
Cerita sebelumnya:
Vivian menemukan Evan dan Wiya. Lalu dia mengatur rencana untuk membawa mereka keluar dari istana. Sementara di sisi lain Raja menemui Duke yang dipenjara. Raja berniat membebaskan Duke dari sihir pikiran dan menanyakan beberapa informasi. Tapi ternyata tidak ada sihir pikiran yang mempengaruhi Duke. Pria hanya itu hanya menjadi bodoh karena cinta. Raja merasa sangat miris. Dia memilih untuk mengabaikan Duke setelah itu dan berencana menemui sang penyihir gelap, Diana.
***
Sayn dan lima orang lainnya menyusup ke dalam istana. Dalam sekejap, dia sudah tahu dimana letak semua orang. Tapi orang-orang itu terlalu banyak. Dia harus menyelamatkan sekitar lima puluh orang yang dipenjara di tempat yang berbeda. Ini cukup menyusahkan karena tidak mungkin menyelamatkan mereka semua tanpa menyebabkan keributan sedikit pun.
Sayn hanya ingin menyelamat Duke, istrinya dan Evan. Tapi Eva akan kecewa padanya kalau dia melakukan itu. Karena kalau istana tahu Duke dan keluarganya menghilang, semua karyawan dari rumah Duke akan dieksekusi langsung. Tidak hanya itu. Ada beberapa orang kuat menyusahkan di istana. Raja mengundang mereka sebagai penjaga sampai hari eksekusi tiba, besok. Bagi Sayn melawan mereka semua ditambah Denis, di waktu yang bersamaan sangatlah tidak mudah.Tapi bukan berarti dia tidak mampu. Itulah informasi yang dia dapatkan.
Tapi bukan berarti Sayn menyerah. Dia sudah menyusun beberapa rencana di dalam kepalanya. Tidak mungkin untuk tidak membuat keributan. Jadi Sayn akan mengacaukan istana, dia akan membuat keributan untuk mengalihkan perhatian. Lalu dia akan menyuruh yang lainnya menyelematkan kelompok yang berbeda dan membawa mereka ke Menara Sihir. Sementara dia akan menyelamatkan Duke dan keluarganya dengan tangannya sendiri.
Sayn bergegas menuju ke penjara bawah tanah dimana Duke berada. Tapi tiba-tiba sesosok orang menghalangi jalannya. Bahkan Sayn merasa kaget karena sosok itu tiba-tiba terbang di depannya. Dia adalah sosok yang dikenalnya, Denis.
***
Vivian menuntun Wiya dan Evan menyusuri taman kerajaan untuk keluar dari wilayah itu. Semuanya berjalan lancar karena mereka keluar secara diam-diam. Harusnya seperti itu, tapi tiba-tiba seseorang berteriak "Tangkap mereka!"
Vivian dan Wiya langsung tersentak kaget. Lalu beberapa orang mulai mengelilingi mereka. Orang-orang itu membentuk lingkaran dan memenjarakan mereka di tengah-tengah lingkaran. Lalu sosok pendek muncul dari kegelapan. Itu adalah Marquis Zent.
Marquis benar-benar merasa lega bahwa dia meletakkan mata-mata di kediaman Evan. Sehingga dia tahu bahwa mereka ingin melarikan diri secara diam-diam. Baginya, Evan adalah kunci utama selain Diana. Bayi itu tidak boleh melarikan diri kemana pun atau rencananya akan gagal. Tapi Marquis benar-benar tidak menyangka bahwa putri kandungnya sendiri akan menyelamatkan musuhnya di depan matanya.
Vivian mengira Marquis tidak akan mengenalinya. Tapi dia salah saat Marquis berkata "Aku benar-benar kecewa padamu Vivian..."
__ADS_1
"Ayah..." Vivian menatap Marquis sedih.
"Bagaimana kau bisa membawa lari seorang tahanan? Kalau Raja tahu itu adalah tindakan kriminal. Kau akan dihukum" kata Marquis. "Serahkan bayi itu. AKu akan membawanya kembali sampai semua proses hukum ini selesai"
"Evan bukan tahanan!" Vivian merentangkan tangannya untuk melindungi Evan. Sementara Wiya memeluk Evan erat-erat. "Dia hanya seorang bayi. Bagaimana kalian bisa melibatkan seorang bayi di antara konflik politik? Itu sangat tidak manusiawi!" kata Vivian geram.
Wajah Marquis menghitam. Jujur saja dia tidak menyangka bahwa Vivian akan bersikeras melawannya seperti ini. Padahal dulu dia adalah putri yang penurut dan tidak pernah bersikap tidak sopan padanya. Semuanya berubah semenjak dia mengusirnya keluar dari mansion.
"Anak kurang ajar!" geram Marquis
"Dan apa kau lupa? Aku bukan lagi putrimu sejak kau mengusirku keluar" balas Vivian cepat.
Wajah Marquis menghitam. Dia sangat marah. "Kau sama saja seperti ibumu. Benar-benar wanita jahat yang licik" dia berkata dengan senyum sinis.
"Jangan menghina ibuku!"
"Kalau bukan karena wanita iblis sialan itu memakai cara licik untuk mengikatku. Aku tidak akan pernah menikahinya" kata Marquis. "Dia benar-benar licik. Mengirim kekasihku dan putrinya ke pengasingan dan bahkan aku harus memutar otak untuk membuat nya menghilang"
Mata Vivian membelalak. "Apa maksudmu..."
Marquis Zent tersenyum tulus. "Tentu saja aku mengatur rencana untuk membuat nya menghilang. Seakan-akan wanita itu sakit keras dan mati. Lalu mengurus pemindahan warisan di tanganku" jelas Marquis Zent tak tahu malu.
Vivian mematung. Dia tidak pernah tahu bahwa ibunya meninggal karena ayahnya. Dia hanya tahu bahwa ibunya meninggal saat melahirkan nya. Jadi semua itu bohong. Ayahnya yang mengatur semuanya. Dia hampir menangis saat dia mengetahui semua fakta tersembunyi itu.
__ADS_1
"Tapi kenapa kau membiarkan aku hidup? Aku hanyalah bayi yang tak berdaya saat itu. Kau bisa saja membunuhku tanpa harus merawat ku. Ayah..." Jujur saja, Vivian masih menyimpan harapan kecil bahwa Marquis masih menyayangi nya.
"Karena warisan tentu saja" jawab Marquis enteng. "Wanita sialan itu mewariskan semuanya kepadamu. Aku perlu membuat mu dewasa untuk mengklaim semua properti"
Vivian memejamkan matanya sebentar. Dia berusaha menenangkan gejolak emosi yang ada di dadanya. Dia benar-benar merasa sangat sedih bercampur dengan amarah.
Sebenarnya Vivian merasa iri dengan Eva. Saat dia masuk ke rumah Duke, dia bisa merasakan keluarga lengkap yang harmonis. Dia benar-benar menginginkan kehidupan seperti itu karena kehidupannya sendiri sangat tidak beruntung. Walaupun dia merasa iri bukan berarti dia membenci sahabatnya. Dia hanya mengasihani dirinya karena memiliki nasib buruk seperti ini.
Dia mengira hidupnya hancur karena kedatangan Reina. Rubah licik itu menggoda ayahnya dan semua orang. Membuat mereka membencinya. Tapi ternyata dia salah. Ayahnya membencinya dan bahkan membunuh ibunya. Dia tidak pernah menyangka bahwa dia akan mendengar kan semuanya dari mulut ayahnya sendiri.
Vivian tidak bisa menahan amarahnya dan berlari ke arah Marquis untuk menyerangnya. Tapi Vivian sangat buruk dalam berkelahi. Dia tidak sekuat Eva tapi dia tidak seburuk Reina. Tapi tetap saja dia bukan lawan sang Marquis.
Marquis Zent menatap Vivian seperti semut. Dia mengusir gadis itu dari rumahnya tetapi gadis itu berhasil membangun bisnis dan mendapatkan uang. Jujur saja Marquis merasa tidak senang.
Marquis mengangkat tangannya dan membaca mantra sihir. Vivian juga melakukan hal yang sama. Kedua sihir yang berbeda saling bentrok. Tapi sihir Vivian lebih lemah dan BAM! Tubuh gadis itu terlempar dengan keras ke tanah.
Vivian memuntahkan darah di tempat karena organ dalamnya terluka. Wiya ingin membantu tapi tidak bisa. Dirinya dan Evan saat ini dikepung tanpa ada ruang sedikit pun untuk melarikan diri. Saat Vivian terlempar keluar, kepungan mereka semakin ketat.
Marquis mendekati nya lalu mereka saling bertatapan. Vivian ingin memukul wajah Marquis tapi sayangnya dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
"Lebih baik kau menyusul ibumu" Marquis tersenyum sinis dan melayangkan serangan terakhir nya. Dia memukul tepat di area dada. Memukul bagian vital untuk meremukkan jantung Vivian.
KRAK! terdengar bunyi tulang patah. Vivian merasa kan sakit yang luar biasa.
__ADS_1
"Apa aku akan mati?" dia bertanya pada dirinya sendiri sebelum akhirnya kehilangan kesadarannya.