasa pedih dan sakitnya. Tapi itu bukan berarti aku sembuh. Aku masih teracuni hanya saja sakitnya sedikit berkurang dan aku bisa mengambil aljh tubuhku sekarang.
Aku langsung mengedarkan manaku saat tubuhku bisa digerakkan kembali. Dan menggunakan sihir cahaya. aku tidak tahu mantra sihir untuk menghilangkan racun. Tapi aku tahu sihir cahaya bisa menyembuhkan apapun. Jadi aku menuangkan mana pada perutku. Itu hanya mana cahaya murni.
Secara perlahan, rasa sakit dan pedihnya memudar. Aku terus menuangkan mana di sana, sampai seluruh rasa sakit nya hilang.
Haa~ aku mendesah lega. Racunnya sudah hilang sekarang. Pandanganku mulai cerah dan aku bisa melihat bahwa Diana menangis terisak sambil terus memelukku.
"Aku tidak apa-apa" kataku sambil mengusap air mata Diana. "Jangan menangis lagi ibu"
"Makanannya diracun" kataku serius. Aku benar-benar bersyukur bahwa aku yang memakan masakannya. Aku bisa selamat dengan mudah karena aku pengguna sihir cahaya.
Tapi bagaimana kalau itu terjadi pada Diana? Aku tidak bisa membayangkan nya...
Siapa yang berniat meracuni kami? Kami bahkan hanya tiba di istana ini beberapa jam saja. Tapi sudah ada yang membenci kami seperti itu. Aku tidak akan memaafkan pelaku nya. Aku tidak akan membiarkan mereka lolos! Sama sekali tidak akan!
Diana terkesiap kaget mendengar jawabanku. "Apa kau tidak apa-apa? Ramuan penyembuh tidak bisa menyembuhkan racun!" katanya panik.
"Aku tidak apa-apa ibu. Sihir cahaya membantu ku menghilang kan racunnya" aku berusaha menenangkan nya.
Ekspresi Diana kembali lega, tapi dia tetap khawatir. "Bagaimana ini bisa terjadi? Aku akan bertanya pada Ren nanti!" katanya dengan nada marah.
Maaf bu, terlambat. Aku sudah melapor pada Ren lewat telepati. Itu hanya laporan singkat. "Ada racun di makanan kami".
Ren menerima laporan nya. Dia terdiam sesaat sebelum menjawab "Aku akan kesana"
Hanya perlu beberapa detik untuk Ren sampai dan mendobrak pintu kamar untuk masuk.
"Ren! Ren! Ada racun di makanannya. Eva memakan makanan itu sebelumnya. Kenapa bisa seperti ini?" Diana bangkit dan bertanya pada Ren dengan panik.
"Kau tidak apa-apa?" Ren cemas setelah mendengar perkataan Diana. Eva tidak bilang bahwa dia terkena racun dan Ren sangat khawatir.
"Tidak apa-apa. Aku sudah menangani racunnya dengan sihir" jawabku. Tidak ada rasa sakit lagi di perutku. Semuanya baik-baik saja sekarang.
Ren menghela napas lega setelah mendengar jawabannya. "Siapa yang berani melakukan hal seperti ini di istanaku?" Wajah Ren berubah jelek. Dia benar-benar marah sekarang. Dia tidak pernah berpikir ada yang berani meracuni tamu-tamunya. Dan terlebih lagi pelakunya masih berada di dalam istana ini.
__ADS_1
Ren pun memanggil pelayan elf yang sebelumnya membawa makan malam. Lalu dia juga menyuruh Drian untuk mengumpulkan staff dapur dan para koki. Semua orang yang dipanggil pun berdiri rapi di lorong, depan kamar Eva dan Diana. Mereka menundukkan kepala mereka ketakutan.
"Ada racun di makanan" tanpa basa-basi Ren menyampaikan niatnya. Tubuh semua orang langsung membeku ketakutan.
"Siapa yang melakukan nya? Lebih baik kalian mengaku sekarang dan memberikan alasannya, maka aku akan mengampuni nyawa kalian. Kalau tidak ada yang mengaku, aku akan mencari sendiri pelakunya dan melenyapkan nya"
Tapi tidak ada yang membuka mulut mereka untuk mengaku.
"Kau pelayan itu bukan?" Ren menatap elf wanita yang selama ini bertugas melayani Eva.
"Ya...yang mulia" elf itu menjawab dengan gugup.
"Apa kau tidak sadar bahwa makanannya diracuni?"
"Saya tidak tahu Yang Mulia. Saya hanya bertugas mengantarkan makanan. Saya bahlan tidak tahu makanan apa yang ada di dalam" elf wanita itu menjelaskan dengan gugup.
"Kepala koki!"
"Ya... yang mulia..."
"Kau yang memasak makanannya. Apa kau menambahkan bumbu asing?"
Kepala koki itu langsung berlutut dan menghentak kan kepalanya ke lantai. "Saya tidak tahu apa-apa Yang Mulia. Saya memasak makanan untuk semua orang. Menunya sama dan saya bersumpah tidak menambahkan apapun. Lalu saya meminta para staff untuk membagi makanannya. Sebagian diantar ke kamar Nona Lena, sebagian untuk para tamu dan sebagian lagi untuk makan malam Yang Mulia. Saya tidak berani melakukan hal yang aneh. Saya bersumpah!" kata kepala koki itu sungguh-sungguh.
Ren membuka makanan beracun itu. Menunya memang mirip seperti makan malamnya. Tapi tidak ada racun di makanannya. Racun ini hanya ada di makanan Eva. Berarti kepala koki benar-benar tidak tahu apa-apa disini.
Ren memotong dan mengigit steak yang beracun itu tiba-tiba.
"Yang Mulia..." Drian langsung tersentak khawatir.
Tapi Ren mengabaikan nya dan terus mengunyah. Saat daging itu masuk ke dalam perutnya, Ren mengernyitkan kening. "Ini bukan racun yang istimewa. Racun ini bisa dengan mudah di dapat kan di pasar elf" Ren berkomentar. Tidak ada gejala muntah darah padanya. Karena dia sudah menyerap racun itu dengan mana gelap nya.
Sebenarnya racun adalah hal yang mudah untuk Ren. Dia tidak mudah keracunan karena dia bisa menyerap racun itu dengan tubuhnya. Sehingga dia meremehkan masalah ini dan membuat orang-orang terdekat nya dalam masalah. Ren memang kuat dan mampu bertahan hidup. Tapi tidak untuk orang lain yang dekat padanya.
Ren sekali lagi mengintrogasi pelayan pengantar dan juga staf dapur yang membagi makanan. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang mengaku.
"Aku sudah tahu pelakunya" tapi tiba-tiba Ren berkata seperti itu.
Dia menyambar leher elf wanita itu dan mencekiknya. "Siapa yang mengirimmu? Kau berbohong" Ya, Ren bisa dengan mudah mendeteksi kebohongan orang lain. Bukan dengan sihirnya tapi itu adalah hasil pengalaman hidup nya selama ribuan tahun. Karena itulah dia tidak dekat dengan banyak orang. Dia bisa membedakan apa itu musuh dan teman dengan mudah.
"Tidak ada yang mengirimku Yang Mulia..." Elf wanita itu kesulitan bernapas tapi masih berusaha membuka mulutnya.
"Kau berbohong!" Ren tahu bahwa ada dalang lainnya, tapi wanita ini tidak mau mengaku.
"Manusia itu menjijikan. Aku membenci mereka" Elf wanita itu menjawab sambil menunjukkan gigi nya. Dia tidak berniat mengatakan apapun.
Ren tidak mau menghabiskan waktu. Dia menggunakan sihirnya dan tubuh wanita itu lenyap menjadi abu. Wanita itu bahkan tidak sempat berteriak. Dan abunya sudah lenyap terbawa angin.
Ren kemudian meminta semua orang kembali ke tugas mereka masing-masing, termasuk Drian.
"Maafkan aku. Aku benar-benar tidak mengira akan ada yang melakukan hal seperti itu" Kata Ren frustasi.
"Tidak apa-apa, kami akan mulai berhati-hati dari sekarang. Benar sekali katamu, tempat ini sama sekali tidak damai" kataku canggung.
Entah kenapa hati Ren sedikit sakit saat mendengar perkataan Eva. Eva mengatakan seolah-olah istananya adalah tempat yang berbahaya. Dan dia, yang bertugas sebagai Raja, sama sekali tidak berguna. Karena tidak bisa menghilangkan semua bahaya itu.
__ADS_1