
Bab Sebelumnya:
Sayn diam-diam menyelinap ke kamar Eva. Ternyata Sayn juga mengikuti Pertandingan Sihir dan dia berasal dari tim Bayangan. Mereka berdua saling menanyakan alasan masing-masing kenapa mengikuti Pertandingan, sampai akhirnya Robert datang. Dan pertengkaran pun terjadi.
***
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Robert dingin.
Sayn perlahan bangun sambil menepuk jubahnya. Dia tidak terluka sama sekali. "Bukan urusanmu" jawabnya tidak peduli sambil menatap Robert dengan dingin juga. LaluĀ untuk dia mengalihkan tatapannya pada Eva. "Selain mengunjungimu, alasanku kemari untuk mengajakmu jalan-jalan"
"Eh?" aku menatap Sayn tidak percaya. "Jalan-jalan"
Sayn tersenyum lalu dia mengangguk "Aku ingin mengajakmu berkeliling kota sihir"
"Ah begitu"
"Tidak" Robert langsung membantah dengan nada tegas.
"Sekali lagi ini bukan urusanmu" jawab Sayn sarkas.
"Ini urusanku. Eva adalah muridku. Aku tidak mengizinkannya bersama dengan orang berbahaya sepertimu sendirian" jawab Robert yakin.
"Gadis itu dan aku berteman. Dia akan baik-baik saja. Lagipula aku cukup yakin dengan kekuatanku" balasn Sayn.
"Tidak." Robert menolak. "Dia bisa berkeliling bersamaku. Itu lebih aman"
"Kau..." Sayn sudah mencapai ambang batas kesabarannya. Dia mengangkat tangannya, bersiap menyerang Robert.
"Cukup, cukup" aku dengan cepat menghentikan mereka. Sampai kapan mereka akan bertengkar di kamarku. Ini benar-benar menganggu waktu istirahatku! Aku cukup lelah sekarang. Bukankah seharusnya mereka tidak mengangguku. Cih! Dulu sekali aku selalu membayangkan bahwa para tokoh utama itu sangat keren dan kuat. Tapi setelah melihat sendiri kenyataannya...Aku tidak bisa berkata-kata. Mereka terlalu kekanak-kanakan.
"Kita akan pergi bersama oke. Aku bisa pergi besok" kataku tegas. "Jadi untuk sekarang kalian bisa meninggalkan kamarku. Aku ingin beristirahat." aku dengan cepat memegang lengan kedua orang itu, lalu menyeret mereka keluar kamarku.
__ADS_1
"Jangan menyelinap lagi atau aku tidak akan pernah berbicara dengan kalian lagi!" aku memperingati sebelum akhirnya menutup pintu kamarku.
Robert terdiam di depan pintu kamar Eva. "Gadis itu....berani-beraninya dia mengusir gurunya sendiri..." gerutu Robert. Tapi dia tetap berdiri diam di tempatnya.
Setelah itu, Robert menoleh dan akhirnya bertatapan dengan Sayn. Kedua orang itu saling bertatapan dengan tajam. Sayn mengakhirinya lebih dulu lalu dia menggunakan sihir teleportasinya dan menghilang.
Haa~ Robert menghela napas. Dia menatap pintu kamar Eva dengan melankolis. "IniĀ sulit..." gumamnya. Robert merasa gadis kecilnya secara perlahan berubah saat dia semakin dewasa. Dia kembali mengingat gadis kecil yang selalu bersikap manja padanya dulu. Tapi semua itu sudah memudar sekarang. Gadis kecil manja itu sudah semakin dewasa dan secara perlahan mulai semakin menjauh darinya.
Awalnya dia pikir akan sangat mudah mengejar Eva. Tapi ternyata tidak mudah sejak dia tahu gadis itu bertunangan dengan Putera Mahkota. Dia sangat frustasi dan menyiapkan beberapa rencana untuk itu. Lagipula pertunangan mereka masih bisa dibatalkan. Dia punya beberapa rencana agar hal itu terjadi. Tapi sekarang muncul lagi bocah menganggu lainnya. Dia tidak tahu pangeran dari kerajaan asing itu akan mengincar Eva juga.
"Ini semakin sulit...aku harus memikirkan beberapa cara untuk menyingkirkan para serangga itu" gumam Robert prihatin sambil berjalan kembali ke kamarnya. "Tapi aku tidak akan pernah mundur" katanya yakin.
****
Setelah mengirim dua tamu itu pergi, aku masih melihat ke arah pintu. Aku takut mereka akan menerobos masuk lagi. Tapi setelah beberapa saat tidak ada pergerakan dan suasana sangat sunyi.
"Oke, kukira mereka sudah pergi" kataku lega.
"Hei, telur kecil keluar"
Telur itu mendengarkan dan secara perlahan melompat keluar.
"Ah~ akhirnya dua orang jahat itu sudah pergi" kata si telur itu sambil melompat-lompat.
"Mereka tidak jahat oke" kataku memperingati. Sesekali mereka memang kejam di masa lalu karena menyebakan kematianku. Tapi mereka tidak jahat sama sekali, hanya bodoh saja.
"Tidak!" telur itu bersikeras. "Dua orang itu jahat!" teriaknya protes.
Aku mengamati telur emas yang melompat-lompat di depanku. Setelah mendengar pernyataannya, aku menarik sedikit kesimpulan. Aku tidak bodoh. Aku tahu kenapa telur ini membenci manusia. Itu karena para manusia memburu mereka dan mengurung mereka, beberapa kaum mereka bahkan di bunuh. Aku yakin telur kecil ini tahu akan itu. Dan dia bisa dengan santai mendekatiku hanya karena tertarik untuk menyerap mana gelap milikku.
"Baiklah, baiklah" aku menyerah. "Bagaimana aku memanggilmu? Haruskah aku memanggilmu "telur" secara terus menerus?" aku mengalihkan topiknya.
__ADS_1
"Ummuu....aku tidak tahu..." dia menjawab sedih.
"Apa kau tidak punya nama?"
"Tidak..."
"Baiklah, aku akan memberimu nama" kataku kemudian. Lalu aku berpikir sebentar. Nama apa yang cocok untuk telur emas ini. Golden egg? tapi dia tidak akan selamanya menjadi telur. Dia akan menjadi naga kecil di kemudian hari. Golden dragon? Uh...namanya yang mendominasi dan cukup berlebihan. terlalu kaku dan tidak keren sama sekali.
Ah! "Rexus...aku akan menamaimu Rexus" kataku langsung. Aku langsung mengingat dinasaurus saat melihat telur ini. Walaupun ini naga bukan dinasaurus. Tapi karena tidak ada dinasaurus di dunia ini dan aku adalah penggemar T-rex. Kurasa menamainya Rexus cukup keren.
"Ah~~~oke~oke~" jawab Rexus. Dia menjawab dengan antusias sambil melompat-lompat. Kelihatannya dia menyukai nama yang kuberikan.
"Dan satu hal lagi, jangan menyelinap ke dalam bajuku lagi di masa depan. Itu sangat tidak nyaman" kataku. Aku langsung membuka ruang dimensi dan mengambil sebuah tas kecil yang terbuat dari rotan dan berbentuk kubus kecil. Tas kecil ini biasanya dipakai untuk menyimpan uang koin. Ukurannya cukup untuk telur kecil ini.
"Masuk ke dalam saat kau ingin pergi bersamaku oke"
"Um..." Rexus agak ragu.
"Ini sangat nyaman, aku meletakkan bantal kecil sutra di dasar tas" kataku sambil menunjukkannya.
Rexus langsung melompat masuk ke dalam tas. "Baiklah..." katanya kemudian. Kelihatannya dia menyukainya. Lalu dia melompat keluar lagi.
Setelah memastikan beberapa hal dari Rexus, aku kembali mengambil dan memakan makananku. Setelah itu menghempaskan diriku di atas kasur.
Kota sihir ya...
Aku sebenarnya juga ingin berkeliling walaupun Sayn tidak mengajakku. Lagipula kita mmepunyai waktu istirahat dua hari sampai kakek dan Dean lainnya datang kemari.
Aku juga cukup penasaran dengan Kota Sihir. Aku sudah melihat kota ini walaupun tidak terlalu detail. Dari luar sama saja seperti kota biasanya. Tapi mungkin saja barang-barang yang ada disini berbeda dari yang ada di kota lainnya. Karena Kota Sihir adalah kota pusat bagi para penyihir, pasti ada banyak sekali barang yang menarik.
Aku benar-benar tidak sabar ah~
__ADS_1