Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 1: Beradaptasi


__ADS_3

Aku memandang kepergian ayah bodoh itu dengan sedih. Ayah bodoh itu hanya singgah sebentar setelah memastikan aku aman. Dan menitipkan ku selama seminggu di tempat ini untuk menebus kesalahanku karena diam-diam kabur dari rumah.


Setelah itu dia kembali dengan wajah girang.


"Aku harus menjemput Diana hehehe" katanya seperti orang kesurupan lalu mengarahkan kavaleri keluar dari perkemahan. Hingga akhirnya punggung mereka tidak terlihat lagi, hanya menyisakan suara kaki kuda.


"Kau akan berburu juga?" tanya Denis yang sedari tadi berada disampingku. Keberadaan bocah ini memang samar, aku tidak tahu dia ada disana dan dia selalu tiba-tiba muncul dimanapun aku berada.


"Kita disini untuk berlatih, jangan manja oke" katanya dengan bumbu-bumbu ejekan.


Siapa yang manja!


Lihat dirimu sendiri, sebelum mengataiku!


Apa-apaan tenda yang penuh dengan barang-barang tidak berguna itu! ckck


"Hmph!" aku hanya mendengus kesal dan berbalik meninggalkan Denis.


Aku tidak mau meladeninya lagi. Bagaimana bisa aku yang sudah dewasa ini (maksudnya jiwa asliku berumur 27 tahun) beradu mulut dengan seorang bocah.


Yang paling penting sekarang aku ingin menyelinap ke dalam camp prajurit. Aku ingin mencari bocah Jensen. Aku berpikir, kalau Jensen menjadi pengawal pribadiku, itu lebih baik. Karena dengan begitu aku bisa membuat diriku lebih aman dan mengurangi orang berbakat di sekitar musuh!


Aku menyusuri sekitar. Sesekali kembali ke lapangan pelatihan. Tetapi aku tidak melihat barisan prajurit yang sedang berlatih. Lapangan itu kosong. Kemana mereka?


"Eva! Jangan berkeliaran!" seru Denis tiba-tiba.


Bocah ini muncul lagi di dekatku secara tiba-tiba!


"Apa yang terjadi? Kemana prajurit-prajurit yang sedang berlatih tadi?" tanyaku sambil menunjuk ke arah lapangan.


"Oh?" Denis menaikkan alisnya. "Mereka sudah tersebar di hutan sekitar. Letnan nemberi mereka perintah untuk mencari makanan. Saat berburu kita tidak boleh membawa makanan dari rumah. Semua nya harus dicari sendiri" kata Denis sambil sesekali melihatku dengan nakal.


Aku mengernyitkan keningku "Dari awal aku memang bukan peserta pelatihan disini tau! Jadi itu wajar-wajar saja aku punya ruang dimensi yang ada makanannya. Tujuan awalku itu hanya berlibur dan berbelanja!"


"Huh, sudahlah! Aku mau kembali ke tenda!" kataku kesal sambil berjalan.


"Hei!" tegur Denis. "Tenda siapa yang mau kau datangi? Itu tendaku tau!" katanya sambil mengikuti Eva.


"Kau tunanganku, semua milikmu itu milikku" kataku acuh tak acuh.


"Hm..." Denis menggumam. "Kalau begitu kau milikku..." katanya sambil tersenyum nakal.


BUK!


Refleks aku langsung menendang tulang keringnya.


Denis tampaknya melonggarkan kewaspadaannya sehingga tendangan itu berhasil. Dan meringis kesakitan sambil memegangi kakinya.


"Eva kau kenapa? Kenapa kau memukuliku!?" katanya tidak suka.


"Bocah mesum!" dengusku.


"Dasar gadis kasar!" balas Denis.


Aku tidak mempedulikannya.

__ADS_1


"Hei! Kau harus tanggung jawab! Aku terlukaa!" teriaknya lagi.


Aku tetap tidak mempedulikan nya.


"Evaa....!!!"


***


Keesokan harinya, pelatihan dimulai seperti biasa. Kemarin aku tidak ikut pelatihan dan langsung kembali ke tenda untuk bersantai. Tanpa sadar aku ketiduran sampai pagi.


Jadi hari ini Jendral Lin menyuruhku untuk berlatih bersama dengan semuanya.


Aku menuju ke halaman utama dan melihat semua prajurit sedang berlatih. Jujur saja, semua prajurit yang mengikuti pelatihan berburu ini di dominasi oleh prajurit muda. Para prajurit itu tampak seperti bocah-bocah berumur 9-14 tahun.


Aku mengamati situasi dan mencari tempat kosong untuk berbaris. Aku sebenarnya tidak mengerti, aku seorang penyihir, kenapa disuruh mengikuti pelatihan pendekar pedang!!!


Tapi ayah bodoh itu tetap teguh menyuruhku berlatih. Apa pelatihan ini berguna untukku? Dan lagi ini pelatihan untuk anak laki-laki. Hanya aku saja anak perempuan disini, sehingga para bocah itu menatapku seolah-olah aku seorang alien yang menginvasi wilayah mereka.


Aku melihat mata-mata itu. Ada ekspresi penasaran, merendahkan, bingung, marah, dan sebagainya. Tapi sebagian besar dari mereka tampak terganggu karena kedatangan ku.


Yah, bukan aku namanya kalau tidak tahan!


Aku sudah terbiasa mendapatkan tatapan seperti itu!!


Aku mengabaikan mereka.


Dan mulai memperhatikan penjelasan pelatih yang berada di depan kami.


"Yo, Gadis kasar!" sapa Denis tiba-tiba. Entah kenapa dia berada di baris tepat disampingku tanpa diundang.


"Hmph!"


Aku akan mulai fokus berlatih.


Pelatihan ini lumayan juga sebagai pengalaman, walaupun aku bukan pendekar pedang.


"Sekarang kita akan berlatih untuk meningkatkan stamina mu" kata seorang letnan yang sekarang ada di depan kami. Letnan itu adalah instruktur untuk pelatihan ini.


" Ikuti langkah-langkah ini perlahan. Kuda-kuda ini berbeda dari yang kemarin" katanya lagi sambil mulai membentuk gerakan-gerakan aneh.


Semua orang mulai mengikuti arahan nya.


Aku juga mengikuti nya.


HA! HA! HA!


Sesekali mereka berteriak saat membuat gerakan yang berbeda.


Haruskah aku berteriak juga seperti itu?


Kok aku merasa itu memalukan ya?


Aku bahkan belum hapal langkah-langkahnya, karena itu sangat aneh menurutku.


Ha! aku mulai berteriak mengikuti mereka saat mengubah gerakan.

__ADS_1


jujur saja gerakanku tidak sinergis.


"Ha..." aku mencoba berteriak saat mengubah gerakan selanjutnya, tapi kakiku saling melilit satu sama lain. Sehingga aku mulai jatuh!


Tapi aku merasa ada tangan memegang pinggang ku. Oh, itu Denis!


Dia membantuku agar aku tidak jatuh. Ternyata bocah ini punya hati nurani juga.


Aku membalikkan wajahku agar menatap wajahnya, untuk berterima kasih.


"Terima ka..."


"Buh!" Wajah Denis memerah. Dia sepertinya menahan tawa. "Hahahahaha" Akhirnya dia tertawa terbahak-bahak. Melepaskan tawa yabg sudah ditahannya sedari tadi.


"Kau....kau..."


"Kau seperti kecambah bergoyang hahahaha" dia tertawa geli.


Aku langsung menghempas tangannya.


Wajahku memerah karena malu!


Lalu aku melihat sekeliling ku.


Ternyata bukan hanya Denis yang memperhatikanku sedari tadi


Orang-orang disekitarku juga menatapku!


Mereka menatapku dengan mata tertawa seolah-olah aku badut yang sedang memberikan lelucon!!


Aku tidak terima iniii!!!


"Kaliaannn!!" teriakku dengan wajah merah padam. Aku menahan amarahku


"Nona...nona..." tapi tiba-tiba instruktur memanggil ku.


Aku langsung menatapnya dengan bingung "Ada apa!?" tanyaku kesal.


Instruktur itu diam selama beberapa detik lalu membuka mulutnya.


"Nona...Gerakanmu terbalik..." katanya ragu-ragu.


"Hahahah itu benar-benar lucu. Dia bergerak terbalik dari tadi. Benar-benar seperti kecambah kecil yang bergoyang-goyang Hahaha...dan suaranya...suaranya hahaha.... seperti beo....hahaha"


sambung Denis sambil tertawa terbahak-bahak. Tampaknya dia masih belum bisa menghentikan tawanya.


Wajahku memerah karena malu.


Aku benar-benar tidak cocok disini


ini semua karena ayah bodoh itu!


Sejak awal penyihir memang tidak cocok untuk berlatih menjadi pendekar!


Aku menatap Denis benci.

__ADS_1


Bocah ini! Lihat saja nanti! Tunggu saja pembalasan ku! Aku benar-benar akan membuatmu malu seumur hidup!!


__ADS_2